
"Ya, sebenarnya dulu dia tidak secantik itu. Dulu dia biasa saja. Dia wanita yang selalu mengejar ngejar aku di sekolah. "
Aku mulai mendengarkan cerita yang keluar dari mulut Alex. " Oh pantas saja, dia seperti itu padaku. "
"Ahk, sudahlah, jangan membahas lagi soal Dewi, aku muak denganya. "
Gina kini menyuruh perias untuk merapihkan make up dan gaun pengantin yang aku kenakan.
Dimana Alex pergi, untuk menerima tamu di luar.
Selesai merapihkan semuanya, aku mulai melangkahkan kaki menuju tempat duduk, dimana Alex terlihat menunggu dari tadi.
"Kamu cemburu ya. "
Baru saja berdiri besampingan dengan Alex, suamiku sudah mengatakan hal menjijikan lagi.
"Dih, cemburu pada wanita tadi. Enggak banget. "
Alex tersenyum, memegang kedua pipiku. " Itu buktinya, wajahmu muram begitu. "
"Muram." Mengambil cermin kecil, " Ah, apaan sih. Biasa aja kaya tadi. "
Alex malah tertawa, membuat aku memukul bahunya.
Sampai tak terasa acara pernikahan selesai, lelaki di sampingku, mengedipkan matanya. Memberi kode.
"Mm."
"Apaan si, nggak jelas banget. "
Alex langsung saja membopong tubuh ini, membuat aku berteriak karena terkejut dengan aksinya.
"Gila kamu. Alex. "
Lelaki di sampingku malah tertawa terbahak bahak, ia selalu sengaja mengerjaiku berulang ulang.
Sampai kami di pintu kamar, " ngerti kan. "
"Dih." Tersenyum lebar. Alex masih membopong tubuh ini, menutup pintu kamar rapat rapat.
"Sudah waktunya."
Melemparkan tubuhku pada atas kasur, dan brukk ....
Alex tertawa, ia menghempit kembali tubuh ini.
"Alex, pengap. "
Alex malah semakin menjadi jadi, sampai dimana.
Kami berdua terburu buru bangun, melihat siapa yang mengetuk pintu. " Siapa lagi?"
Tampak kekesal diperlihatkan Alex, karena momen bersamaku terganggu oleh suara ketukan pintu.
Aku bangkit dari ranjang tempat tidur, melihat siapa yang datang. Membuka pintu. "Gina, ada apa?"
"Kaira, ee. "
"Kenapa?"
Alex datang menghampiri kami berdua, melihat sosok Gina sudah ada di depan pintu. " Gina, ngapain kamu ke sini?"
"Kak Alex, di luar hujan. Dan aku takut suara petir, boleh tidur bersama kalian di sini!"
"Ah ...."
Belum aku menjawab perkataan Gina, Alex mendekat mengusap kepala rambut adiknya. " Gina, kamu udah gede masa ia tidur sama kakak. "
Aku baru tahu kalau Gina dan Alex terkadang tidur bersama," kan, biasanya kalau ada ujan sama petir kakak selalu temani Gina. "
Pertama kalinya, aku melihat Gina bersikap manja di depan Alex, dimana suamiku memijit hidung Gina dengan berucap. " Itu dulu, waktu kamu masih tk. Sekarang sudah gede, jadi tidur sendiri ya. "
Alex mulai menutup pintu kamar, merangkul tubuhku.
Namun hal yang kurang aku suka, dimana Gina menghentikan pintu kamar, " kak Alex. "
"Kenapa lagi Gina, mm. Kalau masih takut kan ada Mbok Asih. "
Gina menundukkan pandangan, bukannya dia sudah ikhlas tapi kenapa begitu terlihat kekecewaan dan rasa tak ikhlas dalam diri gadis itu.
"Gina."
Menatap ke arah Alex, " kenapa kak?"
"Ayo pergi, jangan kaya anak kecil lah. Masa kamu nggak ngerti. "
Gina membalikkan badan, pergi dari hadapan kami berdua. Langkah kakinya terlihat gontai, membuat aku sedikit kasihan melihatnya.
Pintu sudah tertutup rapat, " Alex. "
"Ya kenapa?"
"Gina adik kamu, bagaimana dengan dia! Aku melihatnya merasa kasihan!"
"Mm. Sudalah, jangan pikirkan adikku, dia memang begitu menyebalkan. Cuman pura pura ingin mengejai kita, agar tidak melakukan. Mm, mm. "
"Apaan sih, bicaramu itu. "