
"Suara apa? Tidak ada siapa siapa di dalam mobil."
"Ah, mungkin perasaan aku saja! Ya sudah kalau begitu aku tunggu kedatangan kamu ke sini, Ferdi."
"Baiklah."
Gina mematikkan panggilan telepon, dimana Ferdi bersorak hore dihadapan Alex dan juga Kaira.
"Wah, Gina sudah memberi peluang ternyata. "
Alex memukul bahu Ferdi, " selamat ya. Mudah mudahan saja Gina bisa menerima kamu apa adanya, begitupun kamu. "
"Ya, terima kasih Kak Kaira. "
********
Kaira dan Alex memutuskan untuk pulang ke rumah, namun Ferdi mencegah.
"Kak Alex dan Kak Kaira, begitupun bapak ikut saja dengan Ferdi untuk menemui Gina. "
Keduanya menatap ke arah Ferdi, sedangkan lelaki tua seakan tak yakin untuk bertemu dengan anak kandungnya sendiri.
"Kalau kita ikut, Gina pasti malu. "
"Justru dengan kalian ikut, membuat Ferdi leluasa melamar Gina sekarang juga. Terlebih lagi sekarang sudah ada ayah kandung Gina, yang akan jadi wali. "
Lelaki tua itu tersentuh dengan perkataan Ferdi, ia tersenyum lebar, merasa senang jika anaknya mendapatkan lelaki tulus.
"Sebelum bertemu Gina, kita ke rumah bapak. Untuk mengambil bukti lainnya. "
Alex setuju, ia menganggukkan kepala. Setelah mendengar kesungguhan lelaki tua yang mengakui dirinya sebagai ayah Gina.
"Baiklah, karena bapak juga akan segera di pertemukan dengan Gina. "
"Sebenarnya saya tak yakin, nak. "
Kesedihan tampak terlihat dari raut wajah lelaki tua itu, dimana Alex berusaha meyakini dengan perkataan lembutnya.
"Kenapa tak yakin, bapak harus yakin dan percaya diri. "
Ferdi menimpal perkataan Alex, " benar pak, kita tak usah menghindar jika kita benar. "
Lelaki tua itu menundukkan kepala, setelah melihat Ferdi dan Alex menyakini dirinya.
Sampai di rumah lelaki tua itu.
Alex mengerutkan dahi, ia seakan tak asing dengan tempat tinggal lelaki yang mengakui sebagai ayah kandung Gina.
"Ini, Nak Alex. "
Mengambil kertas itu, melihat isi dalamnya, benar saja. Hasil tes DNA itu positif, jika lelaki tua dihadapannya ayah kandung Gina.
"Kalau begitu, kita bertemu dengan Gina. "
Lelaki berambut putih itu hanya berdiri, tak mengikuti langkah Alex. " Ayo pak, kita pergi ke rumah Gina. "
"Bapak nggak yakin, Gina mau menerima bapak. "
Kaira berusaha menyakini lelaki tua dihadapannya, " kenapa tak yakin, bapak ini bapak kandungnya, loh. Bapak nggak mau ya jika anak bapak tidak mengenal ayah kandungnya sendiri. "
"Bukan begitu, bapak malu. "
Alex menarik tangan lelaki tua itu untuk masuk ke dalam mobil, mencoba menyakininya terus menerus." Bapak percaya pada saya ya. "
Menghela napas, akhirnya lelaki tua itu mampu dibujuk oleh Alex.
"Kita berangkat untuk temui Gina. "
Dalam perjalanan tak ada kendala sedikit pun, semua lancar, sampai tujuan.
Keluar dari dalam mobil, Ferdi melihat wanita pujaan hatinya duduk di kursi roda, menunggu di depan rumah.
"Ferdi kamu sampai juga. "
Ferdi tersenyum senang, saat Gina menyambutnya dengan hangat, " Gina, aku tidak mau banyak basa basi sekarang. Aku ingin melamar kamu. menjadikan kamu istriku, kamu mau kan. "
Gina menganggukkan kepala dan menjawab, " ya aku mau sekali. "
Perkataan lembut yang keluar dari mulut Gina, membuat Alex dan Kaira keluar, di susul lelaki tua yang tak sabar melihat anak kandungnya.
Ketiganya bertepuk tangan, memberi selamat, dimana Gina sedikit terkejut. " Kak Alex, kaira. "
"Aku sengaja membawa mereka. "
"Kami sudah tahu semuanya, jadi selamat ya adikku sayang. "
"Terima kasih Kak Alex. "
Gina perlahan melihat ke arah lelaki tua di sampingnya, ia bertanya. " Ini siapa. "
Deg ....