Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
30. Episode 30


Talitha dan Leif akhirnya sampai di rumah, Talitha menyuruh Greta untuk menyiapkan air hangat untuk Leif karena tubuh anak kecil sangat mudah terkena penyakit di musim dingin.


"Leif ikut lah bersama kakak mu" ucap Talitha dan Leif mengangguk lalu mengikuti Greta yang berjalan lebih dulu.


"Sepertinya teh ini sudah dingin karena aku terlalu lama kembali, sebaiknya aku membuat yang baru" ucap Talitha.


Di saat Talita sedang menuju ke dapur untuk membuat teh yang baru, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu rumahnya.


"Tunggu sebentar" ucap Talitha lalu kembali meletakkan cangkir itu ke meja.


Talitha lalu berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa orang yang datang mengunjungi rumahnya di saat cuaca di luar sudah sangat dingin.


"Anda siapa?" tanya Talitha yang kini tidak dapat mengenali orang di hadapannya karena wajahnya di kelilingi oleh syal yang biasa di gunakan oleh orang di Negara Utara saat musim dingin.


Orang itu kelihatan saat menggigil karena sangking dinginnya di luar.


"Bolehkah aku masuk?" tanya Orang itu.


Karena kasihan melihat tubuh orang itu yang sudah menggigil kedinginan, Talitha akhirnya mempersilahkannya untuk masuk.


"Duduk lah di dekat api unggun agar kau merasa lebih hangat, tunggu sebentar aku akan pergi untuk menyiapkan teh untuk mu" ucap Talitha lalu pergi meninggalkan orang itu.


"Gadis yang baik hati" batin orang itu.


Disaat Talitha sedang berada di dapur, Greta keluar dari kamar karena telah selesai mengurusi adiknya lalu menidurkannya.


"Kak, apakah ada tamu di luar?" tanya Greta.


"Yah, sepertinya dia orang yang singgah karena di luar sudah sangat dingin jadi aku mempersilahkan masuk" ucap Talitha.


"Biar aku membantu mu mengantar tehnya ke luar" ucap Greta mengambil alih secangkir teh yang telah di buat oleh Talitha.


"Baiklah terima kasih" ucap Talitha.


Di saat Greta keluar untuk mengantarkan secangkir teh kepada orang itu ternyata orang yang tadi duduk di dekat api unggun sudah tidak ada.


"Kemana tamu nya" ucap Greta.


"Ada apa Greta?" tanya Talitha yang menyusul Greta dari belakang sambil memegang secangkir teh untuknya.


"Tamu yang kau maksud itu sudah tidak ada kak, dia sepertinya sudah pergi" ucap Greta.


Talitha lalu menoleh ke segala arah dan benar orang itu sudah tidak ada.


"Sepertinya benar orang itu cuma singgah saja" ucap Talitha.


"Bagaimana keadaan Leif?" tanya lanjutnya.


"Dia tidak apa-apa sekarang di sedang tidur" ucap Greta.


"Kau harus memberikan perhatian lebih kepada adik mu, aku kasihan melihat keadaannya yang seperti itu" ucap Talitha lalu menceritakan kejadian di danau kepada Greta.


"Aku sudah tahu akan terjadi hal seperti itu kak, Leif dulu sangat dekat dan bersikap manja kepada ibu ku jadi dia sangat sulit menerima kenyataan yang sekarang" ucap Greta sedih setelah mendengar cerita dari Talitha.


"Kalian berdua adalah anak-anak yang hebat, kalian pasti bisa melewati semua hal yang buruk dalam hidup kalian" ucap Talitha.


"Aku sangat beruntung bisa diselamatkan oleh mu kak, jika bukan karena mu mungkin saja aku sudah_" ucap Greta lalu Talitha memotong ucapannya.


"Sudah jangan membicarakan itu lagi, aku tidak suka mendengarnya" ucap Talitha.


Mereka bertiga lalu melewati musim dingin itu hanya dengan menghabiskan waktu di dalam rumah karena di luar sudah di penuhi dengan salju dan bahkan ada rumah yang sudah di timbun oleh salju yang semakin meninggi.


Hingga akhirnya musim dingin itu berhasil di lewati, salju-salju sudah mulai mencair dan para rakyat sudah mulai kembali melakukan aktivitas seperti biasanya.


"Perayaan apa?" tanya Talitha.


"Perayaan untuk Raja baru kita, Raja akan datang dan mengunjungi para rakyat di tengah-tengah ibu kota tapi sayang kita tinggal jauh dari sana jadi akan sulit melihatnya" ucap Greta.


"Kau bisa ke sana dan melihatnya, aku telah membeli sebuah toko di ibu kota untuk menjual produk-produk perawatan yang baru, aku kan sudah mengatakannya beberapa minggu yang lalu Greta" ucap Talitha.


"Hehee sepertinya aku melupakannya" ucap Greta.


"Kau ini masih mudah sudah sangat pelupa" ucap Talitha mengetok kepala Greta.


"Ohya jangan lupa bawa Leif bersama mu dan belikan dia beberapa mainan yang dia suka, aku sudah menyelipkan uang untuk kalian di laci kamar" ucap Talitha.


"Terima kasih kak" ucap Greta.


"Tetapi apa kau tidak ingin ikut bersama kami ke ibu kota?" tanya Greta.


"Tidak, aku masih harus menyelesaikan satu produk perawatan rambut ini lalu mempromosikannya kepada wanita-wanita muda" ucap Talitha.


"Kau memang sangat luar biasa kak, tetapi apa kau sudah menemukan pekerja untuk membantu mu di toko?" tanya Greta.


"Nyonya Luisa sudah mengirim beberapa pekerjaan untukku, dia menyukai produk perawatan kulit wajah yang aku kirimkan kepadanya dua pekan yang lalu dan dia berterima kasih dengan mengirim beberapa pekerja di toko karena dia tahu bahwa aku akan segera membuka toko di ibu kota" ucap Talitha.


"Hebat! Aku juga ingin menjadi seperti mu kak" ucap Greta.


"Hahaha, aku menantikannya Ohya apa kau sudah mengirimkan surat yang aku berikan tadi pagi" ucap Talitha.


"Sudah kak, aku sudah membawanya ke tempat pengiriman surat memangnya surat untuk untuk siapa?" tanya Greta.


"Itu untuk seseorang yang menunggu ku di tempat yang jauh dari tempat sini" ucap Talitha.


..........


Sementara itu di Negara Barat, di sebuah toko yang kini sudah sangat terkenal di ibukota dan pelanggan-pelanggan yang selalu berdatangan dan mengantri untuk membeli produk-produk baru yang di keluarkannya.


"Maria, tolong bantu aku di sebelah sini" ucap Hanna.


"Tunggu sebentar, aku juga sedang melayani pelanggan" ucap Maria.


Sedangkan dari dalam toko Mia yang melihat semua itu tersenyum bahagia, tugas terakhir yang di berikan oleh Nona nya dapat dia lakukan dengan baik. Namun, kebahagiaannya itu kurang karena seseorang yang dia tunggu belum juga kembali.


"Mia! Ada surat untuk mu" teriak Elisa dari luar.


"Apa itu surat dari Nona" batin Mia lalu segera berlari keluar untuk mengambil surat yang dikatakan oleh Elisa.


Kini surat itu telah berada di tangan Mia dan betul saja bahwa surat itu benar-benar dari Nona nya. Mia meneteskan air matanya karena dia benar-benar merindukan Talitha.


"Hey, ada apa dengan mu Mia?" tanya Melinda yang baru saja datang dan menghampiri Mia.


"Hiks, baguslah ternyata Nona baik-baik saja di sana dan dia juga berhasil membangun usaha yang baru" ucap Mia.


"Apa surat itu dari Nona Talitha? aku juga ingin membacanya apa dia mengatakan sesuatu tentang ku di dalam surat itu?" tanya Melinda.


"Tidak boleh, surat ini untukku tidak ada yang boleh menyentuhnya nanti bau Nona yang melekat pada surat ini akan hilang" ucap Mia menyembunyikan surat itu.


"Ck, dasar pelit jika aku juga mendapatkan surat dari Nona Talitha aku tidak akan memperlihatkannya kepada mu" ucap Melinda lalu meninggalkan Mia.


...***...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.