Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 37 - Saatnya Kebenaran Terungkap


"Habis telvonan sama siapa? Seneng banget." tanya Dandy karena sebelum dia masuk ke kamar Keira, dia mendengar Keira sedang berbicara dengan seseorang terdengar sangat akrab.


"Oh ini sama mama Sei." Jawab Keira dengan ceria.


Dandy mengerutkan dahinya. "Hah mama Sei?"


Keira mengangguk, "Iya, yang kemarin Kei ceritain sama papa, yang baik banget sama Kei."


Pasti orang itu si pemilik mantel dan syal. "Ooh itu, nggak dikenalin sama papa?"


Keira menepuk keningnya, "Eh iya Kei lupa, tenang mama Sei—"


Cklekk!


"Tuan, maaf anda disuruh ke ruangan dokter sekarang." Seorang suster menginterupsi kegiatan mereka.


Dandy berdiri dan mengusap rambut Keira, "Yaudah papa ke ruang dokter dulu ya."


Keira mengangguk dan tersenyum kearah Dandy. Dia sudah hafal pasti nanti kalau habis dari ruang dokter wajah Dandy akan berubah, karena penyakitnya pasti makin parah. Walaupun sudah sebisanya ditutupi tapi Keira sangat peka.


“Permisi dok.” Dandy membuka kenop pintu ruangan dokter spesialis.


Dokter yang sedang membaca hasil laporan menyuruh Dandy untuk duduk. “Silahkan duduk pak Dandy Atmajaya.”


Dandy menggeser kursi dan dokter sepertinya masih serius dengan laporan ditangannya. Dokter bernama Anezfie Shin meletakan laporan ditangannya dan menatap Dandy yang terlihat sedang gelisah.


Dokter Ane menggeser letak monitornya untuk Dandy lihat. Dia menjelaskan dengan detail tentang keadaan Keira yang semakin hari semakin memburuk.


Setelah keluar dari ruangan dokter Ane, Dandy merasa sangat marah. Dia marah dengan dirinya sendiri dan keadaanya. Kenapa harus Keira anak sekecil dan sepolos itu yang harus menanggung penyakit ini?


Kenapa bukan dia saja?


...*****...


Seira menepati janjinya dia sekarang sering sekali menjenguk Keira di rumah sakit. Tentu saja Keira sangat senang. Sampai Dandy pun penasaran siapa yang sudah membuat Keira-nya bahagia sekali.


Hanya saja mereka belum dipertemukan.


Sekarang Seira sedang membuat kue ulang tahun untuk Keira. Dibantu oleh Daehwi juga, kemarin Keira bilang bahwa ulang tahunnya sekarang. Kenapa nggak beli saja? Keira yang meminta dibuatkan oleh Seira. Lagian Seira juga sudah menganggapnya anak sendiri.


"Sibuk banget ma, mau Aa bantu?" tanya Aaron yang kebetulan lewat mau ambil minum didapur.


"Tambah repot nanti kalo Aa ikutan." sambar Daewi yang masih ngamatin yang mana baking powder sama yang mana gula halus.


"Ye cabe, salah itu." Aaron pura-pura mengoreksi padahal dirinya juga tidak tahu apa-apa.


"Hih apasi sana pergi, ganggu aja ih." Daewi mengusir Aaron untuk pergi dari sana.


Seira hanya terkekeh mendengar perdebatan mereka. "Yah coklat bubuknya habis. A’ beliin coklat bubuk ya."


"Siap!" Aaron langsung lari.


Daewi lalu teriak dibelakang mengejarnya, "AA IKUTT!"


"GAUSAH BAY BAY!" Aaron lari makin kencang meninggalkan Daewi yang lagi misuh-misuh karena ditinggal. Seira hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan mereka berdua. Ada-ada saja.


Aaron sudah sampai di toserba, tapi dia sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebingungan sedang mencari coklat bubuk dimana. Lah tahu begini ajak si Daewi aja ya pikirnya. Duh nyesel kan!


"Kak Aaron?" Sapa seseorang yang suaranya sudah sangat akrab ditelinga Aaron.


Aaron menoleh dan langsung sumringah, "Eh Nei," nahkan ketemu sama gebetan.


"Lagi nyari apa?" Neira tidak sengaja melihat Aaron menggaruk-garuk kepalanya seperti sedang kebingungan.


Yang ditanya malah cengengesan. "Hehe, anu itu bisa tolong bantuin cari coklat bubuk?"


Neira ketawa lucu banget si kakak kelasnya itu. Aaron malah carinya di rak deretan coklat silver king ya nggak bakalan nemu lah.


"Oke! Ayo sini kak coklat bubuk bukan disitu." Neira menuntun Aaron untuk menunjukkan dimana coklat bubuk.


"Eh bukan ya hehe." cengir Aaron sambil membuntuti Neira. "Makasih ya Nei udah bantuin."


Aaron sudah selesai belanja dan menengteng kresek belanjaan besar. Disuruhnya si emang beli coklat bubuk, tapi bukan Aaron namanya kalau nggak jajan dulu.


"Iya sama-sama. Eh tapi kak itu bawanya gimana nggak repot kah?" Neira melihat Aaron seperti susah membawanya.


Aaron tersadar lah iya diakan bawa motor sendirian. Neira yang melihat kakak kelasnya kebingungan langsung nyambar kresek yang isinya rata-rata cemilan Aaron, dipegangnya.


Neira menawarkan diri, "Yaudah deh, aku bantuin bawa!"


"Eh nanti ngerepotin kamu Nei," Aaron merasa tidak enak soalnya Neira juga masih kerja. “Kamu lagi kerja kan.”


Itu juga nilai plus dari menyukai Neira, dia gadis yang pekerja keras dan sangat mandiri. Sudah cantik, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung lagi.


“Aku lagi libur kok kak. Ayok.” Memang benar Neira sedang libur hari ini.


"Aaron pulang!" Teriak Aaron yang sudah sampai sambil membawa belanjaan dari tangan Neira dan mempersilahkan Neira untuk duduk.


"Mana pesenan mama, eh ada nak Neira." sambut Seira semangat.


"Hai tante." Neira memberi salam ke Seira. "Tante lagi buat apa?" Neira penasaran soalnya muka dan badan Seira sudah penuh sama tepung.


"Lagi buat kue buat Keira," jawab Seira yang masih ngorak-arik belanjaan Aaron nyari pesanannya.


Tak lama terdengar suara gaduh dari dapur. Itu suara Aaron sama Daewi. Daewi lagi ngejar Aaron mau ngolesin tepung yang ada ditanganya ke muka Aaron.


Brak!


"Hueee,,,!" itu suara Daewi yang nggak sengaja kepleset sama tepung yang berceceran karena ulahnya sama Aaron.


Seira sama Neira langsung kesana dan melihat Daewi lagi menangis dilantai sama Aaron yang lagi ngetawain Daewi.


"AHAHA MAMPUS!"


"Huee… mama sakitt!" rengek Daewi sambil memengangi kakinya.


"Ck! Ck! Ck! ... Kenapa bisa jatuh si. Aa gendong Dede kekamar!" Perintah Seira sambil meluruskan kaki Daewi.


Aaron yang masih ketawa ngakak langsung berhenti. Dengan muka sepet dan gak ikhlas, Aaron menggedong Daewi yang pura-pura kesakitan. Aaron hafal Daewi cuma pura-pura, dia mau ngerjain Aaron. Seira menghela nafas dan langsung bersihin bekas Daewi kepleset.


"Neira bantu buat kuehnya ya tante, biar cepet jadi." Neira menawarkan diri.


"Eh, nggak usah ntar ngerepotin kamu." Tolak Seira dengan halus.


"Nggak papa kok tante, itung itung belajar juga." Jawab Neira dan berakhirlah mereka berdua membuatnya. Seira juga sempet kagum sama Neira dia pinter masak juga.


Sedangkan Aaron? Dia lagi di jadiin babu sama Daewi.


...*****...


Kueh-nya sudah jadi tadi Seira juga sudah di chat sama Keira, katanya semua keluarganya sudah ada disana sambil menunggu Seira. Aaron akan menyusul nanti mau mengantar Neira dulu. Seira sudah sampai depan rumah sakit. Tapi jantungnya berdetak sangat cepat.


Aneh! Tiba-tiba dia merasa gugup dan muncul firasat aneh. Seira menepis firasat buruk itu, dia berjalan tenang menuju ke ruang rawat Keira. Seira langsung membuka kenop pintu.


Cklek!


"Keira, selamat ulang ta—hun."


"Mama Sei!" Sambut Keira dengan antusias.


Seira membeku bahkan kueh yang dipegangya di jatuhkan kelantai olehnya. Disana tepat disisi Keira, berdiri seseorang yang paling dibencinya Dandy Atmajaya dan orang yang juga paling dihindarinya nyonya Atmajaya sedang menatapnya terkejut.


"Kau adalah papanya Kei?" Tatapan mata Seira sangat dalam.


Dandy mengangguk dan saat itu juga Seira pergi meninggalkan ruangan itu tanpa satu kata pun. Dandy tersentak dan langsung mengejar Seira.


Keira terkejut dan tidak tahu kenapa keadaan berubah menjadi seperti itu. Dia memutuskan bertanya kepada neneknya. Namun tak mendapatkan jawaban yang pas maka dia memutuskan untuk mengikuti mereka.


Aaron sudah mengantarkan Keira dia sekarang sudah berada di rumah sakit sambil membawa kado untuk Keira. Tapi Aaron tidak sengaja melihat mamanya berjalan dengan cepat sambil menghapus air matanya disertai teriakan maaf dari seseorang dibelakangnya.


Aaron ingin menghampiri mereka tapi orang itu memohon untuk Seira agar berhenti. Aaron memutuskan untuk mengikuti mereka dan mendengarkannya.


"Seira kumohon!" Pinta Dandy memelas.


"Apa?! Sekarang apa lagi?" Mereka sekarang sedang berada di parkiran yang cukup sepi.


"Aku ingin menjelaskan semua kepadamu."


"Semua sudah jelas Dandy!"


Deg!


Nama itu tunggu-bukankah itu nama papa? Batin Aaron masih mendengarkan pembicaraan mereka. Tak sopan memang, tapi dia ingin tahu kebenarannya. Apalagi nama papanya tadi disebut.


"Ingin mengatakan apa lagi, aku sudah pernah bilang pergi dari kehidupan ku kenapa kau terus muncul..." Seira menghapus air mata sialannya yang terus saja mengalir.


"Maafkan aku Ra...aku hanya ingin memperbaiki semuanya tolong Seira." Bahkan Dandy berlutut didepan Seira. "Setidaknya biarkan Aaron tahu bahwa papanya masih hidup, kumohon!"


Deg! Hah?! Jadi selama ini?!


Seira merasa emosi, "Tidakan pernah kubiarkan dia tahu bahwa ayah brengseknya masih hidup kau—"


"Mama..." Panggil Aaron yang keluar dari persembunyiannya.


"AARON!"


"AARON!"