
Keesokan paginya, Yonna yang merasakan jika langkah kakinya menuju Kantor tempatnya bekerja terasa sangat berat menjadi sangat malu saat melihat tatapan merendahkan orang-orang padanya.
Yonna yang tak kuasa melihat orang-orang menatapnya dengan wajah yang menghina dan merasa jijik akan keberadaannya itu memilih mempercepat langkah kakinya.
Yonna yang selalu menggunakan lift untuk mencapai lantai tempatnya bekerja pun memutuskan untuk menggunakan tangga darurat untuk menghindari tatapan orang padanya.
“Sial! Kenapa semua orang sangat suka mengurusi kehidupan orang lain? Kenapa mereka tidak mengurusi hidupnya sendiri yang bahkan belum sepenuhnya suci?” sindir Yonna dengan wajah yang kesal dan nada suara yang kesal.
“Hah! Aku harus sabar dan bertahan! Berita ini pasti akan cepat menghilang dan kehidupan normalku akan kembali lagi!” ucap Yonna yang telah sampai di lantai tiga tempatnya bekerja lalu menarik nafas yang panjang dan kemudian membuka pintu menuju meja kerjanya.
Yonna yang melihat meja kerjanya yang sangat berantakan karena dirinya sudah sangat lama tak masuk kerja pun menjadi sangat kesal.
“Kenapa semua foto ini ada di sini? siapa yang melakukan ini semua?” tanya Yonna dengan nada suara yang sedikit naik dengan wajah yang kesal karena melihat foto dari penggalan video penggrebekannya terpajang di atas meja kerjanya lalu mengambil semuanya.
Yonna yang mengambil semua foto itu pun pergi sambil berlari menahan tangisnya dan mengambil korek api lalu membakar foto tersebut satu per satu.
“Aku tidak akan diam saja! siapapun yang melakukan ini pasti akan aku balas!” ucap Yonna dengan tekad yang kuat lalu kembali ke meja kerjanya setelah api yang membakar foto penggrebekannya hangus dimakan api.
Kamal yang juga masuk ke tempat kerja seperti biasa pun mendapatkan perlakuan yang buruk sama seperti Yonna pun perlahan mulai merasa terganggu tapi tak ada yang bisa dilakukannya.
Setelah dua jam berlalu, Manager HRD yang keluar dari ruangannya pun memanggil Kamal dan Yonna untuk memasuki Ruangan Pak Kuncoro yang merupakan Kepala Cabang.
“Kamal! Yonna! Ikuti saya! Kalian berdua dipanggil ke ruangan Pak Kuncoro!” ucap Manager HRD dengan tatapan mata yang dingin dan wajah yang datar serta nada suara yang tegas.
Kamal dan Yonna yang tak punya pilihan lain pun akhirnya mengalah dan berjalan mengikuti dari belakang hingga akhirnya masuk ke dalam Ruangan Pak Kuncoro.
Pak Kuncoro yang telah menunggu kehadiran keduanya pun meminta keduanya duduk di hadapannya.
“Masuk dan duduklah! Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua!” ucap Pak Kuncoro dengan wajah yang serius yang membuat Yonna dan Kamal menjadi sangat cemas dan tidak tenang.
Sehari sebelum pemanggilan, Pak Kuncoro yang telah melihat video yang tersebar luas di Media Sosial pun mulai memikirkan cara untuk membuat Yonna dan Kamal pergi.
“Aku tidak bisa melihat kedua pasangan zina itu tetap bekerja di Kantor ini karena akan mendatangkan kerugian serta malapetakan nantinya!” ucap Pak Kuncoro dengan ekspresi wajah yang bingung.
“Aku harus memikirkan cara untuk mengeluarkan keduanya tanpa harus mengeluarkan uang untuk biaya pesangon dan lainnya!” ucap Pak Kuncoro dengan wajah yang seolah sedang berpikir.
Pak Kuncoro yang menimbang masa kerja Kamal dan Yonna serta status keduanya dalam Perusahaan pun akhirnya menemukan sebuah ide yang menurutnya tak terlalu buruk.
“Kamal yang telah bekerja di Perusahaan ini dalam waktu yang cukup lama pun telah menjadi Karyawan Tetap dan bahkan telah memegang jabatan yang tidak rendah!” ucap Pak Kuncoro dengan tatapan mata yang tajam.
“Lebih baik aku memindahkannya bekerja di luar kota di Pulau Sulawesi dengan jabatan yang baru dan tentunya pekerjaan yang lebih banyak!” ucap Pak Kuncoro dengan ekspresi wajah yang bahagia.
“Aku pun akan melakukan hal yang sama dengan Yonna dan aku yakin keduanya pasti akan menolak pemindahan ini!” ucap Pak Kuncoro dengan senyum yang licik.
“Meskipun keduanya menerima pemindahan ini, aku yakin itu tak akan berlangsung lama karena upah yang kecil dengan biaya hidup yang besar serta pekerjaan yang banyak akan membuat keduanya menyerah dengan sendirinya!” ucap pak Kuncoro dengan tatapan mata yang tajam.
Pak Kuncoro yang telah membulatkan tekad dan membuat keputusan yang matang pun mengatakan yang telah direncanakannya.
“Apakah kalian sudah melihat video viral yang beredar di Dunia Maya dan juga televisi di seluruh dunia?” tanya Pak Kuncoro dengan wajah yang datar yang tak mendapatkan respon apapun baik dari Kamal maupun Yonna.
“Hmmm, aku yakin kalian pasti telah menontonnya dan kalian pun pasti telah bisa menebak alasan aku memanggil kalian berdua kemari!” ucap Pak Kuncoro dengan tatapan mata yang dingin.
“Saham Perusahaan mengalami penurunan yang tajam karena video ini. Oleh karena itu, Perusahaan telah memutuskan untuk memindahkan kalian berdua ke tempat lain!” ucap Pak Kuncoro dengan nada suara yang datar.
“Kalian berdua akan dipindahkan ke Pulau Sulawesi dan Papua! Kalian bisa menerima dan juga bisa menolak keputusan ini tapi ingatlah jika semuanya memiliki konsekuensinya!” ancam Pak Kuncoro yang mengubah raut wajah Kamal dan Yonna menjadi pucat.
“Ini adalah Surat Keputusan yang telah dibuat oleh Perusahaan! Kalian berdua bisa membacanya dan menandatangani surat tersebut jika setuju!” ucap Pak Kuncoro dengan santai dan wajah yang tidak peduli.
Kamal yang merasa sangat keberatan karena dirinya yang masih memiliki hutang di Bank dengan jumlah yang cukup banyak pun memberanikan dirinya untuk bertanya.
“Maaf, Pak. Jika kami menolak pemindahan ini, maka apa konsekuensi yang akan terjadi?” tanya Kamal yang langsung direspon dengan anggukan kepala.
“Jika kau menolaknya maka itu berarti kau bersedia untuk mengundurkan diri dari Perusahaan!” ucap Pak Kuncoro dengan wajah yang dingin.
“Aku tidak akan memaksa kalian menjawabnya sekarang. Aku akan memberikan kalian berdua waktu satu hari untuk berpikir! Jika dalam dua hari tak ada jawaban maka saat itu juga Perusahaan akan menyatakan bahwa kalian mengundurkan diri!” ucap Pak Kuncoro dengan nada suara yang tegas.
Kamal dan Yonna yang mendapatkan kabar yang sangat mengejutkan dan sangat berbeda dari prediksi keduanya pun menjadi terdiam.
Yonna yang ingin bicara dengan Kamal tentang pemindahan keduanya pun mencoba menggenggap lengan Kamal yang langsung ditepis dengan kasar.
“Aaarrghh! Mas....” ucap Yonna dengan wajah yang sedih dan teriakan kesakitan sambil memegang lengannya yang sakit.
“Di sini banyak orang! Kita bicara di atas gedung saja!” ucap Kamal dengan suara yang sangat pelan.
#Bersambung#
Apa yang sebenarnya ingin dikatakan Yonna kepada Kamal nantinya? Jawaban apa yang akan dipilih oleh Yonna dan Kamal nantinya? Tebak jawabannya di kolom komentar ya...