
Seseorang baru saja menginjakan kakinya di Indonesia. Ia tersenyum dengan miris teringat kembali kenangan masa lalu yang tiba-tiba saja terputar diotaknya. Kenangan buruk yang ingin ia lupakan namun tak bisa.
Bulir air matanya tumpah begitu saja ketika melihat ke arah ponselnya yang terpampang foto seorang perempuan dan bayi mungil yg ada digendonganya. Mereka tersenyum bahagia sekali.
"Andai aku bisa memutar waktu." gumamnya sambil mengusap gambar itu.
Dia turun didepan gedung sekolah yang menyimpan banyak sekali kenangan. Bangunan itu masih sama kokoh dan tak banyak berubah. Hanya saja gerbang yang sudah di cat ulang agar tidak kusam. Ia membuka gerbang sekolah itu namun tak menemukan satu orang pun.
Dia lupa bahwa sekarang masih jam belajar maka tak banyak seseorang yang berlalu lalang. Namun ia lega setidaknya kehadiranya tak terlalu mencolok. Ia melihat seseorang gadis manis yang sedang membawa setumpuk berkas, ia segera memanggilnya.
"Hai gadis manis apakah kau mengenal Aaron? Dia bersekolah disini."
Gadis yang diajak bicara itu mengangguk dan tersenyum ramah kepada orang asing itu.
"Bisa tolong antarkan saya? Nona--?"
"Ah, panggil saja Neira...." ucap Neira sopan sambil melihat penampilan orang asing tersebut.
Orang didepannya seperti model, penampilannya sangat mewah dan elegan. Apa orang ini saudara jauh dari kakak kelasnya Aaron, karena mereka terlihat mirip.
Orang itu tersenyum dan membuat Neira sadar kembali dari keterkagumanya. "Baik nak Neira, bisa?"
"Ah iya lewat sini eumm...?" Neira tak tahu nama orang tersebut.
"Ah kau boleh memanggil aku *****"
"Baiklah *****"
Mereka berjalan dengan Neira yang didepan menunjukan dimana ruangan kakak kelasnya, Aaron berada.
"Terimakasih sudah mengantarkan ku nak Neira."
"Sama-sama, saya permisi dulu." pamit Neira dengan sopan.
Orang asing itu mengintip dikaca luar, dia bisa melihat Aaron sedang memperhatikan guru yang mengajar, sesekali bercanda dengan temanya. Rasanya bahagia melihat Aaron yang sedang tertawa seperti itu.
"Kau tumbuh dengan cepat sayang."
"Maafkan aku yang harus meninggalkanmu."
"Aku tak punya pilihan lain."
Kring! Kring!
Bel istirahat berbunyi, anak-anak sudah mulai berhamburan keluar. Orang itu cepat-cepat pergi sebelum Aaron keluar.
Dia mengusap air matanya, "Maafkan aku sekarang bukan waktu yang tepat."
Deg!
Aaron merasakan getaran aneh didadanya, dia memegang dadanya yang sempat nyeri sebentar tadi. Eh setaunya Aaron nggak punya penyakit jantung kok rasanya nyeri ya. Paling karena Aaron belum makan dari tadi pagi.
Salahin Daewi yang buat mereka kesiangan, berakhir nggak sarapan mereka. Aaron mesen makanan banyak ya biasa dimakan sendiri, maruk memang tapi gimana emang gitu. Mana makanya nggak nyeantai sampai muncrat-muncrat, apesnya kena Daewi lagi.
"Aa! Jorok banget sih! Ini kena muka aku semua!" Teriak Daewi sambil ngelap mukanya pake tisu. Haduh luntur sudah bedaknya.
"Maafhkk gasenguajhaa." Balas Aaron dengan mulut masih penuh makanan dan lanjut makan lagi.
"Iiih! Makan ya makan, ngomong ya ngomong jangan makan sambil ngomong keselek baru tau!" Omel Daewi dengan muka julidnya.
Yang disana si sudah kebal sama kebacotan dua kakak adek itu. Rasanya nggak afdol kalo mereka diam.
"Hehhe...hafisnyaa uhukkk...!!" nah kan baru aja diomongin.
"Pelan pelan makanya!" sembur Daewi lagi tapi langsung nyodorin minumnya yang langsung ditengguk habis sama Aaron.
Walau sambil marah-marah tapi dia juga ngusap-ngusap punggung Aaron. Itu yang membuat mereka kagum, sering bertengkar tapi perhatian satu sama lain.
Udah lega sekarang Aaron, hampir saja mati keselek dia. Lah salah siapa coba?
Tiba-tiba ada bidadari yang nyamperin Aaron, eh tumben. Untung Aaron sudah sembuh dari acara keseleknya bisa jatuh harga kalo dek Neira liat dia tadi mah.
"Kak Aaron." sapa Neira.
"Eh ada bidadari, ada apa? Tumben nyamperin duduk sini." teman-temannya plus Daewi udah mau muntahin makanannya, medengar gombalan Aaron itu.
"Cuma mau bilang tadi ada orang yang nyariin kakak. Udah ketemu sama dia?"
Aaron menggelengkan kepalanya, "Hah? Enggak ada yang nyamper kok. Siapa memangnya?"
"Nggak tahu, tapi dia kenal kak Aaron. Tadi aku anterin dia sampai depan kelas kakak." Jelas Neira.
"Halah paling orang iseng.” Sambar Daewi gak peduli dan ngambil bedak dari saku jaketnya. Dia ngasih itu ke Neira untuk dipegangin, Neira nurut dengan polos.
Neira lalu mengingat rupa orang itu, “Eh, tapi orang itu mirip kak Aaron.”
Daewi berhenti bedakan dan memandang Aaron, “Hm, orang mirip monyet ini?—ah!”
“Sembarangan!” Aaron menjitak kepala Daewi yang membuat Neira tertawa.
“Sakit A! Hish!” Setelah balik menjitak, Daewi bertanya iseng ke Neira. “Dia ngasih tahu namanya gak?”
Neira menggelengkan kepalanya namun seperti mengingat-ngingat kembali.
“Ah kau boleh memanggil aku tante Christy.”
Neira ingat sekarang, "O ya, kalau nggak salah aku disuruh panggil tante Christy."
Deg!
Aaron tersentak nggak mungkin kan kalau dia adalah mamanya? Daewi juga ikut kaget, nggak mungkin lah masa? Aaronlangsung lari gitu aja ninggalin mereka yang masih cengo. Kecuali Daewi dia nyusulin Aaron.
Jovan tiba-tiba bilang ke Zoe bahwa dia mules langsung ngibirit. Zoe yang tau kode dari Jovan juga langsung pamit ke Neira katanya kebelet.
Disana cuma nyisain Neira yang masih nggak ngerti kenapa mereka lari-larian begitu.
Ketika mau kekelas, Neira ditahan sama ibu kantin. "Heh bayar dulu neng jangan kabur."
"Tapi bu, bukan saya yang—" baru ngeh Neira.
Duh mana pesenan mereka banyak pake banget lagi. Terpaksa Neira ngebayarin mereka pake uang tabunganya. Padahal itu buat beli album. Ah sudahlah. Apes Neira.
*******
Aaron naik motor kebut-kebutan dijalan, nggak peduli pokoknya dia harus cepat sampai ke panti dulu sekarang. Dia mau nanya ke bibinya apa benar selama ini mamanya masih hidup? Jadi selama ini dia benar-benar ditelantarkan?
Dilain tempat Daewi juga gelagapan, mana go-cery nya lama banget, dia takut Aaron kenapa-napa dijalan. Daewi sudah hafal sama sifat Aaron.
Dia juga nggak nyangka apa benar orang yang dimaksud Neira itu orang yang sama kaya mamanya Aaron?
Tin! Tin!
"Neng Daewi ya ma—"
"Iya bener, udah cepet sesuai lokasi ya pak, kalo perlu ngebut." cerocos Daewi begitu masuk mobil nggak sabaran.
"Tapi neng anu—"
"Udah cepet aja pak, aku bayar tigakali lipat."
"Ahsiappp!"
Dijalan menuju panti karena Aaron mengendarai motornya sudah dibatas normal, dan dia juga sering menerobos lampu lalu lintas, dia tidak bisa menghindar ketika melihat truk yang berlawanan arah sedang menuju ke arahnya.
Brak!!! Drakkk!!!
Dan tabrakan yang tak terelakan pun terjadi, Aaron terpental sangat jauh. Aaron sempat merasakan pusing yang amat sangat. Dia merasakan darah yang makin banyak mengalir di kepalanya, sesudah itu semuanya gelap.
"Kenapa berhenti?" tanya seseorang yang sedang dalam perjalanan.
"Itu sepertinya ada kecelakaan didepan..." jelas si pak sopir.
Orang itu turun dan mengecek karena penasaran. Dan benar, ada seorang anak muda yang tergeletak tak sadarkan diri. Ada perasaan ingin menolong dalam dirinya.
"Apa tidak ada yang memanggil ambulance?" tanyanya, kepada semua orang yang mengerubunginya.
"Sudah, mereka sedang menuju kesini." jawab salah satu orang.
Orang itu mengecek jam tangannya, "Itu akan sangat telat, biar saya antar dia saja. Tolong angkatkan anak ini ke mobil saya."
Mereka lalu memindahkan Aaron ke dalam mobil orang itu dan langsung membawanya ke rumah sakit. Karena kebetulan dia juga mau menuju ke rumah sakit.
Mereka tiba dengan segera, orang itu berteriak memanggil suster. "Suster tolong."
Mereka langsung sigap membawa Aaron yang berada digendongannya dialihkan keranjang.
"Apa anda walinya?" tanya sang Dokter.
"Bukan dok, saya yang menemukanya dijalan."
Salah satu suster berkata, "Dokter, kondisi pasien menurun kita harus segera menanganinya.”
Mereka lalu bergegas membawa Aaron ke ruang operasi meninggalkan orang asing itu.
"Tolong uruskan dulu administrasi dan isi daftar walinya, dia sekarat." kata suster.
Orang itu mengangguk bahkan dia tidak mempermasalahkan bajunya yang sudah terkena noda darah anak itu.
******
"Kok berhenti pak?" tanya Daewi.
"Itu sepertinya ada kecelakaan didepan—" jantung Daewi mau copot rasanya jangan, jangan, jangan yatuhan Daewi mohon jangan...
"—anak sekolah pakai motor menabrak truk besar."
Daewi langsung lemas, dia keluar mau mastiin. Dan oh tidak! Itu motornya Aaron, dan helmnya yang sudah hancur itu persis punyanya Aaron soalnya Daewi yang membelinya. Untuk kado pelengkap motor Aaron. Daewi nggak pangling sama gambar tom jery itu.
Daewi menangis, dia lalu sempetin bertanya ke orang-orang yang masih berkerumunan itu. Dibawa ke rumah sakit mana Aaron? Setelah tahu alamat rumah sakitnya nya Daewi langsung minta diantar kesana. Sebelumnya dia kirim pesan ke bibinya memberi tahu bahwa Aaron kecelakaan.
Sedangkan di panti*
Serumi sedang menemani Jerendra yang sedang bernyanyi bersama anak-anak panti yang masih kecil. Jerendra memainkan gitarnya. Duh bakat suaminya itu nggak pernah berubah ya, masih sama jadi inget waktu Jerendra pertamakali nembak Serumi.
Jadi nostalgia mereka, Serumi memandang Jerendra penuh cinta. Utung suaminya lagi cuti. Jadi bisa seharian bareng. Nggak lama ada bel berbunyi. Serumi keluar buat bukain pintu dan betapa terkejutnya Serumi waktu pertama lihat dia setelah sekian lama.
"Rumii..."
Serumi masih menatap tidak percaya, ini ilusikah? Benar orang yang dihadapanya ini adalah orang yang sama? Jerendra yang penasaran karena Serumi lama sekali membuka pintu langsung susulin Serumi kedepan.
Jerendra juga sama terkejutnya, sampai-sampai gitar yang dibawanya dijatuhin gitu aja.
"SEIRA!!"