Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
8. Episode 8


Kini Talitha dan Mia sedang berada di pasar untuk berbelanja sepuas-puasnya.


"Lihat ukuran di kain ini, Nona. Terlihat sangat indah apalagi saat kau menggunakannya" Ucap Mia.


"Beli saja jika kau suka, Mia." ucap Talitha.


"Tolong bungkus bungkus kain ini" lanjutnya.


"Baik, Nona" ucap pedagang itu.


"Setelah ini anda ingin melihat-lihat apa lagi, Nona?" tanya Mia.


"Heum ayo kita mampir ke kedai teh itu dulu, aku ingin beristirahat sebentar" ucap Talitha.


"Baik, Nona" ucap Mia sambil mengikuti Talitha dari belakang.


Thalita dan Mia kemudian pergi ke kedai teh yang tidak jauh dari tempat mereka membeli kain tadi.


"Selamat datang, Nona. Anda ingin memesan teh apa?" ucap seorang pelayan yang baru saja menghampiri kedua gadis itu.


"Teh oolong saja" ucap Talitha.


"Ah baik, Nona. Silahkan menunggu sebentar"


Pelayan itu kemudian pergi untuk membuatkan pesanan mereka.


"Aku berencana membuka sebuah usaha perawatan kulit untuk wanita, bagaimana menurut mu, Mia?" tanya Thalita.


"Itu ide yang sangat bagus, Nona" ucap Mia.


"Tetapi aku membutuhkan modal untuk membuka usaha ini, uang yang kita miliki sekarang masih kurang" ucap Talitha.


Sementara di tempat yang sama ada sepasang mata yang memperhatikan kedua gadis yang sedang mengobrol itu.


"Siapa gadis itu?" tanyanya.


"Ah dia gadis yang sedang di bicarakan oleh orang-orang, tuan. Putri yang dibuang oleh panglima perang" ucap bawahannya.


"Menarik" batinnya.


Pesanan Talitha telah siap dan diantar ke mejanya, beberapa saat setelah menikmati teh pesanannya, kedua gadis itu pergi dari kedai teh tersebut.


"Terimakasih, Nona. Silahkan berkunjung di lain waktu"


"Ah rasa teh di sana lumayan juga, bagaimana menurut mu, Mia?" tanya Talitha.


"Benar, Nona. Aku juga menyukainya" ucap Mia.


Tiba-tiba sebuah kereta kuda di samping mereka.


"Permisi, Nona."


"Kau memanggilku?" tanya Talitha.


"Benar, Nona. Tuan saya ingin berbicara sebentar dengan anda, jika nona berkenan silahkan masuk ke dalam kereta" ucapnya.


"Tapi aku tidak mengenal tuan mu itu" ucap Talitha.


"Siapakah pemilik kereta kuda yang terlihat sangat mewah itu"


"Sepertinya nona ini ingin berkenalan dengan ku" ucap seorang lelaki yang baru saja turun dari keretanya.


"Lihat pria yang baru saja turun itu sangat tampan"


"Ah aku ingat dia putra pertama tuan besar pemilik kedai teh di sana dan beberapa toko lainnya di kota ini"


"Benarkah? Berarti pria ini sungguh kaya raya"


"Tentu saja, dia adalah pria idaman selain tampan dia juga kaya raya, entah wanita beruntung mana yang bisa memilikinya"


"Siapa pria narsis ini, heum sepertinya dia terlihat lumayan" batin Talitha.


Yupz benar sekali Talitha merupakan pecinta pria tampan, sebelum gadis itu melintasi waktu dia mempunyai sesuatu yang hanya dia seorang saja yang mengetahuinya yaitu mengoleksi album-album foto pria tampan. Namun disisi lain dia mempunyai kepribadian yang berbeda yaitu ketika berurusan dengan profesinya sebagai pembunuh bayaran dia tidak akan segan-segan sekalipun harus membunuh pria-pria tampan tersebut.


"Nona, perkenalkan nama saya Lemian, saya mendengar sepertinya nona tertarik untuk membuka sebuah usaha" Ucap pria yang baru saja turun dari kereta dan bernama Lemian.


"Apakah tuan ini sangat ahli dalam menguping pembicaraan orang lain" ucap Talitha.


"Ah maafkan atas ketidaksopanan ku yang mendengarkan pembicaraan kalian, Nona. Namun sepertinya kita akan cocok untuk berdiskusi mengenai usaha yang akan nona buka" ucap Lemian.


"Heum walaupun dia tampan, namun aku tidak suka dengan sifat pria ini" batin Talitha.


"Ambil lah kertas ini dan cari aku jika kau sudah memikirkan baik-baik penawaran ku ini, Nona" ucap Lemian menyerahkan secarik kertas dan kembali ke dalam keretanya.


Kereta kuda itu lalu pergi dari sana, sedangkan Talitha dan Mia juga ikut pergi.


Malam hari pun tiba, kini Talitha merebahkan dirinya di kasur karena seharian keluar, dia merasa badannya pegal-pegal.


"Apakah anda butuh pijatan, Nona?"


"Apakah kau bisa memijat, Mia?"


"Ah iya, Nona. Ibu saya dahulu adalah seorang tukang pijat jadi saya memiliki sedikit kemampuan memijat yang sudah diajarkan oleh ibu saya" ucap Mia sedikit malu.


"Baiklah, pijat aku. Aku merasa badan ku pegal-pegal " ucap Talitha.


Saat Talitha sedang di pijat oleh Mia, dia teringat kertas yang di berikan oleh Pria tadi yang ditemuinya di jalan.


"Ah apa kau tahu siapa pria tadi, Mia?" tanya Talitha.


"Aku tadi sempat mendengar ucapan-ucapan wanita yang lewat katanya pria itu anak dari pemilik kedai teh tempat kita singgah tadi, Nona. Dan juga keluarganya memiliki usaha yang besar di ibu kota ini" ucap Mia.


"Heum sepertinya aku memiliki sebuah ide" ucap Talitha lalu kembali menikmati pijatan dari Mia.


Beberapa hari setelah pertemuan Talitha dan Lemian.


"Apakah wanita itu belum juga mencari ku?" tanya seorang pria yang tidak lain adalah Lemian.


"Belum ada tanda-tanda wanita itu mencari mu, Tuan" ucap bawahannya.


"Ah baru kali ini ada wanita yang mengabaikan ku hingga berhari-hari, Kesar cari tahu segalanya tentang wanita itu" ucap Lemian.


"Baik, Tuan" ucap bawahannya yang bernama Kesar lalu pergi dari sana.


Kini Talitha sedang merencanakan usaha yang akan dibuatnya yaitu dia berencana membuat produk perawatan kulit untuk wanita.


"Heum sepertinya ini sudah semua, ayo kita temui pria itu, Mia" ucap Talitha.


"Pria yang kita temui dijalan itu, Nona?" tanya Mia.


"Benar sekali, kita akan berbicara bisnis dengannya" ucap Talitha.


Kedua gadis itu lalu pergi ketempat yang telah tertera di kertas yang diberikan oleh pria yang tidak lain adalah Lemian, putra pebisnis besar di ibukota.


"Permisi, aku ingin bertemu tuan mu"


"Apakah kau sudah membuat janji sebelumnya dengan tuan?" tanya orang itu.


Talitha lalu menyerahkan kertas yang diberikan oleh Lemian beberapa hari yang lalu.


"Tunggu sebentar" Pria itu lalu masuk ke dalam lalu tak lama kemudian dia kembali.


"Silahkan masuk, Nona. Tuan sudah menunggu anda di dalam" ucap orang itu.


Talitha dan Mia lalu masuk ke dalam untuk menemui Lemian.


"Aku tidak menyangka kau memerlukan waktu yang lumayan lama untuk memikirkannya, Nona." ucap Lemian.


"Langsung saja ke intinya" ucap Talitha.


"Ternyata kau orang yang terang-terangan ya, Nona" ucap Lemian


"Kau tidak perlu memanggil ku Nona, panggil saja Aku Talitha" ucap Talitha


"Nama yang indah" batin Lemian.


"Baiklah lah sesuai keinginan mu" ucap Lemian.


Thalita lalu membicarakan bagaimana usaha yang akan dia jalankan, namun dia terkendala karena belum memiliki modal yang cukup untuk menjalankan usaha yang akan di buatnya.


......................


Jika kalian suka jangan lupa Like, Vote dan komen.


Salam dari Author:)