Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 84


Ponsel Alex kini terdengar berdiring, membuat Alex menyuruku untuk menganggkatnya.


"Kaira, tolong angkat panggilan telepona dari ponselku, " ucap Alex padaku.


"Ponselnya di mana?" tanyaku sembari mencari sumber suara ponsel milik Alex.


Alex menunjuk dengan jari tangannya, pada saku celana, ia menyuruhku untuk mengambilnya dengan tanganku.


Sedikit ragu ragu, namun Alex menyuruhku untuk cepat mengangkat panggilan telepon.


"Ayo cepat, ambil. "


Masih merasa geli, karena menginggat batang milik Alex begitu besar, membuat aku bergidik ngeri.


"Hey, kenapa?"


Ingatan itu terus terbesit dalam pikiran ini, membuat aku tak fokus. " Hmm, kenapa? Apa kamu terpikirkan akan kepunyaanku. "


Mata yang tadinya menutup terbuka lebar, aku dengan sepontan tampa kesadaran diri menampar wajah Alex.


Plakk ....


"Aw. Kaira kenapa kamu tampar aku. "


Melipatkan kedua tangan, menatap ke arah jendela.


"Ahk, sepertinya kamu terpancing dengan ucapanku ya. "


"Hey, jangan ngaco ya kamu. Siapa juga yang suka." Menatap sekilas, lalu bergidik ngeri.


Alex yang terlihat santai mengendari mobil, kini tertawa terbahak bahak, di depanku membuat aku semakin kesal.


Suara ponsel kembali berdering. Alex mengedipkan mata, membuat aku yang melihanya berusaha tak peduli.


"Kaira, tolong lah."


"Nggak mau, kenapa nggak kamu ambil saja sendiri. "


"Aku kan sedang memegang setir mobil, jadi susah. "


"Alasan kamu saja. "


Alex terdengar menghela napas, " Ya sudah kalau kamu tak mau mengangkat panggilan telepon dari ponselku. "


"Ya sudah, kalau begitu. "


"Hanya saja, kalau adikku menelepon, aku tinggal bilang saja, kamu tidak memperbolehkanku mengangkatnya. "


"Hey, kenapa begitu. "


"Ya, habisnya kamu tidak mau mengangkat panggilan telepon dari Gina. "


Aku malah semakin kesal di buat Alex saat ini, bisa bisanya ia ingin memfitnahku di depan Gina. Keterlaluan, dasar lelaki menyebalkan.


"Kaira, ayo angkat. "


Aku mencoba meraba saku celana Alex, tampa melihat ke arah celana itu. Membuat Alex terdengar m£nd*$h." Terus. Ya. "


" Apaan sih, kamu. "


Alex kambali tertawa, membuat aku yang sudah berpengalaman ini menjadi canggung. " Sialan, kamu menipuku. "


Lelaki di sampingku malah terlihat senang kegirangan, ia mengedipkan matanya berulang kali, menggerakan bibirnya. Seperti ingin menciumku.


"Ahk, kamu memang lucu Kaira. Beruntung juga aku mendapatkan janda semok, bohay. Cantik, mandiri seperti kamu. "


Sialan, ingin marah malah menjadi senang karena mendengar pujian terlontar dari mulut Alex.


Kadua pipi ini memerah ingin sekali mencubit bibirnya, yang baru pertama kalinya memujiku.


"Geer ya. "


"Apaan sih. "


Ucapan Alex membuat aku menjadi malu sendiri, bisa bisanya ia mengatakan hal seperti itu.


Tangan kanan kini mengambil ponsel yang terus berdering, membuat aku berucap dengan nada ketus. " Hey, itu. Kamu bisa ngambil ponsel sendiri. "


Entah yang keberapa kalinya kamu dikerjain oleh Alex, lelaki yang sudah menjadi suamiku ini, benar benar pintar dalam urusan mengerjai orang.


Apalagi aku sebagai istrinya.


"Dih, apaan sih."


Aku yang memang dari dulu mudah baper, membuat ekspresi dari wajahku tak bisa di sembunyikan, antara senang dan suka jika di gombalin.


Kini wajah Alex berpindah ke mode serius, ia mengangkat panggilan telepon.


"Halo, Gina. Ada apa?"


Mengeraskan suara pada panggilan teleponnya, Gina tampak kesal kepada Alex, karena baru mengangkat panggilan telepon darinya.


"Kakak ini, ngapain saja sih. Baru mengangkat panggilan telepon dari Gina. "


"Maaf Gina tadi kakak sedang mengendarai mobil, jadi susah mengangkat panggilan telepon dari kamu. "


Mendengar kebohongan Alex, aku berucap pelan, " alasa saja. "


"Ada apa Gina?"


Sang adik mulai mempertanyakan, penangkapan ibunya, apa berhasil atau tidak.


Dengan perasaan dan ekfresi senang, Alex berucap dengan begitu bangganya. " Kamu jangan kuatir, Bu Tari sudah tertangkap. Tinggal polisi mengurusnya. "


"Ah, benarkah. Syukurlah. Kali kali wanita itu harus di beri pelajaran agar dia sadar dan isyap. "


Alex berusaha menenangkan Gina, mengigatkan adiknya kalau Bu Tari tetap ibu kandung yang sudah melahirkan Gina susah payah.


"Gina. Ingat dia itu ibu kamu loh, sebenci apapun kamu harus bisa mendoakan dia yang baik baik. "


"Iya, iya aku tahu itu. Tapi aku sebal sama dia. Kenapa bukan Bu Parida saja ibu kandung Gina, dia wanita baik yang sudah melerakan nyawanya demi Gina, yang bukan anak kandungnya. Sedangan Bu Tari, hanya membuat rusuh saja. "


"Gina, kakak tahu kamu begitu kecewa sekali, alangkah baiknya kamu tetap menjaga lisan kamu itu."


"Ahk, percuma ngomong sama kakak. Nggak membuat aku tenang, oh ya kak. Gimana ke adaan Kaira? Apa dia baik baik saja? Aku sangat kuatir dengan ke adaanya, takut jika Bu Tari melukai Kaira."


Sebelum menjawab perkataan Gina, Alex menatap ke arahku, ia mengedipkan mata, membuat aku ingin muntah.


"Kamu jangan menghuatirkan ke adaan Kaira, dia aman sekarang. Tak ada luka lecet pada tubunya, semua mulus. Kok. "


Alex terlihat memandangi tubuhku dari ujung kaki sampai ujung kepala, mejulurkan lidah seperti ular sawah.


"Apaan sih. " Ketusku menatap ke arahnya, Alex terlihat semakin menjadi jadi, pikirannya entah kemana.


"Syukurlah kalau Kaira, tidak kenapa kenapa. Aku sangat menghuatirkan keadaanya, takut jika ia kenapa kenapa. Bagaimana pun dia bagian dari keluarga kita. "


Mendengar ucapan dari sambungan telepon, yang aku dengar, membuat hatiku tersentuh. Ternyata Gina sudah menerimaku sepenuhnya.


Aku sangat bahagia ketika ketulusan sudah ada di depan mata, tak menyangka jika Kebahagiaan akan datang begitu cepat tanpa aku duga.


"Kak Alex, aku ingin berbicara dengan Kaira. "


Alex mengganggukan kepala menyuruhku untuk memegang ponselnya, aku yang senang dengan Kak Gina yang sudah menerimaku sepenuhnya.


Membuat aku langsung memanggil namanya." Gina, "


"Kaira, kamu baik baik saja kan. Aku sangat menghuatirkan kamu. "


"Sama aku juga sangat menghuatirkan kamu, gimana keadaan kamu sekarang?"


"Aku baik baik saja, Kaira. Kamu tenang saja, tak perlu menghuatirkan aku. "


"Sykurlah."


"Oh ya, tolong katakan pada kak Alex. Untuk menjemputku sekarang juga, aku ingin melihat Bu Tari masuk ke dalam penjara, melihat pembelaannya tentang kejahatan yang ia lakukan kepada kamu. "


"Baiklah."


Gina langsung mematikkan panggilan telepon, dimana aku memberi tahu Alex untuk segera menjemput Gina.


Alex menganggukka kepala, ia berucap dengan nada terdengar ragu. " kalau aku mempertemukan Gina dengan Bu Tari, bagaimana nantinya, kamu sudah tahukan betapa bencinya Gina pada ibu kandungnya sendiri. Aku takut dan merasa sedikit kasihan pada Bu Tari yang tak di anggap sedikitpun oleh Gina."


"Benar juga apa yang kamu katakan Alex, ya terus kita harus gimana, kamu tahu sendirikan adik kamu itu wataknya keras kepala, tak bisa di bantah jika mengiginkan sesuatu harus di turuti, tak bisa di tunda tunda. "


"Iya juga sih. "


"Apa ada alasan lain, untuk tidak mempertemukan mereka?"


Kami mulai memikirkan cara, untuk tidak mempetemukan ibu dan anak sementara waktu.