
Elijah memarkir sepeda motornya di pekarangan sebuah bangunan rusak bekas sekolah menengah, tempat di mana ia dan beberapa teman lamanya biasa berkumpul. Tak banyak orang yang tahu tempat itu kecuali beberapa remaja yang memang memiliki hobby mural dan segelintir pecinta sepeda motor modifikasi yang tidak tergabung dalam komunitas. Tempat itu semacam markas sekaligus tempat persembunyian bagi Elijah setiap kali ia kabur dari rumah. Sudah cukup lama semenjak dirinya menjalani pendidikan Paravisi, ia nyaris tak pernah kembali ke tempat ini kecuali pada saat tempat itu betul-betul kosong. Sebagai penghuni lama, Elijah sudah cukup hafal saat-saat di mana tempat itu betul-betul kosong. Dan di sinilah gadis Paravisi itu bersembunyi selama ini. Satu-satunya tempat yang belum diketahui kekasihnya, Evan Jeremiah.
Evan Jeremiah mengetahui hampir seluruh dunia Elijah dan menguasai semua tempat bahkan di dalam hatinya secara ekslusif. Dan itu membuat Elijah selalu mengingatnya ke mana pun ia melangkah. Bahkan ketika tempat yang dikunjunginya tak pernah diketahui Evan.
Aku tak bisa lari dari kesedihan, pikir Elijah.
Evan Jeremiah adalah pria pertama sekaligus satu-satunya yang mampu menaklukan hatinya. Satu-satunya pria yang membuat Elijah berani menyerahkan diri dan mempercayakan seluruh hidupnya. Satu-satunya sumber kekuatan yang tanpanya ia tak berdaya.
Aku telah mencintai orang yang keliru, kenangnya getir. Sebutir airmata seketika bergulir melalui bulu mata bawah Elijah. Ini pertama kalinya Elijah meneteskan airmata setelah masa kanak-kanak. Terakhir kali ia menangis adalah saat ia berumur tujuh tahun. Sebagai putri dari seorang pemimpin militer, kepadanya diajarkan bahwa airmata tidak ada bedanya dengan markas pertahanan militer. Hanya kepada orang tertentu saja ia boleh menunjukkannya. Bagi Elijah airmata adalah harta paling berharga. Untukmu aku memboroskannya, katanya dalam hati.
Hari itu Elijah sengaja datang lebih sore untuk menemui seseorang yang telah lama ditinggalkannya. Sahabat terbaik Elijah sebelum ia direkrut menjadi Paravisi.
Arfah!
Seorang anak laki-laki berusia dua puluh tahun, bertubuh tinggi, berkulit sawo matang, tengah bersandar pada dinding dengan kedua tangan terlipat di bawah dadanya. Sebelah tangannya menggenggam gulungan surat kabar harian kota Artland. Anak laki-laki itu mengenakan parka berwarna hitam dengan penutup kepala yang nyaris tak pernah lepas dari kepalanya. Menutupi rambut hitamnya yang dipangkas rapi dengan cambang halus pada pipinya. Mata tajamnya yang berwarna gelap terlihat dalam di bawah tudung parkanya.
"Sendirian?" Elijah bertanya.
Anak laki-laki itu hanya menyeringai tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa yang datang meski sudah cukup lama mereka tidak bertemu. Arfah memiliki daya ingat yang luar biasa di samping daya tangkap."Welcome back," sapanya pada Elijah.
Elijah melangkah melewati Arfah seraya menyambar gulungan surat kabar dari tangan anak laki-laki itu sambil lalu. Kemudian ia membuka gulungan surat kabar itu setelah ia duduk di tembok pembatas yang sudah roboh sebagian.
Berita utama pada surat kabar harian kota Artland hari ini memuat berita kematian seorang Manajer Kota yang cukup terkenal: Benjamin Lewis!
Elijah mengerang seraya memejamkan matanya dengan tampang muak. Lagi-lagi foto dirinya dimuat dalam surat kabar sebagai tersangka pembunuhan. Pihak kepolisian menemukan telepon seluler milik Elijah saat penyisiran tempat kejadian perkara.
Artikel lainnya memuat berita serupa mengenai kematian massal di kota Artland.
Elijah tercenung mengamati surat kabar di tangannya dengan tatapan kosong.
"Sorry," ungkap Arfah prihatin. "Kali ini gue gak bisa bantu lu!"
Elijah mengembangkan senyum tipisnya. "Lu bisa kok bantu gue!"
Arfah memicingkan mata ke arah Elijah.
"Gue cuma mau titip motor sama numpang salin,"
"Sama apa lagi?" Arfah bertanya curiga. Setelah sekian lama mereka berteman, Arfah sudah cukup hafal dengan sifat Elijah.
"Hehe..." Elijah menyeringai. "Pinjem motor lu!"
Arfah mendengus dan membeliak.
"Are you ok, Sweetheart?" Pertanyaan khas Athena. Ia baru saja keluar dari ruang kerja pribadinya ketika Dewi Samudera tiba-tiba berdiri di depan pintu dan menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku," desis Dewi Samudera lemah. Seluruh tubuhnya menggigil dan basah kuyup.
Athena mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Lalu menatap matanya. "Follow me!"
"Banyak hal terjadi di luar kuasa kita, Sweetheart!" Athena memulai petuahnya. "Dan tugas kita hanyalah menerimanya." Athena menatap wajah di depannya dengan senyum tipisnya yang khas. "Kesempurnaan adalah titik rapuh, Sweetheart!"
"Well, sejak kapan kau mulai gemar berbicara sendiri?" Senja Terakhir tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu akses Divisi Doa yang selalu tertutup rapat.
Itu adalah pertama kalinya Senja berhasil memasuki ruang Divisi Doa yang tak didugaannya ternyata seluas ruang Personality Class. Bedanya, jika Personality Class adalah Auditorium, Divisi Doa adalah Gereja.
"Sejak kapan kau bisa mengendalikan kekuatan teleportmu?" Athena balas bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sejak aku mulai mengerti arti cinta sejati!" Senja menjawab seraya melangkah pelan menghampiri Athena.
Dewi Samudera menelan ludah, menundukkan kepalanya dengan sikap risih. Ia merasa tak enak hati mendengarkan pembicaraan kedua Paravisi itu.
Athena melirik gadis itu sepintas kemudian menatap Senja.
Senja tidak menyadari kehadiran Dewi Samudera.
Dewi Samudera memiliki kelainan DNA yang bisa membuat dirinya tak terlihat saat tubuhnya tersiram air. Itu sebabnya setiap kali dirinya terkena air, Dewi Samudera selalu menjerit ketakutan karena tubuhnya selalu menghilang. Banyak orang mengira Dewi Samudera phobia pada air. Sebagian orang berpendapat Dewi Samudera mungkin alergi pada air hujan. Dewi Samudera tidak alergi atau phobia. Dewi Samudera adalah manusia transparan. Dan hanya Athena yang bisa melihatnya.
Dalam hati Athena menyesal telah membawa Dewi Samudera ke ruang Divisi Doa. Ia samasekali tak pernah mengira Senja Terakhir akhirnya bisa menembus ruang Divisi Doa. Pertumbuhan bakatnya terlalu pesat, pikir Athena. Haruskah ia menceritakan kebenaran tentang Dewi Samudera?
"Aku bisa melihat hantu," ungkap Senja tiba-tiba.
Athena melengak. Ia tahu Senja bisa melihat hantu dan sejenisnya. Ia hanya tak mengerti kenapa Senja mengatakannya.
"Tapi aku tak bisa melihat makhluk apa yang sedang berbicara denganmu!" Senja menambahkan.
Athena diam saja. Masih ragu apakah ia harus menceritakannya pada Senja. Ia menatap Dewi Samudera untuk meminta persetujuannya. Tapi gadis itu bahkan tak berani mengangkat wajahnya.
"Apa kau sedang berbicara dengan Malaikat?" Senja menyeringai dan mendekatkan wajahnya ke wajah Athena.
Seketika wajah perempuan itu merona.
"Atau TUHAN?" Senja masih penasaran.
Athena masih membeku dengan mulut terkatup.
"Oh, come on, Captain!" Senja mulai mendesak Athena. "Jika dia memang TUHAN aku akan segera menyingkir dari tempat ini karena DIA jelas bukan tandinganku."
Aku tidak bisa lari dari perhatiannya, pikir Athena.
"Tapi jika ia Malaikat, aku beritahu saja, TUHAN pernah mendatangkan air bah untuk menghabisi keturunan campuran. Dan itu artinya TUHAN tidak merestui hubungan manusia dengan malaikat," celoteh Senja tanpa jeda.
Pada saat itu, tubuh Dewi Samudera sudah mulai mengering dan secara perlahan gadis itu mulai terlihat.
Seketika Senja Terdiam.