Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
14. Episode 14


"Jika kalian selesai makan, kembali dan lanjutkan pekerjaan kalian" ucap Talitha.


"Baik, Nona" ucap mereka berenam.


"Aku akan berjalan-jalan keluar, aku harap kalian menjaga toko dengan baik" ucap Talitha.


"Apa aku perlu ikut bersama anda?" tanya Mia.


"Tidak perlu, Mia. Kau bantu saja mereka mengawasi toko ini" ucap Talitha.


"Baik, Nona. Hati-hati di jalan" ucap Mia.


Setelah Talitha pergi ke enam wanita itu kini bergosip sambil makan bersama.


"Hey Mia, kenapa nona tidak pernah terlihat dekat dengan seorang pria?" tanya Hanna.


"Kenapa kau malah menanyakan hal itu kepada ku, kau ini ada-ada saja Hanna" ucap Mia.


"Buka begitu maksud ku, tetapi bukan kah umur nona sudah cukup untuk menikah?" ucap Hanna kembali.


"Sepertinya Hanna sangat tertarik dengan urusan percintaan Nona kita" ucap Maria.


"Benar, sebenarnya aku juga" ucap Melinda.


"Kalian semua sama saja, tetapi aku tidak memungkiri bahwa aku juga sama" ucap Elisa.


Mereka lalu tertawa terbahak-bahak bersama.


"Belakangan ini nona terlihat dekat dengan tuan Lemian bukan?" ucap Carla.


"Aku pikir mereka berdua lumayan cocok, mereka memiliki bidang yang sama" ucap Maria.


"Iya benar kata mu dan juga nona sangat cantik dan baik tidak mungkin tuan Lemian tidak tertarik kepadanya" ucap Melinda.


"Anak-anak ini ada-ada saja, mereka belum tahu sifat asli nona" batin Mia.


"Kenapa kau hanya dia, Mia?" tanya Elisa.


"Aku cukup mendengarkan saja omong kosong kalian itu" ucap Mia.


"Ini bukan sekedar omong kosong, tetap bagaimana menurut mu antara nona Talitha dan tuan Lemian, Mia?" tanya Hanna.


"Menurutku mereka hanya rekan bisnis seperti pada umumnya" ucap Mia.


"Kau ini sama sekali tidak seru, Mia. Ayolah ceritakan kepada kami sedikit tentang nona" ucap Hanna.


"Benar, kau pasti tahu banyak tentang nona kan" ucap Carla.


Karena desakan dari kelima wanita itu akhirnya Mia pasrah dan mulai bercerita.


"Huftt.. Jadi nona itu putri seorang panglima perang, dia memiliki dua saudara dari ibu tirinya. Adik tiri nona itu sangat jahat dia selalu membuat nona menderita hingga akhirnya nona sering di marahi oleh tuan dan sering di hukum hingga sakit. Panglima hanya acuh tak acuh kepada nona karena dia hanya menyayangi anak dari istrinya" ucap Mia hingga dia meneteskan air matanya mengingat kembali ingatan-ingatan masa lalu nonanya itu.


"Kasian sekali, nona. Aku tidak menyangka dia bisa melewati hal seperti itu" ucap Hanna kini ikut meneteskan air mata mendengarkan cerita Mia.


"Lalu bagaimana?" tanya Melinda yang semakin penasaran.


"Waktu itu nona sakit parah hingga tidak sadarkan diri beberapa hari, itu semua karena adik tiri nona yang terlalu serakah dan sewaktu nona sadar karena tidak tahan dengan keluarganya itu nona akhirnya memutuskan hubungan dengan keluarganya" ucap Mia.


"Aku setuju dengan keputusan yang di ambil oleh nona!" ucap Elisa.


"Nona pernah bertunangan dengan putra mahkota Celio namun lelaki itu membatalkan pernikahan mereka saat acara ulang tahun yang mulia Ratu di istana, namun aku bersyukur nona sudah menjadi lebih baik sekarang daripada sebelumnya" ucap Mia.


"Nona benar-benar hebat bisa melalui semua itu" ucap Carla.


"Tapi putra mahkota benar-benar bodoh melepaskan berlian seperti nona kita" ucap Maria.


Setelah itu mereka berenam lalu membereskan sisa-sisa makanan mereka dan kembali berjaga di toko.


Sementara Talitha kita hanya berjalan-jalan santai saja di pasar yang sangat di penuhi keramaian penduduk.


"Tolong! Pencuri! Dia mencuri uang ku!" teriak seorang wanita paruh baya.


Kebetulan sekali pencuri dan ibu-ibu berlari ke arah Talitha dan dengan cepat Talitha menggapai tangan pencuri itu.


"Kembalikan uang ibu itu" ucap Talitha dengan nada dingin.


"Siapa kau?! Lepaskan tanganku!" ucap pencuri itu memberontak.


Karena cekalan yang sangat kuat pencuri itu merasakan kesakitan dipergelangan tangannya.


"Kembalikan uang itu atau kau ingin tangan mu ini patah" ucap Talitha kembali.


"Ba-baik, aku akan mengembalikannya" ucap pencuri itu.


"Bu kemari lah "ucap pangeran.


Wanita paruh baya itu kemudian maju ke arah mereka dan menerima uangnya yang di curi itu kembali.


"Nona, anak ini harus di berikan pelajaran agar dia tidak mencuri lagi! pasti sudah banyak orang yang telah di rampoknya" ucap ibu itu dengan emosi sambil menunjuk-nunjuk anak yang mencuri itu.


"Para warga! anak ini adalah pencuri!" lanjut ibu itu sambil berteriak dan menunjuk anak itu dan kini warga-warga berdatangan mengelilingi mereka.


"Sebaiknya ini di selesaikan secara baik-baik, mungkin dia memiliki alasan tersendiri hingga dia mencuri barang anda, lagi pula barang itu sudah kembali ke tangan anda" ucap Talitha.


"Jangan-jangan kau salah satu komplotan pencuri ini! hingga kau membela dia" ucap wanita itu.


"Hey, jaga ucapan mu!" tegas Talitha menatap tajam wanita itu hingga membuatnya sedikit merinding dengan tatapan gadis tersebut.


"Bubar semuanya! tidak ada yang perlu kalian jadikan tontonan di sini" ucap Talitha dan semua orang yang tadinya berkumpul kini berhamburan pergi meninggalkan mereka.


"Hey bocah, bicaralah sesuatu, kenapa kau mencuri dari ibu itu" tanya Talitha namun bocah itu hanya diam.


"Lihat bukan! untuk apa kau bertanya kepada seorang pencuri, tentu saja dia mengambil barang orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri, dasar bocah miskin!" ucap ibu itu sambil memaki-maki anak yang mencuri barangnya.


"Sudah ku katakan jaga ucapan anda!" ucap Talitha hingga membuat wanita itu kembali terdiam dan menunduk.


"Bicaralah jangan hanya diam! Kau rela seseorang merendahkan mu seperti itu!" tegas Talitha kepada bocah tersebut.


"Eum.. Maafkan saya, nyonya. Saya tidak bermaksud mencuri dari mu, namun aku benar-benar membutuhkan uang untuk menghidupi adik dan ibuku yang sedang sakit di rumah" ucap Anak itu.


"Sudah dengar bukan? Dia juga memiliki kesulitannya sendiri jadi saya minta agar anda memaafkannya saja dan tidak memperbesar masalah ini" ucap Talitha dan kini wanita itu mendengus dan meninggalkan kedua orang itu.


"Ini semua salah mu! Kalau saja kau tidak menahan ku aku pasti bisa mendapatkan uang. Sekarang aku tidak bisa pulang karena aku tidak mendapatkan apa-apa" ucap anak itu.


"Hey, kau pikir dengan mencuri kau akan hidup dengan baik? Kau pikir jika ibumu tahu dia akan senang jika putranya mencuri untuk menghidupinya? Hah?!" ucap Talitha dengan menatap tajam bocah itu dan bocah itu hanya menunduk tanpa melakukan pembelaan diri.


"Huftt... Katakan kau tinggal di mana? Aku akan mengantarmu pulang" ucap Talitha.


"Aku tidak tinggal di ibukota, aku berasal dari sebuah desa kecil yang sangat jauh dari sini" ucap anak itu.


"Jadi kau ke sini dengan apa?" tanya Talitha.


"Aku ikut dengan pedagang yang menuju ke ibukota dan kembali bersama rombongan mereka" ucap anak itu.


"Yasudah ikut dengan ku, aku akan menyewa kereta dan kita akan pergi ke desa mu" ucap Talitha.


...****************...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.