
Karena banyaknya omongan yang tidak enak mengenai keluarga panglima, Raja yang tidak enak hati kepada panglima perang karena panglima sudah banyak berkontribusi untuk kedamaian kerajaan akhirnya mengirim lamaran ke kediaman panglima untuk kedua kalinya.
"Dengar! Raja mengirimkan sebuah lamaran untuk putri kedua dari kediaman panglima yaitu Nona Nesha" ucap seorang pembawa pesan kerajaan.
"Apakah isi lamarannya itu?" ucap panglima.
Kini dihadapan pembawa pesan kerajaan ada seluruh anggota keluarga panglima yaitu istrinya, putranya Danilo dan putrinya Nesha.
"Ah akhirnya Putra Mahkota Celio ingin menikahi ku juga, aku jadi tidak sabar" batin Nesha dengan perasaan sangat senang.
"Putri kedua Nesha dari kediaman panglima perang akan di nikahkan dengan pangeran ketiga, Royce" ucap pembawa pesan kerajaan.
Nesha yang mendengar hal tersebut ketika senyumnya luntur.
"AKU TIDAK INGIN MENIKAH DENGAN PANGERAN KETIGA, AKU MENOLAK LAMARAN ITU" teriak Nesha.
"Berani-beraninya kau menghina keputusan Raja!" Tegas pembawa pesan kerajaan.
"M-maafkan putri saya" ucap panglima sambil membungkuk.
"Nesha! Tenangkan dirimu" bentak Danilo.
"Anda bisa mengirimkan balasannya langsung kepada yang mulia Raja" ucap pembawa pesan kerajaan lalu pergi dari kediaman panglima perang.
Setelah pembawa pesan kerajaan itu pergi, Nesha memohon kepada ayahnya untuk tidak menyetujui pernikahannya dengan pangeran ketiga, Royce.
"Ayah, Nesha mohon, aku tidak mencintai pangeran ketiga! Aku hanya mencintai Putra Mahkota_hiks_" ucap Nesha memohon di kaki ayahnya sambil menangis.
"Tenangkan dirimu, Nesha." ucap istri panglima.
"Bawa putri mu ke kamarnya dan jangan biarkan dia keluar sampai hari pernikahannya di tentukan" ucap panglima dengan nada dingin.
"NESHA TIDAK MAU MENIKAH DENGANNYA, TOLONG TOLAK SAJA LAMARANNYA, NESHA MOHON AYAH!" Teriak Nesha kini semakin histeris.
Semua pelayan menyaksikan kemalangan Nesha yang sangat menolak keras pernikahannya dengan pangeran ketiga, bahkan dia memohon dibawah kaki ayahnya sambil menangis.
"Sekarang kita harus bagaimana ayah?" tanya Danilo, putra pertama panglima.
"Huftt ayah juga bingung, namun kita tidak punya pilihan selain menerima lamaran ini agar kita bisa memperbaiki nama kita di hadapan masyarakat" ucap panglima.
"Baiklah jika itu memang jalan satu-satunya, aku juga menyetujuinya. Sejujurnya pangeran ketiga itu orang yang baik " ucap Danilo.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya panglima.
"Aku mengenal pangeran ketiga, ayah. Kami masuk di perguruan yang sama, bahkan pangeran Royce sudah menganggap aku sebagai teman dekatnya semenjak di perguruan, dia sangat baik kepada ku" ucap Danilo.
"Benarkah? mendengar ucapan mu ayah sudah yakin untuk menerima lamaran ini, lagipula kalian memang harus menjalin hubungan yang lebih dekat hahaha kau memang putraku" ucap panglima.
Sementara kini di istana, pangeran ketiga pergi ke kediaman Raja.
"Biarkan aku masuk!" ucap pangeran ketiga, Royce.
Pangeran ketiga, Royce. Lalu menerobos kedalam kediaman Raja.
"Kau pasti sudah mendengar perjodohan mu dengan putri kedua panglima perang" ucap Raja.
"Aku menolak perjodohan ini, ayah! Kenapa aku yang malah kau korban kan demi memperbaiki nama panglima perang " ucap pangeran ketiga, Royce.
"Aku terpaksa melakukan ini, Royce. Panglima perang sudah banyak melakukan hal yang menguntungkan kerajaan kita, jadi aku harus membalas perbuatannya itu" ucap sang Raja.
"Namun kenapa harus aku? Bukan kah ada kakak Kafel? Kenapa bukan dia saja yang kau jodohkan dengan putri panglima itu" ucap pangeran ketiga, Royce.
"Aku tidak bisa melakukan itu, Royce. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi kakak mu yang satu itu, dia tidak pantas untuk menikah dengan kondisi yang seperti itu" ucap Raja.
"Mau bagaimana pun kau harus melakukan tugas mu sebagai pangeran kerajaan ini, Royce. Kau harus merelakan wanita yang kau cintai, itu adalah nasib kita yang terlahir di kerajaan" ucap Raja.
"T-tapi aku tidak bisa, ayah. Hatiku menolak keras perjodohan ini" ucap Royce sambil menunduk.
"Aku tahu, Nak. Kau bisa saja menikahi wanita yang kau cintai itu dan menjadikannya selir mu" ucap Raja.
"Tidak ayah! Aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan!" ucap Royce.
"Jaga ucapan mu, Royce! Mau bagaimana pun kau harus melakukan pernikahan ini" ucap Raja.
Royce lalu pergi dari kediaman Raja, dia merasa sungguh menyesal datang dan menemui sang Raja karena hal itu tidak merubah keputusannya sama sekali.
"Adik kenapa kau terlihat murung?" tanya Pangeran kedua, Kafel.
"Diam lah, kak! Ini semua salah mu!?" bentak pengeram ketiga, Royce.
"K-kenapa kau menyalahkan aku, adik? memangnya apa yang telah ku perbuat?" ucap Pangeran kedua, Kafel dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Kesalahan mu?" Tanya Royce dengan mengepalkan tangannya.
"Kesalahanmu adalah kenapa kau harus terlahir cacat seperti ini! Kenapa kau harus bertingkah layaknya seorang anak kecil! Kenapa kak?! Kenapa?! Aku harus dipaksa menikahi seseorang yang tidak aku cintai, kak!_hiks_" ucap pangeran, Royce kini menangis di pelukan Pangeran kedua, Kafel.
"Maafkan aku" batinnya.
Kini pangeran kedua, Kafel memeluk adiknya yang sedang menangis di pelukannya itu.
"A-aku tidak paham dengan maksud mu, adik" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Sudahlah, sekarang aku ingin sendiri dan aku ingin kembali ke kamar ku" ucap pangeran ketiga, Royce melepas pelukannya dan meninggalkan pangeran kedua, Kafel di sana sendirian.
...----------------...
Sementara di sebuah penginapan, kini seorang gadis tertawaan terbahak-bahak sebab dia mendengar kabar yang sangat mengundang moodnya untuk tertawa.
"Kau percaya bukan dengan perkataan ku, Mia?" ucap Talitha.
"Perkataan mu yang mana, Nona?" tanya Mia terheran sebab sedari tadi majikannya itu hanya tertawa.
"Perkataan ku yang mengatakan bahwa siapa diantara aku atau mereka yang akan tertawa di akhir" ucap Talitha.
"Ah aku ingat perkataan mu yang satu itu, Nona" ucap Mia.
"Dan lihat? Ini adalah hasilnya, aku penasaran bagaimana ekspresi putri kesayangan panglima perang itu" ucap Talitha.
"Aku rasa dia sedang menangisi nasibnya sendiri, Nona. Karena dia sangat ingin menikahi Putra Mahkota, namun dia berakhir dengan saudaranya" ucap Mia.
"Benar ahaha ucapan mu sangat benar" ucap Talitha sambil tertawa memegangi perutnya.
" Aku senang akhirnya kau dapat tertawa seperti ini, Nona" batin Mia.
"Oh iya untuk merayakan ini, ayo kita pergi berbelanja dan makan-makan sepuasnya" ucap Talitha.
"Ah baiklah, Nona" ucap Talitha.
Kini kedua gadis itu pergi berkeliling di ibu kota menghabiskan waktunya seharian, sedangkan di sebuah kamar seorang gadis nampak sangat mengenaskan. Gadis itu menangis dan hanya di temani oleh bantal tidurnya.
"Aku t-tidak ingin menikah dengan pangeran ketiga_hiks_kenapa sampai saat ini Putra Mahkota tidak mencari ku juga_hiks_ seharusnya dia sudah mengetahui kabar pernikahan ku ini dan segera mencari ku dan membantu aku untuk membatalkan pernikahan ini_hiks_" ucapnya.
Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, vote dan komen di bawah ya.
Salam dari Author:)