
Seira ingin menghilang saat itu juga!
Dia bahkan tidak mau membalikkan badannya untuk merespon sumber suara itu. Seira mencoba merubah raut wajahnya menjadi terlihat baik-baik saja.
Sret!
“Yura! Aku cari kamu kemana-mana!” Terdengar suara Jerendra yang sedang memanggil Yura.
”Hm. Itu tadi aku lihat—eh, kok udah hilang.” Yura terlihat kebingungan dan mencari sosok Seira yang sudah hilang dari pandangannya.
“Apasih Yu, kayak penting amat.” Jerendra mencoba mengalihkan perhatian Yura. “Dimana ruangannya?”
Yura menggelengkan kepalanya dan ganti menunjukan ruangan mamanya. “Kamu kok cepet banget kesini Je?”
“Kamu tahu sendiri kan kelakuan papa kamu? Dia kemarin nginep dirumah, dan ngerecokin kita seharian. Tadi ayah khawatir lihat kepanikan om dan nyuruh aku buat nyusulin kesini.”
Papa Yura dan ayah Jerendra itu kakak adik, walau bukan saudara kandung tapi mereka berdua dibesarkan dirumah yang sama.
Yura menganggukan kepalanya paham. “Oh iya, aku belum ngabarin nenek sama kakek!”
“Tenang aja ibu udah bilang ke mereka, paling besok sampai.” Ucap Jerendra sambil melihat kesekeliling dan mengehela nafas lega karena Seira sudah berhasil pergi.
Kedatanganya sangat pas, jika Jerendra terlambat satu menit aja pasti Seira sudah ketahuan oleh Yura. Beruntung juga tadi pulang sekolah dia tidak langsung pulang kerumah dan mampir kesini.
“Oke makasih ya Je.” Mereka adalah sepupu walau tak terikat darah.
Jerendra mengangguk, “Ibu akan nyusul kesini nanti. Lihat grub, pada ngucapin selamat karena kamu udah punya adik.”
Yura mengecek hpnya dan tersenyum sambil membalas ucapan para sahabatnya. “Oh iya Je, tadi aku seperti lihat Seira.”
“Hah? Serius? Kamu nggak salah lihat kan Yu? Buat apa juga Seira ada disini.”
Yura menggaruk kepalanya. “Ya kamu bener mungkin aku salah lihat.”
“Jerendra, Yura.” Mereka berdua dipanggil oleh papa Yura dan bergegas menghampirinya untuk diajak melihat dedek bayi.
*****
Seira menyeka keringatnya yang mengalir, dia hampir saja ketahuan oleh Yura. Tidak aman, baru satu hari dia keluar sudah banyak bertemu orang yang ingin dihindari.
Bersyukur tadi Jerendra datang tepat waktu, jika tidak entah apa yang harus dia berikan alasan untuk membohongi Yura.
“Seira? Udah pulang? Gimana hasilnya? Eh kamu demamam?” Tanya Serumi terkejut ketika melihat Yura baru pulang dengan wajah yang memerah.
“Haha semua baik Rumi, ah ini cuma tadi aku disuruh olahraga sama dokternya.” Jawab Seira berbohong.
“Haduh, kukira kamu demam.” Serumi mengambilkan minum untuk Seira.
Tiba-tiba Serumi dikagetkan dengan Seira yang menepuk jidatnya sendiri.
“Aku lupa nebus obatnya Rumi!” Ucap Seira kelabakan.
Serumi menggelengkan kepalanya, “Yaampun. Aku kira apaan, yaudah nitip mas Jerendra aja. Dia katanya lagi di RS menjenguk saudaranya yang lahiran.”
Serumi mengeluarkan Hpnya dan mengetikan pesan ke Jerendra. Seira merasa tak enak, dia memang lupa tadi karena harus menghindari Yura.
Baru keluar satu hari saja sudah banyak yang dia temui. Bisa terbongkar jika lama-kelamaan ini.
“Ehm Rumi, menurut kamu kalau aku ganti dokter kandungan aja gimana?” Seira meminta pendapat.
Seira menggeleng, “Engga sih, cuma aku nggak enak. Terlalu mahal.”
“Yaampun Seira, kita kan udah sepakat buat nggak ngebahas masalah ini.”
“Ya tapi—“
“Udah ah aku nggak mau denger apapun lagi. Kamu makan dulu abis itu istirahat, aku mau kepasar.”
“Aku ikut ya.”
“Ck, enggak! Aku sama bunda juga.” Tolak Serumi dengan galak.
Seira sudah tidak bisa memaksa kalau Serumi sudah berubah mode menjadi ibu-ibu.
“Oh iya Ra, tadi sebelum kamu pulang ada yang nganterin ini.” Serumi memberikan amplop kepada Seira.
“Oke makasih ya Rumi.” Setelah Serumi pergi barulah Seira membuka isi amplop itu yang ternyata adalah surat penyerahan hak waris.
Seira tidak begitu mengerti, bukankah semua harta perusahaan dan aset sudah ditangan bibinya? Tapi kenapa didalam surat itu dikembalikan lagi atas namanya?
Apakah bibinya bertobat?
Tanpa banyak berpikir dia pergi menuju kerumah bibinya. Setelah sampai, Seira dikejutkan dengan rumah bibinya yang sangat berantakan.
Halaman depan sudah seperti terkena bencana. Kursi kayu yang berada dihalaman sudah terbelah menjadi dua. Padahal belum satu bulan dia meninggalkan rumah itu.
Tok! Tok! Tok!
Seira mengetuk pintu itu beberapa kali namun tidak ada jawaban. Rumah itu juga terlihat sangat sepi. Seira menutup gerbang rumah itu lagi.
Ada nenek-nenek tetangga yang kebetulan akan buang sampah dan melihat Seira. Dia mengahmpiri Seira, “Nak Seira?”
Seira berbalik dan menganggukan kepalanya. “Oh, selamat siang nek Paca.”
Nenek Paca tersenyum hangat. “Yaampun, nenek kira kamu ikut dipenjara juga.”
Seira terkejut. “Penjara?”
“Kamu nggak tahu? Bibi kamu dan kedua anaknya dipenjara tiga hari yang lalu. Mereka membuat kegaduhan sampai polisi terpaksa melakukan sedikit kekerasan agar mereka mau dibawa.” Jelas nenek Paca sambil menggelengkan kepalanya mengingat kejadian heboh itu.
“Karena apa ya nek?” Kejahatan apa yang dilakukan bibinya dan kedua sepupunya sampai masuk penjara.
Nenek Paca menggelengkan kepalanya. “Nenek tidak tahu. Tapi syukurlah nenek kira kamu juga ikut dipenjara.”
Seira buru-buru mengucapkan terimakasih. “Terimakasih ya nek atas informasinya, saya pamit pergi dulu.”
“Iya hati-hati nak Seira.” Dia melihat punggung Seira yang menjauh.
“Nek udah buang sampahnya?” Panggil seseorang dari jauh. Dia adalah cucu nenek Paca.
“Oh iya nenek lupa.”
Cucunya menggelengkan kepalanya dan mengambil alih plastik ditangan neneknya. “Biar aku aja. Nenek kembali aja kerumah.”
Si nenek memuji sambil mengejek. “Udah baik, ganteng, perhatian, tapi sayang nggak punya pacar.”
“Neekkkkkk.”