Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
BAB 71. Kamal Kecelakaan


Yonna yang tau jika dirinya tak bisa melepaskan Kamal begitu saja setelah semua hal yang terjadi padanya selama beberapa bulan terakhir pun membuat keputusan yang sulit.


"Pa, Ma! Aku akan berhenti bekerja dan ikut Mas Kamal ke Sulawesi!" ucap Yonna dengan nada suara yang tegas dan tatapan mata yang tajam.


"Apa? Jangan bicara yang sembarangan Yonna! Apa kamu sudah pikiran dengan matang keputusanmu ini?" tanya Ibu Irma dengan ekspresi wajah yang terkejut.


"Aku sudah pikirin semuanya, Ma. Aku pun ingin meminta Papa untuk menikahkanku dengan Mas Kamal sebelum kami pindah ke Sulawesi!" ucap Yonna dengan wajah yang serius.


Ibu Irma yang mendengar keputusan anaknya itu pun menarik nafas yang panjang lalu menggenggam tangan suaminya dan menganggukkan kepalanya.


"Apakah kamu yakin keputusanmu? Apakah kamu benar-benar percaya jika Nak Kamal sungguh pria yang tepat untuk kamu?" tanya Ibu Irma dengan nada suara dan eksprei wajah yang serius.


"Tentu saja. Aku sangat yakin jika Mas Kamal adalah jodohku yang sebenarnya!" ucap Yonna dengan tekad yang kuat.


"Baiklah. Jika itu sudah menjadi keputusanmu maka Mama dan Papa akan merestui Pernikahan Keduamu ini. Papa pun akan datang dan menjadi wali nikahmu nanti!" ucap Ibu Irma dengan wajah yang serius.


Pak Aji yang mendengar keputusan Istrinya ingin sekali protes dan menolak tapi Ibu Irma yang tidak ingin kalah segera menghentikan Suaminya itu.


"A-apa? Tu-tunggu! Tidak! Aku.....!" ucap Pak Aji dengan wajah yang tidak senang dengan kata-kata yang gagap.


Yonna yang mendengar perkataan Ibunya itu pun menjadi sangat senang meskipun tau Ayahnya menolak keinginannya sekarang tapi sebuah pernyataan Ibu Irma membuat Yonna terdiam.


"Benarkah? Kalau begitu aku akan segera memberi tau Mas Kamal tentang hal ini!" ucap Yonna dengan wajah yang bahagia.


"Tentu saja tapi ingatlah satu hal Yonna. Jika Pernikahan Keduamu ini tak sesuai dengan keinginanmu, jangan pernah mengeluh karena apapun yang terjadi Mama dan Papa tak akan pernah memihakmu!" ucap Ibu Irma dengn nada suara yang tegas dan wajah yang serius.


Yonna yang mendengar perkataan Ibunya sebenarnya memulai memikirkan kembali keputusannya tapi Yonna yang tak ingin semua pengorbanannya sia-sia begitu saja pun menguatkan tekadnya kembali untuk menerima kenyataan yang ada.


Sementara itu, Kamal yang mendapatkan kabar dari Yonna tentang keputusannya pun merasa sangat puas lalu menyatakan niatnya kepada Keluarganya.


"Aku dipindahkan ke Sulawesi oleh Kantor dan aku akan pindah satu minggu lagi!" ucap Kamal kepada Ibu Wati dan juga kedua adik perempuannya yang sedang duduk santai di depan televisi.


"Apa? Pindah? Jauh sekali?" tanya Ibu Wati yang langsung menatap Kamal dengan wajah yang terkejut.


"Aku tidak bisa melakukan apapun karena Bosku sudah tau tentangb perselingkuhanku yag viral. Jika aku tidak mau pindah maka itu artinya aku bersedia untuk berhenti!" ucap Kamal dengan berat hati.


"Berhenti bekerja? Bagaimana mungkin? lalu bagaimana dengan b*tina itu? Apakah dia juga dipindahkan sama seperti Kakak?" tanya Putri dengan wajah penasaran.


"Benar! Dia dipindahkan ke Papua tapi dia menolak karena Yonna akan ikut denganku ke Sulawesi. Aku telah memutuskan untuk menikahi Yonna!" ucap Kamal dengan tegas.


"Apa? Menikahi wanita tidak benar itu? Apa kau sudah gila Kamal? Jika kau menikahinya itu sama saja dengan mempertegas perselingkuhan kalian. Bagaimana dengan pandangan orang lain?" tanya Ibu Wati dengan wajah yang tidak senang.


"Ibu tidak akan merestui Pernikahan keduamu ini jadi lebih baik kau batalkan saja niatmu!" ucap Ibu Wati dengan nada yang tinggi dengan anggukan persetujuan dari kedua adik Kamal secara bersamaan.


"Jika kau ingin menikah dan tak bisa sendiri lebih baik kembali saja pada Riana. Riana sudah PNS sekarang dan kalian bisa memulai semuanya dari awal lagi!" ucap Ibu Wati dengan wajah yang kesal.


"Riana? Tidak! Aku tidak akan menikah dengan Riana lagi. Hubunganku dan Riana telah berakhir!" ucap Kamal dengan nada suara yang tegas.


Ibu wati yang terkejut dengan perkataan anaknya pun terdiam dan merasa jika kedua kakinya sangat lemas dan hal ini pun tidak berbeda dengan kedua adik Kamal yang wajahnya menjadi pucat saat memikirkan harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya karena selam ini semuanya telah terpenuhi.


Kamal yang tidak senang karena Ibunya menyebutkan nama Riana kembali tanpa sadar membuka perasaan menyesal dan bersalah yang selalu dirasakannya selama ini.


"Hah! Riana!" panggil Kamal sambil mengunci kamarnya dengan tarikan nafas yang panjang lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajahnya dengan air dingin.


Kamal yang mengingat hari dimana dirinya datang menemui Riana untuk memberi selamat karena telah menjadi PNS dan berencana untuk bertemu dengan kedua anaknya pun menjadi sedih.


Riana tidak menolak kedatangannya di rumah orangtua Riana tapi sikap Riana yang berubah menjadi dingin dan cuek membuat Kamal menjadi sedih.


Lalu saat Riana mengatakan hal yang sangat membuatnya terpukul pun hanya bisa diam tanpa mengeluarkan kata apapun.


"Terima kasih hadiahnya. Maaf aku tidak bisa memberikan apapun sebagai balasan tapi aku ikut senang mengetahui kehamilan selingkuhanmu, Mas!" ucap Riana dengan wajah yang datar.


"Semoga kalian menjadi keluarga yang bahagia. Bukankah kita sudah resmi bercerai dan masa iddah Yonna hampir berakhir jadi jika kalian menikah pun tak akan jadi masalah. Tolong jangan lupakan anak-anakmu yang aku lahirkan juga!" ucap Riana dengan senyum yang terlihat tulus karena itu membuat Kamal menjadi semakin sedih.


Kamal yang mengingat perkataan Riana dengan sangat jelas dan begitu pula dengan ekspresi wajah yang ditampilkannya membuat Kamal merasa tidak nyaman.


"Aarrrgghhhh! Kenapa semuanya teringat kembali padahal aku telah berusaha melupakan semuanya?" tanya Kamal dengan wajah yang kesal.


Kamal yang tak bisa berpikir jernih karena semua hal yang terjadi padanya selama beberapa bulan ini terekam kembali ke otaknya pun mengambil kunci motor dan pergi keluar.


""Aku mungkin akan merasa lebih baik jika berjalan-jalan keluar sebentar sambil menghirup udara segar!" gumam Kamal sambil memakai helm dan jaket yang tebal.


Ibu wati dan kedua adiknya yang melihat Kamal pergi pun berteriak dengan sangat keras untuk bertanya tujuan kepergian Kamal tapi Kamal yang tak peduli terus berjalan dan mengabaikan semua panggilan untuknya.


"Kamu mau kemana Kamal?"


"Cuaca sangat gelap! Kembalilah masuk ke dalam rumah!"


"Kamal! Hei, Kamal!"


Kamal yang tidak peduli dengan panggilan yang ditujukan padanya tetap melajukan motornya meninggalkan rumah dengan pandangan lurus ke depan.


Namun,Kamal yang berharap jika dirinya bisa berpikir jernih dan tenang kembali setelah berada di luar rumah tidak menyangka jika maut sedang menunggunya.


Kamal yang tidak bisa memfokuskan dirinya pada jalanan pun tidak bisa melihat ada mobil yang datang ke arahnya saat berbelok arah yang membuat Kamal membanting setirnya lalu terjatuh dari motor yang menyebabkan setir memukul perutnya dengan sangat keras.


"Aaarrrggghhh!" teriak Kamal dengan sangat keras karena terkejut diakibatkan hantaman keras pada perut bawahnya.


Kamal yang kehilangan kesadarannya pun dibawa ke rumah sakit oleh orang-orang sementara mobil yang datang dari arah berlawanan telah pergi dengan kecepatan yang tinggi sehingga tak seorangpun bisa menangkap atau melihat kepergiannya.


#Bersambung#


Bagaimana nasib Kamal selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Kamal dan keluarganya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya....