Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
Penglarisan


Sudah mulai satu minggu aku berkerja di sana sekarang waktunya aku tukeran shift, karena awal kerja aku shift pagi sekarang aku mulai shift malam kembali, baru pertama kali aku masuk shift malam, disini aku masuk kerja dari jam 5 sore hingga jam 10 malam.


Di kala malam hari tidak terlalu ramai seperti di siang hari, aku mulai melayani para pembeli dari yang ingin di bungkus hingga makan di tempat.


Keanehan mulai muncul di kala malam hari jalan yang menuju kamar karyawan dan jalan yang aku berpapasan dengan nenek sangat gelap lampu tidak pernah di nyalakan di ruangan itu aku binggung kenapa semua lampu dinyalakan tapi di hanya di tempat itu saja yang tidak, hingga aku berinisiatif menyalakan lampu jalan itu, sebelum aku kembali ke ruangan depan aku mulai di tegur oleh karyawan laki-laki kak Adam.


"Lan ini kenapa lampunya kamu nyalakan!" kata kak Adam.


"Gelap kak mangkanya Wulan nyalain" sahutku.


"Cepat matikan nanti ketahuan bos bahaya bisa marah beliau."


"Kenapa kak kok malah beliau marah."


"Aku tidak tau Lan kenapa itu jalan di ruangan itu tidak boleh di nyalakan, cepat di matikan!" perintah kak Adam.


"Ia kak, maaf ya Ulan tidak tau."


"Ya gak papa Lan, lain kali kalau mau ngapa-ngapain bilang dulu" ucap kak Adam.


"Ia kak, ya sudah kak Ulan ke depan dulu.


Aku mulai merasa aneh dengan tempat ini, tapi aku juga belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi di tempat ini.


Hingga pak Selamet pemilik rumah makan itu datang, beliau sangat ramah selalu menegur setiap anak buahnya. Tapi aku tanpa sengaja memergoki pak Selamet sedang melakukan sesuatu di lorong jalan menuju mes karyawan, lorong itu selalu gelap kami tidak diperbolehkan menyalakan lampu yang ada di sana, aku melihat Pak Selamet sedang berdiri ditengah-tengah lorong sambil membaca sesuatu dengan menggunakan bahasa jawa.


"Yen siro teko, wenehene xxxxx" ucap pak selamet yang artinya:( Aku memangil mu, aku memangil mu datanglah xxxxxx).


Tiba-tiba muncul sesosok bayangan putih samar-samar tapi lama kelamaan sosok bayangan putih itu tampak jelas degan tubuh berdiri dengan tegak badan yang di bungkus kain kafan yang lusuh di ikat di kaki, badan, dan di atas kepalanya setelah bayangan itu nampak jelas pak selamet berbicara kembali dengan sosok pocong itu.


" Nuwun sewu, kulo padosi sampeyan kanggo njaluk tulung sekiro dagangan kulo laris" (permisi, aku memangil diri mu untuk meminta tolong supaya daganganku laris).


Mahluk itu tidak berbicara apa-apa setelah itu menghilang, disini aku bener-benar kaget dengan apa yang di lakukan oleh pak Selamet.


Setelah itu aku mulai bergegas pergi ke ruang depan untuk melayani pembeli agar tidak ketahuan oleh pak Selamet dan ternyata aku baru tahu kenapa lampu di daerah itu tidak boleh dinyalakan mungkin ada kaitannya ini semua rumah makan ini memakai penglaris.


"Dari mana kamu Lan" ucap kak Reni yang sama sif denganku.


"Habis dari belakang kak."


"Kamu malam-malam gini gak takut kebelakang sana sendirian."


"Enggak kak emang kenapa." ucapku dengan duduk di dalam sambil memantau orang-orang di warung pada makan.


"Ya gak aja yang lain pada takut lewat sana kalau malam hari, pada merinding semua tapi gak ada yang pernah lihat hal aneh sih Lan, tapi kalau lewat sana di malam hari suasana berubah, terus bulu kuduk pada merinding" ucap kak Reni yang mejelaskan.


"Ah gak kak biasa aja" ucapku,


"Andai mereka bisa melihat seperti aku mungkin tidak ada yang mau kerja di sini" sambung ucapku dalam hati.


"Kak Lan ke depan dulu yah ada yang sudah selesai makan mau beresin dulu."


"Ia Lan" sahut Kak Reni.


Kembali ke pak Selamet, setelah berbicara dengan mahluk itu pak Selamet kembali ke dapur melihat aktifitas para koki dan yang lain di sana, Sesekali beliau juga memberikan semangat dan bercanda kepada kami.


"Ayo pak Tono semangat goyang wajannya biar masakannya tambah jos" ucap pak selamet kepada pak Toni koki di sana.


"Ia pak, apa ini kurang goyangnya" sahut pak Tono sambil tertawa.


"Ha...ha...ha... semangat dong pak, kalau bapak gak bisa di lawan" ucap kak Reni.


Aku mulai mengambil piring-piring kotor meletakkan di washtafel dan kembali lagi ke meja itu dan mengelapnya agar bersih. setelah yakin bersih aku kembali ke dalam sambil membantu teman-teman mencuci piring, lagi pula jam hampir menunjukkan jam sepuluh aku mulai membantu yang lain juga beres-beres, di sini pak selamet juga mau bergegas untuk pergi.


"Ya sudah bapak pulang dulu bapak tinggal, warung rapiin yang bersih sebelum pulang."


"Ia pak" serentak semua menjawab


Sambil bersih-bersih aku mulai kembali berfikir pak selamet sebenarnya sosok bos yang baik hati dan humoris tapi kenapa melakukan hal ini. Dan aku berharap ini gak ada pengaruh negatifnya.


"Woy ngelamun aja" tepuk kak Reni di pundakku.


"Hehehe gak kok kak."


"Udah selesai pekerjaanmu Lan?"


"Udah kak bentar lagi tingal ngelapin meja aja neh."


"Ya sudah aku bantu biar cepat kelar Lan, biar cepat pulangnya" ucap kak Reni yang sudah selesai dengan pekerjaannya.


Sebenarnya banyak teman tapi karena aku masih karyawati baru jadi aku masih kikuk untuk bersosialisasi dengan mereka dan aku memang agak pendiam orangnya, jadi itu yang terkadang membuatku untuk sedikit susah bergaul dengan yang lain-lain.


Akhirnya beres juga semuanya tiba saatnya untuk pulang.


"Lan duluan yah" kata kak Reni


"Ia kak" sahutku.


Aku mulai menyalakan sepeda motorku dan menyetaternya lalu aku mulai menjalankannya hal yang jadi kebiasaan ku saat berkendaraan sendri adalah aku sering berbicara dengan Dion di dalam hati.


"Gimana udah liat kan kamu Lan apa yang terjadi di warung itu."


"Ia Dion bapak selamet memakai penglarisan."


"Setelah kamu tahu kenapa kamu gak cari pekerjaan yang lain aja Lan. ucap Dion


"Ibu kan sudah enggak krja lagi Dion, kalau aku berhenti nanti buat kita kedepannya gimana" ucapku.


"Ia juga yah Lan, kamu coba-coba aja dulu melamar di tempat lain tapi krjaanmu di sini jangan di lepas dulu sampai benar-benar kamu ke pangil lagi."


"Nah itu baru bener."


"Aku cuma takut sewaktu saat mereka meminta tumbal Lan!!"


"Ah masa sampai seperti itu???"


"Soalnya yang aku lihat itu tidak cuma penglarisan tapi pesugihan juga Lan."


"Serius kamu Dion" ucapku.


"Ia Lan itu yang aku tahu tapi aku belum berani memastikan lagi, mangkanya aku ingin kamu pergi mencari pekerjaan yang lain" kata Dion


*BERSAMBUNG


Jangan lupa likenya yah kak terimakasih sudah menunggu ceritaku dengan setia besok kita lanjutkan kembali ceritanya 😊😊😊🥰🥰*