
"Kalian semua bersekongkol untuk menghianati kerajaan, kalian pantas untuk mati terutama kau Kafel, kau pasti dalang dari pemberontak ini" ucap Celio.
Kini terjadi pertarungan antara Kafel dan Celio, keduanya beradu pandang dan saling mengarahkan pedang satu sama lain.
"Kau bukan lah lawan ku, aku tidak akan membiarkan siapa pun terutama kau mengambil posisi yang selama ini ku inginkan" ucap Celio.
Kini Celio maju dan menyerang terlebih dahulu hingga terjadi pertarungan sengit di antara keduanya, sedangkan Royce serta Leonard bergabung dan membantu para pasukan pemberontak melawan para bangsawan.
Pertempuran mereka berlangsung lama hingga akhirnya pasukan pemberontakan mengalahkan para bangsawan, sedangkan kini Celio berhasil di tumbangkan oleh Kafel dan akhirnya dia berhasil tangkap bersama dengan Ratu Olivia yang awalnya mencoba untuk kabur.
Setelah aksi pemberontakan itu terjadi Kafel mendirikan pemerintahan yang baru dan mengungkapkan semua bukti-bukti kebohongan Ratu Olivia bersama dengan Perdana Menteri. Kini mereka semua telah di tangkap dan di masukkan ke dalam penjara dan akan mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatan mereka.
Kini 3 bulan telah berlalu setelah aksi pemberontakan yang terjadi, Kafel telah menjadi Raja yang baru dan seluruh sistem kerajaan telah berubah.
"Kini kau sudah berhasil mendapatkan apa yang kau inginkan, sekarang sudah waktunya kau menepati janji mu yang mulia" ucap pangeran Royce.
"Apa kau sudah yakin ingin melepaskan status mu sebagai pangeran?" tanya Kafel.
"Aku sudah sepenuhnya yakin untuk meninggalkan semua yang berhubungan dengan kerajaan ini dan menjadi rakyat biasa" ucap Royce.
"Bagaimana dengan wanita itu?" tanya Kafel.
"Aku sudah menceraikannya dan kini dia sudah kembali ke kediaman mantan panglima" ucap Royce.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menyetujui keputusan mu sekarang kau bebas tetapi jika suatu hari kau membutuhkan bantuan jangan ragu untuk mengatakannya kepada ku" ucap Kafel.
"Terimakasih yang mulia, kalau begitu saya pamit" ucap Royce lalu pergi.
Setelah semuanya berhasil di dapatkan oleh Kafel dia masih belum puas karena ada satu hal yang belum di dapatkannya.
"Sekarang sudah saatnya aku mencari mu" batin Kafel.
Di saat Kafel sedang melamun, dua orang bawahannya datang.
"Salam Tuan" ucap mereka.
"Apa kalian sudah mengetahui keberadaan gadis itu?" tanya Kafel.
Aron dan Ciel saling berpandangan, mereka berdua belum berhasil menemukan gadis yang di maksud oleh tuannya karena sangat sulit mengenali lukisan yang di berikan oleh Kafel apalagi gadis di lukisan itu memakai penutup wajah.
"Kami belum menemukan apa-apa mengenai gadis itu Tuan" ucap Aron.
"Bagaimana bisa cuma mencari seorang gadis saja kalian tidak bisa melakukannya" ucap Kafel.
"Kami sudah mencarinya ke seluruh kerajaan dan mencoba mencari informasi mengenai gadis di lukisan itu tetapi tidak ada satu pun yang mengetahui dan mengenali gadis di lukisan itu Tuan" ucap Ciel.
Kafel menghela nafas dengan kasar dan kini dia ingin mencari sendiri keberadaan wanitanya.
"Aku serahkan urusan kerajaan kepada mu Aron, jika ada yang mencari ku katakan saja aku sibuk, aku akan keluar dan mencarinya sendiri" ucap Kafel.
"Baik Tuan" ucap Aron.
"Lalu apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanya Ciel.
"Ikut lah bersama ku" ucap Kafel.
Setelah itu Kafel bersiap dengan memakai jubah bersama dengan Ciel lalu pergi keluar istana.
..........
Sementara itu Talitha kini sedang berada di Negara Utara, dia sudah tinggal di sana selama dua bulan dan memulai mengembangkan usahanya dari satu bulan yang lalu.
"Greta, siapkan aku teh seperti cuaca sudah semakin dingin" ucap Talitha.
"Baik Kak" ucap Greta.
Greta adalah gadis yang di selamatkan oleh Talitha sebulan yang lalu di jembatan saat dia berusaha untuk bunuh diri, gadis itu sudah tidak memiliki orang tua dan kini dia tinggal bersama adiknya yang bernama Leif.
"Dimana Leif?" tanya Talitha.
"Cuaca sudah semakin dingin, aku akan keluar dan mencarinya" ucap Talitha.
"Hati-hati kak" teriak Greta dari dapur.
Talitha lalu keluar dan mencari keberadaan Leif, dia pergi mencari ke tempat bermain yang biasa Leif kunjungi.
"Kemana anak ini, cuacanya sudah semakin dingin dan salju sudah mulai naik" ucap Talitha.
"Leif!" panggil Talitha.
Talitha semakin jauh dari rumahnya dan pergi ke rumah lama Greta dan Leif karena dia berpikir mungkin saja Leif kesana karena merindukan keluarganya.
"Leif!" panggil Talitha.
"Kemana anak ini sedari pagi dia belum pulang juga sampai sekarang" ucap Talitha.
Talitha tidak sengaja melihat sebelah sepatu anak kecil yang dia kenali. Yah, sepatu itu milik Leif dan hanya sebelah yang dia temukan.
Talitha akhirnya sampai di depan rumah lama milik keluarga Greta dan kini rumah itu sudah di miliki orang lain karena hutang yang di miliki ayah Greta sehingga dia harus menjual rumahnya.
Talitha lalu menggedor-gedor pintu rumah tersebut hingga seorang pria dan wanita paruh baya keluar dari dalam.
"Untuk apa lagi kau kembali?! Ini sudah bukan rumah mu" teriak wanita paruh baya itu.
"Apa maksud mu? Apa tadi ada seorang anak kecil yang kemari?" tanya Talitha.
"Benar, ada seorang bocah yang kemari dan terus menggedor pintu rumah kami hingga akhirnya istri ku kesal dan mengusirnya" ucap pria paruh baya itu.
"Kemana anak itu pergi?" tanya Talitha.
"Aku tidak tahu, tadi dia pergi ke arah sana" ucap pria paruh baya itu.
Talitha lalu berlari menuju ke arah yang di tunjukkan oleh pria itu.
"Apa yang sebenarnya anak ini lakukan" batin Talitha.
"Leif! Leif!" teriak Talitha.
Hingga akhirnya dia sampai depan sebuah danau yang indah dan sudah hampir membeku karena sangking dinginnya dan di pinggir danau itu Talitha melihat seorang anak kecil berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya.
Talitha lalu menghampiri bocah yang berjongkok di sana.
"Leif?" panggil Talitha menepuk bahu anak itu.
"K-kak Talitha?" panggil bocah itu dengan mata yang sembab.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Talitha.
"Hiks, aku merindukan ibuku dan rumah lama ku kak" ucap Leif sambil terisak.
Talitha merasa iba melihat Leif, dia lalu menarik dan mendekap bocah itu.
"Jangan menangis Leif, pasti ibu mu akan merasa sedih jika melihat mu bersedih, masih ada aku dan Greta yang akan menjagamu dan kami tidak akan meninggalkan mu sendiri" ucap Talitha.
"Kau benar-benar tidak akan meninggalkan ku seperti ibuku kan kak, Janji?" ucap Leif.
"Aku berjanji Leif, jadi sekarang kau tidak boleh menangis lagi" ucap Talitha dan Leif mengangguk untuk mengiyakan ucapan Talitha.
"Ayo sekarang kita pulang, cuacanya sudah sangat dingin kau akan sakit jika berlama-lama di luar" lanjutnya.
Talitha lalu menggendong Leif dan mereka berdua pulang bersama.
...***...
Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.