Reinkarnasi Sang Mafia

Reinkarnasi Sang Mafia
Eps.4


"i-ini...." Xia Rong benar-benar gelagapan, ia takut Xia Fang mendengar ucapannya.


"putriku... ke-kenapa dengan wajahmu," ujar Gong Rong sembari memegangi wajah Xia Rong.


'akh, syukurlah. untung ibu cepat mengalihkan pembicaraan' batin Xia Rong lega.


"ibu, ayah! a-aku tidak tahu kenapa, tiba-tiba saja kakak Menampar ku, hiks... padahal aku hanya ingin menjenguknya..."


"Cih, Lebay." gumam Xia Re.


"dasar ratu drama! ayo tuanku, kau tidak boleh diam saja!" ujar Tong Tong.


"Xia Re! keterlaluan kau!!" sarkas jensung


"berani sekali kau menampar Xia Rong." ujar Mo Jensong dingin.


"Xia Re--" belum sempat Xia Fang berucap Xia Re lebih dahulu memotongnya.


"apa kalian menyalahkan ku? aku hanya mengajarkan adik, Rong sopan santun. dia datang ke paviliun ku dengan tidak sopannya."


"ka..kak... a-aku hanya ingin menjengukmu" ujar Xia Rong dibuat-buat.


"Xia Re! kau dengarkan. Xia Rong hanya ingin menjengukmu!" ujar Jensong membela Xia Rong.


Xia Re terkekeh, lalu berkata. "adik, Rong. bisakah kau mundur sedikit?"


semua orang terkejut mendengarnya. Xia Rong pun mundur sedikit.


"haish, mundurlah sedikit. munafikmu masih keliatan"


"hahaha... tuan kau sangat Badas!" puji Tong Tong. sementara Xia Rong kelihatan kesal sekali.


"Xia Re--" lagi dan lagi ucapan Xia Fang terpotong oleh, Xia Re.


"diamlah! aku hanya mengajarkan adik, Rong sopan santun terhadap yang lebih tua. dia dengan tidak sopannya datang ke paviliun ku membuat keributan, menghinaku, menampar pengawalku. apa dia tidak menghormati ku sebagai kakak, dan ingat! aku adalah Putri Sah." semua orang terdiam mendengar ucapan Xia Re.


"putriku..." gumam Xia Fang.


"Xia Re!!" bentak Jensung.


"apa!" ujar Xia Re dingin.


Jensung terkejut kala ditatap Xia Re. tatapan dingin, tegas dan tidak bersahabat.


Xia Re menghela nafas kasar, lalu berkata. "jika kalian sudah selesai, pergilah!"


"Xia Re!!! apa begitu caramu berbicara dengan ayahmu!" bentak Xia Fang.


Xia Re menatap datar ayahnya. "kalau sudah selesai, silahkan kalian semua pergi dari sini. kalian sangat menjijikkan" ujarnya penuh penekanan.


Xia Fang, hatinya benar-benar sakit mendengar ucapan Xia Re. apa benar gadis didepannya itu adalah putrinya--Xia Re? tapi kenapa lain?


"Xia Re!!! jaga ucapanmu" Mo Jensong melayangkan tangannya hendak menampar Xia Re. tapi, dengan cepat Xia Re Menangkap tangan kakaknya dan melintirnya.


"Argghhh" erang Mo Jensong.


"Xia Re lepaskan kakakmu!" ujar Jensung.


Xia Re pun melepaskan Jensong.


"Kau!!!" Jensong menatap tajam Adiknya itu.


"Ada apa ini!!!" suara berat itu mampu membuat semua menatap kesumber nya.


"kakek..." gumam Xia Re.


semuanya pun memberi hormat kepada Xia Tong. Kakek dari Xia Re.


"kakek." panggil Xia Re. Xia Tong menatap cucu kesayangan nya. hatinya bergetar kala Xia Re memanggilnya.


"cucuku, ada apa ini? apa mereka menindasmu?"


Xia Re berlari dan memeluk kakeknya. "hiks... mereka semua menyalahkan ku, kek... kenapa semua orang membenci Rere, kek..."


Xia Tong membalas pelukan cucunya. "sudah, jangan menangis lagi. kakek ada disini untuk Rere"


"Diam!!!" Gong Rong tidak melanjutkan ucapannya.


"kalian semua pergi dari sini," semuanya pun menunduk dan memberi hormat pada Xia Tong.


Xia Fang menatap putrinya sedih, entah mengapa ia merasa bersalah selama ini bersikap tidak peduli dengan putrinya.


"kakek untunglah kau sudah datang, jika tidak, Hikss..." Xia Tong memeluk lebih Erat cucu kesayangan itu.


"sudahlah jangan Menangis" Xia Re pun berhenti menangis.


"huhuhu... sangat mengharukan," uajr Tong Tong terharu.


"kakek, marilah singgah di paviliun ku." tawar Xia Re.


"baiklah,"


keduanya berbincang cukup lama.


"kakek, maafkan Rere karena membenci kakek!" ujar Xia Re sedih.


"tidak apa-apa, Rere."


"kakek, kau percayakan dengan Rere, kalau Adik Rong lah yang telah berencana membunuhku"


"tentu saja kakek percaya. Rere tenang saja, kakek pasti akan mencari keadilan untukmu"


"terima kasih kakek" ujar Xia Re berterima kasih.


"Nona, Tuan. silahkan diminum." ujar Shuzu sembari menyuguhkan teh.


"terima kasih, Shuzu. Shuzu ada apa dengan wajahmu?"


"i-ini..."


"lihatlah, Kek. mereka semua tidak ada yang menghormati ku. aku hanyalah sampah. kakek, mereka semua kejam padaku, padahal Shuzu hanya ingin mengambil air minum untukku, tapi mereka malah mumukul Shuzu" rengek Xia Re.


"keterlaluan. tenang saja cucuku, kakek akan menghukum mereka. Pengawal hukum orang yang sudah memukul, Shuzu."


"Baik, Tuan."


Xia Re tersenyum senang. sementara Shuzu sangat terharu.


"cucuku kenapa paviliun mu seperti ini?" tanya Xia Tong kala melihat kediaman cucunya sangat lusuh.


"itu, emm.. tidak apa-apa kok, kek. Rere sudah terbiasa" Ujarnya sembari tersenyum manis. Xia Tong yang mendengar ucapan Xia Re, hatinya benar-benar terluka.


dirinya memang tidak pernah pergi ke paviliun Xi Re. karena Xia Re melarangnya. tapi ia selalu mengawasi Xia Re dari kejauhan.


"tenang saja cucuku, kakek akan mengganti semuanya"


"terima kasih, kek. maaf, Rere merepotkan kakek"


"tidak sama sekali, Rere."


"kalau begitu, kakek pergi dulu. Rere jaga diri baik-baik, ya. kakek akan mengirim orang untuk menggantikan semua barangmu, dan kakek akan mengirim uang untuk mu."


"terima kasih, kek."


sekarang tinggallah Xia Re dan Shuzu.


"Nona, Shzuu sangat senang melihat kedekatan Nona dengan Tuan besar"


"aku juga sangat senang. Shuzu, kau belilah salep dan obat-obatan lainnya. obati lukamu dan kedua prajurit tadi" Shuzu benar-benar terharu mendengarnya, Nonanya sangatlah baik.


"Ya, Nona. Shuzu izin pamit"


"hm"


setelah kepergian Shuzu, Xia Re mengambil Zhang Fang nya.


"aku ingin bermain, tapi dengan siapa?" gumamnya sembari memegangi Zhang Fang nya.


"ah, Iyah. lebih baik aku bermain dengan--"