
Aku dan kak Dhea sekarang menjadi lebih akrab kami sering menghabiskan waktu bertiga dengan Dion Kak Dhea terkadang suka bertanya tentang Dion.
"Lan Dion itu mukanya kayak gimana sih?"
"Cakep ka mukanya ke arab-araban, alisnya tebal, hidungnya juga mancung, trus dia sering berpakaian gamis putih dan memakai sorban" ucapku.
Tiba-tiba kak Dhea terdiam mendengar jawabanku.
"Kenapa Kak kok diam?"
"Enggak Lan aku lagi bayangin aja."
"Jangan menghayal yang aneh-aneh lho kak."
"Hahaha nggaklah" sahutnya.
"Kak aku mau nanya boleh gak?"
"Nanya apa Lan?"
"Tapi jangan marah ya kak?"
"Iyalah nggak kok apa sih penasaran aku."
"kalo Dion suka sama Kaka gimana?"
"Apa sih Lan? aneh-aneh aja!"
"Iya serius kak, gimana kak mau gak?"
"kamu serius Lan?"
"Iya beneran serius Kak."
Kak Dhea pun terdiam sejenak
"Kok diam kak jawab dong"
"Emm... nggak Lan aku nggak mau sama dia alam kita beda Lan, lagian aku gak bisa liat dia."
Aku pun terdiam sambil melihat wajah Dion yang mulai sedih.
Tiba-tiba bel sekolah pun berbunyi menandakan jam istirahat sudah berakhir, waktunya aku harus masuk kelas
"Ya udah ya Lan aku mau ke kelas dulu bilang sama teman mu kita temenan aja ya."
"iyaa kak."
Aku mulai belajar tapi di sini aku melihat Dion tidak seperti biasanya yang ceria dia seperti orang yang sedang bersedih aku pun mulai berbicara dalam hati kepadanya.
"Kamu kenapa kok sedih?"
"Enggak apa-apa Lan" jawabnya.
"Maaf ya Dion aku nggak bisa bantu aku sudah berusaha buat bantu kamu buat mencurahkan isi hatimu tapi kak Dhea maunya temenan aja."
"Ya udah nggak papa aku terima kasih sama kamu udah bantuin aku."
"Nanti malam aku mau masuk ke mimpinya."
"Buat apa?"
"Dia kan penasaran ingin melihat ku" ucap Dion.
"Oh tapi jangan yang aneh-aneh ya" sahutku.
"Tenang aja kamu tahu kan siapa aku."
Keesokan harinya kak Dhea mulai menghampiri ku ke kelas seperti biasa.
"Lan??" ucap kak Dhea.
"Ia kenapa kak?" ucap ku.
"Aku mimpi aneh tadi malam.!"
"Mimpi apa Kak? sahutku sambil berfikir apa yang dilakukan Dion tadi malam sama kak Dhea.
"Aku bermimpi teman mu datang ke mimpiku.
"Ah masa sih kak? terus kak?" sahutku yang mulai penasaran.
"Ia Lan dia datang ke mimpiku , aku juga tidak percaya dia datang ke mimpi ku, di sini aku melihat Dion menggunakan pakaian yang persis seperti yang kamu bilang kemarin.Terus ternyata teman mu itu cakep banget loh hatiku deg-degkan melihatnya.
"Terus kak gimana lagi ceritanya" sahutku yang penasaran.
"Dia mengajakku jalan-jalan entah kemana tapi banyak orang-orang yang memakai baju sama dengan dia Lan tapi tidak seganteng dia, aku di bawa ketempat yang indah banget di situ juga banyak mesjid-mesjid tempatnya sejuk banget, lalu aku di ajaknya ke sebuah pohon dan kami berdua duduk dibawah pohon itu Lan."
"Dia bilang sama aku kalau dia suka sama aku. rasanya deg-degan deket dan melihat dia secara langsung aku juga malu soalnya dia cakep banget Lan."
"Dia minta jawabanku Lan, mau atau nggak jadi pacar dia, aku jawab aja iya habis itu aku Langsung kebangun tau-tau udah pagi, tapi kok aneh ya hatiku jadi baper sama dia Lan?"
"Terus gimana nih Kak, kakak suka gak sama dia?"
"Kayaknya Iya sih Lan aku suka sama dia, aku tarik lagi jawabanku yang kemaren maaf ya Dion kemarin aku belum kenal sama kamu aku takut tapi setelah kamu masuk ke mimpiku , aku yakin kamu baik" sahut kak Dhea yang seolah-olah dia tahu Dion di sampingku.
"Nggak apa-aapa kata Dion" ucapku yang mewakilkan Dion.
"Lan, tanyain dia masih suka nggak sama aku?"
"Katanya masih kok perasaannya nggak berubah perasaannya sedikitpun."
"Duh aku jadi GR Lan, aku mau tanya Lan sama Dion kenapa ya kok dia suka sama aku dan memilih aku kan banyak yang cakep selain aku."
"Kata Dion neh ka dari pertama kali kak Dhea ke kelas Wulan tanya-tanya dari situ pertama kali Dion suka sama kakak,"
"Ciieeee.....Jatuh cinta di pandangan pertama neh." Sahut ku yang mengejek mereka.
"Serius LAN Dion ngomong gitu."
"Iya serius kak buat apa Lan bohong, jadi gimana neh jawabannya di terima gak??"
"Ia Lan aku terima dia, aku mau jadi pacarnya."
"Jadi Dion diterima nih?"
"Iya Lan aku sudah yakin sama dia, dia tidak seperti laki-laki yang selama ini ku kenal dia mencintai ku dengan tulus, dari tatapan matanya menatap aku menggambarkan semau perasaanya ke aku Lan."
"Oke deh Kak."
"Aku mau liat dia Lan seperti kamu kira-kira bisa gak Lan.
"Aku juga kurang tahu sih kak, coba nanti aku tanya'in deh sama ibunya temanku yang namanya Yanti, ibunya semacam orang pinter gitu siapa tau dia bisa bantu kaka."
"Oke deh Lan makasih yah dah mau bantu aku kira-kira kapan kamu mau ke sananya Lan."
"Habis pulang sekolah kak."
Selepas pulang sekolah aku pun kerumahnya Ibunya Dewi, sebenarnya aku masih takut ke rumahnya gara-gara ritual sesat kemarin, tapi mau gak mau aku harus kesana.
Akhirnya aku tiba di rumahnya Dewi aku mulai masuk kedalam ramahnya dan ketemu ibunya Dewi, dan aku mulai menceritakan dan menjelaskan keinginan kak Dhea ingin melihat Dion. Ibu pun mengerti dia memberiku sebuah kapas.
"Kapas??? buat apa bu?" Tanya ku yang binggung.
"Ini kapas sisa orang yang sudah meninggal, kamu bakar kapas ini lalu abunya kamu bakar dan suruh dia mengoleskan ke matanya dengan membaca mantra.
"Tapi ini aman aja kan bu." Tanya ku yang mulai kuatir.
"Iya Lan Ini aman aja, Soalnya ini hanya kapas sisa aja kok Lan.
Aku berpamitan kepada mereka dan berterima kasih kepada ibunya, sebelum pulang aku mampir ke tempat kak Dhea.
"Udah Kak tenang aja."
"Kapan mau mulai di coba Lan" sahutnya yang mulai tidak sabar.
"Malam ini kakak mau gak ke rumah Lan."
"Tapi nggak apa-apa neh Lan aku main kerumah mu entar ketahuan ortu mu gimana?"
"Udah tenang aja kak Ibu hari ini pulang malam lembur tadi pagi bilang sama aku."
Malam pun tiba akhirnya kak Dhea menempati janjinya ke rumah ku.
"Kukira nggak jadi dateng Kak.?"
"Dateng dong Lan."
"Mbah mu mana Lan?"
"Keluar di panggil orang buat mijet."
"Kita ke kamarku yuk kak!!" ucapku sambil mengajak kak Dhea ke kamar.
Aku mulai mengajak kak Dhea masuk ke kamarku dan menunjukan kapas yang di kasih oleh ibunya Dewi kepadanya
"Apa ini Lan kapas???" sahutnya yang binggung.
"Ia kapas bukan sembarang kapas, ini kapas sisa orang yang meningal kak!"
"Gak apa-apa ini Lan?" jawabnya yang takut.
"Katanya sih nggak papa kak itu cuma kapas sisa orang yang sudah meninggal kak."
"Oh gitu terusan gimana memakainya."
"Dibakar sampai jadi abu, ambil abunya lalu baca mantra nya sambil mengusapkan ke mata abunya itu kak."
Kak Dhea mulai melakukan hal yang aku suruh tadi.
Setelah melakukannya aku menyuruh dia melihat Dion di samping ku.
"Kak coba liat di samping ku." Ucap ku kepada kak Dhea.
"Gak ada apa-apa Lan."
Aku mulai binggung kenapa tidak ada reaksinya, Lalu aku mengajak kak Dhea ke dapur, kebetulan dapurku kan di belakangnya kan kuburan. Akhirnya aku mulai menguji kembali penglihatannya, aku mulai membuka jendela yang ada di dapur untuk melihat Pohon yang besar yang ada di kuburan itu.
"Coba kakak liat di pohon besar itu ngelihat sesuatu gak."
"Bentar ya Lan tapi kok aku mulai merinding Lan.?" Tanyanya kepadaku.
"Ia nggak papa ntar terbiasa kok" sahutku.
''Apa yang kakak lihat di pohon besar itu?"
''Udah Ah aku gak mau ngeliat Lan."
Aku pun menutup jendela dapur dan berusaha menenangkannya Kak Dhea.
"Emang apa yang kakak Liat?" Sahutku.
"Aku melihat wanita berbaju putih panjang mukanya nggak jelas ketutup rambut aku ngeri lihatnya Lan.
Lalu aku mengujinya untuk melihat Dion kembali.
"Kalau di sampingku kaka lihat nggak?" sahutku yang penasaran.
"Aku nggak lihat apa-apa Lan,! aku malah lihat orang yang di kamar mandimu Lan.
Aku mulai binggung kenapa kak Dhea gak bisa liat Dion sedang kan liat yang lain bisa
"Mungkin nanti malam kali baru bisa kan butuh proses." Sahutku kepadanya.
"Iya mungkin nanti Lan."
"Oh yah kak kalau mau manggil dia, panggil dia pakai nama aslinya ya namanya pangeran Kesuma!" ucapku kepadanya.
"Oke Lan, aku pulang dulu yah udah malam neh."
"Iya Kak hati-hati ya."
Dikala malam hari aku merasa tidak tenang aku masih merasa Dion masih ada di tempatku dan aku bingung kenapa dia nggak ke rumah Kak Dhea tiba-tiba terdengar suara pecahan kaca di ruang tamu mbah ibu dan aku pun kaget kaca jendela rumahku tiba-tiba pecah aku mulai khawatir dengan kak Dhea tapi waktu sudah menunjukkan jam 01.00 malam lalu aku memutuskan masuk ke kamar kembali aku pun bertanya kepada Dion tentang Kak Dhea.
"Dion bisa enggak ke tempat kak Dhea lihatin dia dan jagain aku kok mulai khawatir dengan dia" ucapku.
"Iyalah Aku juga berpikiran seperti itu."
Setelah itu tiba-tiba ke sadaranku hilang beberapa detik, saat itu aku mulai merasa sudah berada di tempat lain aku melihat banyak jin-jin yang berwajah menyeramkan dan penuh dengan energi negatif, aku melihat satu makhluk mengerikan berbulu, bertanduk dan matanya merah seperti darah sepertinya pemimpin mereka dia bersuara dengan lantang.
"Aku Raja Jin mau apa kamu, teman mu memanggilku."
Sontak aku terbangun ternyata masih subuh Kulihat Dion pun tidak ada di sampingku. Aku mulai bertanya-tanya dalam hati ada apa ini apa yang terjadi kepada kak Dhea dan Dion, aku mulai mengambil air wudhu dan sholat subuh meminta kepada tuhan agar tidak terjadi apa-apa kepada mereka. Jam sudah menunjukan pukul 06.30.
Aku mulai berangkat kesekolah, hari ini aku berangkat lebih awal dari biasanya karna aku mau ampir kerumah kak Dhea, aku berpamitan kepada mbah dan ibu.
Sesampainya di rumah kak Dhea aku melihat banyak warga kampung di rumahnya, aku memutuskan masuk ke rumah kak Dhea setelah masuk rumah aku melihat kaca rumah kak Dhea jaga pecah sama seperti kaca di rumahku.
Aku mulai masuk kekamar kak Dhea trnyata benar dugaan ku kak Dhea menangis sambil menutupi mukanya dengan bantal. Aku binggung apa yang terjadi aku lalu bertanya kepada ibunya.
"Kak Dhea kenapa bu?"
"Ibu gak tau Lan habis dari rumah mu dia masuk kamar awalnya tidak apa-apa setelah berapa menit dia berteriak histeris ibu menghampiri dia ke kamar selang berapa menit Kaca jendela samping yang ada di ruang tau pun pecah, Ibu berusaha menenagakan kan Dhea tapi tetap aja dia seperti ini semalam dia tidak tidur dia seperti orang ketakutan Lan."
Mendengar cerita ibu kak Dhea orang kampung pun mengira aku dan Kak Dhea bermain jailangkung, aku mulai menghampiri Kak Dhea berusaha menenangkannya.
"Kak ini Wulan." Sahutku sambil memegang pundaknya berusaha menyadarkannya.
Kak Dhea pun mulai melepas bantal yang menutupi wajahnya dan memelukku dengan erat, ke takutan dan menangis.
"Istifar ka." Sahutku kepada kak Dhea.
Aku meminta tolong kepada ibunya untuk mengambil kan air putih. Dan aku menyuruh kak Dhea meminum air putih itu.
Kak Dhea mulai merasa tenang warga kampung banyak yang melihat kami, ibu kak Dhea mulai menyuruh untuk bubar karna kak Dhea sudah mulai tenang.
"Lan ibu mau jualan dulu ke pasar coba kamu tenangkan Dhea tanya apa yang terjadi kepadanya.
"Ia bu Lan usahain" sahutku kepada ibunya.
Setelah ibunya pergi dan kami hanya berdua saja di kamar aku mulai bertanya apa yang terjadi kepadanya dan kak Dhea mulai menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Sesudah aku pulang dari rumahmu Lan di setiap jalan menuju ruamah aku melihat hantu-hantu yang menyeram kan tapi aku tidak pedulikan lalu aku mulai masuk kamar dan aku mencoba memanggil temanmu tapi yang kulihat bukan temanmu Lan, yang kulihat mahluk menyeramkan besar bertanduk, badannya berbulu matanya merah mengerikan Lan, dia ingin mengajak aku."
Sontak aku pun terdiam mengingat mimpi ku tadi malam. Aku mulai bertanya kepada Dion apa yang terjadi Dion menjelaskan kak Dhea salah menyebut namanya dah mahluk itu yang datang dia menjaga raga kak Dhea agar mahluk itu tidak masuk dan di kuasi oleh mahluk itu, apa bila sampai mahluk itu masuk sebagian dari sukmanya di tempat alam mahluk itu. Aku mulai panik kak Dhea seperti ini aku mulai bertanya kepada kak Dhea.
"Memang kak manggil namanya siapa boleh Lan dengar lagi."
"Aku memangil pangeran Kusuma Lan"
Aku kaget mendengar ucapan kak Dhea, dan aku menjelaskan kepadanya.
"Kakak salah manggil namannya Dion pangeran Kesuma" ucapku kepadanya.
"Terus siapa tadi malam yang ku panggil Lan???" Tanya kak Dhea dengan wajah ketakutan.
BERSAMBUNG
jangan lupa like yah 🥰 tunggu cerita selanjutnya semoga terhibur