
Setelah pertemuan Pangeran Kafel dengan orang suruhan Albern dia kembali ke istana menjelang pagi hari sebelum matahari muncul.
"Apakah ada hal yang kau dapatkan di kediaman Perdana Menteri, Aron?" tanya Kafel.
"Sewaktu aku menyelinap ke dalam ruang kerja Perdana Menteri, aku menemukan sebuah kertas di lacinya yang bertuliskan nama ibu Anda Nyonya Roselyn dan kertas tersebut bertuliskan bahwa Raja memberikan setengah harta miliknya ke Nyonya Roselyn dan jika beliau sudah tidak ada maka hanya anak kandungnya yang bisa menerima harta tersebut dan di situ sudah ada stempel asli milik Raja" ucap Aron.
"Kenapa benda itu ada di tangan Perdana Menteri, seperti dia berencana memanipulasi surat peninggalan Raja" ucap Kafel.
"Untuk berjaga-jaga aku membuat salinan dari surat itu tuan dan salinannya ku tinggalkan di laci Perdana Menteri dan aku mengambil yang aslinya" ucap Aron lalu mengeluarkan sebuah surat dari balik bajunya.
"Kau memang yang terbaik kawan!" ucap Ciel merangkul pundak Aron.
"Lepaskan tangan mu dari ku" ucap Aron dengan nada dingin.
"Bagus, kau bekerja dengan baik Aron" ucap Kafel.
Kafel lalu mengambil surat itu dari tangan Aron dan membukanya lalu membaca semua isi dari surat tersebut.
"Jadi ini maksud dari Ratu dan Perdana Menteri sehingga mereka ingin membunuh ku dan mengambil peninggalan ini, dengan ini saja sudah lumayan cukup untuk melawan mereka" batin Kafel.
"Kalau begitu Aron kembali lah awasi kediaman Perdana Menteri dan untuk kau Ciel pergi lah awasi kediaman Putra Mahkota" ucap Kafel.
"Baik Tuan" ucap mereka berdua serentak.
Setelah kepergian kedua bawahannya, Kafel pergi menyimpan surat itu ke sebuah tempat rahasia miliknya.
Sementara itu di Istana yang mulia Ratu, dia sedang berbicara dengan Putra Mahkota Celio.
"Ibu jadi kapan pengangkatan ku sebagai Raja yang baru?" tanya Putra Mahkota Celio.
"Kita memiliki masalah Celio, sewaktu ibu pergi ke ruang kerja ayah mu ibu menemukan surat yang di mana dia memberikan setengah harta yang di milikinya kepada wanita sialan itu lagi dan sekarang karena wanita itu sudah tiada makan Pangeran Kedua lah yang menerimanya" ucap yang mulia Ratu.
"Maksud ibu, ayah memberikan setengah kekuasaannya kepada Bibi Roselyn? Dan karena sekarang dia sudah tiada maka kekuasaan itu di alihkan kepada Pangeran kedua?" tanya Putra Mahkota Celio.
"Benar, sekarang yang tersisa hanya setengahnya lagi yang akan di bagi ke seluruh anggota kerajaan dan yang di miliki Pangeran kedua akan semakin bertambah, itulah mengapa Perdana Menteri menyuruh mu untuk menghabisinya tanpa di ketahui siapapun agar semua itu bisa di alihkan menjadi milik kita" ucap yang mulia Ratu.
"Sialan si bodoh itu! Dia sangat beruntung, jadi karena itu Perdana Menteri menyuruh ku untuk memikirkannya lagi padahal aku sudah menolak tawarannya" ucap Putra Mahkota Celio.
"Sebelum keputusan keluar mengenai siapa yang layak menjadi penerus selanjutnya, kita harus mengubah isi surat itu dan membuat kematian Pangeran Kedua seolah-olah murni karena kecelakaan saat dia bermain" ucap Ratu.
"Benar ibu, kita harus melakukannya" ucap Putra Mahkota Celio.
"Jadi mengenai surat itu serahkan saja kepada Paman mu dan untuk Pangeran kedua ibu serahkan kepada mu Celio" ucap yang mulia Ratu.
Setelah pembicaraan yang mulia Ratu dan Celio, akhirnya Putra Mahkota Celio memutuskan kembali ke istananya dan memikirkan cara untuk menyingkirkan Pangeran Kafel.
...----------------...
Sementara kini di tempat Talitha, gadis itu sedang sangat bosan karena sudah tidak dapat melakukan apa-apa lagi, pekerjaan di tokonya sudah terisi dengan pekerja-pekerja barunya.
"Miaaaa aku sangat bosan, pikirkan apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan kebosanan ku yang menyiksa ini" ucap Talitha dengan tampang lesu.
"Tidak ada juga yang bisa ku lakukan di luar Mia" ucap Talitha.
"Mana kita tahu Nona di luar selalu saja terjadi hal yang tidak terduga mungkin Anda akan menemukan sesuatu yang menarik jika Anda keluar" ucap Mia.
"... Benar juga kata mu tidak ada yang tahu hal apa yang akan terjadi di luar sana jika aku tidak keluar untuk mencari tahu" ucap Talitha bangkit dari tempatnya.
"Baiklah! Aku sudah memutuskan untuk mencari tahu hal baik apa yang akan terjadi hari ini" lanjutnya lalu melangkah keluar dari toko membuat Mia menggeleng-gelengkan kan kepalanya melihat kelakuan Nona nya itu.
Kini Talitha sudah berada di depan tokonya dan dia di suguhi dengan keramaian di ibu kota, banyak orang yang berjalan dengan arah berlawanan dan gerobak-gerobak yang membawa barang.
"Sebaiknya aku ke kanan atau ke kiri.." batin Talitha.
"Baiklah aku memutuskan untuk memakai koin ini sebagai petunjuk jalan jika angka berarti aku harus ke kanan namun jika koin ini menunjukkan gambar berarti aku harus ke kiri" ucap Talitha.
Talitha lalu melemparkannya koinnya ke langit dan kemudian menangkapnya dengan satu tangan lalu membuka kepalan tangannya, lalu hasil yang di dapatkan adalah..
"... Angka? Berarti aku harus berjalan ke arah kanan" ucap Talitha.
Talitha lalu memulai perjalanannya untuk mencari hal yang menarik di hari itu dengan jalan kaki saja, dia berjalan sambil bersiul-siul dan dengan kedua tangannya di lipat ke belakang.
"Di sana ada permen kapas, sudah lama ku tidak memakannya" batin Talitha.
"Permisi Tuan, aku ingin membeli dua permen kapas" ucap Talitha.
"Baik tunggu sebentar Nona, saya akan membuatkan nya" ucap penjual permen kapas itu.
Setelah beberapa saat Talitha mengamati cara pembuatan permen kapas itu permen kapasnya pun selesai di buat.
" Ini Nona" ucap penjual itu lalu memberikan dua permen kapas kepada Talitha.
"Ini bayarannya, terima kasih" ucap Talitha memberikan dua keping koin kepada penjual permen kapas tersebut lalu pergi dari sana sambil membawa dua permen kapas di tangannya.
"Aku akan mencoba yang kanan dulu karena hari ini aku akan memulai dengan pilihan kanan terlebih dahulu" ucap Talitha.
Di saat Talitha sedang menikmati permen kapasnya, tiba-tiba segerombolan pengendara kuda datang dari arah belakang.
"Minggir! Minggir! Jangan menghalangi jalan pasukan kerajaan" teriak seorang prajurit dari arah belakang agar warga memberikan jalan kepada mereka.
Di saat semua orang menghindar dari jalan agar tidak tertabrak oleh gerombolan prajurit istana yang telah kembali setelah berperang, Talitha dengan santainya berjalan di depan tanpa mendengar dan melihat ke arah belakang.
"Minggir Nona! Ada pasukan kerajaan dari arah belakang mu!" teriak seorang warga.
Talitha yang sedikit mendengar teriakan orang itu karena suaranya yang melengking membuatnya berbalik melihat ke arah belakang dan ternyata tinggal beberapa langkah lagi hingga dia tertabrak oleh pemimpin pasukan mereka yang berada di paling depan barisan.
"Berhenti!" ucap Talitha dengan penekan hingga lagi dan lagi dia membuat waktu terhenti.
...****************...
Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen, dan vote.