
"Saya tak yakin mengatarkan bapak menemui Gina, karena dia begitu membeci ibu kandungnya sendiri. Terlalu serakahnya Bu Tari, mengakibatkan ia kehilangan segalanya, dendam yang membara pada Almarhum Bu Parida, membuat Gina tak mau melihat Bu Tari lagi, sampai ia melerakan Ibu kandungnya sendiri masuk ke dalam penjara. "
"Nak, kalau memang seperti itu. Apa kamu bisa menitipkan salam untuk anakku, jika aku sangat menyayanginya dan merindukkannya. "
Ferdi hanya menganggukkan kepala," kalau hal itu, saya akan usahakan, semoga saja. Gina menerima salam dan kata rindu dari anda. "
Lelaki tua itu hanya bisa tersenyum, merasa sedikit lega dalam hatinya, ketika mengutarakan keinginannya.
"Kamu siapanya Gina?"
Pertanyaan lelaki tua itu membuat Ferdi terdiam.
"Nak."
Kembali bertanya, dimana Ferdi berusaha menjawab dengan nada sedikit berat. " Ah, iya. Pak. "
Tangan yang sudah terlihat mengkerut itu memukul pelan bahu Ferdi. " kenapa kamu malah melamun nak. "
Memijit sedikit hidung, " saya tidak kenapa kenapa. Kalau begitu saya pergi dulu. "
Berpamitan untuk pergi, lelaki tua itu hanya memandangi Ferdi yang pergi jauh dari hadapannya.
Berjalan penuh keraguan, Ferdi mulai merogok saku celana melihat ponsel yang berdering dari tadi.
"Kak Alex. "
Ferdi lupa janji antara dirinya dan juga Alex, untuk bertemu di cafe, memukul jidat. " karena menolong bapak kandung Gina, aku lupa janji dengan Kak Alex bertemu di cafe. "
Mengagkat panggilan telepon, " Halo, kak."
"Kamu dimana? Saya sudah ada di cafe bintang. "
"Maaf kak, Ferdi lupa, kalau begitu Ferdi ke sana!"
"Oke, saya tunggu. "
Ferdi tergesa gesa berlari menuju mobil untuk segera menemui Alex, menatap jam tangan, sudah pukul dua siang. Dimana Alex kemungkinan sudah menunggunya dari tadi.
Suasana cafe yang terlihat sepi dan tidak banyak pengunjung, membuat Kaira merasa bosan menunggu.
"Katakanya dia lupa, ada urusan mendadak. "
Mendengar perkataan sang suami, membuat Kaira semakin bosan.
"Ferdi, dia gimana sih. Sudah dikasih janji tapi lupa. "
Sang suami yang berada di hadapan Kaira, mencoba membujuk, memegang tangan lembut milik istrinya dengan berkata. " hmm. Yang sabar ya. Pasti Ferdi datang. "
Meganggukkan kepala, akhirnya Kaira mencoba mengerti perkataan suaminya.
Dua puluh menit kemudian, Ferdi datang. Dengan keringat yang terlihat berhamburan, ia mempelihatkan wajah bersalahnya.
"Kak Alex, maaf. "
Kaira hanya memandangi wajah Ferdu sekilas, " ya sudah kamu duduk, ada yang ingin kita bicarakan pada kamu. "
"Baik kak. "
Ferdi mulai duduk, menjelaskan semua rencana yang akan ia berikan pada Ferdi.
Dimana banyak sekali keraguan dan pertimbangan dalam diri Ferdi.
"Kenapa Ferdi, apa kurang jelas semua yang saya katakan, apa kamu tidak setuju dan tidak suka dengan rencana saya?"
"Kalau Ferdi jujur, iya kak. Ferdi kurang setuju, terlebih lagi Gina orang yang keras kepala, tak bisa di beri tahu. "
Menepuk bahu Ferdi, berulang kali, Alex mulai berucap. " apa yang membuat kamu ragu. "
Dengan terpaksa Ferdi menceritakan semua pertemuan dirinya dengan ayah kandung Gina, dimana keduanya tampak syok dan masih tak percaya.
"Kamu jangan bercanda Ferdi. "
"Kalau kak Alex tak percaya, sekarang kita pergi ke rumah sakit, untuk menemui sosok lelaki yang mengaku bahwa dirinya ayah kandung Gina."
Keduanya saling menatap satu sama lain, masih tak percaya.