Pembalasan Istri Sah

Pembalasan Istri Sah
Bab 81


(Kaira, gimana.)


Menghela napas, aku juga tak tega dengan suamiku yang terlihat kewalahan dalam menangani adiknya. Dengan terpaksa menyuruh sang sopir mengatarkan aku kembali ke penjara.


"Putar balik pak. "


"Baiklah."


Entah masalah ini kapan selesainya, aku sangat pusing sekali menangani Gina, semenjak ia pulih. Gina seperti anak kecil yang begitu susah di beri tahu.


Padahal Gina adalah sahabatku yang selalu mengerti akan ke adaanku, selalu mendengarkan nasehatku. Ia orang yang begitu dewasa dalam segala hal.


Tak pernah membantah, kita selalu melakukan tindakan dengan sangat hati hati. Tapi sekarang Gina benar benar berubah, dia keras kelapa, susah di atur, tidak dewasa seperti dulu.


Gina semua salahku juga, harusnya dia tidak ikut dalam masalahku, karena aku Gina menjadi korbannya sekarang.


Bodoh kamu Kaira, kenapa aku begitu telat menyadari kejahatan Gunawan, kenapa. Sampai korban banyak berhamburan dimana mana, karena ulah dan kesombongan Gunawan.


"Gina, kenapa kamu berubah. Aku rindu kamu yang dulu, sahabatku yang selalu menasehatiku. "


Mengeluh dengan ke adaan Gina yang sekarang, aku tak sanggup lagi menahan isak tangis ini, sampai kutumpahkan semua dengan air mata yang tak henti hentinya keluar, membasahi pipi.


Mengusap dengan tisu, perasaan terasa tak tenang, gelisah.


Sampai di penjara, aku masih melihat mobil Alex terparkir, " Alex, Gina. Mereka belum pulang dari tadi. "


Mencari keberadaan Alex dan Gina, saat itulah. Mereka sedang mengobrol berdua di taman. Tak berani mendekat, aku mulai mendengar obrolan mereka di dekat pohon yang lumayan besar tak jauh dari kursi yang diduduki mereka berdua.


"Kak Alex, apa aku tak pantas bahagia?" tanya Gina pada Alex dengan keputus asaanya.


"Kamu ngomong apa, Gina. Jelas kamu itu pantas bahagia!" balas Alex, berusaha menyakini sang adik, menjauhi keputus asaan.


"Lalu kalau aku pantas bahagia, kenapa penderitaan yang selalu aku rasakan saat ini?" Pertanyaan yang pastinya susah dijawab oleh Alex, terlebih lagi ia tidak biasa menangani kesedihan seorang wanita.


Karena sikap Alex yang cuek.


Menghela napas, ada rasa sesak yang aku rasakan saat ini. Ingin menghampiri Gina dan menjawab kesedihannya, namun aku tak yakin.


Alex mulai menyenderkan kepala Gina, pada bahunya, " kenapa kamu berbicara seperti itu, Gina. Kamu sekarang ini sudah bahagia. "


"Tapi aku tidak merasakannya kak. "


Baru pertama kalinya, aku melihat Alex menangis untuk Gina, ia berusaha mengusap air matanya, " Kak Alex, apa kakak menyayangi Gina?"


Alex berusaha tertawa, menyembunyikan kesedihannya. " Jelas, kakak sangat sayang pada kamu, walau tak ada hubungan darah di antara kita!"


"Tetap saja, setelah kakak menikah nanti, Gina akan kesepian. "


"Kenapa kamu malah berbicara seperti itu, kakak tidak akan tinggalkan kamu sampai kapan pun. "


Aku yang melihat Gina seperti itu tak kuasa menahan air mata. Sakit hati dan marah pada diri sendiri.


"Gina. Kamu terlalu menderita. " Gumamku dalam hati, kini aku mulai mendengarkan percakapan mereka lagi.


"Kenapa kamu malah bilang kakak ini pembohong. Hey, kapan kakak membohongi kamu. "


"Tidak pernah sih, tapi Gina takut, kakak pergi. Dan tak peduli sama kakak. "


"Gina, walau kakak sudah menikah, kakak akan tetap menyayangi kamu, asal kamu mau menurut apa yang dikatakan Kaira. Asal kamu tahu, kaira itu marah dan tak mau mendengarkan keinginan kamu, Kaira itu cemas dan ketakutan, jika Gunawan tidak menepati janjinya. "


Tersentuh dengan perkataan Gunawan, aku tersenyum senang, jika ia begitu bijak dalam menasehati adiknya.


Aku mulai mengintip mereka lagi, dimana Alex mengusap pelan perut Gina. " Bayi ini, tidak memerlukan seorang ayah. "


Sontak Gina terkejut, " apa. Kakak jangan bercanda. "


"Biar kakak dan Kaira saja yang mengurus bayi ini setelah lahir nanti, kakak akan bebaskan kamu untuk meraih cita citamu yang belum sepenuhnya tercapai, jadi jangan terlalu dipikirkan untuk kedepannya, untuk kehidupan kedepannya. Kakak akan berusaha ada di samping kamu, walau tidak setiap saat. "


"Kakak memang yang terbaik. "


Gina memeluk erat tubuh Alex, ia mempelihatkan rasa nyaman seorang adik pada kakaknya.


Tak ingin menganggu ke nyaman dan ketenangan mereka, aku memutuskan untuk menunggu di mobil.


Saat berjalan ke arah mobil, ponsel kembali berdering. Alex mengirim pesan padaku. ( Kamu dimana?)


(Aku baru saja sampai, sekarang ada di parkiran mobil. )


(Aku dan Gina akan menyusul.)


Menunggu, dimana terik matahari menyilau, sedikit membakar tubuh ini. Aku melihat dari kejahan Gina dan Alex terlihat fokus berjalan dan menggobrol, mereka terlihat tak mempehatikanku sama sekali.


Berusaha melambaikan tangan, mencoba memanggil mereka berdua.


Brak.


Terkejut, ada tangan yang tiba tiba saja menutup mulutku, membuat aku berusaha melawan.


"Lepaskan." Di dalam hati, berusaha melawan. Tangan yang menutup mulutku begitu kuat.


Membuat aku merasa pusing, berusaha melawan lagi, dengan menendang kaki lelaki itu.


Namun sangat disayangkan, aku mencium kain yang membekam mulutku sampai merasakan rasa pusing dan saat itulah kesadaranku menghilang.


Kenapa tidak ada yang membantuku saat ini, padahal aku berada di lingkungan penjara.