Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 13 - Permulaan Badai


Serumi sedang memasak untuk anak-anak panti hari ini. Dan untuk seseorang juga, Jerendra. Dia sekarang jadi suka mampir kepanti. Semua sudah selesai dan terhidang diatas meja makan.


Serumi memanggil anak-anak untuk makan. Ibu panti menyuruh Jerendra untuk memimpin doa.


"Wah, dek Serumi pandai masak ya, enak banget." Puji Jerendra yang membuat pipi Serumi bersemu merah karena malu.


"Hehe enggak semua kok mas. Ibu juga bantu masak."


"Wah istri idaman memang dek." Jerendra mulai menggodanya.


"Cieee kak Serumi malu ih cie..." Cletukan seorang anak panti membuat Serumu semakin malu.


"Cieee." Mereka serempak menggoda Serumi.


"Sudah-sudah ayo makan." Ibu panti melerai. Akhirnya mereka menghabiskan makananya sesekali menggoda Serumu lagi.


"Sini aku bantu." Tawar Jerendra yang melihat Serumi sedang mencuci bekas makanan mereka.


"Eh nggak usah mas, duduk saja." Tolak Serumi dengan halus.


Jerendra memaksa. "Udah sini nggak papa."


Akhirnya Serumi mengalah mereka mencuci piring bersama diselingi candaan. Jerendra juga menjahili Serumi, dia mencipratkan air ke arah Serumi.


"Iih mas Jerendra, ini lantainya jadi basah kan." Protes Serumi dengan raut menggemaskan dimata Jerendra.


"Hahahaaa." Jerendra malah masih asik menciprati Serumi dengan air. Akhirnya Serumi juga gantian nyipratin air ke Jerendra.


"Gak kena wleek!" Jerendra malah lari-larian sekarang.


Serumi yang gregetan ikut ngejar dia. Karena lantainya basah Serumi nggak sengaja kepleset, dan Jerendra yang lihat itu langsung gerak cepat mau nangkap Serumi, tapi dia juga nggak seimbang. Akhirnya malah mereka jatuh bersama.


Bruk!


Tapi posisinya itu malah Jerendra yang diatas Serumi kan Jerendra yang ena—Eh!


Jerendra merhatiin setiap wajah Serumi yang dibawahya. Pipinya yang tembam malah menambah keimutannya, dan bibirnya yang tipis itu—duh! Jangan kelepasan Jerendra!


"Eemmm mas!"


Serumi menegurnya dengan gugup. Serumi, yang diperhatiin seperi itu sama Jerendra kan jadi kasihan jantungnya yang sudah mau lepas saja dari tadi.


"Eh oh maaf Rumi. Ada yang sakit?" Jerendra tersadar dan langsung berdiri dan membantu Serumi.


"Nggak papa kok mas."


Lalu mereka terdiam sesaat dan keadaan berubah menjadi canggung. Karena Serumi masih dengan menstabilkan detak jantungnya, dan Jerendra yang mencoba mengendalikan dirinya.


Akhirnya mereka bergabung bersama anak-anak panti lainya. Sudah malam Jerendra lalu pamit pulang. Serumi mengantarkan Jerendra sampai depan gerbang.


Waktu ditengah perjalanan Jerendra seperti ngenalin seseorang yang lagi diboncengin. Perasaan ini kayak pernah dia alamin dulu, Jerendra mengingat-ngingatnya.


Oh iya waktu itu Seira kan yang sedang diboncengin oleh kak Ravan. Tapi sekarang Jerendra memutuskan untuk menghilangkan prasangka itu. Mungkin itu cuma orang yang mirip Seira saja pikirnya dan melanjutkan perjalanan pulang


...*****...


Hari minggu adalah hari yang indah untuk semua murid sekolahan. Dimana hari ini mereka bisa mengistirahatkan diri sejenak dari berbagai macam pelajaran ataupun tugas. Tapi tidak untuk Seira dan beberapa temanya. Mereka sedang belajar hari ini.


Sekarang Seira dirumah salah satu temanya yang bernama Mina, mereka memang sering berganti rumah untuk les, yang masih bisa dibilang dekat dengan sekolah.


Kenapa tidak disekolah saja? Jawabanya karena mereka ingin lebih bebas. Karena hari minggu seperti ini biasanya juga sekolah dibuka untuk kakak kelas yang mengikuti ekstra kulikuler.


Seira nampaknya juga tidak masalah. Mereka bilang lebih suka Seira yang menjelaskan dari pada guru-guru disekolah.


Karena kalau Seira menjelaskan hanya intinya saja, tidak panjang lebar dan mudah dimengarti. Yang membuat mereka gampang paham. Tidak seperti guru-guru disekolah yang muter-muter ketika menjelaskan.


Mereka serius memperhatikan Seira yang sedang mengajar. Tapi tidak dengan satu orang—David, dari tadi dia memandang Seira terus, bukan fokus dengan yang dia ajarkan tapi pada yang mengajari.


"Cantiknya...jika sedang serius." Gumamnya, "Bercanda juga cantik."


Fix bucin Seira!


"Ra, istirahat bentar ya, haus nih. Aku buatin minum dulu sebentar." Ucap Mina yang diangguki oleh Seira. Mina lalu pergi menuju belakang untuk membuatkan mereka semua minuman.


"Eh Ra aku belum terlalu paham yang ini." Cantika menunjuk ke arah catatanya.


Seira menuju tempat Cantika untuk menjelaskanya. "Oh ini...kamu tinggal cari—"


Seira menjelaskan dengan sabar ke Cantika sampai dia benar-benar paham. Jangan lupakan orang yang dari tadi memperhatikanya. Mina lalu datang membawa minuman dan cemilan untuk mereka semua.


"Nah minum dulu sini." Mereka lalu menghampiri Mina.


David mengambilkan minum untuk Seira. "Nih, buat bu guru cantik."


Seongwu tersenyum dan mengambil gelas dari tangan David. "Hehe, terimakasih."


Mereka istirahat sebentar sambil mengobrol, dan bercanda. Sekitar pukul 12 siang mereka selesai, mereka memang mulai dari jam 9 pagi tadi, Seira yang minta, biasa dia harus membabu dulu pagi-pagi. Biasanya mereka baru akan selesai sekitar sore tapi tadi Celine bilang dia ada urusan.


Cantika juga tidak bisa lama-lama makanya Seira memutuskan untuk mengajar mereka sebentar saja. David bertanya apakah Seira akan langsung pulang setelah ini. Seira menjawab dia akan langsung pulang.


"Jalan-jalan dulu yuk Ra." Ajak David begitu mereka akan pulang.


"Maaf David aku nggak bisa."


Tolak Seira secara halus. Bukanya apa dia ingat jarang sekali ada waktu saat ini buat Dandy, makanya dia mau menghubungi Dandy untuk ketemu. Mumpung minggu ini dia agak senggang.


"Aku mau minta tolong ke kamu buat milihin bahan pelajaran fisika padahal. Aku nggak tahu mau beli yang mana aja. Tapi kayaknya kamu sibuk ya."


Alasan David membuat Seira sedikit bimbang.


"Emm...yaudah aku bantu pilihin."


"Yess...makasih bu guru cantik."


Mereka lalu pergi ke toko buku. Setelah selesai memilih buku yang ternyata nggak dibeli sama David dengan berbagai alasan, mereka sekarang sedang berada di kafe.


David yang memaksa katanya lapar, sekalian mau mentraktir Seira katanya. Memang ini adalah tujuan awal David.


"Mau pesen yang mana Ra?" David mengambil buku menu dan diserahkan ke Seira.


"Eemm aku samain kaya punya kamu aja. Kan kamu yang traktir."


Jawaban sederhana Seira membuat membuat David merasa gemas sendiri. Dia mengusak rambut Seongwu tanpa sadar.


"Seira!"


Panggilan seseorang membuat mereka berdua menoleh. Seira langsung terkejut dan seketika lemas ditempat.


Dia seperti kepergok sedang selingkuh. Eh!