
"Kirim bantuan secepatnya!" Perintah Agung Tirtayasa melalui telepon genggamnya.
"Segera dilaksanakan, Sir!" Suara di line teleponnya menanggapi dengan patuh.
Tak lama Agung Tirtayasa menutup panggilan dan mulai meneliti semua orang yang memasuki ruangan.
Enam anak berseragam capoeira memasuki ruangan lebih dulu, di ikuti 9 Guardian. Tak lama kemudian Ary Caroline muncul didampingi dua ahli komputer dari pihak divisi. Menyusul di belakangnya Ethan Hernandez dan Adam Martinez. Lalu Pak Tua bersama tiga orang berseragam Paravisi.
Agung Tirtayasa tercengang mengamati ketiga sosok berseragam Paravisi itu.
Begitu juga Ester Maria dan Monica Debora.
Tak lama 4 pria berambut panjang memasuki ruangan, 8 orang Guardian menyusul di belakangnya. Mereka semua membawa perangkat panahan.
Ary Caroline dan Ester Maria beradu pandang. Di mana Ika?
Lalu sosok itu muncul memasuki ruangan sambil berceloteh. Di dampingi satu lagi pria gondrong dan satu wanita berseragam Paravisi. Ketiganya juga membawa perangkat panahan.
Seisi ruangan tercengang.
Ika juga ikut tercengang. Dia sempat berpikir barangkali ada yang salah dengan dirinya. Tapi kemudian menyadari setelah Ester Maria dan Ary Caroline berseru bersamaan. "Lucy!"
Agung Tirtayasa memijat-mijat dahinya. Masih belum bisa mempercayai apa yang tengah terjadi di depan matanya. Aku pasti sedang bermimpi, katanya dalam hati.
"Di mana Naomi?" Luciana bertanya pada Ester dan Ary Caroline.
Lalu keduanya memucat. Mereka juga belum tahu keadaannya. Tapi jelas baru menyadarinya.
Ryan Gunawan hampir mencapai perbatasan kota ketika kelompok pengendara itu akhirnya berhasil menyusulnya. Ia tak punya pilihan selain melawannya sekarang. Mereka takkan menyerah, pikirnya. Ia tak berharap ajang kejar-kejaran itu berakhir di kota lain. Ia bisa bertingkah semaunya di kota Artland. Tapi tidak di kota lain. Ia tidak memiliki power yang cukup untuk menaklukan hukum di tempat lain.
Begitu sampai di perbatasan, Ryan Gunawan melihat tiga buah sepeda motor sport berbaris menghadang mereka di gerbang perbatasan kota. Ketiga pengendara di atasnya berpakaian sama seperti dirinya. Satu di antaranya adalah perempuan dengan rantai besi.
Ryan membanting stang secara mendadak, memiringkan sepeda motornya dan berputar dalam posisi sliding, lalu menyisi ke bahu jalan dan berhenti dalam posisi menghadap ke arah sebaliknya.
Kelompok pengendara yang tadi mengejarnya berhenti di depannya. Di belakang mereka Naomi dan Rayhan Ibrahim bersama 7 Guardian berseragam Racing berbaris memenuhi jalan.
Baiklah, mereka takkan bisa lolos sekarang. Ryan berkata dalam hati.
Perempuan berpakaian Paravisi itu menurunkan rantai besi dari bahunya. Sebelah tangannya memainkan pedal gas dan tangan satunya mulai beraksi mengayunkan rantai besinya.
Seketika raungan kendaraan mereka mengaung bersamaan. Seperti gemuruh badai raksasa yang siap meluluh-lantakkan seisi bumi.
Dua pengendara di sisi perempuan itu serempak merunduk ketika perempuan itu mulai memutar-mutar rantai besinya, kemudian melesat mendahuluinya. Merangsek ke tengah-tengah barisan pengendara yang siap menerjang. Disusul barisan Naomi dan Rayhan Ibrahim dari arah yang berlawanan.
Draakkk!
Suara benturan logam berderak bersahut-sahutan. Meledakkan bunyi berdesing yang memekakkan.
Setengah dari kelompok pengendara liar itu terpelanting ke bahu jalan. Setengahnya lagi melesat ke arah perempuan di depan mereka.
Ryan Gunawan melesat lebih cepat, menghadang mereka dengan teknik sliding.
Brak!
Ledakan logam kembali membahana.
Sekelompok Guardian kemudian memasuki ruangan. Seisi kelas serentak menoleh ke arah mereka. Terutama Ester Maria dan ketiga sahabatnya. Mereka jelas berharap para Guardian itu membawa serta sahabatnya juga. Tapi hanya barisan Guardian.
"Are you ok?" Luciana berbisik ke arah Ester. "Sweetheart!" Godanya kemudian. Menirukan gaya bicara Athena.
Ester tersenyum kikuk. Entah kenapa hal itu tak berhasil mengenyahkan perasaan gelisah di dalam dirinya.
"Apa sudah semuanya?" Agung Tirtayasa bertanya.
"Kita kehilangan tim racing, Sir!" Seorang Guardian melaporkan.
Luciana dan ketiga sahabatnya memekik bersamaan.
Wajah Agung Tirtayasa seketika memucat.
"Are you ok?" Seorang pengendara berseragam Paravisi bertanya.
Rayhan Ibrahim menelan ludah, kemudian berguling ke samping dan menarik bangkit tubuhnya. "It's ok," katanya. Lalu menatap ke arah pengendara berseragam Parvisi itu dengan alis tertaut. Suara pria itu mengingatkan dirinya pada seseorang.
Tak lama pria itu menurunkan masker dari wajahnya dan Jonathan Van Allent menyeringai ke arahnya.
Rayhan Ibrahim tersenyum lebar seraya menonjok bahunya. "Di mana kakak perempuanmu?" Rayhan bertanya.
Dijawab dengan teriakan marah pengendara berseragam Paravisi di belakang Jonathan. "Jangan sebut gue perempuan!"
Ryan Gunawan, Naomi dan Rayhan Ibrahim tergelak menanggapinya. Lalu ketiganya mengalihkan perhatian mereka ke arah perempuan dengan rantai besi. Perempuan itu juga menurunkan masker dari wajahnya. Tapi tak satu pun dari mereka mengenalinya.
Bukan Athena, Ryan membatin.
Sepintas perempuan itu melirik ke arah Ryan dan tersenyum tipis.
Pada saat itu para pengendara liar telah kalah telak dan sisanya melarikan diri. Mereka saling menyapa satu sama lain sebelum akhirnya memacu sepeda motornya masing-masing dan berkendara bersama menuju Minority Center.
"Mereka datang, Sir!" Seorang Guardian melapor pada Agung Tirtayasa.
Seisi ruangan menatap mereka. Apakah mereka tim racing? Mereka bertanya-tanya di dalam hatinya. Tapi mereka segera mengetahuinya begitu pintu ruangan dibuka dan puluhan Guardian memasuki ruangan.
Bantuan mereka sudah datang. Tapi tim racing belum ada kabarnya.
Ika dan ketiga sahabatnya menghela napas kecewa.
Ester menatap barisan Guardian itu dengan dahi berkerut. Apakah mereka dari divisi yang berbeda?
Pasukan Ninja yang baru tiba itu mengenakan masker hitam polos.
Sekarang Ester mengerti kenapa sejak tadi ia terus merinding. "Mereka bukan dari divisi!" Ester memekik seraya menunjuk barisan Ninja di depan kelas.
Seisi ruangan tercengang dan terlambat menyadarinya. Pintu ruangan itu kini sudah resmi di tutup. Dan para Ninja itu sudah saling menyerang satu sama lain. Ninja Guardian melawan Ninja asing yang baru tiba itu. Seketika ruangan berubah gaduh.
Luciana, Ester, Ika Apriani dan Ary Caroline berhimpun saling membelakangi satu sama lain. Dengan masing-masing senjata dan kuda-kuda.
Sementara Paravisi lain telah beraksi, Agung Tirtayasa masih tergagap kebingungan. Telepon selulernya bergetar di dalam sakunya. Dengan sedikit geram ia menerima panggilan di ponselnya seraya bergerak ke sana ke mari menghindari semua orang yang tengah bergulat di sekelilingnya.
"Kami mohon maaf karena harus mengabarkan bantuan akan terlambat tiba, pak!" Suara di line teleponnya melapor.
"Well, yeah," komentarnya masam. "Sudah terlambat." Tandasnya dingin. Setelah itu ia segera menutup panggilan dan melompat ke atas meja Paravisi, melempar ponselnya dan menarik kunai dari sepatu larsnya.