Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
13. Episode 13


Sementara Nesha kini di paksa pindah ke sebuah kamar yang berada di paling belakang istana pangeran ketiga dan kamar itu sudah lama tidak di tempati serta barang-barang di tempat itu sangat berdebu dan rusak.


"Uhuk uhuk kenapa aku di tempat kan di kamar seperti ini!" teriak Nesha karena emosi.


"Maafkan kami Putri, tetapi ini adalah perintah langsung dari Pangeran" ucap pelayannya.


"Sialan! Apakah dia tidak puasa menyiksa ku selama ini, sekarang dia bahkan menempatkan ku di kamar kumuh dan jorok serta tidak layak untuk ditempati seorang putri!" batin Nesha.


"Aku tidak mau menempati kamar ini! berikan aku kamar yang lebih bagus" ucap Nesha membentak pelayannya itu.


"Maaf Putri, tapi hamba tidak bisa karena hamba takut kepada Pangeran ketiga" ucap pelayannya.


"Hey, aku ini adalah majikan mu kepada kau harus patuh kepada orang lain selain aku!" emosi Nesha semakin meningkat.


"M-maaf! maafkan aku putri, hamba tidak bisa melakukan yang engkau perintahkan karena ini sudah perintah dari Pangeran" ucap pelayan tersebut kini dia bersujud dihadapan wanita itu.


Karena emosi Nesha lalu menendang pelayan itu lalu menginjak-injak tubuhnya, tak sampai disitu dia memanggil pengawal dan menyuruh pengawal tersebut menyeret pelayan itu dan membuangnya.


"A-aku mohon putri! Ampuni aku!" teriak pelayan tersebut.


"Buang pelayan tidak berguna itu!" teriak Nesha.


Setelah pelayan itu di bawa pergi, Nesha kini tinggal seorang diri di sana.


"Jika aku kembali ke kamar itu, pasti pria gila itu akan menyiksa ku lagi. Sebaiknya aku kabur dari sini" ucap Nesha.


Ketika hendak ingin kabur, seseorang muncul dan membuat Nesha terkejut.


"Hey, kau pikir kau bisa kabur dengan mudah?" ucap orang itu.


"Kau?! kenapa kau berada di sini?" ucap Nesha.


"Tempat mana pun bisa aku datangi, apa sekarang kau berencana kabur, putri Nesha?" ucap orang itu yang tidak lain adalah Putra Mahkota Celio.


"Itu tidak ada urusannya denganmu! Setelah kau membuang ku begitu saja, sekarang kau pasti datang karena pasti ada maksud tertentu?!" ucap Nesha.


"Hahaha, kau ini sangat pintar sekarang. Aku ingin menawarkan sesuatu untukmu, apakah kau tertarik?" tanya Putra Mahkota, Celio.


"Kali ini aku tidak akan tertipu lagi dengan rayuan busuk dari mulut mu itu!" ucap Nesha.


"Hey, jaga ucapan mu itu! Aku bisa saja menyuruh pengawal untuk memasukkan mu ke penjara, namun aku masih menghargai adikku" ucap Putra Mahkota Celio.


"Kau tidak perlu berpura-pura baik lagi di hadapan ku, jika kau benar-benar ingin memasukkan diriku ke dalam penjara silahkan! Aku dengan senang hati menerima tawaran mu itu daripada aku harus disiksa setiap hari oleh adik mu yang gila itu!" teriak Nesha.


"Ternyata benar yang dikatakan oleh bawahan ku itu, Royce benar-benar menyiksa wanita ini" batin Putra Mahkota Celio.


"Dengarkan saja sekali ini tawaran yang ingin ku katakan kepada mu putri Nesha, mungkin saja kau akan tertarik" ucap Putra Mahkota Celio.


"Aku akan membantumu untuk lepas dari adikku Royce, namun kau harus melakukan sesuatu untukku" lanjutnya.


"Apa? apakah aku tidak salah dengar? Dia ingin membantu ku lepas dari pangeran ketiga yang gila itu" batin Nesha.


"Apa yang harus ku lakukan?" ucap Nesha yang kini telah melunak.


"Beritahu aku dimana kakak perempuan itu sekarang berada" ucap Putra Mahkota Celio dengan tersenyum.


"Cih lagi-lagi Talitha, semua orang seakan-akan jatuh cinta kepadanya. Menurutku aku lebih baik dari wanita licik itu" batin Nesha.


"Aku tidak tahu di mana dia berada" ucap Nesha ketus.


"Bukan kah kau bisa pulang dan menanyakan itu kepada ayah mu" ucap Putra Mahkota Celio.


"Kau pikir jika aku pulang ayah ku akan dengan senang hati menyambut ku?! Dia mungkin bahkan akan membunuh ku" teriak Nesha.


"Kenapa nasib mu sekarang menjadi sangat malang? Ku pikir kau putri kesayangan panglima perang, hahaha. Ternyata kau sama saja tidak bergunanya" ucap Putra Mahkota Celio.


"Kurang ajar! ini semua salah mu, aku berakhir seperti ini karena mu! tunggu saja kau akan mendapatkan karma mu sendiri putra mahkota Celio" batin Nesha mengutuk putra mahkota Celio.


Setelah kepergian putra mahkota Celio, Nesha tidak jadi melarikan diri karena yang di katakan Celio ada benarnya juga, dia sudah tidak mempunyai uang dan dia mungkin tidak akan diterima di kediaman panglima lagi.


Nesha dengan berat hati harus menempati kamar jelek itu dan kini dia sendiri tanpa seorang pelayan yang mendampingi dirinya, karena pelayan yang diperkerjakan untuknya hanya satu orang saja dan itupun dia sudah membuangnya.


"Ini sama sekali tidak seperti yang aku harapkan dahulu" batin Nesha.


Sementara di tempat lain, kini Talitha sedang bersenda gurau dengan para pekerja di tokonya.


"Wah cream ini benar-benar berefek di kulit ku, kulit ku jadi semakin cerah dan lembut padahal aku cuma memakainya beberapa kali saja" ucap Carla.


"Benarkah? biarkan aku yang mencobanya lagi" ucap Hanna merebut cream itu dari Carla.


"Tidak-tidak ini punya ku" ucap Carla merebut kembali beda itu dan menyembunyikannya ke belakangnya.


"Kau ini pelit sekali! Aku hanya ingin mencobanya" ucap Hanna menatap tajam Carla.


"Hahaha, kalian ini seperti anak kecil saja, biarkan dia mencobanya juga Carla" ucap Talitha.


"Eum baiklah, ini karena nona memintaku jadi aku akan memberikan kepada Hanna tapi sedikit saja" ucap Carla memicingkan matanya ke Hanna.


Hanna yang kegirangan pun segera mencoba cream itu ke tangannya.


"Wah wanginya benar-benar enak dan lembut, jika ini sudah terjual akan banyak orang yang akan membelinya" ucap Hanna sambil menciumi aroma cream itu di tangannya.


"Tentu saja, barang yang pertama saja sudah habis terjual, wanita-wanita kaya banyak yang datang dan membelinya" ucap Maria.


"Kita sungguh beruntung bisa bertemu dengan mu nona, kau bagaikan dewi yang turun dari langit untukku" ucap Hanna.


"Mulut mu itu sangat manis, Hanna" ucap Talitha lalu tertawa kecil.


Sementara Mia yang telah kembali dari berbelanja membawa beberapa makanan untuk mereka makan di toko.


"Ini makanan untuk kalian berlima, aku akan meletakkannya di meja" ucap Mia.


"Terimakasih, Mia" ucap mereka berlima.


"Berterima kasih lah ke nona, karena uang yang ku gunakan adalah miliknya" ucap Mia sambil tersenyum.


"Terimakasih, nona" ucap mereka lagi.


"Kalian tidak perlu berterima kasih dan istirahat lah sebentar lalu makan makanan kalian" ucap Talitha.


Mereka mengangguk mengerti dan segera mengambil makanan yang di letakkan di meja dan mereka berlima pun makan bersama.


"Ini makanan anda, Nona" ucap Mia yang telah menyiapkan makanan untuk Talitha.


"Aku sedang tidak lapar, kau makan lah. Kau pasti lapar setelah keluar berbelanja" ucap Talitha.


"Tapi ini makanan untuk anda, nona" ucap Mia.


"Aku bilang makan saja, kau tahukan aku tidak suka ucapan ku di bantah, Mia" ucap Talitha.


"B-baik, nona. Kalau begitu saya akan makan bersama mereka" ucap Mia lalu Talitha tersenyum sambil mengangguk.


Talitha kini memandangi ke enam bawahannya itu yang kini sudah seperti keluarga baginya.


...****************...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen dan vote.