
Kini dua pekan telah berlalu, semua telah berjalan sesuai dengan rencana Talitha diawal dan tepat hari ini mereka meresmikan toko baru yang mereka buka.
"Bagaimana kau akan mempromosikan produk baru mu itu, Talitha?" tanya Lemian.
"Hahaha, sepertinya sekarang kau sudah tidak canggung lagi saat berbicara dengan ku" ucap Talitha.
"Benar, kita kan sudah menjadi teman dan sebaiknya aku menghilangkan panggilan nona nona itu untuk mu, hahaha" ucap Lemian.
"Kau tidak perlu khawatir tentang cara mempromosikan produk yang akan di jual di toko ini karena aku sudah mengajari kelima wanita itu" Ucap Talitha.
"Baiklah, kau memang paling bisa di harapkan" ucap Lemian.
"Hahaha, tentu saja" ucap Talitha.
Sementara di dalam istana Kafel, dia kembali bertemu dengan dua bawahannya yang bernama Aron dan Ciel.
"Aku sudah menerima surat balasan dari paman Albern dan dia sudah menyetujui rencana yang ku buat" ucap Kafel.
"Kapan kita akan melangsungkan rencana ini, tuan Kafel?" ucap Ciel.
"Saat pengangkatan putra mahkota sebagai raja yang baru" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Rencana ini sangat beresiko jangan sampai ada yang mengetahui rencana ini" lanjutnya.
"Baik, tuan" ucap mereka serentak.
Setelah itu Pangeran kedua Kafel keluar dari ruangannya, ruangan itu adalah ruangan tersembunyi yang berada di istana pangeran kedua dan hanya dia dan kedua bawahannya yang tahu akan tempat tersebut. Didalam ruangan itu semua barang-barang penting yang berisi tentang rencana besarnya terletak di sana.
"Pangeran kedua, anda dari mana saja?!" tanya kepala pelayan.
"Ah aku bermain-main di kamar ku, bibi" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Jangan berbohong pangeran, aku sudah sedari tadi mencari anda di kamar namun saya tidak menemukan keberadaan anda" ucap kepala pelayan.
"Apa bibi tidak percaya lagi kepada ku?" ucap pangeran kedua memasang wajah murungnya.
"Ah bukan begitu, pangeran. Aku hanya khawatir kepada anda" ucap Kepala pelayan.
"Terimakasih, bibi. Kau memang yang paling menyayangi ku" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Sekarang anda mau ke mana lagi, pangeran?" tanya kepala pelayan.
"Aku ingin berjalan-jalan ke tempat Kakak Celio, bibi" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Anda sebaiknya tidak ke sana, pangeran" ucap kepala pelayan.
"Mengapa?" tanya Pangeran kedua Kafel sambil memiringkan kepalanya.
"Karena dia tidak suka akan kehadiran anda, pangeran" batin kepala pelayan.
"Putra mahkota terlihat sangat sibuk beberapa hari ini, jadi sebaiknya anda jangan mengganggunya dulu" ucap kepala pelayan.
"Oh begitu, kalau begitu aku akan menemui Adik Royce dan istrinya saja" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Huftt.. Sebaiknya anda juga tidak kesana pangeran" ucap kepala pelayan.
"Saat ini pangeran kedua sedang tidak berminat untuk menemui siapa-siapa, perasaannya sedang tidak baik-baik saja" ucap kepala pelayan.
"Kalau begitu aku tetap akan kesana untuk menghiburnya, sampai jumpa bibi" ucap pangeran kedua Kafel lalu berlari.
"Eh? pangeran!" teriak kepala pelayan.
Pangeran kedua Kafel kini telah sampai di istana pangeran ketiga Royce.
"Dimana adikku?" tanyanya kepada seorang pelayan.
"Beliau berada di ruangannya, pangeran" ucap pelayan tersebut.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, pangeran kedua Kafel langsung menyelonong masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Halo adik_Eh?" ucap pangeran kedua tiba-tiba terhenti.
Pangeran kedua pun terkaget melihat apa yang sedang di tonton di hadapannya itu sekarang.
"Apa yang kau lakukan, kak?! Kau masuk ke ruangan orang lain tanpa mengetuk terlebih dahulu!" ucap pangeran ketiga, Royce dengan kesal.
Kafel memergoki adiknya itu sedang berduaan dengan seorang pelayan di istananya dan bukan istrinya.
"Keluarlah" ucap pangeran ketiga Royce menyuruh pelayan itu keluar.
"Ah maaf-maaf, aku tadi ingin memberimu kejutan adik namun kau ternyata yang terlebih dahulu memberikan aku kejutan hehe" ucap pangeran kedua, Kafel sambil menggaruk kepalanya.
"Diam lah! apa yang kau inginkan hingga datang kemari? Jangan bilang kau lagi-lagi ingin mengajakku bermain dengan mu, jangan lakukan hal bodoh itu lagi kau itu sudah dewasa kakak!" ucap pangeran ketiga, Royce.
"Ah kali ini berbeda, aku datang kesini untuk menghibur mu karena kata bibi kau sedang tidak baik-baik saja" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Kau sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaanku, jadi sebaiknya kau pergi saja kakak dan kembali ke istana mu" ucap pangeran ketiga, Royce.
"Tentu saja aku mengerti karena aku ini adalah kakakmu, aku melihat semenjak kau menikah dengan putri panglima itu kau sudah tidak pernah terlihat tersenyum lagi jadi aku menyimpulkan bahwa masalahnya adalah dia, benar bukan?" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Sepertinya kakak ku yang bodoh ini bisa aku jadikan teman cerita untuk sementara, setidaknya dia bisa mengerti jadi dia akan berguna sedikit" batin Pangeran ketiga, Royce.
"Ya seperti yang kau katakan, ayah memaksa ku untuk menikahi wanita itu padahal aku sudah menyukai seseorang tetapi aku tidak tahu keberadaan gadis itu sekarang" ucap pangeran ketiga, Royce.
"Siapa gadis yang kau sukai itu adik?" tanya Pangeran kedua, Kafel.
"Kau percaya dengan cinta pandangan pertama, kak? Aku jatuh cinta dengan gadis itu saat pertama kali melihatnya di acara ulang tahun ibu, dia sangat cantik dan berani" ucap pangeran ketiga Royce.
"Siapa yang kau maksud adik? Aku tidak mengerti" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Dia putri yang di buang oleh panglima, mantan tunangan putra mahkota, aku jatuh cinta dengan wanita itu kak, saat pertama kali melihatnya aku selalu memikirkannya dan ingin selalu bertemu dengannya" ucap Pangeran ketiga, Royce.
Baru kali itu pangeran kedua Kafel melihat senyum adiknya itu kembali merekah.
"Jadi dia juga menyukai gadis itu" batin Kafel.
"Bagaimana menurut kak? Aku terlihat lebih cocok untuk gadis itu bukan? dia lebih pantas menjadi istriku" ucap pangeran ketiga Royce.
"Tapi sayang aku malah berakhir dengan wanita ****** itu, tetapi dia tidak akan bertahan lama disini dan setelah dia pergi, aku akan mencari gadis itu dan menikah dengannya" ucap pangeran ketiga, Royce.
"Pria seperti mu maupun seperti Celio itu tidak pantas bersanding dengannya" batin Kafel yang kini dibuat geram oleh ucapan adiknya.
"Tetapi kalian tidak mungkin akan bersama" ucap pangeran kedua Kafel.
"Apa maksud perkataan mu, kak?!" ucap pangeran ketiga Royce.
"Karena ayah tidak akan menyetujuinya, adik" ucap pangeran kedua Kafel.
"Persetan dengan itu aku rela meninggalkan posisi ku dan kabur bersamanya meninggalkan kerajaan ini" ucap pangeran ketiga, Royce.
"Pria ini benar-benar sudah gila" baru Kafel.
"Terserah saja, kalau saja kau bisa mendapatkannya, adik" ucap pangeran kedua Kafel.
"Aku tidak akan membiarkan mu melakukannya hal itu" batin Kafel.
"Sepertinya perasaan mu sudah membaik, kalau begitu aku akan berkunjung lain waktu lagi" ucap pangeran kedua, Kafel lalu pergi.
...****************...
Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.
See u