
Sudah dua minggu sejak kejadian itu, Brian juga sudah dipenjara karena kasus narkobanya. Ternyata kepindahanya ke sini karena dia kabur dari pusat rehabilitsi di Kanada.
Seira masih malu mengingat kejadian panas mereka malam itu. Untung sekarang dia sudah terbiasa. Tapi kalau sedang berdua dengan Dandy saja dia mendadak salah tingkah sendiri.
Sekarang ini mereka sedang upacara, tapi entah mengapa Seira merasa kepalanya sangat pusing.
Pandanganya juga mulai berkunang-kunang ia sudah tidak kuat untuk berdiri lalu semuanya menjadi gelap. Seira pingsan, dia langsung dibawa ke UKS.
"Eh sudah bangun? Masih pusing dek?" Tanya kakak kelasnya yang bernama Humaira ketika melihat Seira siuman.
"Sudah mendingan hehe terimakasih sudah menemani saya kak." Seira merapikan rambutnya yang berantakan.
"Iya, lagian sudah kewajiban saya. Mau kekelas? Bisa sendiri?" Ucapnya lembut sambil membantu Seira berdiri.
"Duluan ya kak." Pamit Seira sopan lalu menuju berjalan kekelasnya.
Belum sampai kelas Seira merasa sangat mual pada perutnya. Dia berbelok menuju ke toilet lalu mengeluarkan semua isi perutnya, namun tidak ada yang keluar.
Seira membasuh mukanya yang pucat agar terlihat lebih segar. Mungkin cuma masuk angin saja pikir Seira. Dia mengabaikanya dan langsung menuju kekelas.
Hari ini Seira kelihatan pucat sekali. Mendadak nafsu makanya juga hilang. Dandy memaksa buat mengantarkan Seira pulang saja tapi dia terus menolak.
Alasanya tanggung hari ini ada ulangan. Dia kan paling anti ngulang apalagi pelajarannya nenek sihir.
"Rabeneran nggak papa?" Bisik Melisa yang duduk disebelahnya. Dia khawatir karena Seira sesekali memegangi kepalanya.
"Nggak papa kok Mel." Balas Seira sambil berbisik karena mereka sedang ulangan.
Kalau orang lain pikir, biasanya memang orang pintar akan memegang kepalanya tanda ia sedang berpikir. Apalagi mereka sedang ulangan.
Tapi kali ini Melisa yakin bahwa Seira itu sedang menahan sakitnya. Soalnya muka Seira masih kelihatan pucat.
"Tapi Ra—"
"Ekhmmmm!" Deheman nenek sihir menahan Melisa untuk bertanya lebih ke Seira. Karena nenek sihir itu sedang ngelihatin mereka berdua dengan tatapannya yang tajam setajam silet.
"Ra beneran nggak mau aku anterin pulang aja?" Mereka sudah selesai ulangan Melisa membujuk Seira agar pulang saja.
"Nggak usah Mel, nanggung nunggu pulang sekalian aja." Seira menjawab dengan lesu sambil menaruh kepalanya dimeja.
"Tapi kamu udah pucat banget. Nanti malah kenapa-napa gimana?" Melisa yang khawatir meriksa kepala Seira. Dia terkejut suhunya panas banget.
"Hehe...aku nggak papa kok. Paling cuma kecapean aja. Bangunin aku kalo guru dateng ya Mel." Seira berucap dengan parau.
"Iya...tapi..." Melisa menyerah karena melihat Seira sedang memejamkan matanya. Memang Seira itu paling keras kepala kalau sudah menyangkut pelajaran.
...*****...
Seira sedang belajar dikamarnya. Tapi lagi-lagi dia merasa mual dan langsung lari ke kamar mandi buat muntahin semuanya. Tapi percuma nggak ada yang keluar.
Jelena yang mendengar Seira muntah-muntah memandang dia dengan jijik. "Kenapa hah? Hamil?"
"Heh! Malah bengong. Nggak usah kesekolah besok. Pergi ke dokter sana! Nanti kalau sakit nyusahin kita malah!" Suruhnya lalu sibuk dengan acara tv mengabaikan raut keterkejutan Seira.
Seira lalu masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Sekarang pikiranya dipenuhi hal macam-macam. Apa jangan-jangan benar dia hamil?
Nggak! Nggak mungkin! Dia kan baru satu kali ngelakuin itu sama Dandy. Nggak mungkin bisa langsung jadi. Tunggu! Seira langsung mengecek kalender dan matanya langsung melotot.
Dia sudah melewatkan tanggal haidnya. Harusnya kemarin sudah waktunya. Nggak! Seira terus menggeleng. Bisa jadi memang masa haidnya nggak teratur. Semalaman Seira tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu.
Keesokan harinya Seira mengirimkan pesan ke Melisa, agar menjijinkan dia untuk tidak masuk hari ini. Teman-temanya sempat khawatir dan menanyakan dia kenapa.
Bahkan Dandy sempat mau membolos untuk menemani Seira ke dokter, tapi Seira bilang dia nggak papa cuma butuh waktu untuk istirahat saja.
Seira sekarang sedang berada dirumah sakit untuk memastikan itu semua. Seira terus berdoa dalam hati bahwa semuanya akan baik-baik saja. Seira makin merasa tak karuan ketika dokter memberitahukan hasilnya.
"Anda baik-baik saja Nona Seira." Ucap dokter itu, Seira lalu bernafas lega. Dokter itu melanjutkan. "Hanya saja anda sedang mengandung, selamat!"
Seira sangat syok dengan perkataan dokter dihadapanya. "Yang benar dok?"
Dokter itu mengangguk. "Sudah dua minggu." Sang dokter menyerahkan hasil keterangan kehamilanya.
Bodoh!
Satu kata diotak Seira saat ini. Kenapa dia bodoh sekali waktu itu. Bagaimana nasibnya selanjutnya? Dia pasti akan dicap ****** oleh bibinya. Bagaimana juga dengan masa depanya?
Seira berjalan dengan otak kosong sekarang. Apa yg harus dia perbuat setelah ini. Apa dia akan merelakan masa depanya? Dia sudah berjuang sendiri dari kecil dan sekarang apakah semuanya harus sia-sia?
Memang benar semua itu kesalahanya. Kenapa dia tidak bisa mengontrol hawa nafsunya sendiri. Sekarang semua penyesalanya pun tidak berarti.
Seira menangis didepan makam kedua orang tuanya. Dia mencurahkan semuanya kepada dua batu nisan didepanya.
"Ayah, ibu maafin Seira hiks! Apa yg harus Seira lakukan sekarang huaaa…."
"Seira minta maaf karena sudah mengecewakan kalian...sob…sob."
Hujan turun dengan deras, bahkan Seira sudah tak peduli bahwa dia kehujanan dan kemungkinan akan lebih sakit. Dia bahkan tak bergeming dari sana.
"Aku harus bilang semuanya ke Dandy!"
Bagaimanapun juga ini adalah perbuatan mereka berdua. Seira berjalan dengan mantap menuju kerumah Dandy.
Sebelumnya Seira mengirimi pesan kepada Dandy bahwa dia akan ke rumahnya. Dandy disebrang sana khawatir karena Seirasedang sakit dan menawarkan akan menjemputnya.
Namun Seira bilang dia sedang dalam perjalanan. Disinilah Seira sekarang, didepan gerbang rumah Dandy. Dia membayangkan bagaimana reaksi Dandy nanti.
Apa dia akan senang? Terkejut? Atau bahkan marah? Seira dengan gugup memantapkan langkahnya memencet bel pintu rumah Dandy.
Ting! Tong!