
Setelah selesai mendengarkan cerita dari Ibu Eric, Talitha memutuskan untuk kembali ke ibukota dan meninggalkan desa itu.
"Baiklah Bibi, aku akan kembali dan semoga anda bisa cepat sembuh" ucap Talitha.
"Sampai jumpa nak, aku harap kita bisa bertemu lagi di lain hari" ucap Ibu Eric.
Setelah itu Eric mengantarkan Talitha untuk kembali ke tempat bapak kereta yang mengantar mereka ke desanya.
"Kita akan bertemu lagi Talitha, aku akan menjumpai mu ketika aku sudah dewasa nanti" ucap Eric.
"Hey bocah pendek, tentu saja kita harus bertemu ketika kau sudah dewasa. Aku ingin melihat apakah kau sudah tidak cengeng dan sedikit lebih tinggi lagi dariku" ucap Talitha memandang Eric dengan tatapan mengejek.
"Humphh.. Tentu saja aku akan tumbuh lebih tinggi dari mu dan jika waktu itu tiba aku akan membawa ibu dan adikku untuk tinggal di kota dan bukan di desa ini lagi" ucap Eric.
"Hahaha, aku menantikannya bocah pendek" ucap Talitha sambil tertawa.
Talitha lalu naik ke atas kereta itu dan dia bersiap untuk pergi meninggalkan desa tempat Eric berasal.
"Tunggu sebentar, pak" ucap Talitha
"Eric kemari lah sebentar" panggil Talitha dengan melambaikannya tangannya ke Eric.
"Ada apa?" tanya Eric.
"Ambil ini" ucap Talitha menyerahkan kantong kecil yang berisi kepingan emas.
"Pakai ini untuk membeli obat ibumu dan makanan sehari-hari untuk kalian bertiga" lanjutnya.
"Tapi ini_" ucapan Eric terpotong oleh Talitha.
"Jalan pak" ucap Talitha tidak ingin mendengarkan penolakan dari Eric.
"Aku berjanji akan mencari mu jika aku sudah dewasa!" teriak Eric.
"Sampai jumpa Eric" ucap Talitha sambil tersenyum hingga akhirnya dia semakin menjauh.
Ketika dalam perjalanan kembali ke ibukota, Talitha lagi-lagi memikirkan perkataan dari ibu dari.
"Putri Arisa dari kerajaan Utara ya heum.. apakah kami benar-benar kebetulan semirip yang di katakan oleh ibu Eric atau jangan-jangan aku adalah anaknya? Ah tidak mungkin tetapi ibu pernah mengatakan di dalam suratnya bahwa aku bukan anak kandungnya dan panglima" batin Talitha.
"Kenapa aku malah jadi kepikiran tentang omongan dari ibu Eric" ucap Talitha.
"Sudah lah mungkin hanya kebetulan saja" lanjutnya.
Sementara hari sudah ingin menjelang malam dan toko mereka juga sudah tutup dan ke enam orang itu bersiap untuk pulang.
"Kenapa kau terlihat khawatir, Mia?" tanya Carla.
"Nona belum pulang-pulang juga dan ini sudah ingin menjelang malam" ucap Mia mulai panik hingga bolak-balik tak karuan.
"Sabar dan tunggu saja sebentar, mungkin nona ada sedikit kendala di jalan" ucap Elisa.
"Benar kata Elisa, jangan panik dulu Mia" ucap Maria.
Beberapa saat mereka menunggu, Talitha belum juga ada tanda-tanda kembali dan membuat mereka berlima pun ikut khawatir.
"Ah aku tidak bisa menunggu lagi, sebaiknya aku pergi dan mencarinya" ucap Mia.
"Aku akan menemanimu, kalian berempat pulang duluan saja. Aku akan pergi bersama Mia mencari Nona Talitha" ucap Melinda.
"Kalau begitu kalian harus berhati-hati karena sudah mulai gelap" ucap Hanna.
Mia dan Melinda lalu pergi mencari keberadaan Talitha di luaran sana sedangkan Hanna, Carla, Elisa dan Maria kembali ke rumah sewa baru yang telah di beli oleh Talitha.
"Bagaimana jika kita berpencar saja, Mia" tanya Melinda.
"Sebaiknya jangan, nanti terjadi apa-apa jika kita terpisah satu sama lain, kita harus tetap mencari bersama-sama" ucap Mia.
"Sebaiknya kita pulang saja, Mia. Nona Talitha tidak ada di sini dan juga ini sudah gelap, aku sedikit takut" ucap Melinda.
"Tidak! Kita harus tetap mencari, Nona. Aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya" ucap Mia, wanita itu melupakan bahwa Talitha bisa menjaga dirinya lebih baik dari siapapun.
Ketika mereka semakin berjalan jauh di daerah itu, tiba-tiba empat orang pria mabuk melewati mereka dan membuat Melinda merinding ketakutan.
"Ayo kembali, Mia. Nona Talitha mungkin sudah kembali" ucap Melinda melirik orang-orang mabuk itu
"Cari sekali lagi" ucap Mia.
Namun tiba-tiba tangan Melinda di cekal oleh salah satu pria mabuk yang baru saja melewati mereka.
"Ah lepaskan!" teriak Melinda karena terkejut.
"Heum? Kau cukup cantik, ayo sedikit bermain dengan ku" ucap pria itu menarik tangan Melinda, namun gadis itu memberontak agar pria mabuk itu melepaskan tangannya.
"Hey, lepaskan tangan mu dari temanku!" ucap Mia yang kini maju melindungi Melinda.
"Ah apa kau juga ingin bermain?" tanya pria mabuk itu.
"Hey hey kemari lah! Ada dua gadis cantik disini" teriak pria mabuk itu memanggil ketiga temannya juga sehingga membuat Melinda dan Mia menjadi sedikit takut.
"Ah lepaskan! Lepaskan aku!" teriak Melinda.
"Diam kau ****** sialan!" teriak balik pria yang batuk tersebut sehingga membuat Melinda semakin takut.
"Apa yang harus ku lakukan? Aku tidak bisa melawan ke empat pria ini" batin Mia.
"Gadis yang satu itu untukku saja" ucap salah satu dari ketiga pemabuk tersebut.
"Ambillah, dia untuk mu" ucap Pria yang memegang tangan Melinda.
"Hey, jangan berani kau menyentuh ku!" ucap Mia memperingati pria itu.
"Gadis kecil kemari lah dan bermain bersama dengan ku" ucapnya dan kini dia menarik paksa tangan Mia.
Kini kedua pria itu mengangkat Melinda dan Mia layaknya membawa karung di atas pundak mereka dan di ikuti oleh kedua temannya yang sibuk dengan meminum minuman yang berada di tangannya.
"Tolong! Tolong kami" teriak Melinda.
"Hey, diam kau! Atau aku akan melemparkan tubuhmu ke tanah" ancam pria itu.
"Lepas aku sialan sialan!" teriak Mia.
Kedua wanita itu berusaha memberontak hingga kedua pria yang tidak tahan karena pemberontakan mereka kini benar-benar melemparkan tubuh mereka ke tanah, alhasil Mia dan Melinda merasakan tubuhnya seperti telah remuk.
"Akh t-tubuh ku sakit sekali_hiks_" ucap Melinda sambil menangis.
"J-jangan menangis Melinda, bertahanlah" ucap Mia yang juga merasakan sakit yang sama di tubuhnya.
"Nona, aku mohon bantu kami" batin Mia sambil memejamkan matanya hingga tak terasa bulir-bulir bening mengalir begitu saja di wajahnya.
"Hahaha, lihat mereka menangis. Aku jadi semakin bersemangat, Sudah aku katakan jangan memberontak, dasar ******!" ucap pria mabuk itu melangkah menuju ke arah Mia dan Melinda.
"J-jangan mendekati kami!" teriak Mia.
"Aku mohon seseorang tolong kami_hiks_"teriak Melinda sambil menangis sesenggukan, dia sudah benar-benar tidak bisa menahan tangisnya akibat rasa takut karena pria itu semakin dekat menuju ke mereka.
"Hey, kalian para pria bodoh! menjauh dari mereka atau kalian akan aku habisi di sini" ucap seseorang yang baru saja datang.
...****************...
Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.