Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
15. Episode 15


Talitha pun mengajak anak itu untuk pergi ke sebuah tempat penyewaan kereta kuda yang akan membawa mereka ke desa tempat anak itu berasal.


"Kalian akan ke mana?" tanya seorang pria yang akan membawa mereka.


Talitha lalu menyuruh anak itu menunjukkan jalan ke desa tempat asalnya kepada pria yang akan membawa mereka ke sana.


"Baiklah, sekarang kita akan berangkat. Naiklah ke atas" ucap pria itu.


Kini Talitha dan anak itu sudah berada di dalam kereta kuda yang akan membawa mereka.


"Hey bocah, siapa nama mu?" tanya Talitha.


"Eric" ucap anak yang bernama Eric.


"Kenapa kau mau membantu ku sampai sejauh ini?" tanya Eric sambil menunduk.


"Tidak tahu, mungkin karena aku baik" ucap Talitha.


"Cih mana ada orang yang memuji dirinya sendiri" ketus Eric.


"Hahaha, ngomong-ngomong kenapa kau hanya tinggal bertiga dengan ibu dan adik mu, memangnya ayah mu kemana?" tanya Talitha.


"Aku tidak tahu, dia meninggalkan kami bertiga di rumah gubuk itu dan dia pergi entah kemana" ucap Eric.


"Oh jadi begitu" ucap Talitha.


"Kau bukan berpura-pura baik kepada ku dan akan menjual ku kan?" tanya Eric.


"Hah?! Memangnya aku terlihat seperti seorang penjual anak kecil?" tanya Talitha.


"Kau memakai cadar seperti itu, jadi aku sedikit curiga kepadamu" ucap Eric kecil.


"Hahaha, rupanya kau takut kepada ku. Benar aku akan menjual mu" ucap Talitha dengan senyum mencurigakan.


Eric yang mendengar itu terkejut dan berencana ingin melarikan diri dengan melompat dari kereta.


"Hey, tenang lah. Kau ini tidak bisa di ajak bercanda. Aku hanya bercanda dengan mu" ucap Talitha.


"Kau seharusnya tidak mengatakan hal itu untuk bercanda, nona!" ucap Eric kini pria kecil itu terisak.


"E-eh jangan menangis, maafkan aku" ucap Talitha.


"Humph.." Eric menolak Talitha menyentuhnya.


"Aduh merepotkan sekali jika berurusan dengan anak kecil" batin Talitha.


"Pfttt.. muka mu jadi jelek jika menangis seperti itu" ucap Talitha menahan tawanya.


"Hey, jangan mengejekku!" teriak Eric.


"Iya aku tidak akan mengejek mu lagi, jadi sekarang ayo berdamai" ucap Talitha sambil mengulurkan tangannya ke hadapan Eric.


"Heum.. Baiklah" ucap Eric.


Selama perjalanan kedua orang tersebut mengobrol dan banyak tertawa.


"Kau pria kecil yang cengeng" ucap Talitha.


"3 tahun lagi aku akan menjadi pria dewasa dan kau tidak akan bisa mengejekku lagi" ucap Eric.


"Pfttt.. Benarkah? Dasar bocah pendek" ucap Talitha.


"Hey! Kau ini selalu mengejekku!" ucap Eric tidak terima.


Ternyata Talitha dan Eric memiliki perbedaan usia 5 tahun Eric dengan umur 14 Tahun dan Talitha yang berumur 19 Tahun.


Kini mereka telah tiba di desa tempat Eric berasal, desa itu memang kecil dan hanya terlihat beberapa penduduk yang berada di sana.


"Siapa pemilik kereta itu"


"Aku tidak tahu"


"Eh bukan kah itu Eric?"


"Benar, tetapi siapa wanita yang bersamanya"


"Nah sekarang kau sudah sampai di desa mu, sekarang di mana rumah mu berada?" ucap Talitha.


"Ikutlah dengan ku" ucap Eric menarik tangan Talitha untuk mengikutinya.


"Tunggu disini ya pak, aku akan segera kembali" ucap Talitha kepada bapak yang mengantar mereka.


Kini Talitha sampai di depan sebuah gubuk kecil.


"Kakak! Akhirnya kau pulang" ucap Seorang gadis kecil yang kira-kiranya berumur 8 Tahun tiba-tiba menghamburkan pelukan kepada Eric.


"Hey adik, tenanglah dulu dan lepaskan" ucap Eric.


"Apa dia adik mu yang kau ceritakan itu?" tanya Talitha dan Eric mengangguk.


"Lesya, kenalkan ini dia Talitha. Dia orang yang telah membantu Kakak" ucap Eric.


"Eh?" kaget Talitha.


"Hey, Lesya! Kau ini tidak sopan sekali kepada tamu" ucap Eric.


"Kau tidak perlu memarahinya, Eric" ucap Talitha.


"Yasudah ayo kita masuk" ucap Eric.


Ketika masuk Talitha lumayan kaget melihat isi dari rumah mereka yang nyaris kosong dan hanya ada meja dan kasur tempat dimana ada seseorang yang terbaring di sana.


"Apakah itu ibumu?" tanya Talitha.


"Iya, dia ibuku" ucap Eric.


"Kak, apa kau membawa makanan? Aku sangat lapar, aku belum makan dari pagi karena menunggu mu pulang" ucap Lesya.


"Maaf Lesya, kakak tidak mendapatkan uang sedikit pun" ucap Eric.


"Ah tidak apa-apa, kalau begitu aku akan bermain diluar ya kak" ucap Lesya.


"Tunggu sebentar" ucap Talitha.


"Ambil uang ini dan berbelanja lah di luar sesuka mu dan belikan sesuatu untuk kakak dan ibu mu juga ya adik kecil" ucap Talitha sambil mengelus kepala Lesya.


Lesya menerima uang itu dan mengangguk.


"Terima kasih, kakak cantik" ucap Lesya lalu berlari keluar.


"Ah maaf aku merepotkan mu lagi" ucap Eric.


"Hey, kau tidak mendapatkan uang karena ku bukan. Jadi aku menggantinya dengan memberikan uang itu kepada adik mu" ucap Talitha.


"Terimakasih banyak" ucap Eric.


Kini Talitha dan Eric berjalan menghampiri ibunya yang hanya terbaring di kasur itu.


"Ibu, aku sudah pulang" ucap Eric.


"Uhuk uhuk ternyata kau sudah pulang ya" ucap ibu Eric.


"Bu aku ingin mengenal kan seseorang kepada mu" ucap Eric.


"Apa ada orang yang ingin bertemu dengan kita yang memiliki keadaan seperti ini" ucap Ibu Eric.


"Tentu saja, Talitha kemari lah" ucap Eric.


"Halo bibi, perkenalan saya Talitha" ucap Talitha tersenyum di balik cadarnya.


Mendengar suara itu membuat ibu Eric tiba-tiba beralih dan menatap Thalita.


"Putri Arisa? K-kau Putri Arisa kan?! uhuk uhuk" ucap ibu Eric yang kini berusaha membangunkan dirinya dari kasur.


"Ibu tenanglah, ada apa dengan mu" ucap Eric yang kini membantu ibunya untuk duduk.


"Maaf bibi aku tidak mengerti apa yang kau maksud" ucap Talitha.


"Kenapa anda baru muncul sekarang, sudah lama saya mencari anda, tuan putri" ucap Ibu Eric kini meneteskan air matanya.


"Apa yang sebenarnya dia katakan, aku sama sekali tidak mengerti" batin Talitha.


"Ibu, kau salah orang dia bukan Talitha bukan putri Arisa yang kau maksud itu" ucap Eric.


"T-tidak mungkin, dari balik cadar itu saja aku sudah bisa mengenalinya" ucap Ibu Eric.


"Bisakah kau membuka cadar mu itu? Aku mohon agar ibuku tidak mengira kau orang yang dia kenali" ucap Eric.


"Baiklah" ucap Talitha sambil mengangguk dan kemudian melepaskan kain itu dari wajahnya.


Ketika kedua orang yang berada di hadapannya itu terkejut hingga menutup mulutnya karena tidak percaya apa yang sedang mereka lihat saat ini.


"S-sudah aku bilang dia itu putri Arisa, ah tapi tidak mungkin dia masih remaja seperti mu sepertinya kalian hanya mirip saja" ucap Ibu Eric dengan sendu.


"Siapa orang yang bernama putri Arisa itu, bibi? Bisakah kau jelaskan kepada ku" ucap Talitha.


"Jadi 20 tahun yang lalu di kerajaan utara, aku melayani seorang tuan putri yang bernama Arisa, dia sangat cantik persis seperti mu dan dia juga baik hati. Namun tiba-tiba suatu hari dia jatuh cinta kepada seorang pria rendahan dan Raja yang tidak menyetujui hubungan mereka akhirnya mengusir tuan putri dan pria itu dari kerajaan utara, namun aku sudah tidak tahu bagaimana kondisi putri Arisa setelah itu" ucap ibu Eric.


"Namun kenapa anda bisa berada di kerajaan barat ini? Bukankah anda berasal dari kerajaan utara" tanya Talitha.


"Setelah kepergian putri Arisa, aku memutuskan untuk berhenti sebagai pelayan dan aku ingin pergi mencarinya, saat itu aku mendapatkan kabar bahwa tuan putri dan pria itu pergi ke kerajaan barat dan akhirnya aku menyusul ke sini, namun sampai sekarang aku sama sekali belum menemukannya" ucap Ibu Eric sedih.


"Setelah aku lelah mencarinya, aku memutuskan untuk menetap disini dan aku menikah dengan ayah Eric, namun setelah memiliki Eric dan Lesya, suamiku pergi dan meninggalkan kami bertiga di gubuk kecil ini" lanjutnya.


"Kasian sekali nasib mereka" batin Talitha.


...****************...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.