
“AARON!”
Seira menggapai tangan Aaron dan langsung pergi dari sana meninggalkan Dandy yang menatap kepergian mereka berdua dengan perasaan kacau. Dandy pasrah, sudah tidak ada harapan lagi untuknya.
Setelah Seira menjelaskan semuanya kepadanya, sekarang Aaron bingung harus bersikap seperti apa kepada papanya. Disisi lain dia sangat bahagia ternyata kedua orangtuanya masih hidup. Tapi, disisi lain dia juga kecewa kenapa Dandy tega menelantarkan mereka seperti itu.
Apakah dia sangat tidak diinginkan sampai Dandy meninggalkan Seira karena dirinya.
"Sekarang aku harus bersikap bagaimana?" Aaron sedang curhat dengan Daewi.
Tadi setelah Seira selesai menjelaskan semuanya, Aaron pulang langsung menuju kamar dan tidak berbicara kepada Seira. Daewi yang melihat Aaron bertingkah aneh langsung bertanya kepada Seira.
Seira menggelengkan kepalanya memberi tanda bahwa Aaron sudah mengetahui semuanya. Daewi menyusul kekamar Aaron yang ternyata tidak dikunci.
Dia hanya diam dan duduk didekat ranjang Aaron, membiarkan Aaron menceritakan semua yang sudah diketahui oleh Daewi.
Daewi menggigit bibirnya, "Maaf A’ sebenernya aku sudah tahu semuanya."
Aaron menatap Daewi tidak percaya. Jadi selama ini hanya dia yang tidak tahu. "Sejak kapan?
“Sejak Aa kecelakaan, dan yang mendonorkan darah buat Aa itu om Dandy.” Jelas Daewi yang tidak mau menyembunyikan apapun lagi dari Aaron.
Aaron mengusap wajahnya, “Kenapa kamu nggak bilang ke aku?"
Aaron merasa jadi orang yang paling bodoh sekarang ini. Kenapa semua orang ingin merahasiakan ini darinya? Jika dia tahu dari awal, dia tidak akan merasa sangat kecewa dengan mereka.
Paman, bibi, ibunya, bahkan Daewi sekalipun!
"Maaf."
Daewi tak bisa berkata apa-apa lagi karena dia juga bersalah sudah membantu merahasiakan semuanya dari Aaron.
Aaron berdiri dan menyambar jaketnya, dia memutuskan keluar untuk menenangkan dirinya sejenak. Daewi ingin mencegahnya tapi dia paham Aaron sedang butuh waktu untuk sendiri sekarang.
Aaron tidak mengebut, dia masih sayang nyawa. Walau pikirannya melayang entah kemana. Aaron memutuskan untuk tidak membawa handphone. Dia tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini. Dia juga sedang tidak ingin bertemu siapapun.
Dijalan dia tidak sengaja melihat seorang gadis yang sedang menangis sambil memegangi lutunya. Sepertinya dia baru saja jatuh dari sepeda.
Aaron menepikan motornya dan mendekati gadis itu, “Hei, apa kau terluka?”
Gadis itu merespon ucapan Aaron dengan ketus, “Kau tidak melihat hah? Aaah! Sakit, mamaaa….”
Aaron menaikkan alisnya, “Ya sudah.” Dia berpura-pura pergi.
Gadis itu berteriak ketika melihat Aaron melangkah pergi, “Kau akan pergi begitu saja?”
Aaron menghentikan langkahnya, “Yah.”
Gadis itu setengah berteriak, “Ish, tolong aku.”
Aaron tersenyum dan berbalik untuk menolong gadis itu. Dia membawa gadis itu ke klinik, dan meninggalkan sepedanya dipinggir jalan. Gadis itu sendiri yang bilang ingin membuang sepeda sialannya.
“Terimakasih sudah membantuku.” Gadis itu memanyunkan bibirnya.
Aaron menganggukan kepalanya, “Ya.”
Gadis itu tiba-tiba berdiri dan memaki, “Sialan! Dasar sialan! Pasti si burik yang telah mengempeskan ban sepeda ku. Awas aja nanti kalau pulang hih!”
Aaron terkaget, ternyata anak ini sangat jago dalam hal makian. “Hei duduklah, lihat lukamu.”
Serasa baru teringat dia sedang terluka gadis itu duduk lagi, “Hmph. Oh ya, siapa namamu?”
“A—”
“Aa!”
Ketika Aaron akan membuka mulutnya, seseorang sudah memanggilnya. Mereka berdua lalu menengok kebelakang dan melihat pamannya sambil menggendong Nana yang mengemut permen.
Aaron menghela nafas, dia belum ingin bertemu anggota keluarganya sekarang. Maka, dia bergegas pergi dari sana sambil menggendong gadis itu.
Gadis itu terlonjak kaget, “Hei apa yang—”
...*****...
Lain lagi dengan Keira, dia juga membuntuti Dandy dan Seira tapi tidak menampakkan dirinya. Keira tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarkannya.
Keira menangis.
"Harusnya Kei ikut mama saja, jadinya Kei nggak ngrepotin papa...” Air matanya mengalir semakin deras, “Biar papa bisa bahagia sama keluarganya…."
Jadi Ra yang selalu papanya sebut dalam mimpinya adalah Seira. Ketika tengah malam saat Keira terbangun, Dandy yang masih pulas tidur kadang membuat suara.
Keira sering mendengar Dandy menyebut nama Ra, dia kira Ra berarti namanya, tapi Dandy tidak pernah memanggil dirinya dengan panggilan Ra selalu Kei. Keira mengabaikannya menganggap itu tidak penting karena papanya selalu kelelahan.
Sekarang terjawab sudah siapa Ra itu.
"Tolong tuhan ambil saja Kei, agar papa bisa kembali sama mama Sei dan kak Aa,” Keira menghapus air matanya, “Kei cuma ngrepotin papa dan cuma jadi penghalang saja."
Siapapun yang melihat keadaan Keira saat ini pasti akan sangat kasihan. Dia menangis sendirian dipojok, sambil menekuk lutut dan membenamkan wajahnya.
Setelah tangisannya reda, Keira kembali kedalam kamarnya dan mendapati papa dan neneknya sedang menatapnya khawatir.
“Kamu kemana saja?” Dandy menghampiri Keira namun tangannya langsung ditepis kasar oleh Keira.
Keira tidak menjawab Dandy, dia langsung menaiki ranjang dan menutup dirinya dalam selimut.
Dandy melirik ibunya yang menggelengkan kepalanya. Memberikan isyarat bahwa dia harus pergi terlebih dulu. Ibunya berkata bahwa Keira sempat mengejar mereka, jadi Keira pasti sudah tahu semuanya.
Dandy menghembuskan nafasnya lelah, “Ini salahku. Semuanya salahku.”
Beberapa hari jelang kejadian itu, Seira sudah tidak pernah menjenguk Keira lagi. Bahkan semua panggilan dan pesan Keira diabaikannya.
Keira sekarang sangat sedih dia baru saja mendapatkan kebahagiaan, baru sebentar dia bisa merasakan kasih sayang seorang ibu dan sekarang lenyap. Keira seperti kehilangan semangatnya sekarang ini.
"Kei...makan dulu ya sayang." rayu neneknya.
"Kei nggak lapar nek," jawab Keira dengan lesu.
Neneknya tidak menyerah, "Nanti kamu tambah sakit sayang, mau ya sesuap aja."
Keira tetap menggeleng, beberapa hari ini Keira memang tidak mau makan. Jika terus seperti ini maka dengan terpaksa para dokter akan memaksanya, dan memberikan suntikan untuk mengisi energinya.
Dandy juga sudah tidak tahu bagaimana caranya membujuk agar putrinya mau makan. Ruangan terbuka menampakan Dandy yang masuk kesana dan mengisaratkan ke mamanya agar Dandy saja yang akan membujuknya.
"Kei...anak papa yang cantik makan ya."
Keira malah membelakangi ayahnya sekarang. Dandy menghela nafasnya kasar, sejujurnya baru pertama kali ini dia menghadapi Keira yang bertingkah seperti ini.
Dandy masih membujuknya, "Ayolah, satu suap aja yaa….."
Keira berteriak, "Nggak!"
Dandy, "Ayo yaaa…"
Keira masih enggan menatap Dandy dan menggeleng, "Enggak!"
Dandy tetap membujuknya, "Aaaa\~ Kei \~aaa…."
Keira memalingkan wajahnya lagi, "Enggak mau!"
"KEIRA!!" Bentak Dandy yang sudah dibatas kesabaranya.
"Ugh…" Air mata Keira mengalir begitu deras, bahkan badan Keira sedikit bergetar karena bentakan Dandy barusan. Dandy tidak pernah marah, tapi bentakannya barusan telah menyakiti hatinya.
Dandy langsung tersadar bahwa dia sudah kelewatan. "Kei maafkan papa sayang, papa nggak bermaksud—"
"Papa keluar! Kei nggak mau lihat papa lagi! Hueee...!"
Dandy mengalah. Dia keluar untuk menenangkan diri dan menyalahkan dirinya sendiri, Dandy mengusap rambutnya kasar kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya tadi.
Drt! Drt!
"Halo iya ma."
"Kei menghilang dia tidak ada dikamarnya."
"Hah? Kenapa bisa...ahh sial! Tunggu ma Dandy akan segera mencarinya."