Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 9 - Baikan dan Jadian?


Sekarang disekolah sudah seperti biasanya lagi. Sudah tidak ada lagi Dandy yang berpaling jika bertemu denganSeira. Sudah tidak ada lagi Dandy yang menjauh jika ada Seira. Sudah tidak ada lagi Dandy yang galau karena Seira.


Sudah tidak ada lagi Dandy yang cemburu dengan Seira—eh, ini masih ada sedikit. Sudah tidak ada lagi Dandy yang melamun memikirkan Seira—ini, juga kadang masih tapi tidak memikirkan yang sedih-sedih. Hanya ada hari-hari yang menyenangkan untuk Dandy.


Seperti saat ini yang paling banyak kena imbas ya si Haikal. Karena dari tadi Dandy tidak berhenti bercerita tentang Seira. Ingin rasanya Haikal berteriak sudah cukup tapi apalah daya nanti anak TK ini nangis lagi. Dia kemarin saja menghibur Dandy butuh banyak perjuangannya.


Dandy bercerita jika Seira yang nyamperin dia duluan. Seira membantunya mengerjakan tugas dari bu Irina. Seira juga menjelaskan kesalah pahaman tentang yang ini, Dandy terus mengulang-ulang bahwa—


"Ternyata Seira sama kak Ravan nggak pacaran Kal. Mereka nggak ada hubungan apa-apa!"


Haikal hanya mengangguk dan mendengarkan celotehan Dandy yang seperti anak TK habis dibelikan mainan. Nggak habis-habis bicaranya.


Haikal sudah menghitung mungkin sudah sekitar sepuluh kali Dandy mengulang yang Seira sama Ravan tidak pacaran. Heran Haikal dia waktu pertama kali kesengsem sama Melisa nggak kayak gini amat perasaan deh.


Mungkin Haikal melupakan fakta bahwa dia melebihi Dandy gilanya. Dulu dia pernah sampai mau masuk ke selokan karena nggak merhatiin jalan waktu liat senyumnya Melisa.


Balik ke Dandy ya biasa Dandy lagi senyum-senyum bahagia. Dandy sebenarnya sudah pernah bahkan sering mau nawarin Seira untuk pulang bareng tapi selalu ditolak halus oleh Seira. Ya mau gimana lagi, Dandy gak punya hak juga si buat maksa.


Dandy ingin sekali meresmikan hubunganya dengan Seira, karena diliat-liat juga Seira sepertinya ada rasa juga sama Dandy. Kalau tidak ngapain Seira mau-mau saja nurutin perkataan Dandy yang disuruh jangan terlalu dekat dengan Ravan.


Seira memang sudah sedikit jaga jarak sama Ravan tapi tidak terlalu kelihatan. Yang memperhatikam cuma Dandy. Dan Dandy bahagia berarti Seira fix ada rasa sama dia. Tapi sekarang cuma tinggal tunggu waktu yang tepat saja buat menembak Seira.


Karena pasti selalu ada saja halangan. Pernah mau menembak Seira waktunya sudah sangat pas, tinggal sedikit lagi mereka jadian, eh Seira malah terpleset di koridor waktu mau menemuin Dandy dan gagal lah. Berakhirlah Seira dibawa ke UKS.


Pernah waktu istirahat mereka sudah janjian, alasan Dandy meminta dianterin Seira untuk mengembalikan buku yang dipinjamnya untuk menulis rumus waktu kemarin itu, dan niatnya Dandy mau nembak di perpus, tapi Seira malah dipanggil ke ruang Kepala Sekolah untuk bimbingan Seira yang ikut cerdas cermat, dan gagal lagi.


Satu lagi waktu malam minggu waktu yang menurut Dandy pas banget. Dia sudah dandan rapi dan sudah minta ketemuan dengan Seira ditaman yang waktu mereka pertama kali ketemu, malah semesta tidak mendukung.


Tiba-tiba hujan sangat deras padahal tadi tidak ada tanda-tanda mau hujan. Dan gagal untuk kesekian kalinya. Mau nangis aja tuh Dandy kalo kayagini terus. Mana yang ngincer Seira itu banyak.


Walau sudah bukan Ravan lagi karena dia sudah pacaran dengan musuhnya. Yang mendekati Seira itu masih banyak kakak kelas lainya, yang sudah kelas tiga pun masih pada mendekati Seira, doi kelewat manis sih.


Mana sainganya kayak kak Chrish matan kapten basket, udah tinggi, ganteng,  pinter lagi. Padahal cewek yang ngejar dia kan banyak, kayak kak Bianka yang centilnya naudzubilah si cabai dari segala cabai.


Juga si alien absurd yang kelakuanya kayak orang kena sawan kalo ada Seira, kelakuanya memang nggak pernah bener sih. Kak Theo si most handsome. Padahal doi udah punya pacar Kirana anak tingkat dua anak silat pula.


Biasanya kalau kak Theo lagi ketahuan godain Seira, langsung dihajar sama Kirana. Tapi nggak ada kapok-kapoknya masih godain Seira terus tuh orang jadi gregetan Dandy.


Udah kalo terus-terusan kayagini nggak kuat Dandy. Mau ngelarang mereka Dandy nggak ada hak juga. Jalan satu-satunya, cuma buat Seira jadi pacarnya dulu.


Dan sekarang Dandy lagi ngejalanin rencananya. Maksa Seira buat pulang bareng dia. Seira memang sempat nolak tadi, tapi dengan alasan sekalian Dandy mau main ke rumah ponakanya itu Seira jadi akhirnya mau.


Lagian Dandy juga mintanya kaya anak anjing yang minta dikasih makan. Nggak tega juga Seira nolaknya.


Disinilah Seira didalam mobil Dandy. Diperjalanan banyakan cerita Dandy yang menceritakan tentang masa kecilnya terkadang Seira tersenyum dan ikut berkomentar. Menceritakan tentang orang tuanya juga, dan bercerita tentang kepindahanya kesini.


"Kalau orang tua kamu gimana Ra?"


Dandy bertanya karena merasa sudah banyak dia yang bercerita, gantian dia yang ingin mengetahui kehidupan Seira sekarang.


Seira menarik napas panjang dan bercerita. "Ayah sama Ibu aku sudah meninggal dari aku kecil karena kecelakaan."


Raut wajah Seira langsung berubah sedih. Dandy yang merasa tidak enak hatu sudah menanyakan itu, meminta maaf ke Seira dan berkata sudah tidak usah membahas itu lagi.


Akhirnya mereka sampai di taman. Seira bertanya katanya mau ke rumah tantenya dulu, tapi Dandy menjawab suasananya lagi enak buat nongkrong bentar. Yasudah disinilah mereka. Duduk berdua masih memakai seragam sekolah pula.


Dandy menjadi gugup padahal tadi sudah disiapin matang-matang buat ngomong. Tapi waktu berduaan begini kok malah gugup banget, kaya semua ucapan yang sudah disiapin Dandy tertahan dan mendadak hilang entah kemana. Dandy memperhatikan wajah Seira dari samping dan dengan mantap mau bilang semuanya.


"Sei—"


"SEIRA....!"


Ucapan Dandy teredam dengan seseorang yang meneriakan nama Seira lantang. Mereka berdua menoleh kearah sumber suara. Dan ternyata itu adalah—?