Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Morning Rain


November adalah waktu terbaik untuk bersembunyi dan menenangkan diri. Terutama saat hujan pagi hari. Itu adalah saat-saat di mana aku lebih suka bergelung di atas sofa usang, di depan perapian. Menyimak irama hujan seraya menyesap secangkir kopi yang masih mengepul.


Membeku!


Kebekuan yang menenangkan sekaligus kehangatan, yang menguatkan yang berpadu sempurna dalam harmoni irama hujan dan aroma secangkir kopi. Rasanya seperti damai yang mengharukan. Seperti kesedihan yang menyayat namun tak melukai. Atau rindu yang mendalam namun tak menyesakkan.


Seperti kau tak berada di tempat di mana kau berada!


Terkadang bersembunyi menjadi terasa jauh lebih baik dibanding merasa sendirian.


Kadang aku berharap waktu mengampuni dan melepasku di tempat aku bisa memelukmu sebentar saja.


Dee...


Aku benci mengakui ini, tapi perempuan berhati karang merupakan satu-satunya tempat terbaik untuk aku pulang.


Dewi Samudera tercengang kebingungan saat aku menghadangnya di pintu gerbang rumahnya suatu malam. Mata dan mulutnya membulat ketia ia berusaha mengatakan sesuatu tapi tak berhasil menemukan kata-kata.


Aku menyukai ekspresinya saat ia tercengang kebingungan. Kadang aku melakukan hal-hal konyol yang tak berarti demi melihat ia tercengang kebingungan. "Well..." Aku ragu-ragu. "Aku benci aku kembali lagi," godaku sedikit. Sekedar untuk mengatasi perasaan gugup. Aku tahu Dewi Samudera masih marah padaku. Dan itu membuatku sedikit gugup. Bukan sekali ini saja aku melakukan kesalahan dan membuatnya marah. Meskipun pada akhirnya ia selalu memaafkanku, tetap saja aku butuh cara yang manis untuk menghadapinya setiap kali ia mulai marah. "Sejujurnya aku lebih suka kalau aku tak pernah pergi supaya aku tak pernah kembali," paparku, berusaha semanis mungkin. Meskipun aku sadar sepenuhnya bahwa kata-kataku bukannya menjadi semakin manis, tapi malah semakin melantur.


Gadis itu diam saja. Hanya menyimak dengan dahi berkerut-kerut, lalu menghela napas dan menggeleng-geleng. Kemudian ia mengibaskan tangannya tanda tak peduli.


Seminggu yang lalu, aku bertengkar dengannya saat kubilang aku mau pergi mendaki. Ia paling benci kalau aku pergi mendaki. "Tak banyak orang pergi mendaki di bulan November," katanya.


Dia benar. Tapi aku bersikeras bahwa ia hanya beralasan. Ia tak pernah mengijikan aku pergi mendaki sekalipun bukan di bulan November. Aku pulang mengendarai sepeda motor dengan kecepatan tinggi dalam keadaan marah. Hujan deras menyebabkan jalanan menjadi begitu licin. Aku pun tergelincir dan batal pergi mendaki karena harus berbaring di Rumah Sakit selama beberapa hari.


"Kalau Denta ada salah, mohon maaf yang sebesar-besarnya," bujuk ibuku pada Dewi Samudera saat aku dalam perawatan.


Tapi aku tahu persis, Dewi Samudera bukan tipe gadis yang mudah dibujuk. Aku tahu dia masih marah padaku, meskipun sebetulnya ia begitu khawatir. Semakin ia khawatir, biasanya ia justru akan semakin marah.


Aku mengikutinya saat ia berjalan melintasi pekarangan rumahnya setengah berlari. "Dee, please!" Aku berusaha menahannya. Tapi tak berhasil.


Ia membanting pintu begitu ia memasuki rumah dan membiarkanku berada di luar.


Sejujurnya, itu sedikit kasar. Tapi aku berusaha mengerti. "Dee..." Aku mengetuk pintu itu berulang-ulang. Lalu mengetuk juga jendelanya. Cukup lama. Tapi tak ada jawaban. Aku menunggunya beberapa saat, lalu kembali mengetuk-ngetuk pintu dan jendela. Tetap tidak ada jawaban. Mungkin sebaiknya aku menunggunya beberapa saat lagi. Lalu aku menjauh dari pintu. Menyisih dari teras rumahnya dan menunggu di bangku taman, di bawah pohon akasia, di pekarangan rumahnya. Berharap ia melihatku dari jendela kamarnya di lantai dua.


Tapi kelihatannya Dewi Samudera sudah terlanjur menutup diri.


Aku menunggunya hingga dini hari.


Dan ia tak pernah kembali.


Tapi aku masih menunggunya hingga pagi. Hingga kilat berkeredap lalu petir menggelegar di atas kepalaku. Hingga hujan deras menderaku, hingga basah kuyup. Membeku dan kedinginan. Tapi aku tak menyerah.


Terkadang seseorang menyulitkan dirinya hanya untuk membuktikan diri.


Aku tahu saat hujan pagi hari merupakan momen favoritnya. Bisa dibilang ia hampir memujanya. "Aku rela melakukan apa saja untuk dapat berhujan-hujanan di luar sana," katanya setiap kali hujan turun pada pagi hari. Tapi ia hanya bergelung di depan perapian seraya membeku. Memandang jauh ke luar jendela, dan menerobos rinai hujan dengan imajinasinya. Karena dalam kenyataannya, ia bahkan tak bisa menyentuh air hujan karena tubuhnya alergi pada air hujan. "Itu sama seperti Putri Petani yang mendambakan Kekasih Pangeran," katanya masam.


"Setidaknya kau sudah dapat pacar Pangeran," godaku biasanya. Sekedar usaha untuk membuatnya merasa tenang di tempat duduknya.


Sekarang Pangeran itu ada di sini, Dee!


Menunggumu...


Semalaman.


Jika ini bisa membuatmu mencintaiku lagi, aku rela menjadi hujan di pagi hari!


Rasanya, masih jauh lebih baik jika ia berteriak marah daripada ia diam tak peduli. Bahkan jika ia berkata, "get out here!" Dibanding hanya menggeleng dan tak mengatakan apa-apa lagi. Karena itu hanya berarti satu hal: "Whatever!"


Deru sepeda motor membahana dari kejauhan, lalu berhenti di depan pintu gerbang rumah Dewi Samudera. Tak lama kudengar suara pintu gerbang dibuka dan ditutup. Kemudian sepeda motor itu melintas di pekarangan dan berhenti di depan pintu. Tanpa harus menunggu cukup lama, Dewi Samudera membukakan pintu untuk Si Pengendara Motor yang baru saja tiba itu.


"Ada apa?" Suara Si Pengendara Motor itu terdengar tak asing di telingaku.


Tanpa pikir panjang aku pun menghampiri keduanya ketika kulihat Dewi Samudera memeluk Si Pengendara Motor.


"Denta..." Dewi Samudera berteriak histeris. "Aku mendengar suara Denta di depan pintu gerbang," katanya seraya menangis.


"Shhh.... Sshhh..." Si Pengendara Motor itu mengusap-usap bahu Dewi Samudera, berusaha menenangkannya.


"Lalu waktu aku masuk rumah, aku juga dengar pintu dan jendela diketuk-ketuk. Aku takut," isaknya.


Takut katanya? Dewi Samudera takut padaku? Yang benar saja?!


Dengan perasaan teluka kuseret langkahku mendekati keduanya, lalu mencoba melepaskan pelukan mereka. Tapi tanganku hanya melayang di udara kosong. Aku tercengang sesaat lalu mencobanya sekali lagi. Tapi lagi-lagi tanganku melayang melewati mereka. Ini aneh sekali. Aku tak bisa menyentuh mereka.


"Denta mencintaimu, Dewi!" Si Pengendara motor berkata lembut. "Jika kau berpikir bahwa ia menghantuimu, aku yakin ia tak bermaksud menakutimu. Barangkali ia hanya mau bilang I love you!"


..._...


Casey menguap lebar dan mendadak tak sanggup menahan kantuknya. Ia menutup buku di tangannya dan menaruhnya di atas meja kecil di sisi tempat tidurnya. Setelah itu ia mematikan lampu di meja itu kemudian menarik selimut dan memejamkan matanya. Sesaat ia sempat mimikirkan kisah cinta membosankan yang dibacanya dan diliputi perasaan aneh yang menekan dirinya. Membuat dirinya semakin mengantuk. Tak lama kemudian gadis itu jatuh tertidur dibuai mimpinya.


Di dalam mimpinya, Casey memasuki ruangan di balik perpustakaan berlangit-langit rendah yang ditunjukkan Denta pada hari pertama ia tiba di rumah barunya. Dan di dalam ruangan itu, ia menemukan tiga orang berpakaian misterius seperti pakaian pria yang ia temui di Taman Bacaan Deasy Dengkur. Mereka tengah berhimpun di tengah ruangan yang tidak diduganya berukuran jauh lebih besar dari ruang tamu dalam rumahnya. Satu di antaranya adalah seorang perempuan.


Lalu salah satu dari pria di tengah ruangan itu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Casey. Pria itu adalah Denta. Tak lama seorang pria yang membelakanginya mengikuti arah pandang Denta dan menoleh ke arah Casey.


Casey memekik tertahan ketika pria itu memperlihatkan wajahnya.