
"Ngapain masih disini?” Dandy melirik sinis ke arah David. Mereka sudah diluar tapi Davil belum juga pergi.
"Lah kamu juga ngapain?" Seira yang tidak suka dengan situasi seperti ini langsung menarik tangan Dandy agar pulang saja. "Kamu ikut dia?"
Dandy memutar bola matanya malas, "Iyalah dia ikut sama pacarnya."
David mendengus lalu pergi meninggalkan mereka. Dandy membawa Seira buat naik ke mobilnya. Didalam mobil pun Dandy diam tidak berbicara sepatah katapun. Seira juga bingung mau mulai dari mana.
Mereka diam lama sekali sampai akhirnya Dandy meminggirkan mobilnya, soalnya nyetir dengan keadaan kayagitu nggak baik. Dia masih sayang nyawa.
"Kamu udah bosen sama aku?" Dandy berkata dingin yang membuat hati Seira sakit soalnya ini baru pertama kali Dandy bersikap dingin ke dia.
"Aku tadi cuma—" Seira mau menjelaskan tapi dipotong oleh Dandy.
"Cuma apa? Cuma mau selingkuh gitu?!" Dandy sudah tidak bisa menahan kekesalannya.
Seira yang sudah mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh, sekarang sudah membiarkannya mengalir begitu saja.
"Aku..." Seira tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Keluar!" Dandy menyuruh Seira keluar dari mobilnya.
“Hah?” Seira mendongak dengan apa yang barusan Dandy katakan.
"Keluar!" Bentak Dandy lagi yang membuat Seira tak percaya.
Akhirnya Seira keluar dari mobil Dandy sambil terisak. Seira semakin tidak percaya ketika Dandy pergi meninggalkanya dijalan.
"Hallo!" Dandy menghubungi seseorang.
"Hallo...Iya Dan kenapa?" jawab orang disebrang sana Melisa.
"Jemput Seira sekarang diajalan......"
"Hah? Emangnya Seira kenap—"
Tut Tut Tut Tut Tut
Panggilan diputus sepihak oleh Dandy. Dandy langsung menambah laju mobilnya. Sedangkan disebrang sana Melisa sedang meruntuki Dandy yang tidak jelas, tapi akhirnya dia pergi untuk menjemput Seira.
Melisa sudah sampai tapi dia tidak melihat Seira, Melisa celingukan dan menemukan sosok yang familiar sedang duduk sendirian. Melisa menepikan mobilnya dan menghampirinya.
"Astaga Seira!"
Seira menoleh ke arah Melisa sambil menyeka air matanya. "Melisa... huaaa!"
Seira langsung memeluk Melisa dan menangis didalam pelukanya. "Dandy... Mel, hiks dia—"
"Udah ceritanya nanti dulu, sekarang masuk kemobil, kamu dingin banget."
Melisa memakaikan jaketnya ke Seira dan menuntunya masuk ke mobil membawanya pergi ke rumahnya. Seira berada dirumah Melisa sekarang. Dia sudah agak mendingan, para sahabatnya juga sudah berkumpul disana.
Soalnya Melisa yang mengehubungi mereka agar datang kerumahnya untuk menghibur Seira. Mereka sedang berkumpul dikamar Melisa, menunggu Seira siap buat cerita ke mereka sebenarnya gimana.
Yura masih menenangkan Seira sambil mengusap belakang punggungnya. Sedangkan Milka sedang mengintrogasi Melisa, tapi Melisa bilang dia tidak tahu apa-apa.
Akhirnya Seira buka suara juga, dia cerita ke semua dari awal dia diminta tolong untuk menemani ke toko buku dengan David, sampai kejadian di kafe. Mereka baru buka suara ketika Seira menyelesaikan ceritanya.
"Wahh ini Dandy yang salah paham Ra." Ucap Yura yang diangguki oleh Melisa.
"Tapi menurutku Dandy keterlaluan juga, masa kamu ditinggalin gitu aja sih." Milka menanggapi dengan kesal. Melisa lupa bercerita bahwa dia yang disuruh Dandy buat menjemput Seira.
"Iya nggak ada otaknya apa tuh anak. Nanti kalau kamu kenapa-napa dijalan gimana? Untung ada Melisa! Awas aja nanti tuh anak!" Ucap Ayunda yang ikutan kesal dengan kelakuan sepupunya itu.
"Eh gaes, sebenernya tadi Dandy yang ngehubungin aku minta tolong untuk menjemput Sira." Ucap Melisa akhirnya, soalnya mereka kelihatan udah mojokin Dandy banget yang buat Seira jadi makin sedih.
"Hah? Beneran Mel?" Melisa mengangguk ke arah Seira. Setidaknya Seira sedikit lega karena Dandy tidak benar-benar tega kepadanya.
"Mendingan kamu beri sedikit waktu dulu buat Dandy deh Ra, soalnya kalau sekarang ini dia masih emosi. Nunggu dia reda dulu baru dijelasin lagi." Yura memberi nasihat, cuma dia yang bisa bilang gitu, temannya yang lain sibuk misuhin Dandy.
Seira mengangguk ada benarnya juga. Soalnya tadi memang kayak gitu, Dandy nggak mau mendengarkanya.
"Jangan terlalu dipikirin banget Ra, semangat. Sebuah hubungan pasti akan ada pertengkaran, tinggal kita aja yang menanggapi gimana."
Seira jadi terharu sama kata-kata Yura, dia memang paling dewasa diantara mereka. Seira memeluk Yura sambil ngucapin terimakasih.
"Makasih Yura."
"Iya."
"Ekhhmm, nggak ngajak-ngajak nih." Milka pura-pura merajuk.
"Hehe sini-sini." Lalu mereka pelukan kaya teletaubies.
Bukkkk...tiba-tiba Milka menimpuk Ayunda dengan bantal.
"Heh...rasain ini ya!" Balas Ayunda mengambil asal bantal yang didekat dia buat dilemparkan ke Milka tapi Milka sudah lari duluan.
"Nggak kena wleeekk!" Milka mengejar Ayunda yang semakin kesal dan mengejarnya. mengejek.
Seira dan Yura ketawa karena aksi kocak mereka. Mereka kejar-kejaran sampai kamar Melisa berantakan.
"OH TIDAK! KAMARKU! YAAK KALIAN!" Nah loh Melisa yang baru datang sehabis buatin minum jadi meledak karena melihat kamarnya yang sudah seperti kapal pecah.
...*****...
Dandy cara menenangkan dirinya berbeda dengan Seira, dia tidak menghubungi siapapun buat saat ini. Dia tidak mau terbawa emosi seperti tadi.
Dandy sedang menyesal sudah membentak Seira. Tapi rasa kecewanya lebih besar ke Seira karena sudah menghianatinya.
Dia sedang duduk di taman dekat kompleks rumahnya. Dandy sedang merenung memikirkan semua kemungkinan kenapa Seira bisa-bisanya selingkuh.
Apa Dandy kurang sempurna dimatanya? Atau karena apa? Uang kah? Apa semua orang didunia ini sama saja?
Dandy sudah mikir yg macam-macam sama Seira, padahal tadinya dia berpikir Seira itu berbeda dari yang lain, tapi ternyata sama saja.
Dandy mendongak untuk melihat siapa yang memanggilnya. "Eva? Kamu ngapain disini?"
Eva adalah teman satu kelas Dandy dan Haikal, mereka akrab karena pernah satu kelompok.
"Harusnya aku yang tanya. Kamu ngapain disini sendirian pula. Aku kan tinggal disebelah taman ini." Ucapan Eva membuat Dandy menggaruk kepalanya.
"Oh iya, nggak ngapa-ngapain cuma duduk aja. Oh kamu habis belanja." Dandy melihat Eva menenteng plastik belanjaan besar.
"Iya nih, cuma cemilan aja kok, soalnya dirumah abis."
"Banyak banget pantesan kamu berisi." Ucap Dandy jujur, karena memang tubuh Eva tuh montok.
"Ihh apaan si Dan, mau mampir nggak?" Beruntung Eva anaknya nggak baperan, dia ngajak Dandy buat mampir kerumahnya.
Dandy menggeleng, "Nggak usah deh aku mau pulang aja na-"
"Eva kenapa ngobrol diluar, itu temenya diajak masuk kasihan." Ucap seorang perempuan yang kelihatanya Ibunya Eva meneriakinya dari luar pagar.
"Iya bentar ma. Yuk Dan, tuh mama udah neriakin." Ajak Eva sambil narik tangan Dandy.
Akhirnya Dandy ikut soalnya Eva udah narik dia nggak enak juga sama mamanya. Dandy duduk diruang tamu rumah Eva, ternyata dia punya kakak perempuan.
Mamanya Eva ramah sih, tapi kakaknya itu nanya-nanya terus, Dady kan jadi nggak nyaman.
Gimana enggak risih, dari awal Dandy duduk udah ditanyain anaknya siapa? Tinggal dimana? Udah punya pacar belum? Kalo belum sama Eva aja?
Nah kan Dandy sebel juga lama-lama. Nggak lama Eva nimbrung soalnya tadi dia habis dibelakang. Habis dandan mungkin tapi bagi Dandy biasa saja.
"Diminum ya Dan, nggak usah malu-malu." Dandy si nurut aja dia sudah ingin pulang padahal tapi ditahan terus sama kakaknya Eva.
"Kak biarin, Dandy keliatan nggak nyaman tuh." Tegur Eva kearah kakaknya yang terlalu kepo.
"Eh masa si? Yaudah kakak tinggal ya." Dia pergi ninggalin Eva sama Dandy berdua.
"Maafin sikap kakak aku ya, dia emang gitu kepoan jadi orang." Eva jadi sedikit nggak enak sama Dandy.
Dandy mengangguk dan mau pamit pulang. "Iya nggak papa kok, yaudah aku pulang dulu ya, udah kemaleman ini."
"Eh udahan? Yaudah hati-hati ya Dan." Eva mengantarkan Dandy sampai depan.
"Yah sia-sia nih dandan." Ucap Eva pelan, nggak lama kakaknya dateng.
"Lah mana Dandy udah pulang? Kok cepet banget?"
"Udah tadi, kakak si kan Dandy nggak nyaman huh!" Eva lalu pergi kedalam sambil menghentakan kakinya.
"Hah salah kah?"
...*****...
Seira sudah dandan rapi, sudah lebih tegar dari sebelumnya, sudah biasa nutupin lukanya pakai fake smile, harusnya hari sudah seperti biasanya saja.
Kan dia pandai bersikap seolah nggak terjadi apa-apa, tapi kenapa kali ini rasanya agak susah? Apa karena sudah lama ini memang Seira tidak pernah sedih lagi?
Dia sudah berada disekolah tidak lama Melisa datang sambil menyapanya. "Hai Seiraaa!"
"Hai Melisa." Seira tersenyum ceria membalas sapaan Melisa.
"Nah gitu dong senyum, ini baru namanya Seira." Mereka lalu duduk dan memulai pelajaran seperti biasanya.
Sudah waktunya istirahat Seira sama Melisa menuju kekantin tapi diperjalanan, Seira seperti sedang diperhatikan oleh seisi sekolah. Bukanya kepedean soalnya setiap Seira lewat pasti ada yang berbisik-bisik.
Mereka sudah di kantin disana juga sama, waktu Seira sampai semuanya pada menoleh ke Seira sambil memasang muka prihatin sama tatapan yang Seira nggak paham.
"Seira, Melisa sini!" Panggil Milka ke arah mereka.
Disana biasa sudah ada semuanya—yah kecuali Dandy. Seira menghela nafas sudah bisa ditebak pasti Dandy akan menjauhi dia dulu.
"Makan yang banyak Ra, karena pura-pura bahagia itu butuh tenaga." Ucap Haikal yang langsung dihadiahi geplakan dari Melisa.
"Aduh ayang sakit." Ringis Haikal yang cuma dibalas tatapan setajam silet oleh Melisa.
"Hehe makasih Haikal." Mereka sudah tahu soal Dandy sama Seira yang lagi berantem. "Emm Kal, Dandy dimana?"
Masih sempet juga nanyain Dandy. Duh kurang baik apasi coba Seira.
"Oh dia dikelas tenang aja Ra, dia udah nitip jajan sama aku, nggak bakal kelaperan kok." Jawab Haikal cepat soalnya dia udah tebak pasti Seira mau nanya gimana makanya Dandy.
Seira menghela nafas lega, dia nggak mau cuma gara-gara Dandy mau ngehindarin dia malah nanti Dandy sakit gara-gara telat makan.
...*****...
"Dandy kamu nggak ke kantin?"
Dandy yang lagi nidurin kepalanya dimeja menoleh melihat Eva berdiri disampingnya.
"Enggak."
Eva lalu ikut duduk di kursi sebelah Dandy. "Nih makan sama aku. Aku bawa bekal banyak."
Eva duduk sambil mengeluarkan isi bekalnya. Dandy tetap tidak ngegubris dan masih tetep tiduran. Tapi Eva nggak nyerah.
"Dandy….. ayooo!" Ucap Eva dengan nada yang manja membuat Dandy risih.
"Iya...iya." Dandy ngalah akhirnya, soalnya dia males meladeninya Eva.
"Mau aku suapin? Aaaa?" Eva nyodorin makanan kedepan mulut Dandy.
"Nggak usah bisa sendiri." Tolak Dandy yang membuat Eva cemberut tapi nggak lama dia kesenengan soalnya berhasil juga ngajakin Dandy makan siang bareng cuma berdua lagi.
"Dandy—" Panggilan seseorang menghentikan aksi mereka yang lagi suap-suapan.
Tadi Eva maksa buat nyuapin Dandy, walau Dandy terus menolak tapi namanya aja Eva dia terus memaksa. Ketika Dandy menoleh dia langsung terkejut karena ada yang mergokin mereka berdua.