Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 18 - Bermain Peran


Disekolah pelajaran fisika adalah pelajaran yang paling disukai oleh Seira. Bu Becky yang mengajar, dia mengadakan kerja kelompok.


Seira malah satu kelompok dengan Brian, untungnya ada Melisa. Mereka sudah duduk berkelompok sedang berdiskusi untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketuanya.


"Seira kamu yang jadi ketuanya aja ya." Ucap Yaya sambil menyobek kertas yang akan ditulis daftar nama kelompok mereka.


"Hah kok aku?" Seira tidak terbiasa menjadi ketua soalnya.


"Jangan deh, nanti susah mraktekin teorinya. Gimana kalau Brian aja, kamu kan cowok sendiri." Ucap Keysha sambil menunjuk Brian. Mereka mengangguk setuju dan melirik Brian menunggu komentarnya.


Brian mengangguk setuju. “Oke!”


"Nahh, berarti ketuanya Brian." Yaya menulis di kertas yang akan diserahkan ke bu Becky.


"Mau belajar dimana?" Melisa menatap semua anggota kelompok.


"Rumah aku aja gimana?" Yaya menawarkan diri, rumahnya tidak begitu jauh dari sekolah soalnya.


"Boleh, kita gantian aja ya." Melisa menyarankan, agar adil.


"Boleh deh, eh Sira sama Brian setuju kan?" Tanya Yaya memastikan, soalnya daritadi cuma mereka saja yang tidak ikut berkomentar.


Biasanya itu Seira kalau ada kelompokan jadi yang paling semangat mengaturnya, teman-temanyanya cuma terima beres dan setuju. Tapi kali ini dia cuma diam saja.


"Setuju kok." Balasnya sambil tersenyum, soalnya pikiran Seira lagi berada ditempat lain.


Sedangkan Brian menganggukan kepalanya tanda setuju. Tapi jauh dalam pikirannya, dia sudah menyiapkan rencana besar.


Kring!


Sekarang waktunya istirahat mereka sedang di kantin, makan juga cerita-cerita sambil bercanda. Seira belum bilang ke Dandy kalau dia ada tugas kelompok dengan Brian.


Nanti saja dikasih tau pikirnya, lagian sama Melisa juga. Tiba-tiba Ayunda heboh sendiri melihat Brian datang ke kantin.


"Ehh, itu cogan mau kesini ya? Duh lipstiku luntur bedak mana bedak dandan dulu ah." Ayunda langsung dandan nebelin mukanya makai bedak dan memoles bibirnya pakai lipstik sampai ngejreng.


Milka mau ikutan tapi disebelahnya Arbie sedang menatapnya datar. Kemarin saja waktu ketahuan lagi godain cowok bareng Ayunda, dia didiemin Arbie lama banget. Milka mengurungkan niatnya, dia senyum kearah Arbie yang mengangguk.


Tak lama Brian sudah sampai dan malah berhenti di meja mereka. "Boleh gabung nggak? Disana udah penuh.”


Brian berkata sok asik, memang sih kantin kelihatan sudah penuh. Tapi tempat mereka juga penuh. Ayunda malah tersenyum ganjen, dia bergeser secara suka-suka.


"Boleh, sini-sini." Ayunda nyuruh Brian duduk didekatnya. Sedangkan Dandy langsung membuang muka.


"Ooh temannya Dandy banyak ya disini." Mereka yang tidak mengerti arah pembicaraan Brian hanya mengangguk saja.


Tapi Ayunda itu kepo dia langsung bertanya. "Kamu kenal sama Dandy?"


"Dandy nggak bilang ke kalian ya? Oh mungkin dia lupa. Kenalin Brian Lee sahabat Dandy waktu di Kanada dulu." Brian melirik ke Dandy yang acuh dengan kehadiranya.


"Waktu di Kanada dulu, teman Dandy cuma aku ya nggak Dan. Senang deh kamu udah punya banyak teman sekarang."


Cerita sok akrab dari Brian yang membuat mereka menganggukan kepala. Dandy hanya merespon dengan raut datar. Mereka yang merasa ada hawa-hawa nggak enak ikutan diam saja.


"Aku ke toilet dulu." Dandy pamit langsung pergi meninggalkan mereka. Seira menatap Dandy yang sudah pergi dengan pandangan yang bingung.


...*****...


Seira sudah bilang ke Dandy dia ada kerja kelompok sama Melisa, juga ada Brian. Awalnya Dandy sempat mau melarang tapi dengan diyakinkan Seira bahwa dia bakal aman-aman aja. Lagian ada yang lainya juga akhirnya Dandy mengijinkannya.


Seira saja yang tidak tahu bahwa sekarang mereka mengerjakan tugas di Apartemen Brian, rencana pertama yang rumah Yaya batal karena dirumah Yaya sedang diadakan arisan, makanya diganti di Apartemen Brian.


“Iya hallo ma ..."


"....."


"Dirumah teman lagi ngerjain tugas."


"....."


"Bentar lagi pulang kok."


"...."


"Ckk...yaudah iya iya Melisa pulang sekarang."


"....."


"Iya ...." Diakhiri oleh Melisa dengan muka bete, dia lalu menghampiri Seira. "Ra aku harus pulang, ada hal penting dirumah. Aku tinggal ya, eh kamu pulangnya gimana nanti?"


"Biar Seira pulang sama aku, kita sejalan kok." Keisya menawarkan diri, dan Seira mengangguk.


Melisa tersenyum lega, dia pamit untuk pulang. "Yasudah... Aku tinggal ya, duluan semua."


Mereka lalu kembali serius membahas tugas. Sekarang sudah sore dan mereka pamit sama Brian mau pulang. Setelah mengantarkan mereka sampai luar pintu, Brian merebahkan dirinya di sofa tapi dia menemukan ada sesuatu yang tertinggal di sana.


Brian menyunggingkan senyumanya ketika tau itu barang siapa. "Lets show time." Brian tertawa seperti orang gila.


Keisya dengan Seira sudah sampai diparkiran, tapi Seira mencari Hpnya nggak ada dan dia baru ingat, sepertinya tadi ia taruh disamping meja dan Seira lupa untuk mengambilnya dan ketinggalan di Apartemen Brian.


Seira langsung bilang ke Keisya bahwa dia harus mengambil hpnya.


"Mau aku anterin?" Tawar Keisya.


"Nggak usah, aku bakal cepat kok." Seira menolak soalnya nggak enak sudah menumpang pulang sekarang disuruh menungguin dia lagi.


"Yaudah aku tungguim disini ya Ra." Kesya masuk ke mobilnya menunggu Seira.


Seira berjalan dengan cepat, untungnya Apartemen Brian itu berada dilantai dua jadi dia menaiki tangga saja dan sudah langsung sampai didepan pintu. Tidak lama bel pintu Apartemen Brian berbunyi. Brian tersenyum pasti dia yang ditunggu-tunggu.


Cklek!


"Loh Ra, kok balik ke sini lagi. Ada yang ketinggalan?" Tanya Brian dengan raut wajah yang pura-pura kaget.


"Ah iya, maaf Brian, tadi Hp aku ketinggalan disini." Seira merasa tak enak hati karena mengganggu.


"Yasudah ayo masuk." Ajak Brian sambil tersenyum.


"Loh kok nggak ada?" Ucap Seira kedirinya sendiri, soalnya tadi dia memang menaruhnya dimeja tapi kenapa sekarang tidak ada.


Tiba-tiba Brian mendekat. "Inikah?"


Ditangan Brian ada Hpnya, Seira tersenyum dan ingin meraihnya. Tapi Brian dengan cepat melemparkan benda itu keluar jendela.


Seira menatap Brian dengan bingung Seira ingin protes tapi Brian dengan cepat menarik Seira ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat-rapat.


Sedangkan dimobil Keisya sudah menunggu Seira lama sekali, dia lalu memutuskan untuk menyusulnya. Dia sudah sampai didepan pintu Apartemen Brian dan memencet bel pintunya, tapi tak ada jawaban Keisya memanyunkan bibirnya.


Keisya mengetuk-ngetuk pintu juga tak ada jawaban. Tapi tak lama Kesya mendengar ada suara seseorang yang menjerit, Keisya langsung panik nggak tahu mau berbuat apa.


Itu terdengar seperti suaranya Seira lalu dengan cepat dia menghubungin Melisa buat minta tolong tapi nggak ada jawaban. Keisya langsung lapor polisi saat itu juga.