
"Apa rencanamu setelah ini?"
Casey memekik ketika suara itu tiba-tiba mendengung begitu dekat di belakangnya. Ia hampir saja menjatuhkan piring di tangannya. "Dari mana kau muncul?" Ia bertanya dan langsung menyesalinya. Pertanyaan bodoh. Ia memaki dirinya sendiri. Lalu menyelesaikan pekerjaan mencuci piring itu dan mengeringkan kedua telapak tangannya dengan tissue di meja makan.
Pria berambut sebahu itu mengamatinya selama Casey mondar-mandir di ruangan itu dengan gerakan terburu-buru. Tapi tak mengatakan apa-apa.
Casey berjalan cepat ke arah pintu dan menoleh sebentar ke arah pria itu, "jangan coba-coba mengikutiku!" Ia memperingatkan pria itu. "Aku mau ganti baju."
Pria itu hanya menaikkan sebelah alisnya seraya bersedekap.
Beberapa menit kemudian, Casey sudah keluar dari kamarnya dan berjalan berdampingan dengan pria tak kelihatan itu meninggalkan rumahnya menuju pusat pertokoan klasik yang menjual perabotan kuno dan buku-buku tua, tak jauh dari rumahnya.
Casey meneliti setiap toko yang dilewatinya dengan tampang bosan. Lalu memutuskan untuk masuk ke dalam salah satu ruko bertulisan: TAMAN BACAAN DEASY DENGKUR
Tulisan itu membuat Casey tergelitik dan berhasil menarik minatnya. Meski gadis itu tidak terlalu berminat untuk membaca buku ia tetap merasa penasaran untuk mengunjunginya. Tidak ada salahnya melihat-lihat sebentar, pikirnya. Siapa tahu begitu sampai di dalam ia akhirnya bisa mendengkur saat membaca buku sesuai namanya. Barangkali mendengkur di tempat lain bisa menghabiskan waktu lebih banyak di luar rumah untuk mengurangi sedikit beban ayahnya yang selalu khawatir setiap kali mendapati dirinya selalu berada di dalam rumah. Ia akan berada di tempat ini untuk selama-lamanya. Dan ayahnya berharap bisa melihat Casey bersenang-senang di tempat yang paling membosankan seperti kota ini. Jadi ia harus belajar mengatasi rasa tak kerasan yang belum mampu disingkirkannya sejak ia tiba.
Pria tak terlihat bernama Denta itu masih mengekor di belakangnya tanpa bicara.
Casey juga berusaha untuk tidak berkomunikasi dengan pria itu supaya ia tidak terlihat aneh di mata orang lain.
Begitu mereka memasuki ruangan, Casey mendapati seseorang tengah mendengkur di meja kasir. Itu pasti Deasy Dengkur. Ia menyimpulkan. Di atas meja kasir, tak jauh dari kepala perempuan yang tengah mendengkur itu terdapat sebuah kotak kayu mirip peti mati berukuran 10X30 CM yang berisi sejumlah uang.
Casey menggeleng seraya tersenyum. Apakah ia selalu seperti itu sepanjang waktu? Ia bertanya-tanya dalam hati. Kemudian mulai berjalan semakin ke dalam menyusuri ruangan yang dipadati buku-buku tebal. Seluruh dindingnya terdiri dari rak buku dan di setiap ruangan terdapat sebuah sofa beludru dan meja kopi berukuran kecil. Setiap satu ruangan sepertinya memang didesign khusus untuk satu orang. Tempat ini lumayan nyaman untuk para pecinta buku, pikir Casey. Sepertinya aku memang bisa mendengkur karena bosan di atas sofa beludru itu setiap kali mulai membaca buku.
Memasuki ruang kedua, Casey berpapasan dengan seorang pria berpakaian misterius. Casey tercekat saat pria itu mencoba menyapanya. Ia tak yakin orang itu termasuk jenis orang yang terlihat atau tidak. Jadi ia hanya menanggapinya dengan tersenyum kikuk.
Pria itu berambut panjang seperti pria tak terlihat di belakangnya. Ia mengenakan pakaian serba hitam mengkilap mirip seragam Ninja modern dalam film-film gothic. Lengkap dengan jaket kulit dengan penutup kepala. Mirip dengan jaket yang dikenakan Denta. Pria itu menatapnya seraya tersenyum tipis. Tapi tak mengatakan apa-apa. Tak lama kemudian pria itu juga beradu pandang dengan pria tak terlihat di belakang Casey.
Casey menoleh menatap keduanya secara bergantian.
Dan pria misterius itu membalas tatapannya dengan alis bertautan.
Casey menelan ludah dan melengos menghindari tatapan pria itu. Lalu berjalan menjauh dari tempat pria itu berdiri. Seketika bulu kuduknya meremang ketika ia berbalik namun masih bisa merasakan tatapan pria itu masih melekat di tengkuknya. Ingin rasanya ia keluar dari tempat itu secepat mungkin, tapi ia tahu pria tadi akan mencurigainya jika ia melakukannya sekarang juga. Jadi mau tidak mau, Casey terpaksa melanjutkan rencananya untuk melihat-lihat ruangan lain meski sudah tak bisa menikmatinya.
"Hey, lihat ini!" Denta menepuk bahu Casey. Kemudian menunjukkan sebuah buku tebal berwarna cokelat madu berukiran tinta emas. "Ini buku kesukaan Ezra!" Pria itu memberitahu.
Casey menelan ludah dan menatap Denta dengan alis bertautan. Gadis itu mematung cukup lama sebelum akhirnya menerima buku itu dari tangan Denta dengan ragu-ragu.
Denta mengembangkan senyumnya. "Kau bisa meninggalkan uang di meja kasir. 10$ untuk satu buku," katanya menjelaskan. "Kecuali jika kau ingin membacanya di sini. Tak peduli berapa banyak buku yang kaupinjam. Selama kau membacanya di sini kau hanya perlu membayar 2$ sehari penuh!"
"Tapi sebagai pengunjung baru, jika kau ingin membawa pulang bukunya, kau harus membeli kartu member senilai 90$ untuk satu buku sebagai jaminan." Denta menerangkan.
Casey akhirnya mendekap buku itu dengan sebelah tangannya dan berjalan menuju meja kasir.
"Kau tak harus membangunkannya. Cukup katakan sesuatu dan taruh uangnya dalam kotak, ia bisa mendengarnya meski ia sedang mendengkur!" Denta memberitahunya lagi. "Kartu membernya ada di kotak kecil di sampingnya!"
Casey berdecak dan menatap takjub ke arah Denta. "Kau mengetahui banyak hal mengenai rumahku dan lingkungannya ya?" Casey bertanya. "Apakah dulunya kau tinggal di rumahku?"
Mendengar pertanyaan itu, seketika Denta mendengus, memperlihatkan perasaan tersinggung. "Dulunya...?! Hah..." Denta tertawa getir.
"I'm sorry," desis Casey merasa bersalah. Tahulah ia sekarang bahwa Denta sudah meninggal dunia. Dan pria itu sudah menyadarinya. Baiklah, katanya dalam hati. Pria ini memang hantu.
"Bagaimana acara jalan-jalannya?" Ayahnya bertanya setelah mereka kembali ke rumah. "Sudah menemukan tempat favorit?"
"Well, belum." Casey tersenyum simpul. "Aku belum pergi terlalu jauh."
"Setidaknya kau sudah berusaha untuk menikmati hidup!" Ayahnya menyeringai.
"Good night, Dad!" Casey melambaikan tangannya dari tangga saat ia berjalan naik ke lantai dua menuju kamarnya.
"Semoga malammu menyenangkan, Sweetheart!" Ayahnya menjawab dari ruang tengah.
Casey menghela napas berat kemudian menghembuskannya sekaligus. Ia menyandarkan tubuhnya pada pintu kamarnya saat ia baru menutupnya. Dipejamkannya matanya rapat-rapat, berusaha mengenyahkan semua hal yang mengganggu perasaannya sepanjang malam. Ia mengeluarkan buku yang ia sembunyikan di balik mantelnya saat ia berhadapan dengan ayahnya di ruang tengah.
Casey membaca sampulnya: Waktu Selalu Punya Jawaban Untuk Setiap Persoalan
Dari judulnya saja sudah terbayang isinya pasti sangat membosankan. Casey tak yakin apakah ia betul-betul ingin membacanya. Ia tak pernah membaca buku setebal ini seumur hidupnya. Ia bahkan tak pernah membaca buku kecuali saat ia masih sekolah. Membaca buku bukanlah salah satu kegiatan favoritnya.
Tapi jika Ezra begitu menyukainya, ia harus tahu alasan pria itu menyukainya. Jadi ia pun mulai membacanya.
Halaman utamanya memuat prolog berisi kutipan cerita dari salah satu episode yang menceritakan bagian paling dramatis tentang kematian seorang pria dalam kecelakaan setelah pria itu bertengkar dengan kekasihnya.
Betul-betul membosankan, gumam Casey dalam hati. Ia hampir tak percaya Ezra menyukai cerita semacam itu mengingat kecerdasan pria itu di atas rata-rata. Tapi jika pria itu sampai menyukainya, pasti ada sesuatu yang menarik yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kisah cinta yang menyedihkan itu.
Selain itu, ada satu hal yang menarik perhatian Casey. Nama tokoh dalam cerita itu betul-betul berhasil membuat bulu kuduknya meremang.
Tokoh utama dalam cerita itu bernama: Denta!