Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
SUMARNI PART 2


Pagi ini ibu ku ingin berangkat bekerja, aku lalu mengantarnya sampai di depan pintu.


"Ibu hati-hati kerjanya ya" ucapku sambil mencium tangan ibu.


"Iya Lan, kamu juga baik-baik di rumah, jangan lupa makan. Ibu berangkat dulu ya!"


"iya bu" ucapku


Setelah ibu pergi aku menutup pintu dan menuju ke dapur untuk membantu mbah memasak.


"Hari ini masak apa kita mbah?" tanyaku.


"Masak sayur kesukaan mbah Lan, sayur nangka" sahut mbahku.


"Yah... sayur nangka lagi, tapi tidak papa karena sayur nangka buatan mbah memang enak."


Sambil aku membantu mbah memarut kelapa aku mulai bertanya tentang Sumarni.


"Oh iya mbah, Ulan mau nanya dulu sebelum mbah tinggal di rumah ini apa ada orang yang pernah bunuh diri di sini mbah? bunuh dirinya dengan cara gantung diri mbah? tanyaku dengan rasa penasaran.


"Iya memang ada, tapi kamu tahu dari mana nduk?" tanya mbahku dengan heran.


"Wulan pernah mimpi mbah, ceritain dong mbah kejadiannya!"


"Iya dulu sebelum almarhum kakek mu beli rumah ini, dulu yang tinggal di sini itu sepasang suami istri waktu itu mereka bertengkar hebat dan akhirnya istrinya gantung diri karena sakit hati setelah kejadian itu suami dan anaknya menjual rumah ini" ucap mbahku.


"Oh ..seperti itu mbah di kuburnya di mana mbah?"


"Katanya dikubur di belakang rumah tapi mbah nggak tahu benar atau tidak"


Aku terdiam sambil berpikir apa yang mbah katakan, berarti benar Sumarni bercerita.Tiba-tiba mbah mengagetkan lamunanku.


"Eh ngelamun aja sudah nggak usah ngurusin orang" ucap mbah.


"Udah selesai marutnya Lan?" tanya mbah kepadaku.


"Sedikit lagi mbah" sahutku.


"Ya sudah selesaikan, ini sudah mendidih airnya"


"Iya mbah" sahutku


Setelah selesai memasak aku pun makan dengan mbah menikmati masakan yang kami buat. Setelah selesai makan aku baru teringat tugas hafalan yang di berikan bu guru agama.


"Mbah Wulan ke kamar dulu ya ada hafalan agama suruh menghafal ayat kursi.


"Ya sudah sana!" kata mbah.


Sesampainya di pintu kamar aku kembali di kejutkan lagi dengan sosok Sumarni yang duduk di pojok tempat tidur sambil membelai rambutnya yang panjang.


"Mau ngapain Lan?" tanya sumarni kepadaku sambil membelai-belai rambutnya.


"Aku mau menghafal ayat kursi" jawabku.


"Ayat Kursi????? nggak usah kamu hafalin LAN!!"


"Jangan besok aku ada pelajaran agama!" sahutku.


Tapi sumarni tetap bersikeras, agar aku tidak menghafalkan ayat itu.


"Nggak usah kamu hafalin Lan!!!!!" Sambil tertawa melengking seperti sosok kuntilanak.


Sumarni pun berteriak kepanasan.


" paannaaasssss ....Lann!!!"


Lalu akhirnya dia pun menghilang, aku tidak memperdulikannya.


Walau kami berteman tapi dia tidak seperti Dion yang berada di dalam tubuhku, dia terkadang muncul secara tiba-tiba dan menghilang.


Di kala aku sedang berwudu dan ingin sholat, Sumarni tidak mau mendekatiku. Hingga suatu saat aku marah besar dengannya ,dia selalu menghalang-halangi ku ketika aku ingin melaksanakan ibadah, dia pun berkata.


"Jangan Sholat Lan,,,,,,,,,,! kalau kamu shalat aku tidak bisa mendekati mu" ucapnya kepadaku.


"Kenapa kalau kamu ini marni ???? kalau kamu ingin berteman dengan ku kamu harus terima aku apa adanya!" sahutku.


Sumarni pun kesal dan akhirnya dia memperlihat kan wajahnya yang selama ini dia tutupi dengan rambutnya aku pun melihatnya, matanya yang merah dan melotot kepada ku dengan banyak darah di sekitar wajah aku ngeri melihatnya.


"Kembalilah ke alam mu marni!! alam kita berbeda tenanglah kamu di alam mu marni!" ucapku kepadanya sambil melihatnya yang berdiri tepat di depan ku.


"Aku akan kembali, tapi aku ingin minta tolong kepada mu Lan!!! mau kah kamu menolong ku??" ucap sumarni.


"Mau minta tolong apa marni?" sahutku.


"Tolong datangi kuburanku Lan dan bacakan doa untukku, udah lama sejak aku di kubur tidak ada satu pun keluarga yang mendatangi kuburanku, dan aku akan kembali dengan tenang dan berterima kasih kepada mu."


Akhirnya aku mengiyakan permintaan marni. Di siang hari tepatnya, menunggu mbah tidur siang aku pun pamit keluar untuk membeli bunga. Tapi aku tidak pamit kepada mbah untuk membeli bunga aku bilang kepada mbah mau membeli kain pelanel untuk kerajinan tangan di sekolah. Dan aku menghampiri mbah.


"Mbah aku mau ke pasar dulu, mau beli kain pelanel" ucapku.


"Buat apa Lan? tanya mbah kepadaku.


"Buat tugas sekolah mbah.


"Ya sudah hati-hati Lan, ada uangnya gak??"


"Ada tadi di kasih ibu buat jajan mbah" sahutku.


"Ya sudah kalau gitu"


Akhirnya aku ke pasar dengan berjalan kaki, setidaknya pasar dan rumahku tidak terlalu jauh jadi masih bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Sebenarnya kain flanel hanya untuk alasanku untuk pergi ke pasar membeli bunga, setelah selesai membeli aku pulang dan sesampainya di rumah mbah sedang menonton TV di ruang tengah sambil tiduran aku berinisiatif untuk menyembunyikan bunga itu di kantong jaket ku agar mbah tidak mengetahuinya.


"Udah pulang Lan, udah dapat kainnya?" tanya mbah kepadaku.


"Udah ini mbah" jawabku.


Aku harus menunggu mbah tertidur dulu agar aku bisa ke kuburan yang ada di belakang rumah.


Matahari sudah naik ke atas, tanda jika sudah tengah hari, aku mencoba melihat mbahku dan ternyata mbah sudah tertidur, aku pun memanggil Dion dan memulai pencarian kuburan sumarni, aku menaiki pagar kayu yang membatasi rumah mbahku dan kuburan tersebut. Sesampainya di kuburan kami mulai mencari-cari nama sumarni di semua nisan yang ada, lumayan lama pencarian kami karena di situ ada banyak kuburan dan beberapa ada yang tidak memiliki nisan ada juga yang hanya berpatok kayu di sini aku hampir putus asa mencarinya tapi tiba-tiba Dion memanggilku.


"Lan coba kesini, kayanya kuburannya yang ini"


"Udah ketemu ya, tunggu aku kesana" sahutku sambil berjalan perlahan karena lokasi Dion kurang lebih 15 meter dari tempat ku berada dan Dion berada tepat di samping pohon besar itu.


Saat sampai lokasi Dion berada aku melihat sebuah kuburan yang terlihat tua dan tidak terurus ku lihat batu nisannya ada tulisan samar-samar setelah aku lihat dengan dekat ternyata memang benar itu kuburannya Sumarni, aku mencoba membersihkan kuburannya mencabuti rumput-rumput liar yang ada di atas kuburannya, merapikan nisannya yang terlihat miring setelah semuanya telah rapi dan bersih mulai lah aku dan Dion membacakan doa untuk almarhumah Sumarni, usai membaca doa aku menaburkan bunga di kuburannya sambil berkata.


"Semoga dengan ini kamu bisa tenang di alam mu marni"


Aku beranjak dari sana dan menaiki pagar lagi aku tidak bisa berlama-lama di sana karena aku takut mbahku tau. Setelah kejadian itu aku pun tidak pernah di datangi oleh sosok Sumarni lagi sampai detik ini dan aku berharap Sumarni bisa tenang di alamnya amin.