Serial ArtLand: MINORITY TALENT

Serial ArtLand: MINORITY TALENT
Mission Completed!


Oscar Tjang melangkah kikuk memasuki East Theater seraya mengedar pandang dengan sikap risih. Berkali-kali ia berdeham untuk menyingkirkan perasaan tak nyaman pada tenggorokannya.


Sejumlah Paravisi dan Aset menatapnya dari meja berukuran paling besar di tengah Coffee Shop itu.


Hari itu, Oscar Tjang datang untuk meminta maaf sekaligus berterimakasih atas aksi Paravisi yang telah berhasil menyelamatkan data berharganya. Ini sama sekali bukan gaya Oscar Tjang. Sekiranya yang ia hadapi bukan Paravisi ia mungkin masih bisa bermain otak untuk mempertahankan harga dirinya. Tapi siapa yang tak tahu bahwa Paravisi rata-rata memiliki kemampuan istimewa. Ia takkan bisa berkelit di depan Athena. Hari ini harga dirinya betul-betul sedang dipertaruhkan. Ia merasa dirinya telah dipermalukan. Bukan oleh mereka yang tak bisa dibohongi. Tapi karena ambisinya di masa lalu. Aku memang pantas menerima semua ini, sesalnya.


Setelah aksi heroik yang dilakukan Dewi Samudera, Monica Debora akhirnya berhasil diseret ke kantor polisi dan berakhir di pengadilan. Berdasarkan saksi dan bukti yang berhasil mereka kumpulkan, Elijah akhirnya dibebaskan dari tuduhan dan Monica Debora dijebloskan ke dalam penjara. Dan bonusnya adalah data Oscar Tjang dikembalikan.


"Tidak perlu berterimakasih, Mr. Tjang!" Habel Wisnu Putra Pandu spontan menyela, begitu ia melihat Oscar Tjang tergagap membuka mulutnya dan terbata-bata.


Mendengar hal itu, seisi ruangan mendadak membekap mulutnya menahan tawa.


Seketika wajah Oscar Tjang bersemu merah. "Saya sangat menyesal, Capt!"


Athena menunjuk sebuah bangku di sampingnya dan mempersilahkan Oscar Tjang untuk duduk. "Duduklah, Os!"


"Terimakasih," ungkapnya seraya memaksakan senyum. Bukan senyum kepalsuan yang seperti biasa ia lakukan saat berpura-pura ramah. Tapi senyuman semu untuk berpura-pura bahagia. Mulai sekarang aku tak ingin berurusan lagi dengan Paravisi, tekadnya.


Athena mengembangkan senyum tipisnya.


Ardian Kusuma mendadak berpura-pura sibuk mempermainkan rambut gelombang milik Luciana yang tergerai melewati bahunya. Jari telunjuknya mengait sejumput rambut gadis itu dan melilitkannya pada jarinya.


Pada saat itu Oscar Tjang sudah duduk dan bergabung di meja mereka.


"Kau apakan rambutmu, kok jadi begini?" Ardian bertanya pada Luciana seraya memicingkan matanya, pura-pura memeriksa rambut Luciana yang mengikal di bagian ujungnya.


"Jadi begini apa?" Luciana mendadak panik seraya memegangi rambutnya.


"Jadi ikal," jawab Ardian sembari menyeringai.


Agung Tirta dan Senja Terakhir yang pada saat itu sedang berdiri diam di belakang Athena dengan kedua tangan terselip di dalam saku parkanya, mendelik sebal ke arah Ardian Kusuma.


"Dia sakit apa sih?" Agung Tirta bertanya dengan sikap mencela.


"Sakit jiwa lah, memang apa lagi?" Senja menjawab sekenanya.


Dion Markus dan Martin Hernandez juga membeliak ke arah Ardian sambil bertopang dagu. Sepintas keduanya terlihat seperti boneka porselen berwajah kembar.


Evan Jeremiah duduk tegak dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya yang membusung. Di bahu sebelah kanannya, Elijah bersandar tenang seraya menggigiti sebatang rumput yang selalu terselip di sudut bibirnya.


"Om, keponakannya udah ngantuk tuh," komentar Ryan dari seberang meja Evan, seraya menunjuk ke arah Elijah. Saat itu ia duduk diapit Ika dan juga Athena.


Jadi ketika ia melontarkan lelucon itu, sontak Ika langsung menjambak rambutnya dan Athena memelototinya.


Senja memanfaatkan kesempatan itu untuk mencuri pandang ke arah Athena. Ia tersenyum tipis seperti biasa, namun matanya berbinar-binar saat wajah Athena menyamping selama memelototi Ryan.


Melihat hal itu Martin Hernandez juga mencuri kesempatan untuk menggoda Senja. "Ja," katanya dengan gaya yang belum berubah. Masih bertopang dagu di atas meja, seragam dengan gaya Dion Markus di sampingnya.


"Tantenya cantik ya?!" Martin Hernandez menunjuk ke arah Athena dengan bibirnya. Membuat seisi Coffee Shop serentak tergelak.


Athena yang saat itu sedang berbicara dengan Oscar Tjang, langsung melotot ke arah Martin Hernandez.


Seketika wajah Senja merona. Tapi ia tetap mengembangkan senyum tipisnya.


Oscar Tjang ikut tertawa.


"Tantenya buat Om aja!" Martin Hernandez mengerjap-ngerjapkan matanya seperti keparat tua yang sedang merayu.


Di sisi kanan Elijah, ada seorang anak laki-laki berusia sekitar 20 tahun, yang tidak termasuk barisan Paravisi maupun Aset. Ia adalah sahabat baik Elijah--Arfah. Anak itu hanya menyeringai mendengarkan mereka saling melemparkan lelucon.


Di sisi Arfah, Gilang Wibisana sedang sedikit sibuk memainkan rambut lurusnya yang tergerai sampai ke punggung seperti gadis dalam iklan shampoo.


Ryan Gunawan sedang sibuk, berebut telepon seluler dengan Asetnya Ika Apriani sambil bertengkar. "Gak asik lu, Ryan!" Ika menggeram seraya menjambak rambutnya.


Sementara yang lainnya hanya diam memperhatikan Oscar Tjang tanpa menyimak pembicaraannya. Hanya menatapnya dengan tampang sebal.


Selain Athena, tak satu pun dari Paravisi dan juga Aset memandang ramah pada Oscar Tjang. Sampai pria itu undur diri, tak satu pun dari mereka menanggapinya kecuali anak laki-laki yang bernama Arfah.


Athena memperkenalkan anak itu sebagai saksi kunci transaksi Monica Debora dengan sejumlah Gangster yang disewa Monica Debora dengan menguras rekening Oscar Tjang.


Keputusan Arfah mengikuti Monica Debora sebetulnya untuk misi lain. Misi utamanya adalah mencari informasi mengenai penculikan atas kakak kandungnya. Pada hari kakaknya diculik, Arfah dan Elijah pernah berhadapan dengan Jessifer Illucy. Dan Arfah mengira Monica Debora adalah Jessifer Illucy. Itu sebabnya anak laki-laki itu menerima kerjasama yang ditawarkan Monica Debora.


Monica Debora menawarkan harga tinggi untuk merekrut sejumlah Gangster.


Arfah tergolong individu netral yang memiliki hampir semua akses sindikat mafia tanpa terlibat di dalamnya. Ia bekerjasama dengan siapa pun tanpa terikat organisasi tertentu.


Kerjasama yang ditawarkan Monica Debora saling menguntungkan pada awalnya. Monica Debora menghabiskan lebih banyak waktu dengan Arfah, dan itu artinya Arfah memiliki banyak kesempatan untuk mengetahui lebih banyak informasi terkait Monica Debora. Dimulai dari sistem pembayaran online dan konsultasi rahasia Monica Debora dengan seorang dokter ahli bedah plastik dari Michigan. Sampai kemampuan beladiri yang tak dimiliki Monica Debora.


Sejak saat itu, Arfah mulai menyadari ada yang salah dengan perempuan yang ia kira Jessifer Illucy. Perempuan yang pernah bertarung dengan Arfah dan Elijah pada hari kakaknya diculik, sama sekali berbeda dengan perempuan yang saat ini sedang bersamanya. Dan begitu berita Elijah muncul sebagai tersangka, Arfah akhirnya memutuskan untuk melaporkan aksi pembunuhan massal yang dilakukan para Gangster, yang disewa Monica Debora. Kemudian menyertakan nama Oscar Tjang sebagai pemilik rekening dalam data yang tertanam di tubuh Monica Debora dalam kesaksiannya.


"Jadi, pembunuhan Massal yang dirancang Monica Debora tujuannya hanya untuk menyempurnakan penyamarannya sebagai Jessifer Illucy!" Athena menyimpulkan.


Seisi Coffee Shop terdengar menghela napas.


"Kalo dia berani nyamar jadi gue, gue injek batang lehernya!" Ika menggerutu dengan tampang kekanak-kanakannya yang khas.


Ryan Gunawan dan Reyhan Ibrahim yang saat itu duduk di kiri-kananya membeliak ke arah Ika. "Lu mau injek batang lehernya pake apa?" Ryan mencemooh. "Pake galah?!"


Ika menggembungkan mulutnya sembari melotot ke arah Ryan.


"Monica Debora tingginya segini!" Ryan menaikkan tangannya ke atas kepalanya "Tinggi lu cuma segini!" Sekarang tangannya bergerak turun ke mata kaki.


Reyhan Ibrahim tergelak di sisi lainnya. Membuat Ika sontak menjambak rambutnya juga.