
Kini berita mengenai kematian Raja telah tersebar ke seluruh penjuru, semua di buat gempar akibat berita tersebut. Akibat kematian Raja yang tiba-tiba, posisi tertinggi di kerajaan menjadi kosong dan orang-orang menyarankan agar posisi tersebut tidak boleh di biarkan kosong berlama-lama.
Sudah tiga hari setelah pemakaman yang mulia Raja dan sementara ini yang mengambil alih posisi Raja untuk memerintahkan seluruh kerajaan adalah yang mulia Ratu Olivia.
Sementara itu Tabib kerajaan telah di masukkan ke dalam penjara dan akan di eksekusi mati pagi ini di hadapan seluruh rakyat kerajaan atas kasus pembunuhan yang pembunuhan yang mulia Raja.
Persiapan untuk melakukan hukuman eksekusi mati itu di lakukan di tengah-tengah kota untuk mempertontonkan kepada seluruh rakyat atas perbuatan sangat kejam yang di lakukan oleh tabib kerajaan.
"Dia datang, dia adalah orang yang membunuh yang mulia Raja" ucap seorang rakyat biasa.
Dua orang pengawal membawa tabib kerajaan itu ke atas papan eksekusi dan mengikat kedua tangannya agar dia tidak bisa melarikan diri.
"Tolong lepaskan dia! Dia bukan pembunuh yang mulia Raja_hiks_" teriak seorang gadis kecil sambil menangis.
"Siapa anak kecil itu?" ucap seorang rakyat biasa.
Tabib yang sudah lemah akibat siksaan yang di terima nya selama di penjara mendengar suara yang di kenalinya kemudian berusaha mencari asal suara tersebut yang tidak lain pemiliknya adalah putrinya.
Namun sang ibu dengan cepat menarik gadis kecil itu dan membawanya pergi dari sana agar orang lain tidak semakin tahu tentang keberadaan mereka.
"Ibu mohon jangan berteriak seperti itu lagi di hadapan semua orang Sera, kita tidak mempunyai apa-apa yang dapat membantu untuk melepaskan ayah mu atas tuduhan itu" ucap seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah istri dari tabib kerajaan.
"Ibu_hiks_tapi mereka ingin membunuh ayah di sana dan di hadapan semua orang, ayah tidak bersalah ibu_hiks_ kita harus menyelamatkannya" ucap Sera.
Istri tabib itu ikut menangis mendengarkan ucapan dari putri angkatnya, dia sebenarnya tidak ingin hal itu juga terjadi karena dia tahu bahwa suaminya tidak mungkin melakukan hal seperti itu, dia pasti hanya di jadikan kambing hitam oleh seseorang.
"Tetap saja kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk membantu ayah mu Sera, kita hanya orang biasa dan tidak mempunyai kekuasaan apa pun" ucap Istri tabib.
"Dimata mereka nyawa kita sama sekali bukan apa-apa, jika ada orang yang tahu identitas kita, mereka juga pasti akan mengerahkan seluruh orang untuk menangkap dan membunuh kita Sera, ibu tidak ingin itu terjadi_hiks_ aku sudah berjanji kepada ayah mu untuk membawa mu pergi dari sini" ucap Istri tabib sekaligus ibu angkat Sera.
"T-tapi ibu aku_" ucap Sera terpotong.
"Ayo kita segera pulang dan mengemas pakaian kita lalu segera meninggalkan kota ini, kita akan kembali ke desa tempat asal ibu" ucap Istri tabib.
Sera hanya bisa pasrah dengan ucapan ibunya, di lain sisi dia tidak tega melihat ayah angkatnya yang sudah sangat dia sayangi itu di eksekusi mati atas tuduhan yang tidak benar, sementara di sisi lain dia harus mengikuti perintah dari ibu angkatnya yang ingin segera pergi sebelum ada yang mengetahui identitas mereka.
Sementara di tengah-tengah tempat tabib kerajaan akan di eksekusi mati, yang mulia Ratu dan putra mahkota datang di sertai dengan pangeran Kafel dan pangeran Royce beserta istrinya yaitu putri Nesha.
"Kasian yang mulia Ratu, dia harus kehilangan pasangan hidupnya dan harus memikul tanggung jawab yang besar" ucap seorang rakyat biasa.
"Dia pasti sangat merasa kehilangan sampai matanya sembab seperti itu"
"Hidup yang mulia Ratu!" teriak seluruh rakyat.
Semua warga bersorak atas kedatangan seluruh anggota kerajaan.
"Bunuh dia!" teriak seorang rakyat.
"Bunuh penjahat itu!"
"Segera laksanakan hukumnya!"
"Salam yang mulia Ratu, semuanya sudah siap" ucap seorang prajurit.
"Baiklah segera laksanakan" ucap yang mulia Ratu.
"Akhirnya! Akhirnya aku bisa mendapatkan apa yang aku mau, kekuasaan sepenuhnya milikku sekarang" batin Ratu Olivia.
Kedua prajurit itu kemudian naik ke atas papan dan bersiap untuk melakukan eksekusi mati dengan memenggal kepala tabib kerajaan di hadapan semua rakyat.
"Aku harap suatu hari kau akan menuai karma dari apa yang telah kau lakukan ini yang mulia Ratu" batin tabib kerajaan dengan menatap ke arah yang mulia Ratu Olivia.
Dalam waktu sekejap kedua pedang yang tajam mengarah ke kepala tabib kerajaan sehingga dengan satu kali tebasan bersamaan kepala itu terlepas dari tubuh pemiliknya.
Semua orang yang melihat kejadian itu terjadi langsung di hadapan mereka benar-benar terkejut, kepala itu kini berada di atas papan dengan mata yang masih terbuka menatap ke semua orang seakan-akan meminta keadilan.
"Ini adalah bukti bahwa seorang penjahat benar-benar akan di hukum atas perbuatan yang di lakukannya, dengan melihat langsung hukuman ini dengan mata kalian, kalian harus tahu bahwa apa yang kalian lakukan pada akhirnya kalian sendiri yang akan menerima akibat dari perbuatan itu" ucap yang mulia Ratu.
Putra mahkota yang melihat itu merasa senang, seolah-olah itu adalah hal yang sudah sewajarnya di dapat kan oleh para orang-orang rendahan yang mengusik keluarga Kerajaan.
Sementara itu, putri Nesha yang pertama kali melihat seseorang terbunuh di depan matanya di buat shock buka main, seluruh tubuhnya gemetaran dan rasanya seluruh tulangnya tidak lagi dapat menopang tubuhnya.
Sedangkan kedua pangeran yaitu pangeran Kafel dan pangeran Royce hanya bisa dia dan menyaksikan semua itu terjadi di hadapan mereka.
"Dia mengambil nyawa orang-orang yang tidak bersalah dan membiarkan kebohongan ini menyebar kemana-mana" batin pangeran Kafel.
Setelah proses eksekusi itu selesai, tubuh dan kepala tabib di biarkan tergantung hingga mengering di tengah-tengah ibu kota agar menjadi bukti atas kejahatan yang sangat berat dan tidak dapat di maafkan.
Sementara itu di tempat Talitha dan para pekerjanya berada, mereka hanya sibuk melayani para pelanggan yang terus berdatangan.
"Kau sudah tahu? Tabib kerajaan yang telah membunuh yang mulia Raja telah di eksekusi mati dan kini jasad nya di gantung di tega-tega kota hingga mengering" ucap seorang Pelanggan.
"Benarkah? Sungguh mengerikan. Bagaimana jika di tengah malam hantu tabib itu bergentayangan, menakutkan sekali" ucap Pelanggan yang lain.
"Aku juga berpikir seperti itu, bagaimana jika dia datang sambil memegang kepalanya di salah satu tangannya? Bukan kah itu lebih mengerikan" ucap mereka.
...****************...
Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.