
Seira sudah tidak tahan dengan bisikan orang-orang disekitarnya, dan juga yang dengan terang-terangan sedang menatapnya, dia memutuskan untuk bertanya kepada Melisa.
"Mel, ini perasaan aku aja apa emang mereka lagi ngomongin aku?" Seira menunduk menatap makanannya. Rasanya malah sudah kenyang dengan tatapan para murid yang terarah kepadanya.
"Enggak Ra, mereka nggak lagi ngomongin kamu kok." Melisa mencoba menghibur kegelisahan Seira.
Sebenarnya Melisa dan teman-temanya sudah tahu alasan kenapa Seira dipandang seperti itu. Mereka cuma tidak mau bilang ke Seira yang lagi digosipin putus sama Dandy, karena pasti itu akan membuat dia sedih.
"Tapi—"
Hosh Hosh Hosh Hosh
Tiba-tiba satu anak yang bernama Jerendra muncul dengan tidak elitnya. Dia langsung menenggak satu gelas es punya Ayunda yang dihadiahi omelan dari yang punya tapi dia tidak peduli.
"Kenapa sih Ndra?" Jerendra mengabaikan pertanyaan Milka dan malah langsung duduk disamping Seira.
"Ra kamu sudah dengar gosip tentang kamu sama Dady?" Yang disana menatap Jerendra horor, telepati hati bilang agar Jerendra berhenti bertanya ke Seira. Tapi memang dasar namanya Jerendra dia tidak peka.
"Hah? Gosip apa?" Tanya Seira gugup.
"Itu yang kamu sama Dandy katanya putus." Seira menatap Jerendra tidak percaya.
"Hhah?" Sekarang jadi masuk akal kenapa dia merasa dilihatin orang-orang.
"Ini ada yang ngefoto kamu sama Dandy waktu dikafe kemarin." Jerendra memperlihatkan hpnya ke Seira.
Seira semakin membelakan matanya terkejut. Siapa yang sudah ngefoto dia, Seira berdiri dan pamit ingin ketoilet.
Tentu saja Jerendra langsung jadi amukan masa.
"Dasar nggak peka!" Milka memelototinya.
"Kenapa bilang itu ke Seira sekarang bego!" Ayunda tak kalah garang.
"Ku beri pelajaran sini!" Ucap Milka yang diangguki Ayunda. Mereka berdua mengeroyok Jerendra.
Plak! Plak! Bugh!
"Aduh...aduh...iya iya ampun...tolong!"
Arbie dan Yura langsung mengamankan Jerendra dari amukan duo cabai. Sementara Melisa sedang menyusl Seira dan Haikal yang kekelas mencari keberadaan Dandy.
Haikal berjalan dengan santai kekelas, tapi waktu mau nyamper Dandy dia menajamkan matanya. Itu Dandy lagi suap-suapan sama Eva? Batin Haikal. Wah kalau ada yang liat bisa-bisa tambah runyam.
"Dandy...!" Mereka berdua menoleh. Dandy langsung berdiri karena terkejut.
"Kal...ini nggak kaya yang kamu lihat!" Jelas Dandy ke Haikal yang kayak kepergok sama pacarnya lagi selingkuh.
"Iya aku tahu, tapi kalau ada yang lihat selain aku bisa salah paham mereka." Haikal berjalan mendekat dan meletakan roti dengan es pisang diatas meja. "Nih dari Seira, jangan telat makan katanya."
Dandy melirik roti itu acuh. "Bilangin makasih, tapi aku nggak butuh."
Eva yang merasa dikacangi diam saja tidak menyela ataupun menegur hanya masih makan dalam diam.
"Itu, keknya enak buat aku aja kaliya masih laper ini.” Isi batin Eva.
Haikal menghela nafas, kenapa kekanakan banget si Dandy ini. “Kamu tau nggak Dan, kalian sampai digosipin udah putus."
Dandy menatap Haikal sekilas, perasaan nggak ada yang tahu mereka berantem dari kemarin. Cuma para sahabatnya aja kok sampai menyebar, malah digosipin putus lagi.
"Udah aku nggak mau tahu kamu selesein secepetnya sama Seira. Kasihan dia tadi jadi bahan gosipan."
Haikal lalu mengusir Eva dari tempat duduknya, Eva mau protes tapi bel sudah berbunyi. Dia lalu kebangkunya sendiri sambil nyomot jajan yang dilempar Haikal tadi.
"Haha lumayan ini,"-Eva
...*****...
"Seira …. "
Panggilan seseorang membuat Seira menghentikan langkahnya. Seira membalikan badannya dan mendapati David, yang sedang berlari menuju kearahnya.
"Ya ..."
"Aku mau bilang sesuatu—" Ucapan David kepotong sama panggilan Melisa.
"Seira!" Melisa nyamperin Seira dan melirik David dengan acuh. "Ayo bentar lagi masuk."
"Emm, David aku duluan ya." Pamit Seira dengan cepat karena Melisa tak membiarkannya bicara lama dengan David.
David mengangguk. "Yahhh cuma mau minta maaf aja ini."
David mengeluh dan terbengong disana tapi tak lama karena bel pelajaran berbunyi. David langsung ngacir kekelasnya inget sekarang pelajaranya nenek sihir.
Selama pelajaran Seira menjadi gagal fokus, apa yang dibicarakan sama guru didepan sana tidak masuk sama sekali diotaknya. Cinta memang begini ya bisa mengubah keadaan. Untungnya Seira itu anak yg cerdas jadi bisa belajar sendiri.
Kring\~
Bell pulang sudah bunyi, Seira sekarang sedang cuti buat ngajarin teman-temanya. Ya bagimana mau ngajarin orang lain sedangnkan dia sendiri lagi nggak fokus. Untung teman-temanya pada ngertiin.
Ini juga Mina yang merekomendasikan agar jangan dulu ngajarin mereka. Mina sudah tahu, tentu saja dia merasa tidak enak soalnya ini gara-gara David sepupunya juga.
Seira sedang duduk melamun dihalte sendirian, tadi sebenarnya sempat dipaksa Melisa buat nganterin dia, tapi ya Seira biasa nolak soalnya sudah ngrepotin banyak banget sama Melisa nggak enak dianya.
Ada yang nepok pundaknya dibelakang. Seira yang sedang melamun tersentak kaget.
"Hei ngelamun aja neng." Ucapnya dengan cengiran.
"Hehe kaget ya. Sori iya ini ada kerja kelompok kerumah temen, mau ikut?" Ravan menawarinya untuk pulang bersama.
Seira menggeleng, bukannya apa dia cuma nggak mau nambahin masalah nanti Dandy bisa-bisa tambah salah paham.
"Sejalan lho, yuk." Bujuk Ravan lagi.
"Nggak usah deh kak, makasih eh itu bisnya udah datang. Duluan ya kak." Seira pamit dan melambaikan tanganya kearah Ravan.
"Huh dasar, segitu cintanya ya sama Dandy." Gumam Ravan sambil menggelengkan kepalanya. Dia lalu menemui seseorang yang sudah menatap mereka dari tadi. "Tuh kamu liat sendiri, dia nolak aku anterin."
"Hmmm."
"Kamu itu ya, udah dapetin yang kayak dia malah disia-siain mau ngebuktiin yang gimana lagi kalo Seira emang setia sama kamu."
Orang yang diajak bicara—Dandy dia yang menyuruh kakak kelasnya itu buat nawarin Seira. Bukanya nggak percaya sama Seira dia cuma mau buktiin apa Seira masih bisa jaga perasaanya walau mereka sedang bertengkar.
Dandy merasa senang dan masih sedikit kecewa karena kejadian kemarin. Menyuruh Ravan buat ngajak Seira juga nggak gampang, dia harus memohon dulu ke pacarnya Ravan, Alina teman seperguruan sama maung Kirana.
Awalnya Alina nggak ngijinin, ya siapa orang yang rela jika pacarnya disuruh godain cewek lain, Dandy juga sudah siap-siap pasti bakal kena baku hantam, tapi melihat Dandy yang memelas begitu akhirnya Alina luluh.
"Makasih kak udah bantuin." Setelah ngomong gitu Dandy pergi gitu aja.
"Dasar, aku tikung baru tahu rasa dia."
Drtt...drtt...
"Hallo ayang.."
"....."
"Iya yang udah..iya otw kesana tunggu iya..iya.."
Setelah itu Ravan ngebut buat jemput pacarnya takut ngambek, nggak baik soalnya nanti dia bisa-bisa bonyok besok.
Bucin gitu mau nikung?
...*****...
Dandy lagi galau sekarang dia sudah sampai didekat rumah Seira. Dandy mau ngehubungin Seira buat mengajak dia keluar tapi gengsinya itu ngalahinnya buat ngelakuin itu semua.
Nggak lama dia melihat Seira keluar dengan berderai air mata. Terdengar teriakan seseorang dari dalam sama kata-kata yang tidak pantas.
"DASAR ******!! NGGAK USAH PULANG SEKALIAN!! SUSULIN SAJA SANA ORANGTUA MU DIALAM BAKA!!"
Dandy yang mendengar kata-kata itu nggak nyangka banget, tanganya udah ngepal tapi dia tahan dan memilih buat ngikutin kemana arah Seira pergi. Dia berhentiin mobilnya dan masuk ke salah satu pemakaman.
Dandy celingukan mencari sosok Seira. Nggak jauh dari dia berdiri dia melihat Seira lagi nangis tersedu di depan pemakaman. Hati Dandy serasa teriris melihat Seira yang hancur seperti itu.
Dandy nyesel banget kemarin nggak mendengar penjelasan Seira dulu. Dandy juga tidak menyangka kalau selama ini Seira diperlakukan seperti itu oleh bibinya.
Dan dengan bodohnya Dandy malah menambah beban Seira. Dandy memilih diam dulu buat Seira agak mereda dulu baru dia akan menghampiri Seira.
"Ayah, ibu hiks… Yang kuat Ra... Jangan nyerah!" Ucap Seira sambil terisak nyemangatin diri sendiri.
Dandy udah nggak tahan dia nyamperin Seira. "Kamu nggak sendiri Ra."
Seira terkejut dan mendongak mendapati Dandy yang berdiri tersenyum kearahnya. Seira mengucek matanya, ini ilusi kah? Gara-gara Seira terlalu mikirin Dandy jadi kebawa?
Seira menggelengkan kepalanya nggak mungkin itu Dandy. Dandy tersenyum dan berjalan mendekat. Seira semakin terkejut ketika Dandy ikut berjongkok dan mengelus kepalanya.
"Tenang ada aku Ra.." Ucap Dandy.
Seira mengerjap polos benarkah itu Dandy? "D-Dandy...?"
Dandy yang mendapat respon itu dari pacarnya langsung meraih tangan Seira dan diciumnya. "Iya ini aku Dandynya Seira."
Nggak lama Seira menabrak Dandy dan memeluknya, menangis menumpahkan semuanya dipelukan Dandy.
"Dandy... huaa ..."
Dandy langsung membawa Seira pergi setelah mengucapkan salam kemakam kedua orang tua Seira.
“Nih diminum dulu." Dandy memberikan minuman dingin yang telah dibelinya itu ke Seira.
"Makasih Dan." Dandy mengelus kepala Seira dengan sayang.
"Seira..."
Seira langsung menatap Dandy yang juga lagi menatapnya. Nggak lama Dandy makin mendekatkan wajahnya ke Seira yang bikin dia deg-degan.
Seira menahan nafasnya ketika muka Dandy cuma berjarak beberapa centi saja dari wajahnya. Dia dapat merasakan nafas Dandy yang menerpa wajahnya.
Dandy menengguk salivanya kasar, dia langsung menempelkan bibirnya ke bibir Seira yang rasanya manis karena minuman, Dandy suka itu. Seira terkejut dan reflek langsung memejamkan matanya.
Dirasanya Seira nggak nolak, Dandy makin berani untuk menggerakan bibirnya. Awalnya memang cuma nempel, tapi lama-lama Dandy ngelumat bibirnya Seira. Dandy menggigit bibir bawah Seira buat akses lebih.
"Hmmm."
Dandy semakin semangat, disela ciumanya Dandy tersenyum. Seira mati-matian menahan agar tidak mendesah. Suara decakan lidah yang beradu memenuhi mobil Dandy. Ketika Dandy makin memperdalam ciumanya Seira juga ikut terbuai.
"Ngghhhhh." Seira kelepasan mendesah.
******* Seira membuat Daniel makin bersemangat, adik kecilnya Dandy malah udah berdiri gimana ini. Dandy lalu melepaskan ciumanya ketika Seira memukul dadanya tanda kehabisan nafas.
Dandy juga nggak mau keblabasan. Muka Seira panas, merah banget sampai ke telinga. Dandy ngelap bibir Seira pake jempolnya bekas salivanya. Lalu tersenyum teduh kearahnya.