Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
Teman-Teman mulai mengetahuiku


Setelah menjelaskan kepada siswi itu, dia terlihat masih bingung karena dia tidak mengingat sepenuhnya apa yang terjadi kepadanya saat itu, aku pun meninggalkannya bersama teman regunya dan kembali ke tendaku,


Entah lah kenapa teman-teman ku semua merasa heran dan binggung kepadaku, aku pun tidak memperdulikan mereka semua, dan aku langsung bergegas ke tenda dengan membawa garam yang telah ku minta di regu sebelah, melanjutkan kembali masakan yang tadi sempat tertunda, setelah selesai memasak kami mulai menyantap makanan yang kami masak tadi.


Kaka pembina pun mulai menghampiri satu persatu tenda yang ada di lapangan untuk memberi tau akan ada acara renungan, kami semua di suruh ke luar tenda, duduk dengan membuat barisan rapi, lalu kaka pembina mulai memberi arahan kepada kami.


"Ayo semuanya pejamkan matanya dan tetap fokus ya" kata kak pembina.


Semuanya pun memejamkan matanya, kakak pembina mulai bercerita.


"Coba kalian bayangkan orang tua kalian yang mencari uang dengan kerja kerasnya tapi terkadang kalian tidak menghargainya!!!!"


Banyak kata-kata yang di lontarkan oleh kaka pembina, ada yang menangis, ada juga yang bersedih.


Acara berlangsung sampai jam 01.00 malam.Tiba saatnya untuk kami beristirahat, kami di bubarkan dan di suruh kembali ketenda masing-masing.


Aku dan teman-teman menuju tenda.


Keesokan pagi kami di bangunkan oleh kakak pembina untuk bersiap-siap pulang, tapi sebelum pulang kami di suruh mandi, masak, dan sarapan pagi, baru setelah itu kami bisa pulang.


Rasanya lelah sekali hari ini, aku ingin cepat-cepat untuk pulang.


Sesampainya di rumah aku tidak mendatangi mbah dan ibu di dapur aku langsung masuk ke kamar, mbah pun menghampiri aku ke kamar.


"Nduk gak makan??"


"Enggak mbah, Lan udah makan tadi di sana" jawabku.


"Kamu gak mandi??" tanya mbah kembali.


"Lan juga sudah mandi mbah" jawab ku sambil kembali tidur.


Setelah sore hari aku di bangunkan oleh mbah.


"Nduk bangun ini udah sore mandi sana abis itu makan."


"Ia mbah Lan mandi dulu yah baru makan" jawab ku dengan nada masih mengantuk.


Setelah selesai mandi aku dan mbah mulai menyantap makanan sambil berbincang-bincang.


"Gimana berkemah nya??" tanya mbah.


"Lancar mbah tapi ada sedikit kendala tadi mbah" sahutku.


"Emangnya kenapa Lan??"


"Ada yang kesurupan mbah, tapi bukan regu Wulan regu yang lain" ucapku sambil menyuap makanan.


"Kok bisa sampai ada yang kesurupan memang apa yang dia lakukan Lan??" tanya mbah dengan mimik muka yang sedikit penasaran.


"Dia berteriak-teriak mbah di kala sedang magrib" jawabku.


"Oooo......pantas saja kesurupan, magrib kok teriak-teriak" sahut mbah.


"Kamu di sana enggak nakalkan Lan??"


"Ya enggak lah mbah, Lan kan anak baik-baik" sambil tersenyum dan menatap ke arah mbah


Waktu pun berlalu tibalah hari Senin di mana aku harus bersekolah lagi. Aku mulai masuk ke sekolah sambil menunggu lonceng berbunyi biasanya aku duduk di belakang sambil ngobrol dengan Dion di dalam hati, terkadang aku bisa tertawa sendiri.


Tiba-tiba banyak orang yang mencariku dari kakak kelas 3, kelas 2, sampai kelas 1, aku tidak tau mereka mencariku untuk apa. Setelah mereka masuk ke kelas ku mereka mulai bertanya,


Aku mulai berfikir dari mana mereka tau aku bisa meramal, akhirnya aku menemukan jawabannya secara tidak sengaja aku meramal nisa teman sekelasku sendiri.


"Kakak tau dari mana aku bisa melihat dunia lain dan bisa meramal?" tanyaku kepada mereka.


"Sabtu kan ada acara berkemah kamu kan yang tau ada siswa yang kerasukan mahluk halus, trus kalau meramalnya tau dari adik-adik kelas" sahut mereka kepadaku.


"Oooo,,,,,,,,, itu ia memang benar ka, emangnya kenapa ka??" tanyaku kepada mereka.


Ada yang bertanya tentang dirinya, ada juga yang bertanya ingin mengetahui dunia lain, aku pun pusing dibuatnya.


Lonceng akhirnya berbunyi tanda akan di mulai jam pelajaran, mereka pun keluar dengan raut muka yang masih penasaran denganku, semuwah orang pada heboh tentang aku tidak terkecuali si Kinno ya biasa-biasa saja, yah aku berfikir mungkin karna kinno anaknya penakut jadi dia tidak tertarik cerita itu menurutku.


Di tengah jam pelajaran berlangsung Dion mulai mengangguku.


"Lan tadi ada kaka kelas yang postur tubuhnya kecil, imut, semok, warna kulitnya putih, senyuman nya manis dan wajahnya pun cantik kira-kira siapa yah Lan??" tanya Dion kepadaku.


Aku mulai mengingat-ingat kakak kelas yang ditanyakan oleh Dion tersebut.


"Oooooo,,,,,,,itu aku tidak tau siapa namanya" sahut ku kepada Dion.


Seperti biasa aku ngobrol di dalam hati dengan Dion biar teman dan gurun tidak tau.


"Emangnya kenapa??" tanyaku kepada Dion, sambil menulis pelajaran yang di tulis oleh guru di papan tulis.


"Gak papa Lan cuma mau tanya doang" jawab Dion kepadaku.


Setelah pelajaran berlangsung lama tiba waktu istirahat.


Aku pun cepat-cepat keluar dan bersembunyi di toilet wanita karna aku merasa terganggu dengan mereka semua.


Singkat cerita, setelah beberapa hari aku di cari-cari oleh kakak kelas, teman-teman aku mulai merasa terbiasa ada yang takjub kepadaku, ada juga yang tidak percaya, yah aku sih santai aja orangnya semua terserah mereka.


Hinga pada suatu hari aku ketemu degan anak laki-laki kelas 7C, sebut saja anak itu Fajrin, dia menghampiri ku dikelas.


"Lan aku mau tanya??"


"Ia mau tanya apa Jrin!" jawabku sambil menulis tugas rangkuman yang belum selesai.


"Itu kaka mu ya, yang selalu mengikuti mu dan kalau aku lewat di depan rumah mu sebelum kamu datang ke sekolah aku melihatnya, dia memakai baju gamis berwarna putih, dengan mengunakan sorban di kepalanya."


Sontak aku kaget dan berhenti menulis, memang sekarang aku sudah mengangap Dion sebagai kakakku sendiri.


"Kamu bisa ngeliat dia Jrin?" tanyaku dengan raut muka yang penasaran dengannya.


"Ia sih tapi cuma kadang saja aku bisa melihat hal-hal gaib, gak seperti kamu Lan yang bisa melihat terus-menerus, sekarang pun aku bisa melihat dia yang ada di samping mu, tapi nanti aku tidak bisa liat lagi" jawabnya kepadaku.


"Mungkin saja mata batin mu, belum terbuka dengan sempurna Jrin" sahutku kepadanya.


"Ooooo,,,,, jadi seperti itu ya Lan" sahutnya.


"Ia Jrin kalau menurut ku ya seperti itu" jawabku.


Setelah asik bicara, lonceng pun berbunyi menandakan waktu pelajaran di mulai lagi


"Ya sudah Lan aku mau ke kelas dulu yah" sahutnya kepadaku.


"Ia Jrin lain waktu kita sambung lagi ceritanya" sahutku


"Oke Lan"