Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
10. Episode 10


Setelah pembicaraan terakhir Thalita dengan Lemian, mereka akhirnya memutuskan untuk bekerja sama, mereka kini sedang mencari tempat yang dapat di sewa agar dapat di jadikan sebagai toko untuk menjual produk perawatan kulit wanita, namun kini bukan hanya wanita tetapi pria juga sesuai yang disepakati oleh mereka berdua.


"Apakah tempat ini cocok dengan usaha yang akan kita buka?" tanya Lemian kepada Talitha.


"Heum... menurut ku tempat ini lumayan, namun sepertinya bagian disini dan bagian belakang perlu ada perubahan" ucap Talitha.


"Bagian itu serahkan saja pada ku, aku akan menyewa beberapa tukang untuk memperbaikinya, apakah ada lagi selain bagian itu?" tanya Lemian.


"Sepertinya yang lain sudah bagus" ucap Talitha.


"Jadi kapan kita bisa memulainya?" tanya Lemian.


"Mungkin sekitar dua minggu ke depan kita akan membuat peresmian usaha baru kita" ucap Talitha.


"Aku tidak sabar menantinya, oh iya mungkin kita bisa makan bersama sebelum mengakhiri pertemuan kita hari ini" ucap Lemian.


"Jika kau yang membayarnya, aku mungkin akan bersedia" ucap Talitha sedikit bercanda.


"Hahaha, tentu saja. Aku yang mengajak mu apalagi aku seorang pria tidak mungkin aku menyuruh seorang gadis untuk membayar makanannya" ucap Lemian.


"Baiklah" tanya Talitha.


"Kalau aku boleh tahu, apa makanan favorit mu? Mungkin kita bisa makan di tempat makanan yang kau suka" tanya Lemian.


"Aku bukan tipe orang yang memilih-milih saat makan" ucap Talitha.


"Begitu ya, heum.. Bagaimana jika kita makan di tempat langganan ku, mungkin di masa depan kau akan cocok makan di tempat itu" ucap Lemian.


"Boleh juga" ucap Talitha.


Kedua orang itu kemudian menuju ke sebuah tempat makan yang terletak di tengah-tengah ibukota. Tempatnya lumayan jauh dari tempat sewa yang mereka sepakati.


"Ah sepertinya tempatnya lumayan ramai juga" ucap Talitha.


"Kau benar, tempat ini ramai setiap hari dan sangat banyak orang yang makan di sini karena kokinya sangat hebat dalam membuat makanan yang lezat" ucap Lemian.


"Aku jadi penasaran seenak apa makanan ditempat ini sampai tuan Lemian sangat memujinya" ucap Talitha.


"Kalau ayo kita masuk untuk membuktikan ucapan ku, Nona Talitha" ucap Lemian.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam bersama-sama.


"Selamat datang Tuan dan Nona" ucap seorang pelayan yang berjaga di depan pintu masuk.


"Kau mau duduk di mana?" tanya Lemian.


"Di sana saja, tempat itu tidak terlalu banyak orang " ucap Talitha.


"Baiklah, ayo kita duduk di sana" ucap Lemian.


Setelah mereka duduk di sebuah kursi sepasang, seorang pelayan pun datang dan menanyakan makanan yang mereka inginkan.


"Aku mau bebek panggang untuk dua orang, apa kau ingin menambah kan makanan yang lain?" ucap Lemian.


"Ah tambahkan satu porsi tongseng daging sapi" ucap Talitha.


"Itu saja?" tanya Lemian.


"Iya" ucap Talitha.


"Baiklah itu saja" ucap Lemian kepada pelayan.


"Baiklah tuan dan nona, mohon tunggu sebentar pesanannya akan segera diantarkan" ucap pelayan tersebut kemudian pergi.


"Apa kau tidak menyukai keramaian?" tanya Lemian.


"Seperti yang kau lihat, aku tidak terlalu menyukainya" ucap Talitha.


"Oh iya jika di lihat-lihat kita berdua seperti orang yang sedang berkencan" ucap Lemian.


"Jangan berpikir berlebihan, kita hanya rekan bisnis dan tidak lebih dari itu" ucap Talitha.


"Iya aku tahu, aku hanya sedikit bercanda dengan mu" ucap Lemian.


Setelah menunggu lumayan lama, makanan mereka pun akhirnya tiba dan kedua orang itu langsung melahapnya.


"Bagaimana? Apakah sesuai dengan selera mu?" tanya Lemian.


"Aku menyukai daging ini, bagaimana dengan punya mu?" tanya Talitha.


"Tentu saja bebek panggang ini yang paling enak, coba lah" ucap Lemian sambil menaruh daging bebek itu di mangkuk Talitha.


"Wah benar dagingnya sangat lembut dan bumbunya sangat terasa, aku sangat menyukainya" ucap Talitha.


"Terimakasih" ucap Talitha lalu melahapnya hingga habis.


Setelah selesai makan dan membayar, mereka pun keluar dari rumah makan tersebut.


"Terimakasih untuk makanannya, lain kali aku yang akan mentraktir mu" ucap Talitha.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu kembali" ucap Lemian.


"Tidak perlu, masih ada beberapa barang yang ingin ku beli, kau duluan saja" ucap Talitha.


Lemian mengangguk lalu kemudian naik ke keretanya dan pergi dari sana.


"Sampai jumpa, Nona Talitha. Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Lemian dari atas kereta dan hanya di balas senyuman oleh Talitha.


Setelah kepergian Lemian, Talitha melanjutkan perjalanannya, dia singgah di beberapa toko yang menjual bahan-bahan yang ingin dia campurkan ke dalam produknya.


"Sepertinya ini sudah cukup, aku sebaiknya pulang. Mia pasti sudah menunggu ku" ucap Talitha.


Sementara di jalan pulang, Talitha melihat kerumunan orang-orang yang sepertinya sedang menonton sesuatu di tengah-tengah mereka.


"Ada apa di sana" batin Talitha.


Karena rasa penasarannya Talitha pergi kesana untuk melihat apa yang terjadi.


"Mereka budak-budak baru itu ya, tawanan dari kerajaan lain"


"Benar, mereka terlihat sungguh menyedihkan"


"Permisi, beri aku jalan" ucap Talitha menerobos kerumunan orang-orang tersebut.


"Apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang ini, kenapa mereka di kurung dan di rantai, sungguh sangat tidak manusiawi" batin Talitha.


"Hey, jika kalian tidak menemukan orang-orang yang ingin membeli kalian maka kalian akan di bunuh" ucap seorang yang sepertinya dia yang mengendalikan orang-orang tersebut.


"Aku mohon tuan, beli aku!"


"Beli aku, tuan. Aku tidak ingin mati"


"Beli kami, beli kami. Kami bisa melakukan apapun yang kalian minta, kami tidak ingin mati!"


Ada sekitar tujuh orang yang berada di dalam kurungan dan di rantai, dua orang pria dan lima wanita, para wanita itu memohon-mohon agar mereka di beli.


"Sungguh menyedihkan nasib mereka"


"Kalau kau kasian beli saja mereka"


"Aku tidak ingin menambah orang lagi di rumahku, suami dan anak ku saja sudah cukup merepotkan apalagi menambah satu lagi"


"Aku akan membeli ketujuh orang itu, jadi sekarang keluarkan mereka dari sana dan lepas rantainya itu dapat melukai tangan mereka" ucap Talitha.


"Wah sepertinya kau sangat kaya, nona? kalau begitu kau berani membayar berapa untuk mereka semua?" tanya penjual budak itu dengan melipat kedua tangannya menyilang.


Talitha lalu mengeluarkan dua kantong yang berisi emas dan menyerahkannya kepada orang itu.


"Apa ini cukup?" tanya Talitha.


Ketika orang itu membuka dan melihat isi kantong tersebut matanya melotot dan menganggukkan-anggukan kepalanya pertanda dia mengiyakan ucapan dari Talitha.


"Cepat keluar kan mereka dan lepas rantainya!" ucap penjual budak tersebut.


Setelah ketujuh orang itu lepas, mereka lalu di serahkan kepada Talitha dan ketujuh orang itu lalu bersimpuh di hadapan Talitha.


"Terimakasih, nona"


"Terimakasih, nona. Kau adalah penyelamat kami"


"Hey, berdiri lah! Aku tidak menyuruh kalian untuk melakukan hal seperti ini" ucap Talitha agak kesal.


Ketujuh orang itu lalu berdiri tegak karena melihat raut Talitha yang mulai kesal, mereka takut mereka akan di jual kembali.


"Kalian tidak perlu takut kepada ku dan sekarang ayo ikut aku kembali" ucap Talitha.


"Baik, Nona" ucap mereka serentak.


...****************...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.


Bye bye:)