Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
BAB 44. Dukung Penuh


Riana yang mengetahui Shasa jatuh pingsan karena terkejut bergegas memindahkan Shasa ke tempat tidur Shawn.


“Shawn! Ambilkan minyak kayu putih itu!” ucap Riana dengan nada suara dan ekspresi wajah yang panik.


“I-Iya, Ma!” ucap Shawn yang langsung melupakan rasa sakit dan pusingnya lalu dengan cepat mengambi barang yang diperintahkan oleh Riana padanya.


Shawn yang telah membawa minyak kayu putih segera menyerahkannya kepada Riana dan membuat Riana mengangin-aginkan wewangian minyak kayu putih itu hidung Shasa.


Shasa yang perlahan sadar langsung menangis tersedu-sedu dan Riana yang tak bisa mengatakan apapun untuk menenangkan Shasa yang sedih dan kecewa hanya memeluk Shasa begitu pula dengan Shawn.


Shasa yang meluapkan kekecewaan dan kesedihannya dengan menangis akhirnya merasa lebih tenang lalu terbaring dan tanpa disadarinya Shasa pun tertidur.


Riana yang kasihan dengan Shasa yang harus dipindahkan ke kamarnya pun meminta pengertian dari Shawn.


“Shawn! Mama minta tolong padamu! Bisakah kau jaga Shasa? Mama harus menyiapkan makan malam sekarang! Mama tidak mau Papamu berkata yang tidak enak didengar karena Mama tidak melakukan tugas Mama dengan baik!” ucap Riana dengan senyum yang lambut.


“Ya, Ma. Jangan khawatir, Ma. Shawn akan ada di sini untuk jagain Shasa. Jika Shasa sudah bangun. Shawn akan memberikan pengertian kepada Shasa agar dia menerima kenyataan ini!” ucap Shawn yang tanpa disadari oleh Riana telah menjadi anak yang dewasa.


Riana yang merasa sedikit lega pun meninggalkan Shasa pada Shawn lalu pergi ke kamarnya dan mengambil handphonenya.


“Aku tau Shawn berkata seperti itu hanya untuk membuatku tidak khawatir tapi sebagai seorang Ibu perasaan khawatir dan cemas ini tak bisa hilang begitu saja!” ucap Riana dengan ekspresi wajah yang sedih.


“Meskipun Shawn dan Shasa pada akhirnya bisa menerima situasi ini secara terpaksa tapi aku tak ingin meninggalkan luka di hati mereka! Aku harus melakukan sesuatu sebagai seorang Ibu!” ucap Riana dengan tatapan mata yang tajam.


“Aku tak ingin kedua anakku yang saat ini menjadi korban dari Seorang Ayah yang berselingkuh menjadi Pelaku di masa depan! Aku harus meninggalkan trauma mereka!” ucap Riana dengan tekad yang kuat.


Riana yang sedang memegang handphone pun memutuskan untuk mencari Klinik dimana Psikiater Anak yang bagus praktek.


Riana yang telah mencari cukup lama akhirnya mendapatkan yang dibutuhkannya dan dengan cepat membuat janji untuk kedua anaknya keesokan harinya di pagi hari.


Riana yang merasa lebih tenang segera memasak makanan untuk makan malam lalu saat malam pun tiba Riana yang menyadari bahwa Shasa telah kembali ke kamarnya setelah mendapatkan nasehat dari Shawn pun meminta Shawn memanggil Shasa untuk makan malam.


“Shawn, bisakah kau memanggil Shasa untuk makan malam bersama?” ucap Riana dengan nada suara dan ekspresi wajah yang lembut.


“Baik, Ma.” ucap Shawn dengan patuh lalu berbalik arah dan pergi menuju kamar Shasa yang tertutup sangat rapat.


“Shasa! Apakah kau di dalam? Apakah Kakak boleh masuk?” tanya Shawn dengan nada suara yang lembut sambil mengetuk pintu beberapa kali.


Shawn yang tak mendengar jawaban dari pertanyaan pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Shasa yang ternyata gelap gulita.


Shawn yang tau jika Shasa membutuhkan waktu sendiri untuk menenangkan dirinya tetap tidak berdaya dengan permintaan Riana yang khawatir akan kesehatan Shasa.


“Shasa! Mama sudah memasak makanan kesukaanmu. Ayo kita ke ruang makan dan makan bersama!” ucap Shawn dengan nada suara yang lembut sambil membelai kepala Shasa.


“Aku tidak lapar, Kak! Aku mengantuk. Aku ingin tidur!” ucap Shasa yang berdalih karena tak siap bertemu dengan orang-orang.


“Kakak tau kau mengantuk tapi bisakah kau tahan kantukmu sebentar saja demi Mama. Dalam hal ini bukan hanya kita saja yang terluka tapi juga Mama. Jika kita juga bersikap seperti ini maka bagaimana dengan Mama? Apakah Shasa ingin melihat Mama sedih dan menangis?” tanya Shawn dengan ekspresi wajah yang ikut sedih.


“Aku tak ingin melihat Mama sedih lagi karena cukup Papa saja yang melakukan itu. Shasa sayang pada Mama!” ucap Shasa dengan mata yang berkaca-kaca menunjukkan perasaan terdalamnya.


“Jika Shasa sayang pada Mama. Ayo kita makan. Mama sudah susah payah memasak untuk kita tapi kita justru menyia-nyiakan semua yang dilakukan Mama untuk kita!” ucap Shawn dengan nada yang lembut yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Shasa.


Shawn yang senang Shasa akhirnya setuju untuk makan bersama pun tersenyum lega lalu menuntun Shasa menuju ruang makan.


Riana yang melihat wajah sedih dan murung Shasa tak ingin membuat Shasa semakin sedih lalu memutuskan untuk tetap tersenyum dan mengabaikan rasa sakit hatinya.


“Ayo dimakan. Mama sudah masak sop daging kesukaan Shasa. Mama ambilkan, ya!” ucap Riana dengan nada suara yang ceria.


Namun saat nasi yang telah tercampur dengan sop daging itu terhidang di depan mata Shasa, Shasa yang memiliki banyak pertanyaan dan hal yang ingin diketahui pun membuka suaranya.


“Berapa lama Mama tau kalau Papa berselingkuh dari Mama? Kenapa Mama menutupi kenyataan ini dari Shasa dan Kakak?” tanya Shasa dengan suara yang lantang dengan ekspresi wajah yang kesal dengan tangan menggenggam erat pakaiannya.


Riana yang tau jika saat dimana dirinya harus mengatakan semuanya secara jujur kepada kedua anaknya telah tiba pun menarik nafas panjang lalu mengatakan semuanya.


“Mama mengetahuinya sejak beberapa bulan yang lalu dan Mama sengaja tidak mengatakan ini karena Mama tidak ingin kalian sedih. Mama juga tak ingin menghancurkan pikiran dan kepercayaan kalian tentang Papa kalian!” ucap Riana dengan kepala tertunduk ke bawah.


“Mama minta maaf. Mama tau Mama salah karena menyembunyikan kenyataan ini tapi Mama melakukan itu semua demi kalian. Mama sayang pada kalian berdua! Kalian adalah permata hati Mama!” ucap Riana yang tanpa sadar meneteskan air mata di hadapan Shawn dan Shasa.


“Mama mengetahui keburukan dan kejahatan Papa tapi kenapa Mama tidak meminta cerai saja dari Papa? Apakah Mama memilih untuk bertahan dan diam demi kebaikan kami lalu mengorbankan diri Mama?” tanya Shasa yang tidak senang dengan sikap Riana yang mengorbankan kebahagiannya demi dirinya.


Riana yang mendengar perkataan Shasa pun terkejut. Riana berpikir jika Shasa ingin dirinya dan Kamal tetap bersama apapun yang terjadi lalu merebut Kamal kembali dari tangan Yonna tapi pertanyaan Shasa menyadarkan Riana untuk tidak goyah lagi dan lagi.


“Tidak! Mama tidak meminta cerai sekarang karena Mama sedang mengumpulkan semua uang yang bisa Mama ambil terlebih dahulu. Mama membutuhkan uang untuk masa depan kita karena Mama tau jika Mama bercerai begitu saja maka Papa kalian pasti akan melupakan tanggung jawabanya pada kalian!” ucap Riana sambil menghapus air matanya.


“Mama tidak bisa membiarkan selingkuhan Papa bahagia dan menikmati semua ini sementara ini semua adalah hak Mama dan kalian! Mama sudah merencanakan cerai jika semuanya sudah selesai!” ucap Riana dengan tekada yang kuat.


“Jika itu yang Mama putuskan maka Shawn akan mendukung Mama!” ucap Shawn yang tiba-tiba angkat bicara lalu memegang tangan Riana dengan ekspresi wajah yang serius.


“Shasa juga setuju dengan Kakak! Mama harus mengamankan semua aset lalu tinggalkan Papa!” ucap Shasa yang ikut memegang tangan Riana.


“Shasa dan Kakak tidak keberatan jika hanya hidup bertiga dengan Mama dan tanpa adanya Papa di sisi kami!” ucap Shasa dengan senyum yang lembut.


Riana yang mendengar keputusan kedua anaknya yang dipaksa oleh keadaan menjadi dewasa merasa senang tapi sedikit khawatir.


“Terima kasih! Terima kasih sudah mendukung keputusan Mama!” ucap Riana lalu memeluk kedua anaknya sambil tersenyum bahagia.


Riana yang telah menjernihkan pikirannya dan telah membulatkan tekadnya setelah mendapatkan dukungan penuh dari kedua anaknya pun makan malam bersama sambil tertawa dan melupakan masalah besar yang sedang dihadapi ketiganya.


#Bersambung#


Riana sudah mendapatkan dukungan terbesar dalam hidupnya dalam membuat keputusan. Apa yang akan dilakukan Riana kepada Kamal dan Yonna? Tebak jawabannya di BAB selanjutnya.