Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
BAB 43. Kenyataan yang Menyakitkan


Shawn yang sadar jika dirinya adalah seorang laki-laki pun menghapus air matanya dengan sangat cepat lalu menggenggam tangan Riana dengan sangat kuat.


“Ma, aku sudah tau semuanya. Papa selingkuh dengan teman kantornya, kan?” tanya Shawn secara langsung dengan ekspresi wajah seolah menunggu jawaban.


Riana yang terkejut dengan pertanyaan Shawn pun terdiam sesaat lalu melepaskan tangannya dari genggaman Shawn lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Apa yang kau katakan Shawn? Kau pasti sangat terkejut karena kecelakaan yang kau alami. Sebaiknya kau makan, minum obatmu lalu istirahat. Mama harus mencuci piring di dapur!” ucap Riana yang mencoba menghindar dengan sikap yang canggung.


Shawn yang menyaksikan dengan matanya sendiri bahwa Kamal memeluk, merangkul dan memperlakukan wanita lain dengan penuh perhatian bahkan merencanakan liburan bersama membuat Shawn tak ingin diam saja.


“Mama tidak perlu menghindar dan berbohong. Shawn sudah tau bahwa Papa selingkuh karena Shawn melihat sendiri papa bersama wanita lain dengan sangat mesrah.” Ucap Shawn dengan ekspresi wajah yang serius.


“Shawn bahkan menguping pembicaraan keduanya yang berniat liburan bersama dengan uang pinjaman Bank yang dikatakan Mama dan Papap sebelumnya!” ucap Shawn dengan suara yang tegas.


Riana yang telah memegang gagangan pintu kamar dengan niat menghindar tiba-tiba terdiam dan berhenti di tempatnya saat mendengar perkataan Shawn.


Riana yang tak menyangka jika Shawn akan mengetahui keburukan Kamal merasa sangat sedih dan khawatir pada Shawn.


“Shawn... Mama...” ucap Riana dengan kata-kata yang terputus karena tak sanggup mengatakan apapun dengan ekspresi wajah yang khawatir dan bingung di saat bersamaan.


Shawn yang terpaksa harus menjadi dewasa lebih cepat karena perselingkuhan Kamal dan mengingat masih ada dua wanita lain yang sangat disayanginya membutuhkannya pun mencoba menguatkan Riana.


“Mama, jangan khawatirkan Shawn. Shawn sudah menerima semuanya. Mama tidak perlu menjelaskan apapun karena semua yang Shawn lihat sudah menjelaskannya!” ucap Shawn dengan nada suara yang terdengar pasrah.


“Mama tidak boleh sedih. Mama harus bahagia dan ceria kembali. Mama harus pisah dan cerai dari Papa.” Ucap Shawn dengan ekspresi wajah yang serius.


“Shasa akan menjadi urusan Shawn. Biarkan Shawn yang menjelaskan semuanya pada Shasa dan Shawn yakin Shasa pasti akan mengerti!” ucap Shawn dengan senyum yang menenangkan.


Riana yang merasa tertampar karena Putranya yang menjadi dewasa sangat cepat pun berlari dan memeluk Shawn dengan sangat erat dan penuh kehangatan.


“Kau tidak bisa mengatakan hal penting itu kepada Shasa! Mama khawatir Shasa akan sangat terkejut dan sedih jika mengetahuinya!” ucap Riana dengan nada suara yang sangat khawatir.


Namun saat keadaan haru itu berlangsung, Shasa yang hanya mendengar beberapa potong kalimat menjadi bingung dan penasaran.


“Apa yang tak bisa dikatakan padaku? Hal penting apa yang Mama dan Kakak sembunyikan? Katakan yang sebenarnya padaku! Jangan coba-coba berbohong karena aku pasti akan mengetahuinya nanti cepat atau lambat!” ancam Shasa dengan ekspresi wajah yang marah.


Riana dan Shawn yang terkejut dengan keberadaan Shasa secara tiba-tiba karena keduanya tidak mendengar ada suara pintu yang terbuka sama sekali.


“Sha-Shasa! Kamu sudah pulang sayang. Mau Mama buatkan makanan kesukaan kamu untuk menu makan siang?” tanya Riana yang mencoba mengalihkan pembicaraan sambil berbicara dengan lembut dan ramah kepada Shasa.


Shasa yang kesal karena melihat Shawn hanya terduduk di tempat tidurnya dengan wajah yang lesu dan melihat Riana yang mencoba menghindari pertanyaannya.


“Hentikan ini, Ma! Jangan mengalihkan pembicaraan! Sebaiknya Mama jawab pertanyaan Shasa. Apa yang hal yang tak bisa dikatakan pada Shasa?” tanya Shasa lagi dengan ekspresi wajah yang kesal.


“Shasa juga anak di keluarga ini dan Shasa berhak tau tentang yang terjadi di keluarga ini, Ma. Mama katakan saja pada Shasa. Apa yang terjadi?” tanya Shasa yang mencoba mendesak Riana untuk bicara.


Shawn yang mendengar perkataan Shasa menjadi terkejut dan menolak dengan tegas pikiran buruk Shasa sambil menatap Riana lalu mengambil keputusan untuk mengatakan semuanya.


“Apa yang kamu katakan Shasa? Bagaimana Kakak tidak menyayangi Adik Kandung Kakak sendiri?” tanya Shawn dengan ekspresi wajah yang sedikit kesal.


“Kalau Kakak sayang pada Shasa maka Kakak tidak akan menyembunyikan apapun pada Shasa jadi katakan saja Kak apa yang terjadi? Shasa pasti bia menerima semuanya!” ucap Shasa dengan percaya diri.


“Baiklah. Kakak akan mengatakannya padamu!” ucap Shawn setelah menarik nafas yang panjang dengan ekspresi wajah yang menyerah.


Riana yang masih belum siap menyadari bahwa kedua anaknya mengetahui perbuatan buruk Kamal mencoba menghentikan Shawn tapi gagal.


“Shawn! Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Riana dengan suara yang sedikit meninggi dengan ekspresi wajah yang cemas dan khawatir.


“Kakak melihat Papa sedang jalan dengan wanita lain yang merupakan teman kerjanya di sebuah Mal dengan sangat mesrah hari ini!” ucap Shawn dengan ekspresi wajah yang sedih.


Shasa yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Kamal menjadi sangat terkejut dengan informasi yang didapatkannya dan mencoba menolak kenyataan yang diucapkan oleh Shawn padanya.


“Tidak! Papa tidak mungkin berselingkuh! Papa sangat menyayangi Mama, Shasa dan juga Kakak jadi tidak mungkin papa tega melakukan itu!” ucap Shasa dengan ekspresi wajah yang tak percaya.


“Kakak juga mendengar bahwa Papa berencana ingin liburan dengan wanita itu dalam waktu dekat dengan uang yang dipinjam oleh Papa di Bank!” ucap Shawn dengan ekspresi wajah yang serius.


“Tidak! Itu tidak mungkin, Kak! Papa tidak mungkin melakukan itu!” ucap Shasa dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang sangat terkejut dan sedih.


Riana yang sudah bisa menduga reaksi berlebihan yang akan dikeluarkan oleh Shasa saat mengetahui kenyataan buruk itu pun menjadi semakin cemas.


“Shasa! Tenanglah sayang! Shasa! Dengarkan Mama!” ucap Riana dengan ekspresi wajah dan nada suara yang cemas sambil memegang lengan Shasa.


Shasa yang tidak bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban dengan bukti yang jelas pun balik memegang tangan Riana dan mencaritau kebenarannya.


“Tidak, Ma! Shasa tidak bisa tenang! Apakah yang dikatakan Kakak semuanya benar, Ma?” tanya Shasa dengan mata yang memerah dan siap menangis kapanpun sambil menatap Shawn yang terdiam sambil menundukkan kepalanya dengan sangat lesu.


Riana sebenarnya tidak tega memberitaukan kenyataan buruk dan pahit kepada Shasa dan juga Shawn tapi keadaan dan situasi yang semakin memburuk membuat Riana tak bisa berbohong.


“Benar! Semua yang dikatakan Kakakmu itu benar. Papa Kalian selingkuh dari Mama dengan salah satu teman kantornya yang ternyata memiliki Suami dan Anak juga!” ucap Riana dengan ekspresi wajah yang sangat berat.


Shasa yang melihat Kamal sebagai Ayah yang sangat baik, penyayang, dan setia secara tiba-tiba kehilangan kepercayaannya.


Shasa yang sulit menerima kenyataan itu secara tiba-tiba merasa kepalanya terasa sangat pusing dengan tubuhnya seperti melayang hingga tanpa disadarinya pandangan Shasa yang awalnya jelas berubah menjadi kabur lalu gelap.


“Shasa! Shasa! Shasa!” teriak Riana dan Shawn secara bersamaan dengan ekspresi wajah yang terkejut dengan mata yang terbuka lebar sambil menangkap tubuh Shasa yang jatuh pingsan.


#Bersambung#


Apa yang akan terjadi pada Shasa selanjutnya? Apakah Shasa dapat menerima kenyataan itu? Apa yang akan dilakukan Riana untuk menghilangkan trauma pada Shasa dan Shawn? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya ya...