Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
S2. Rumah Horor 5


Aku mulai berlari menuju rumah rumah itu, akhirnya aku sampai cepat-cepat membuka pintu dan berteriak memangil nama Dimas.


"Dimas...Dimasss...kamu dimana" Kataku yang saat itu sedang mencari Dimas.


Semua tempat sudah aku cari namun Dimas tak kunjung aku temukan, namun hanya satu tempat yang belum aku cari adalah di kamar Dimas sendiri.


Ceklekkk(suara pintu yang sedang di buka)


Aku membuka pintu Dimas, betapa terkejutnya aku melihat Dimas.


"Ya Allah Dimas" ucapku dengan spontan.


Dimas sedang kejang-kejang di atas tali yang melilit lehernya, rupanya Dimas ingin mengakhiri hidupnya dengan gantung diri, tanpa pikir panjang dan panik aku mencari pisau di dapur, setelah berhasil menemukan aku kembali ke kamar Dimas mengambil kursi yang terjatuh yang di pakai Dimas untuk bunuh diri lalu aku menaiki kursi tersebut dan memotong talinya alhasil Dimas jatuh ke lantai tanpa gerakan.


Disini aku mulai panik gimana kalau Dimas benar-benar mati, aku mencoba menyadarkannya mengerjakan badannya, memukul-mukul pipinya tapi tidak ada reaksi,


aku benar-benar panik saat itu apa yang harus aku bilang dengan keluarganya kalau Dimas meninggal.


Di tambah rasa yang bersalah begitu besar kepada Dimas,


"Mas...bagun,,,,bagun,,, mas" ucapku sambil meneteskan air mata karena merasa bersalah.


Tiba-tiba Dimas bagun dengan terbatuk-batuk.


"Uhhu....uhhu...." Dimas yang terbangun sambil batuk-batuk.


"Kenapa Lan kok kamu nangis," kata Dimas sambil melihat wajahku.


"Enggak apa-apa" sambil memalingkan mukaku.


"Kamu nangis'in aku Lan!"


"Enggak tadi mataku kelilipan," aku yang malu kepada Dimas.


"Aku kira kamu enggak bisa sedih atau nangis Lan, ternyata kamu peduli juga sama aku, apa jangan-jangan kamu suka ma aku?"


"Apaan sih....!"


"Hayo ngaku??" meledek ulan.


"Kamu saat-saat genting kaya gini masih bisa bercanda, pake acara gantung-gantung diri segala lagi,"


"Ehh wulandari, aku bukan orang gila yah mau mati koyol kaya gini, lagian tadi aku tidak sadarkan diri ada yang masuk ke dalam tubuhku dan bikin aku ingin gantung diri, untung aja aku enggak mati koyol,"


Saat seperti ini kami masih saja berantem dan beradu argument.


"Ya sudah mas kita siap-siap tinggalin rumah ini, rumah ini trnyata bahaya."


"Kann aku sudah bilang rumah ini tidak baik kamu ngotot aja,"


Aku dan Dimas mempersiapkan barang-barang kami dan ingin pulang di sini juga aku menelepon pak sopir langananku yang mengantar kami kemarin ke rumah ini.


"Mas taksinya sampainya sekitar jam 15.00 sore ini masih jam 10.00 pagi kalau kita di rumah ini terus bisa bahaya,"


"Ya udah gini aja kita ketempat bapak yang punya rumah ini aja nunggu di sana, tapiiii?"


"Tapi kenapa??" tanya aku.


"Tapi mukaku memar kaya gini nanti gimana bilangnya kalau bapak itu nanya?"


"Pake aja masker biar enggak kelihatan memar dimuka mu itu Dimas,"


"Ini gara-gara kamu, ngomong-ngomong obatku mana?"


"Aduh aku lupa Dimas, aku enggak mikirin tuh obat lagi inget kamu di rumah,"


"Kamu khawatir ma aku nih," kata Dimas yang meledek aku kembali.


"Enggak!" jawabku dengan ketus.


Setelah selesai memberes-bereskan barang kami, kami pun pergi ke tempat pemilik rumah, meninggalkan rumah itu yang penuh dengan cerita horornya.


Aku berjalan lebih cepat di depan Dimas sedangkan Dimas tertinggal jauh di belakangku.


"Ayooo cepat Dimas jalannya," teriakku


"Iaa tunggu berat nih" sambil membawa tas yang berisikan barang-barang perlengkapannya.!


"Hufftt," menghela nafas dan kembali mendatangi Dimas.


"Lagian kamu bawa apa sih bayak banget mana berat lagi, sini aku bantu,"


"Yah perlengkapan ku lah, makasih yah Lan kamu baik, dan cantik"


"Udah enggak usah ngegombal lagian gombalan kamu enggak mempan buat aku,"


Sesampainya di rumah pemilik rumah benar saja kami ditanya-tanya kenapa cuma beberapa hari tingal di rumah itu, karena aku tidak pandai berbohong dan drama jadi semua jawaban dari pemilik rumah aki serahkan kepada Dimas, sebenarnya aku masih ingin mencari info-info tentang rumah itu yah walau aku memang sudah dapat informasi dari rumah itu tapi belum membuatku puas, tapi disisi lain kalau aku terus bertahan di rumah itu aku juga takut hal yang buruk menimpa Dimas, karena dia belum bisa mengendalikan kekutan yang ada di dirinya sebenarnya masih belum bisa mengendalikan dirinya mudah untuk kerasukan.


Sambil mengobrol-ngobrol dengan pemilik rumah tidak terasa mobil taksi sudah datang kami berdua berpamitan dengan pemilik rumah itu dan masuk ke dalam mobil, Mobil yang mulai berjalan menuju rumah sedangkan Dimas sedang terlelap dengan mengunakan maskernya tidak iya buka-buka yah mungkin saja dia malu dengan memarnya itu.


Aku tidak bisa tidur hanya menatap jalan-jalan, muncul di benakku beberapa hari aku lalui hari-hari dengan Dimas yang biasanya sendiri dan bersama Dion sekarang bersama Dimas, dan terkadang mengingat kejadian-kejadian yang aku alami dengannya, kadang membuat aku tertawa dan kasian kepadanya, mungkin suatu saat nanti aku bisa membuatnya menjadi seseorang lebih berani dengan mahluk-mahluk tak kasat mata itu.


Bersambung


nantikan cerita selanjutnya trimakasih yang sudah mendukung author dari like, komen dan vote🥰🥰❤️❤️