Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
22. Episode 22


"Apa yang sedang para pelanggan bicarakan sepertinya sangat menarik, terlihat dari ekspresi mereka" ucap Hanna.


"Kejadian beberapa hari yang lalu mengenai tabib kerajaan yang membunuh yang mulia Raja, namun tidak ada yang boleh membahas hal ini lagi, jika ketahuan kita akan di tangkap oleh orang kerajaan" ucap Maria.


"Hilangkan rasa penasaran mu itu Hanna, aku tidak ingin hanya karena rasa penasaran mu itu kita jadi terkena masalah" lanjutnya.


"Iya-iya aku tidak akan membahasnya lagi" ucap Hanna cemberut.


Sedangkan Talitha dan Mia yang berada di bagian dalam toko di mana tempat produksi produk perawatan, dia sedang mengecek-ngecek di sana agar tidak ada kesalahan yang mengakibatkan kerugian bagi mereka.


"Tambahkan sedikit ekstrak bunga mawar ini" ucap Talitha.


"Baik, Nona"


Mereka mulai menakar semua bahan-bahan yang akan di campurkan ke dalam produk perawatan kulitnya, namun kini ditambah lagi Talitha menciptakan sebuah produk perawatan untuk rambut.


"Lanjutkan apa yang telah aku katakan sebelumnya, aku akan keluar untuk melihat para pelanggan" ucap Talitha.


"Baik, Nona" ucap Mia, Melinda dan Carla.


Mia, Melinda dan Carla bertugas di bagian produksi produk yang berada di bagian dalam toko. Sedangkan, Hanna, Elisa dan Maria bertugas untuk melayani para pelanggan di toko bagian depan. Lalu untuk Talitha, dia hanya mengarahkan mereka ber enam. Sebenarnya Talitha kekurangan orang untuk membantunya di toko karena para pelanggan mulai semakin banyak yang berdatangan.


"Nona, apa sebaiknya kita memasang sebuah kertas pemberitahuan untuk menerima pekerja baru di toko ini, pelanggan semakin banyak mustahil untuk aku, Maria dan Elisa untuk melayani mereka yang sebanyak ini" ucap Hanna yang mengeluh karena dia kecapean bolak balik melayani para pelanggan.


"Ide yang bagus, sebenarnya aku sudah berpikiran untuk melakukan itu namun aku tidak sempat untuk membuatnya" ucap Talitha.


"Sebaiknya kita menyewa seorang jasa tulis, Nona. Serahkan saja kepadanya untuk masalah ini" ucap Hanna.


"Baiklah, karena kalian semua sedang sibuk, aku yang akan pergi ke tempatnya. Tuliskan saja alamatnya dan berikan kepada ku Hanna" ucap Talitha.


"Baik, Nona. Tunggu sebentar" ucap Hanna lalu segera mengambil kertas dan menuliskan alamat tempat jasa tulis itu berada.


"Ini alamat nya, Nona" ucap Hanna menyerahkan secarik kertas kepada Talitha.


"Baiklah, aku akan pergi sekarang. Tetap awasi toko dengan baik" ucap Talitha.


"Siap, Nona!" ucap Hanna.


Setelah itu Talitha keluar dari toko dan menyewa sebuah kereta kuda, dia memberikan kertas itu kepadanya kepada Kusir kereta dan kemudian dia pergi menuju ke tempat yang di tulis kan oleh Hanna di kertas itu.


Setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, akhirnya Talitha sampai di depan tempat kerja jasa tulis tersebut.


"Permisi, aku ingin bertemu dengan pemilik tempat ini" ucap Talitha.


"Maaf Nona. Tetapi majikan saya sedang melayani tamu di dalam, Anda bisa menunggu atau Anda bisa kembali besok " ucap seorang Penjaga.


"Aku akan menunggu saja" ucap Talitha.


Beberapa saat setelah Talitha menunggu, dia di persilahkan masuk dan di antarkan ke depan pintu tempat dimana jasa tulis itu bekerja.


"Permisi Nyonya, ada seorang pelanggan yang ingin bertemu" ucap Penjaga.


"Bawa dia masuk" ucap Pemilik tempat jasa tulis tersebut.


"Silahkan masuk Nona" ucap Penjaga menyuruh Talitha untuk masuk ke dalam ruangan.


Talitha lalu masuk ke dalam dan berdiri di hadapan seorang wanita paruh baya yang menjadi pemilik tempat jasa tulis tersebut.


"Bantuan apa yang dapat ku berikan kepada anda Nona?" tanya wanita paruh baya dengan tersenyum.


"Seratus kertas? Lumayan banyak jadi akan aku terima, tetapi apa kau tidak memerlukan jasa lain seperti membantu mu menyebarkan lembaran ini?" tanya wanita paruh baya pemilik tempat tersebut.


"Apakah ada layanan seperti itu juga di tempat ini? Kalau begitu sekalian saja" ucap Talitha.


"Tentu saja kami juga menyediakan jasa lain selain mencetak semua informasi, kami ingin mempermudah pelanggan kami tetapi bayarannya akan lebih dari yang seharusnya" ucap wanita paruh baya itu.


"Tidak masalah, ini bayarannya" ucap Talitha menyerahkan sekantong koin kepada wanita tersebut.


"Namun aku ingin sebelum tiga hari, sudah ada seseorang yang datang untuk bekerja dengan ku" ucap Talitha.


"Tenang saja, aku menjamin akan banyak orang-orang yang akan datang dan melamar kerja di toko mu" ucap wanita paruh baya itu.


"Baiklah, kalau begitu aku permisi" ucap Talitha lalu keluar dari tempat wanita pemilik jasa tulis tersebut.


Setelah selesai menangani masalah kekurangan pekerja itu, Talitha lalu kembali ke kereta yang di sewanya dan bergegas kembali ke toko.


Sementara itu di malam tiga hari sebelumnya di hari eksekusi tabib kerajaan, Pangeran Kafel diam-diam keluar dari istana dan pergi menemui seseorang di rumah hiburan.


"Apakah anda telah memesan tempat Tuan?" tanya wanita pemilik rumah hiburan.


"Bawa aku ke ruangan yang tertera di kertas ini" ucap Kafel.


"Silahkan ikuti saya" ucap wanita pemilik rumah hiburan.


Wanita itu lalu mengantarkan Pangeran Kafel menuju ke sebuah ruangan yang terletak lumayan terpisah dari ruangan-ruangan lainnya.


"Ini tempatnya Tuan, silahkan masuk dan nikmati waktu Anda" ucap Wanita tersebut lalu pergi meninggalkan Kafel.


Setelah Wanita pemilik rumah hiburan itu pergi, Kafel memastikan tidak ada orang lain di tempat itu kemudian masuk ke dalam.


"Apa kau orang yang di kirim oleh paman Albern?" tanya Kafel.


"Benar, langsung saja ke intinya pemberontakan ini akan di laksanakan saat pengangkatan Putra Mahkota sebagai Raja baru, seluruh pasukan akan menyerang istana dan tugas mu yaitu memberikan bukti kepada semua orang bahwa Putra Mahkota bukan anak kandung Raja sebelumnya dan menghabisi semua penghianat di dalam kerajaan" ucap orang kepercayaan Albern.


"Aku mengerti, Aku juga berencana menambahkan satu bukti lagi" ucap Kafel.


"Apa itu?" tanya kepercayaan Albern.


"Bukti bahwa sebenarnya yang membunuh Raja adalah Ratu sendiri" ucap Kafel.


"Baiklah, Tuan ku berpesan agar kau lebih berhati-hati sebelum harinya tiba karena Ratu dan yang lainnya pasti akan berencana untuk menyingkirkan mu" ucap orang kepercayaan Albern.


"Aku tahu itu, aku sudah mendengar pembicaraan antara Putra Mahkota dan Perdana Menteri, Perdana Menteri sekaligus saudara Ratu menyuruh Putra Mahkota untuk membunuh ku namun aku berpikir dia tidak akan melakukan itu karena dia masih menganggap ku bodoh, sebaliknya dia pasti akan menargetkan saudaranya sendiri yaitu Pangeran Royce" ucap Kafel.


"Tetap lah berhati-hati, kita tidak tahu akan ada perubahan apa lagi yang akan terjadi kedepannya" ucap orang kepercayaan suruhan Albern.


"Benar, lalu bagaimana dengan kabar paman Albern?" tanya Kafel.


"Dia baik seperti biasanya, dia menunggu mu segera naik ke tahta dan bisa cepat bertemu dengan mu" ucap orang kepercayaan Albern.


"Hahaha, dia mungkin ingin bertemu dengan ibuku bukan dengan ku" ucap Kafel.


...****************...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan like, komen, dan vote.