Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
Bab 26 - Kehidupan Sekolah Aaron


Aaron itu satu tahun lebih tua dari Daewi dia dikelas dua SMA sedangkan Daehwi masih duduk dibangku kelas satu SMA. Mereka juga sama-sama masuk ke SMA favorit.


Sebenarnya Aaron masuk kesana karena beasiswa dulu, tapi ketika Daewi juga ingin masuk kesekolah yang sama kaya Aaron, maka Aaron merelakan beasiswanya buat Daewi, agar dia bisa masuk kesana.


Walau Aaron tinggal dipanti selama ini, seperti ada seseorang yang mencukupi kebutuhanya. Aaron juga tidak tahu siapa orang itu. Dia selalu mendapat jatah uang jajan yang sangat besar setiap bulanya.


Hanya Aaron yang diperlakukan seperti itu, kadang banyak paket dari luar negri yang dikirim seseorang hanya untuknya. Aaron juga sudah punya kendaraan sendiri. Hadiah ulang tahunya yang ke 16 tahun lalu, lagi-lagi dari luar negri.


Teman-teman sekolahnya juga tidak akan percaya bahwa Aaron adalah anak panti. Karena percayalah semua yang dikenakan Aaron dari atas sampai bawah semuanya barang bermerek yang sangat mahal, tentu saja itu adalah hadiah.


Tidak mungkin Aaron menghamburkan uangnya untuk itu. Tapi Aaron memakainya hanya karena ingin menghargai orang yang sudah memberikanya semua itu. Terlebih bukan untuk pamer.


Jika mau Aaron bisa tinggal sendiri, bahkan Aaron sudah punya apartemen atas namanya. Tapi Aaron tidak mau meninggalkan keluarga pantinya itu, terlebih bunda dan bibinya yang sudah merawatnya dari kecil.


Semua juga menganggap Aaron sangat beruntung, bahkan Daewi pun iri dengannya, tapi nggak dengki kok. Tenang Daewi juga kecipratan. Dia juga banyak dibelikan barang-barang oleh Aaron.


Dia minta tas, make up, baju, sepatu, dan sebagainya. Tapi Aaron nyanggupin kok, karena dari semua anak dipanti Aaron paling sayang sama Daewi, dan udah anggep Daewi adik kandungnya sendiri soalnya Daehwi itu ada kekurangan. Yah cuma ngungkapin sayangnya dengan berantem terus sama Daewi.


"Cepet cabe, aku tinggal nih!" Aaron udah duduk ganteng di depan motornya. Nungguin Daewi dandan itu lama banget. Greget banget Aaron, nanti kalau ditinggal ngamuk lagi.


"Cabee! Aku hitung nih, satu!"


Brak! Brak!


Daehwi jalan cepat-cepat, kelihatan repot sambil nenteng sepatu sama tasnya.


"Bentar! Sepatu belum masuk ih!"


"Makanya cepet! Dandan kok lama banget!"


"Berisik gembul! Udah ayo!" Setelah pamitan sama bunda dan bibinya mereka gas ke sekolah.


Nggak butuh waktu lama mereka udah nyampe kesekolah. Soalnya Aaron ngebut dijalan yang bikin Daewi ngeluarin sumpah serapahnya buat Aaron sepanjang perjalanan.


"Cabe, nanti aku pulang telat mau latihan basket dulu, pulang sendiri apa mau nunggu?"


"Idih ogah nunggu, pulang dulu laah." Jawab Daewi sambil nebelin mukanya pakai bedak yang katanya hilang dijalan tadi kebawa angin.


"Ongkosnya mana?" Daehwi nengadahin tanganya di depan muka Aaron yang sepet. Mau nggak mau Aaron ngeluarin dompetnya dan ambil dua lembar buat Daewi.


"Oke siip!" Muka Daewi cengar-cengir.


"Yaudah belajar yang rajin ya be!" Aaron pergi sambil ngacak rambutnya Daewi yang udah mau ngeluarin sumpah serapahnya tapi Aaron udah lari duluan.


...*****...


Aaron itu tipe anak yang rajin dan kalem kalau dikelas pasti mendengarkan gurunya yang sedang mengajar. Tapi ketika dia naik ke kelas dua mendadak jadi berisik, soalnya teman-temanya pada bobrok semua si.


Aaron yang dulunya selalu duduk dibaris pertama didepan guru, langsung pindah kebelakang, persis deket jendela sebangku sama Jovan anak paling bobrok lagi. Ditambah depanya Zoe ya sudah lah Aaron ketularan deh.


Mereka bertiga bahkan pernah dihukum karena ketawa ngakak birisik banget, ketika guru killer bu maung Kirana sedang mengajar. Gara-gara Zoe yang bisik-bisik bilang bahwa bu Kirana itu montok banget dan masih cantik walau sudah punya lima anak.


Mana suaminya kan pak Theo yang kalau mengajar memakai bahasa Alien. Mereka langsung ngakak ketika Zoe bilang seperti itu. Soalnya membayangkan pak Theo yang sedang mengajar fisika cara mempraktekanya itu semaunya sendiri.


Mereka bertiga dihukum, disuruh bersihin toilet seluruh sekolah. Ya orang Zoe tuh bisik-bisiknya keras sampe sekelas bisa dengar. Tapi tenang mereka nggak pernah bolos, atau melanggar tata tertib lainya kok. Mereka cuma bobrok aja.


Kring!


Bel istirahat berbunyi, murid-murid berbondong menyerbu kantin setelah melalui jam yang sangat membosankan.


"Ron, itu adek kelas inceran kamu kan." Zoe menunjuk segerombolan siswa yang sedang mengantri.


Disana terlihat adik kelas gebetan Aaron sedang kesusahan mencari tempat duduk karena meja sudah penuh. Memang begitu si, tradisi kalau adik kelas selalu mengalah.


"Eh iya itu bebeb aku, geser be buat si bebeb." Aaron dengan santainya mengusir Daewi yang lagi enak-enak makan. Dengan mendumel akhirnya Daewi geser juga. Ya keberuntungan juga punya abang kakak kelas jadi bisa numpang deh.


"Neiraaa—" Panggil Aaron tidak jadi.


Dia sudah pede banget mau mendekati Neira eh kalah sama si tiang. Malah si tiang udah nggandeng gebetanya aja. Denga muka sepet Aaron balik ke mejanya.


"Mampus!" Nah dimampusin Daewi malah.


"Berisi ah cabe!" Dengan maruknya Aaron pesan lagi dua makanan versi jumbo buat dia sendiri. Katanya galau butuh tenaga men.