
Xia Fui. Perempuan itu tengah mondar mandir didalam kamarnya.
"Sebenarnya kemana mereka!?" Gumamnya.
Yah! Gadis itu tengah menunggu Hyoung Sensei.
"Putriku..." panggil Fui Fang seraya masuk kedalam kamar putrinya itu.
"Ibu." Gumam Xia Fui seraya menatap sang ibu.
"Ibu, apa ibu melihat Sensei?" Tanya Xia Fui.
"Tidak, putriku."
Xia Fui membuang nafasnya kasar.
"Putriku, sekali lagi ibu peringatkan padamu. Jauhi Xia Rong dan Xia Rang."
"Dan juga... berhentilah mengganggu Xia Re!" Ujar Fui Fang.
Xia Fui menatap lekat sang ibu.
"Kenapa? Kenapa ibu selalu menyuruhku menjauhi Xia Re!?"
"Apa ibu lupa. Gara-gara Xia Re, aku batal menikah dengan Mo kai. Dan sekarang, Xia Re merebut kasih sayang Sensei!" Ujar Xia Fui.
"Putriku, ingin sekali ibu memberi tahu padamu kebenaran. Tapi, ibu tidak bisa."
"Sudahlah... jika kau tidak mau mendengarkan ibu. Yang pasti, ibu sudah memperingati dirimu, putriku." Ujar Fui Fang seraya keluar dari kamar putrinya dengan kecewa.
Xia Fui, ia mengepalkan tangannya.
"Xia Re..." gumamnya.
Sementara itu...
Hyoung Sensei dan Jensung saling melempar pandang.
"Sensei, ada apa dengan Rere?" Bisik Jensung.
"Aku tidak tau." Bisik Hyoung Sensei.
ketiganya sekarang tengah makan malam bersama. atau lebih tepatnya, hanya mereka berdua. Xia Re, gadis itu sejak tadi hanya melamun.
"Rere, makanlah." ujar Hyoung Sensei.
"benar, adik. lepaskan cadarmu, ayo kita makan." sambung Xia Jensung.
"Rere..." panggil Hyoung Sensei seraya melambaikan tangannya didepan wajah Xia Re.
Xia Re tersadar dari lamunannya.
"ma-maaf, kak. Rere, sedang tidak ingin makan." ujarnya.
"Hufh... tidak ingin makan apa. anda kan baru selesai makan tadi." ujar Tong Tong.
Xia Re menatap Tong Tong datar.
'maka dari itu. lagi pula, kenapa aku tidak mau makan karena... satu, aku pasti harus melepaskan cadarku dulu. dan itu, aku tak mau. dua, aku sudah kenyang. dan terakhir...'
"terakhir apa, tuanku?" tanya Tong Tong penasaran.
Xia Re bangun berdiri. "kakak, Rere izin kekamar mandi dulu."
"baiklah, hati-hati." ujar Hyoung Sensei dan Jensung bersamaan.
Xia Re berjalan menuju kamar mandi. sementara, Tong Tong mengikutinya, ia masih menunggu jawaban Xia Re.
"tuanku, anda masih belum meneruskan ucapan anda." ujar Tong Tong.
saat didepan kamar mandi, Xia Re berhenti. ia membalikkan badannya menatap Tong Tong datar.
"aku tidak ingin membahasnya. sudah! kau pergilah." usir Xia Re.
Tong Tong pun akhirnya pergi menghilang.
Xia Re berjalan masuk kedalam kamar mandi. ia melototkan matanya kala melihat laki-laki bertopeng itu berada didalam.
"Apa yang kau lakukan disini." ujar Xia Re seraya melirik kesana kemari takut ada seseorang.
"ada yang ingin saya sampaikan pada anda, Nona." ujar laki-laki bertopeng itu.
Xia Re mengerutkan keningnya, lalu ia menutup pintu kamar mandi.
"cepat katakan?" tanya Xia Re.
laki-laki bertopeng itu memainkan rambut Xia Re seraya berkata. "Kau tidak akan menemukan Me Fu'an disini, sayang."
'deg'
-Disisi lain, disebuah tempat.
tampak Selir Fui Fang tengah berbincang dengan seseorang.
"ternyata kau sudah kembali." ujar seseorang itu seraya mengelus kucing hitamnya.
"aku tidak ingin basa basi. dia sudah datang! sebaiknya kebenaran cepat terungkap!" ujar Fui Fang emosi.
seseorang itu bangun berdiri dan berjalan menghampiri Fui Fang seraya berkata. "dia sudah datang?"
"iya. dia mencarimu! jika kebenaran itu tidak cepat terungkap! akan lebih banyak lagi korbannya." ujar Fui Fang.
"kebenaran akan terungkap dengan sendirinya. aku tidak bisa lagi melanggar aturan langit." ucapan seseorang itu membuat Fui Fang semakin kesal.
"apa kau tidak tahu! kau dan dia sudah melibatkan banyak orang!!!!" murka Fui Fang.
"nasi sudah menjadi bubur, saudariku. lebih baik kau jaga putrimu."
"Kau!!!" geram Fui Fang.
"sudahlah, kau pergilah. aku ingin beristirahat." ujar seseorang itu seraya membalikkan badannya.
"Dewa dan Iblis tidak bisa bersatu. jika kebenaran tidak terungkap segera... maka, kejadian itu akan kembali terjadi. ingat itu, Me Fu'an." peringat Fui Fang.
-Aula Raja
Fan Zui, tampak laki-laki itu tengah menghadap sang kakak dan ayahnya.
"ada apa, Zui?" tanya sang ayah.
"aku ingin menikah!" ucapan Fan Zui membuat semua yang berada di Aula Raja terkejut.
"putraku, siapa gadis yang kau suka?"
"Nona kelima dari Keluarga Menteri Xia."
"kirim surat lamaran." perintah Fan Yan.
"baik, yang mulia."
-Kediaman Pangeran kelima [Fan Zhuang]
"Pangeran, ini adalah obat yang dikirimkan Nona Xian." ujar pelayan Fan Zhuang.
"hm." sahut Fan Zhuang.
"apa ada laporan?" tanya Fan Zhuang.
Fanna, pelayan Fan Zhuang itu mengangguk.
"yang Mulia Raja mengirimkan surat lamaran untuk Nona kelima keluarga Menteri Xia. untuk yang mulia pangeran kedua." jawab Fanna.
Fan Zhuang mengepalkan tangannya.
"dia terlalu tidak sabaran. kirim surat pada Xia Re, katakan padanya. aku ingin menemuinya besok, dirumah makan KeyTong."
"baik, yang mulia."
"apa ada lagi?"
"ada. Putri Mei Terian ingin menemui anda besok pagi." ujar Fannna.
Fan Zhuang berdecak kesal.
"apa lagi yang ingin dia lakukan." gumamnya.
Pagi telah tiba. Hyoung Sensei, Xia Jensung dan Xia Re sudah kembali kekediaman Xia.
disinilah ketiganya berada. Kediaman Xia Tong.
"kemana saja, kalian?" tanya Xia Tong seraya menatap ketiga cucunya itu.
"Rere hanya ikut Kakak sepupu dan Kak Sung. mereka yang mengajak Rere." jawab Rere polos.
Xia Tong menatap kedua cucu laki-lakinya datar.
"apa kalian lupa aturan, Hah!!!" ujar Xia Tong seraya menjewer telinga kedua cucu laki-lakinya itu.
"Awww.. kakek.... i-ini semua rencana Sensei, kek." ujar Jensung.
"tidak, kek. ini-- Awww...."
"masih ingin mengelak.
Xia Re tersenyum bahagia dibalik cadarnya.
"Hufh... kasian sekali kakak-kakakku." gumam Xiahantu dari atas pohon.
"benar. kenapa Xia Tong tidak menghukum tuanku juga?" ujar Tong Tong.
Xia Re melirik keatas pohon. ia menatap datar dua makhluk diatas sana.
"kakek, sudahlah. lagipula, Rere sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama kakak sepupu dan kakak Sung." ujar Xia Re seraya memeluk lengan sang kakek.
"sudahlah, ayah. lagian, Rere juga tidak terluka." ujar Xia Fang tiba-tiba datang.
"baiklah. kali ini saja." ujar Xia Tong.
"terima kasih kakek, Ayah. kalau begitu, Rere izin kembali kePaviliun Rere." ujar Xia Re.
Dari kejauhan, tampak Mo Jensong yang mengepalkan tangannya.
"kenapa? kenapa aku iri melihat kedekatan mereka." gumamnya.
Xia Re berjalan menuju Paviliunnya. ia menaikkan sebelah alisnya terangkat kala melihat Xia Fui.
"Wow... ada angin apa sehingga kakak Fui kemari?" ujar Xia Re berjalan menghampiri Xia Fui.
"Xia Re!!! kenapa kau selalu merebut semua yang ku punya, Hah!!!" bentak Xia Fui.
"merebut apa, kakak?"
"kau merebut Mo Kai dariku, lalu kasih sayang Sensei. dan sekarang... Ibuku juga membelamu!" ujar Xia Fui.
Xia Re tersenyum kecut dari balik Cadarnya.
"apa kau tidak punya cermin?"
"KU TANYA, APA KAU TIDAK PUNYA CERMIN, HAH!!!"
"bukankah kau dan yang lainnya yang telah merebut segalanya dariku. dan sekarang, kau menyalahkanku!!" Xia Fui tampak terdiam.
"dengarkan aku baik-baik..." Xia Re mengangkat dagu Xia Fui.
"Aku tidak pernah mengambil barang bekas." ujar Xia Re seraya masuk kedalam paviliunnya.
Xia Fui mengepalkan tangannya.
"Xia Re, lihat saja nanti!" gumamnya seraya melangkahkan kakinya pergi.
didalam kamar Xia Re. Xia Re, gadis itu melepaskan Cadarnya dan membuangnya disembarang tempat.
"Hufh..."
"Nona, ada surat dari pangeran kelima." ujar Mixu.
"bacakan."
"Ekhem... Nona Re, ada yang ingin aku bicarakan padamu. temuilah aku dirumah makan KeyTong, Siang nanti."
"begitu isi suratnya, Nona."
"Ai Ke..." panggil Xia Re.
tak lama kemudian, Xia Ke menghadap Xia Re.
"ya, Nona."
"sampaikan pada Zhuang. aku akan menemuinya nanti."
"baik, Nona."
"kalian, tinggalkan aku sendiri." perintah Xia Re.
"kami izin pamit, Nona."
Xia Re gadis itu masih memikirkan apa yang dikatakan Laki-laki bertopeng itu.
"jika dia tau siapa itu Me Fu'an. kenapa dia tidak memberi tahu padaku!?" gumamnya.