
Setelah selesai mengurus kak Lia aku mulai berpamitan kepada kak lia.
"Kak Lan pulang dulu yah"
"Ia Lan makasih yah, kamu sudah mau ngurusin aku."
"Ia kak enggak apa-apa kok, kakak kan udah Lan anggap keluarga."
"Makasih ya Lan."
Akhirnya aku pun pulang, aku merasakan kesedihan di saat di jalan, aku merasa sedih janin yang tidak bersalah itu di bunuh dengan cara seperti itu. Setibanya di rumah aku hanya diam merasakan kesedihan ibu sesekali bertanya kepadaku.
"Kenapa Lan ibu liat kamu kok sedih ada masalah di kantor" ucap ibuku.
"Enggak bu Lan cuma sedikit cape aja kok, Lan duluan di kamar yah"
"Ia nak kamu istirahat aja duluan, nanti ibu nyusul" ucap ibu yang ada di ruang tengah.
Aku mulai masuk ke kamar dan mulai merabahkan badanku dan memandang langit-lagit di kamar mengingat kejadian tadi siang ketika kak Lia mengaborsi anaknya. Rasa sedih di hati tidak dapat terbendung aku gagal menasehati kak Lia agak tidak membunuh anak yang tidak berdosa itu. Sebelum aku tidur aku menghadiahkan doa untuk janin tersebut.
"Kenapa Lan? kamu masih sedih mengingat kejadian itu??" ucap Dion.
"Ia Dion hatiku rasanya sedih kalau mengingatnya."
"Ya sudah Lan, enggak usah di ingat-ingat" ucap sanjaya.
"Ia makasih yah buat kalian berdua."
Keesokan hari kak Lia belum juga masuk kerja hingga 3 hari lamanya mungkin dia proses pemulihan pikiranku tapi setiap pulang kerja aku selalu mampir ke tempatnya melihat keadaanya. Akhirnya kak Lia sudah pulih dan kembali berkerja kembali tapi setelah kejadian itu aku melihat kak Lia murung aku menghampiri dirinya.
"Kakak kenapa Lan liat kok kakak murung terus??"
"Aku sedih Lan, semenjak kejadian itu aku slalu di hantui rasa bersalah dan menyesal kenapa aku melakukan itu Lan" ucap kak Lia sambil meneteskan air mata.
"Sudah kak jangan sedih lagi, berikan doa aja buatnya kak"
"Ia Lan"
Tiba-tiba aku di pangil manager dan di suruh ke ruangannya. aku mendatangi bapak Ari manager di perusahaan ini dan aku memasuki ruangannya.
"Permisi pak."
"Ya silahkan masuk Lan, dan duduk."
"Ada apa yah pak"
"Begini perusahan kita di minta untuk rolling karyawati di kantor pusat, nah bapak menunjuk kamu untuk rolling dengan karyawati di kantor pusat gimana kamu bersedia"
"Berarti di tempatkan di Jakarta pak?"
"Ia Lan selama 3 tahun kamu bapak tempatkan di sana!"
"Boleh kasih saya waktu sehari aja."
"Yah kalau kamu maunya begitu bapak kasih waktu kamu besok kamu sudah memberikan jawabannya.
"Terimakasih ya pak"
"Ia silahkan kembali ketempat mu lagi" ucap Ari.
Aku mulai meninggalkan pak Ari dan menuju meja kerjaku, aku di tempatkan posisi yang sangat sulit di sisi lain aku tidak bisa meninggalkan ibu seorang diri di rumah tapi di sisi lain aku yang di pilih oleh pak Ari.
"Kenapa Lan kok habis keluar dari ruangan pak Ari kamu kaya orang binggung."
"Ucap kak Lia yang menghampiri aku"
"Huftt.... Lan binggung kak Lan kepilih pertukaran karyawati di Jakarta."
"Jadi kamu mau di pindahkan di Jakarta Lan, selama berapa bulan."
"Enggak bulan lagi kak tapi taun, Lan gk bisa ninggalin ibu, selama 3 tahun Lan harus di sana, trus Lan minta waktu besok baru Lan jawab."
"Ya sudah Lan biar aku yang mengantikan posisimu aku ingin meninggalkan kenangan pahit di daerah ini kembali dengan kehidupan baru."
"Emang bisa kak di gantikan posisinya?"
"Makasih banyak ya kak"
Keesokan harinya kak Lia memasuki ruangan pak Ari dan berbicara dengan pak Ari bahwa dia akan mengantikan posisiku. Setelah keluar dari ruangan pak Ari aku menghampirinya menanyakan bisa atau tidaknya dia mengantikan posisiku.
"Gimana kak apa kata pak Ari bisa enggak ka?"
"Tenang Lan semua beres kok, aku yang mengantikan posisimu nanti."
"Serius kak makasih yah, tapi nantin kita bakal jauh-jauh donk ka."
"Sama-sama kamu sudah banyak menolong aku Lan ini hanya sebagian kecil kebaikan mu yang bisa aku balas, dan supaya aku tidak teringat kejadian itu lagi."
Akhirnya kak Lia pun pergi ke Jakarta, awalnya aku masih bisa berhubungan dengan nya tapi setelah beberapa bulan nomer hp yang di pakai tidak aktif lagi dan aku lost contacts dan menurut informasi yang aku dapatkan kak Lia tidak berkerja di sana lagi dan dia sudah menikah dengan orang sana.
Tetap setelah kak Lia pergi aku masih teringat janin itu, dan aku putuskan untuk mendatangi kuburannya di belakang kosannya yah untung saja di daerah kosan kak Lia itu tidak terlalu ramai jadi aku masih bisa menyelinap kesana.
Setelah pulang kerja aku ke sana masih teringat jelas bayangan itu dan aku mendatangi kuburan itu dan mendoakan akan itu mungkin ini terakhir kalinya aku ke tempat ini karena aku tidak mungkin ketempat ini lagi kak Lia sudah tidak ada lagi. Setelah selesai mendoakan aku pun pulang.
********************************************
Berapa tahun kemudian aku merasa kepikiran dengan anak itu dan aku putuskan kembali ketempat itu dan mendoakan kembali setelah dari tempat itu aku merasa di ikuti oleh seseorang yang tidak aku tahu wujudnya.
Sesampainya di rumah aku mencoba berinteraksi dengannya.
"Bu Lan mau ke kamar dulu" ucapku kepada ibu.
"Kamu gak makan dulu??"
"Enggak bu masih kenyang."
Aku pun mulai masuk kamar dan mulai berinteraksi dengan makhluk itu.
"Kamu siapa kok dari tadi ngikutin aku terus" ucapku dalam hati.
Dan tiba-tiba mulai terlihat sosok bayangan anak kecil yang usianya 3 tahun dengan wajah yang cakep, lucu, hidung mancung kulit putih, dan memakai pakaian. sesekali wajahnya mirip dengan kak Lia.
"Kakak masih inget aku yang kakak kuburkan aku di belakang rumah" ucap anak itu
Sontak aku kaget dia janin kak Lia yang pernah aku kuburkan.
"Ia aku minta maaf ya kepada kamu"
"Enggak papa kak, aku enggak marah sama kakak kok."
"Aku boleh ikut kakak enggak??" ucap anak itu
"Kamu mau ikut aku, bentar yah kakak tanya teman kakak dulu."
Aku pun bertanya kepada Dion dan Sanjaya mereka memperbolehkan anak itu ikut denganku.
"Ya boleh kok, kamu kakak kasih nama mau kan."
"Ia kakak mau, aku mau susu kak aku haus!!" ucap anak itu.
"Bentar kakak bikinin dulu yah kamu tunggu sini" ucapku dalam hati.
Aku ke dapur membuatkan susu dan kembali lagi ke kamar.
"Itu sususnya di minum, pelan-pelan minumnya."
"Kamu kakak kasih nama Ben yah artinya nama itu seorang anak."
"Ia kak aku suka nama itu,"
"Kamu anak yang pinter Ben" ucapku
"Tapi kenapa ibu membunuhku kakak, padahal aku tidak nakal aku akan jadi anak yang baik-baik" ucap ben
Nantikan cerita selanjutnya tentang Ben.
jangan lupa di like komen dan vote jika kalian suka dengan cerita ini terimakasih 🥰🥰👍