Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 82


Membuka mata, aku sudah berada di dalam mobil, memegang kepala yang terasa berdenyut. Aku melihat kesekelilingku.


Dua lelaki berbadan kekar menahanku, kaki terikat begitupun dengan kedua tangan. Membuat aku tak mengerti maksud mereka menangkapku.


Padahal selama ini aku tidak punya musuh, sama sekali.


Kedua lelaki yang berada di samping kiri dan kanan, melihatku secara bersamaan, mereka tersenyum.


Membuat aku sedikit takut, sampai bertanya dengan nada gugup." siapa kalian. " Melihat seragam yang mereka kenakan, seperti seragam polisi, pantas saja tidak ada yang menyelamatkanku saat itu, ternyata mereka menyamar seperti polisi.


"Kenapa kalian menahanku?" Mencoba mempertanyakan kepada lelaki yang ada di sampingku, mereka tampak diam mengabaikan pertanyaanku. Fokus kembali menatap jendela.


Sampai tawa yang tak asing terdengar begitu nyaring, dimana wanita itu mempelihatkan wajahnya. ' Hai, kaira. Apa kabar?"


Ternyata Bu Tari, wanita tua itu tak ada kapok kapoknya. Ia malah meyerangku dan menahanku saat ini. Apa lagi yang ia inginkan dariku, padahal aku tidak punya masalah dengannya.


Tapi ia begitu berani menangkapku, sampai mempunyai sebuah suruhan berbadan kekar.


"Apa maksud anda menangkap saya Bu Tari?" Mempertanyakan, dengan nada kesal. Wanita tua itu malah terlihat senang kegirangan.


"Huuh, ternyata kamu ingin tahu alasanku, kenapa aku menangkap kamu hari ini. " Ucap wanita tua itu terdengar bertele tele, membuat aku kesal dan tak suka.


"Cepat katakan, " ketusku pada Bu Tari, ia malah tertawa dengan kemarahan yang aku perlihatkan.


"Cukup simpel saja, kamu harus buat Gina percaya padaku!" jawaban, yang membuat aku terkejut seketika.


Mendengar keinginan wanita tua itu, membuat aku tertawa terbahak bahak. " Ya elah, gitu juga nggak bisa. Bukannya Bu Tari ini, ibu kandung Gina, masa iya buat anak sendiri percaya sama ibu nggak bisa. Makanya bu, punya anak itu di urus bukan di buang, jadinya pas gede ke gini kan, nggak mau sama ibu kandungnya sendiri. "


"Diam kamu, jangan tertawa. Jangan ceramah kamu, aku tak butuh."


Bu Tari tampak begitu murka dengan apa yang aku katakan ia terlihat tak terima, sampai menyuruh kedua suruhannya. Membukam mulutku.


Lelaki berbadan kekar yang berada disampingku, menutup mulut ini dengan perban.


"Mm."


"Itu akibatnya kalau kamu suka membantah. Kalau kamu mau menurut aku akan melepaskan kamu, kaira. Tapi karena kamu tak bisa di ajak kerja sama, jadi ini akibatnya. "


Kurang ajar, wanita tua tak tahu malu, menggunakan cara licik, liat saja, aku akan lebih pintar dari ini.


Kedua tangan yang terikat tali, berusaha aku lepaskan sebisa mungkin. Dengan sangat hati hati, perlahan, dan yes akhirnya. Berhasil.


Mereka tak memperhatikanku, terlihat lengah.


Ini saatnya, dimana salah satu lelaki yang berada di sampingku terlihat memperhatikan gerak gerik ini.


Membuat aku berpura pura tak bisa lepas dari ikatan tali.


"Bodoh, dasar bodoh. " Gumamku dalam hati, menghela napas, merasa tak nyaman karena lakban masih menempel pada mulut ini.


Aku mencoba mengigat jalanan yang aku lewati, di saat wanita tua itu membawaku pergi.


Sampai di tempat tujuan, aku melihat di jendala rumah tua yang tak terpakai.


"Sepertinya wanita tua itu, akan menahanku di gubuk tua ini. "


Kedua lelaki berbadan kekar, keluar lebih dulu dari dalam mobil. Aku yang melihat kesempatan ini, membuka tali pada kedua kaki.


Akhirnya lepas, dengan sangat hati hati membuka pintu mobil yang ternyata tak di kunci, saatnya lari dan yes. Akhirnya aku berhasil keluar.


Menelusuri jalan yang aku ingat ingat, sampai terdengar suara lelaki berbadan kekar itu melihatku kabur.


"Hey, dia kabur."


Aku yang ketakutan saat itu, berusaha berlari dengan sekuat tenaga, mencari bantuan. Agar terbebas dari para suruhan Bu Tari.


"Akhirnya aku, bisa kabur juga. "


Melihat mobil yang berhenti di pinggir jalan, membuat aku berusaha meminta bantuan.


"Tolong saya. "


Sosok seorang wanita yang ada di dalam mobil, akhirnya mau membantuku saat ini. " Ya sudah kalau begitu ayo masuk. "


Masuk ke dalam mobil, dengan napas terengah engah. Wanita yang tak aku kenal sama sekali, menyodorkan air minum.


"Ini minum. "


Rasa haus membuat aku mengambil air dalam botol, meminumnya sampai habis.


"Ah, rasanya tenggorokanku sekarang terasa nyaman. "


Melihat ke belakang, Bu Tari dan suruhannya mengejar kami.


"Mereka itu kenapa mengejar kamu?"


"Mereka orang jahat, mau menculikku!"


"Kalau begitu dimana rumahmu, biar aku antar. "


Kalau aku pergi ke rumah, Bu Tari dan suruhannya pasti mengetahui letak rumahku. Mereka akan leluasa menangkapku saat ini juga.


"Gimana ya. "


Aku mencoba memikirkan cara, dan akhirnya. Ada cara jitu membuat wanita tua itu kapok.


"Yes, ini cara terbaik. "


Aku berusaha memberanikan diri, meminjam ponsel pada wanita yang sedang menjalankan mobil dengan begitu fokusnya.


"Boleh aku meminjam ponsel kamu?"


Aku sangat berharap sekali. Jika wanita itu mau meminjamkan ponselnya untukku, karena ini jalan satu-satunya untuk membuat Bu Tari dan suruhannya menyesal.


"Boleh kah, aku meminjam ponselmu sebentar, karena ponselku dibawa mereka. "


wanita muda itu merogoh saku celananya ia memberikan ponsel kepadaku, " ini pake saja. "


Betapa senangnya, aku saat itu wanita yang sudah menolongku begitu baik mau meminjamkanku ponsel.


Dengan sigap aku mulai mengetik nomor telepon Alex, memanggil suamiku untuk datang menyelamatkanku saat ini.


"Halo. Alex. "


"Halo, ini siapa?"


"Alex ini aku Kaira, Alex tolong aku!"


"Kaira, kamu dimana. Kenapa nomor kamu tidak aktif. Apa yang terjadi dengan kamu. "


"Alex, Bu Tari mencoba menyekapku, ia berniat jahat padaku. "


"Apa, Bu Tari. "


"Iya, untung saja ada orang baik yang mau menyelamatkanku saat ini. "


"Syukurlah, sekarang kamu ada dimana?"


Aku mulai memberitahu keberadaanku sekarang, dimana Alex dengan sigap, akan menjemputku.


"Kalau begitu, aku akan lapor polisi, kamu tunggu dulu ya."


"Baiklah."


Memberikan ponsel milik wanita muda itu, " Ini, terima kasih banyak ya, kamu sudah mau membantuku. "


"Sama sama. Jadi sekarang kita kemana?"


Aku mulai membisikan sebuah rencana pada wanita muda di sampingku, dimana ia langsung mengerti.


"Rencana yang bangus, kalau begitu kita lakukan sekarang. "


"Oke. Sip. "


Melihat kebelakang, Bu Tari masih mengejarku, terlihat ia seperti kewalahan, karena mobil yang aku tumpangi begitu cepat.


"Sepertinya kita kerjain dulu mereka, sebelum mereka masuk ke dalam tahanan. "


"Benar juga. "


Wanita yang tak aku tahu namanya itu begitu bersemangat mengejai orang jahat seperti Bu Tari.


"Sudah lama aku tidak bermain main, seperti ini. Huuh, rasanya seru sekali. "


"Oh ya, kita belum kenalan."


"Ahk, iya. "


Menyodorkan tangan, dimana wanita muda itu masih fokus mengendarai mobil.