Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
25. Episode 25


Putra Mahkota akhirnya memutuskan untuk kembali ke istana miliknya karena perasaannya kini kacau dikarenakan perdebatannya dengan pangeran Royce yang juga sedang dalam perasaan yang buruk.


"Sialan anak itu! Dia semakin lama semakin kurang ajar lihat saja jika aku sudah selesai mengurus si bodoh, aku juga akan melenyapkannya tanpa sepengetahuan Paman maupun Ibu" ucap Putra Mahkota Celio marah.


Sedangkan di tempat Leonard, kini pria itu sedang berendam di kolam mandi sambil memikirkan kejadian yang baru saja terjadi setelah dia kembali ke istana.


"Aku pikir dahulu hubungan kedua saudara itu tidak seburuk ini, namun sejak kapan hubungan mereka menjadi semakin buruk" batin Leonard.


Suara ketukan lalu terdengar dari luar ruangan dan membuat lamunan Leonard buyar karena suara tersebut.


"Siapa di sana?" tanya Leonard.


"Ini aku Leo, apakah aku boleh masuk ke dalam?" tanya seorang yang berasal dari luar ruangan tersebut.


Leo tentu saja tahu siapa pemilik suara tersebut karena selama ini orang itu selalu bersamanya, orang itu tidak lain adalah Sean, wakil pemimpin pasukan kerajaan.


"Tunggu sebentar" ucap Leonard dari dalam.


Setelah Leonard selesai memakai jubah mandinya, dia lalu keluar dan menemui Sean yang telah menunggunya.


"Ada apa kau mencari ku, Sean?" tanya Leonard.


"Apa kau berencana untuk tinggal di istana?" tanya Sean.


"Untuk sementara seperti iya karena aku belum menemukan tempat yang cocok untuk tinggal selain di istana" ucap Leonard.


"Sepertinya kau harus segera mencari tempat yang aman selain di istana Leo, sekarang tempat ini bukan tempat yang cocok untuk di tinggali karena sebentar lagi sepertinya akan ada perebutan kekuasaan aku tidak ingin kau terseret-seret ke dalam masalah seperti ini" ucap Sean.


"Ini juga tidak ada hubungannya dengan ku, untuk apa aku memikirkannya" ucap Leonard.


"Bukan begitu, melihat dari hubungan mu dengan yang mulia Ratu pasti dia akan berusaha untuk membuat mu berpihak kepada Putra Mahkota sebagai pendukungnya agar dia dapat naik sebagai pewaris berikutnya dan karena dukungan mu pasti akan banyak bangsawan-bangsawan yang akan ikut memihak ke Putra Mahkota" ucap Sean.


"Bukan kah kau pernah mengatakan bahwa Putra Mahkota bukan orang yang layak menjadi Raja berikutnya, dikarenakan sifatnya yang sembrono di tambah dia sangat angkuh, kita tidak bisa memberikan masa depan kerajaan kepada orang seperti itu" lanjutnya.


"Walaupun dia sepupu ku tetapi memang aku merasa seperti itu dan aku memang pernah mengatakan hal itu kepada Sean" batin Leonard.


"Baiklah Sean, aku akan memikirkannya lagi" ucap Leonard.


"Oh ya aku harap kau tidak berbicara seperti itu lagi secara terang-terangan, aku tidak ingin seseorang mendengarnya dan kau mendapatkan masalah karenanya" lanjutnya.


Sean mengangguk paham dan setelah itu dia pergi dari tempat Leonard dan kini pria itu sendiri dan kembali memikirkan perkataan yang baru saja di katakan oleh Sena.


"Setelah di pikir-pikir sebaiknya aku tetap berada di Medan perang saja memimpin pos terdepan daripada harus terlibat dengan urusan di dalam kerajaan" batin Leonard lalu pria itu menghela nafas berat.


Sementara di tempat Talitha kini berada, gadis itu sedang makan di sebuah rumah makan seorang diri.


"Permisi Nona" ucap seseorang yang baru saja datang menghampiri Talitha.


"Hm, siapa kau?" tanya Talitha.


"Maaf, tetapi bolehkan saya berkenalan dengan Anda?" tanya orang tersebut, dia terlihat seperti seorang pelanggan biasa yang juga datang untuk makan di rumah makan tersebut.


"Tidak, pergilah kau mengganggu waktu makan ku" ucap Talitha dengan nada acuh tak acuh.


"Ck, sombong sekali" ucap lelaki tersebut lalu pergi dari hadapan Talitha.


Setelah menyelesaikan makannya Talitha keluar dari tempat makan tersebut dan kembali melanjutkan perjalanannya namun matanya tidak sengaja menangkap sebuah toko kecil yang bertuliskan tempat pembuatan pedang.


Tidak menunggu lama Talitha memutuskan untuk masuk ke dalam karena rasa penasarannya dan setelah masuk ke dalam dia benar-benar di suguhi dengan beberapa pedagang yang kualitasnya yang lumayan bagus, namun tidak terlihat seorang pun berada di dalam tempat itu dan hanya dirinya yang berkunjung.


"Permisi, apakah di sini ada orang?" ucap Talitha.


Tidak ada sama sekali yang membalas panggilannya jadi Talitha memutuskan tetap melanjutkan untuk melihat-lihat barang di dalam tempat tersebut.


Suara lonceng tiba-tiba berbunyi dan seseorang berjubah hitam dengan memakai topeng masuk ke dalam toko.


"Chris, apa kau ada di sini?" tanya orang yang baru datang.


"Permisi, apa kau asisten yang baru bekerja di sini?" tanya orang itu.


Talitha lalu berbalik untuk melihat siapa orang yang bertanya kepada dirinya.


"Siapa orang aneh ini?" batin Talitha.


"Apa kau bisa menjawab pertanyaan ku?" tanya orang bertopeng itu.


"Aku hanya seorang pengunjung" ucap Talitha.


Talitha merasa waspada dan curiga terhadap orang yang sedang berada di hadapannya karena dia tidak dapat merasakan apa-apa dari orang tersebut.


Mendengar ucapan Talitha orang itu lalu berbalik dan pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa mengatakan apa-apa.


"Dasar orang aneh" ucap Talitha.


Gadis itu lalu menaruh buku yang di pegangnya dan mengembalikan buku tersebut ke atas rak tempat buku itu semula berada.


Tiba-tiba lonceng di luar kembali berbunyi pertanda bahwa ada seseorang yang akan masuk, lalu muncul seorang pria paruh baya dengan mengangkat beberapa kotak.


"Apa kau pemilik tempat ini?" tanya Talitha.


"Benar, lalu siapa kau?" tanya pak tua itu.


"Aku hanya mampir ke tempat mu untuk melihat beberapa pedang dan buku yang berada di sana" ucap Talitha.


Pria paruh baya itu mengangguk dan mengeluarkan barang-barang yang di bawanya dari luar.


"Ngomong-ngomong tadi ada yang datang dan mencari mu" ucap Talitha.


"Apa dia menyebut kan namanya?" tanya pak tua itu.


"Tidak, dia hanya mencari orang yang bernama Chris" ucap Talitha.


"Ternyata anak itu oh ya aku belum memperkenalkan diriku, aku yang bernama Chris, orang yang di carinya dan juga pembuat pedang dan beberapa tulisan yang kau lihat" ucap pak tua yang ternyata bernama Chris.


"Dia terlihat aneh, mengapa dia menutupi wajahnya dengan memakai topeng" ucap Talitha.


"Hahaha, lalu apa alasan kau memakai cadar itu?" tanya pak tua Chris.


Talitha hanya diam dan tahu apa maksud dari perkataan pak tua Chris dan dia tidak bertanya lagi.


"Baiklah karena aku sudah melihat barang-barang di tempat mu, aku akan segera pergi" ucap Talitha.


"Tunggu sebentar Nona, bolehkah aku mengetahui nama mu?" tanya pak tua Chris.


"Talitha" ucap Talitha lalu keluar dari tempat pak tua Chris.


Selepas meninggalkan tempat pak tua Chris, Talitha memutuskan untuk kembali ke tokonya.


...----------------...


Sementara itu di tempat lain, Pangeran Kafel baru saja kembali ke istana.


"Ada yang ingin saya sampaikan yang mulia" ucap Ciel.


"Katakan" ucap Kafel.


"Saya melihat pemimpin pasukan Leonard baru saja kembali dari Medan perang dan saya curiga ini ada hubungannya dengan yang di rencanakan oleh Perdana Menteri dan Ratu" ucap Ciel.


...****************...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote