Luka Tak Termaafkan

Luka Tak Termaafkan
End Season 1


"Seira sudah dibilangin nggak usah juga ya, ngeyel ih!" Teriak Serumi sambil bercak pinggang.


Seira yang mendengar itu cuma cengengesan saja, dia sedang mencuci piring bekas anak-anak makan siang tadi. "Nggak papa Rumi, lagian nggak berat kok."


"Iya sama kamu si nggak papa itu dede bayinya kasian lagian kamu kan udah 8 bulan. Dokter juga bilang jangan cape-cape kan." Ceramah Serumi dan mengambil alih pekerjaan Seira.


Seira lalu membereskan semuanya dan duduk, soalnya kalau sahabatnya sudah ngomong nggak berhenti-berhenti kalau dia nggak nurut.


Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, tahu-tahu Seira sudah bersembunyi selama delapan bulan. Perutnya sudah membesar tinggal menunggu satu bulan lagi dia bisa melahirkan.


Bantuan yang dia dapatkan dari Jerendra dan juga kakak kelasnya Kirana terus berdatangan. Dia merasa sangat bersyukur akan hal itu.


Ternyata dipenjaranya bibi dan kedua sepupunya karena kasus penggelapan uang perusahaan. Mereka didenda dan juga dipenjara selama 20 tahun karena tidak bisa membayar denda.


Masalah pemindahan hak waris dan seluruh aset, Seira belum menunjukannya kepada siapapun. Dia juga masih bimbang, apakah dia bisa menjalankan bisinis alm. kedua orangtuanya atau tidak.


“Ra udah siap?" Tanya Jerendra, dia mau mengantar Seira ke dokter, sudah jadwalnya dia untuk konsultasi sama mau usg. Karena baru kali ini Seira mau di usg.


"Iya sebentar." Jawab Seira dari dalam menyiapkan kebutuhannya.


"Dedeknya cewek apa cowok ya nanti?" Tanya Serumi sambil menunggu Seira bersiap-siap.


"Semoga aja cewek." Jerendra tersenyum.


"Eh? Nggak cowok aja?" Serumi menatap Jerendra polos.


"Biar nggak bresengsek kaya ayahnya.” Ucap Jerendra.


"Oh ya cewek aja!" Koreksi Serumi sependapat.


Jerendra yang mendengar itu dari Serumi langsung mengusak rambut Serumi dengan sayang, lucu banget si pacarnya ini.


"Udah Je." Ajak Seira.


"Dadah hati-hati ya, semoga dedenya cewek aja!" Serumi dadah-dadah ke Seira sambil bilang begitu. Seira hanya tersenyum menaggapi tingkah lucu sahabatnya itu.


Mereka sudah sampai di rumah sakit tempat biasa Seira konsultasi, disana dia sudah ditunggu sama dokter Dava.


Dari awal Seira hamil, dia yang ngurusin semuanya. Mereka juga udah akrab karena Seira orangnya sangat asik, juga kebetulan sang dokter mempunyai adik perempuan sebaya dengannya.


"Hai Nona Seira, gimana udah nggak bengkak kakinya?" Tanya dokter Dava dengan ramah, dia mempersilahkan Seira untuk berbaring di ranjang rumah sakit sambil memeriksa kaki Seira.


"Hai juga dokter, iya udah enggak dok, tapi sekarang pinggang saya yang sakit kadang-kadang, waktu sehabis bangun tidur serasa nggak bisa bangun lagi, sama kalau mandi nggak bisa sambil berdiri lama."


Seira mengatakan semua keluhannya, Dava mendengarkannya dengan sabar.


"Itu keluhan yang wajar, memang menjelang melahirkan pasti gejala-gejala itu akan muncul, dan anda harus ekstra hati-hati jaga pola makan yang seimbang. Juga jangan melakukan aktivitas yang berat, jangan banyak pikiran juga."


Dokter Dava menjelaskan secara rinci dan Seira mengangguk mengerti.


"Jadi sudah siap untuk di USG?" Tanya dokter Dava sambil mengambil peralatanya.


"Iya sudah dok." Ucap Seira dengan gugup, ini pertama kalinya dia akan melihat sesuatu yang bernyawa didalam dirinya yang sudah hidup bersamanya selama 8 bulan lebih ini.


"Maaf akan sedikit dingin ditahan ya." Dokter Dava memberikan jel diarea perut Seira.


Seira bahagia walau tidak jelas dia dapat melihat buah hatinya baik-baik didalam sana. Dokter Dava menjelaskan tentang semua keadaan si kecil yang baik-baik saja didalam perutnya.


Tes\~


Setetes air mata bahagia meluncur begitu saja. Seira akan jadi ibu sebentar lagi. Andai ayahnya juga mengakui pasti kebahagiaanya akan lengkap tapi dia buru-buru menepis semua itu mengingat kelakuan brengseknya.


"Dia laki-laki." Dokter Dava memberikan hasilnya.


"Benarkah dok?" Tanya Seira dengan raut senang mengelus gambar hitam putih ditangannya.


"Iya, dia pasti akan tumbuh seperti ayahnya." Seketika senyum Seira luntur, dokter Dava buru-buru meminta maaf. "Eeh-maafkan saya tidak bermaksud."


Dava menggaruk kepalanya merasa bersalah, soalnya dia reflek pasti akan selalu berkata seperti itu kepada semua pasienya. Jika perempuan pasti akan seperti ibunya dan laki-laki akan seperti ayahnya.


"Tidak apa-apa dok.” Ucap Seira sambil tersenyum palsu.


Dava sudah tahu tentang kondisi Seira. Dia bisa menebak dari awal. Anak dibawah umur seperti Seira sudah pasti belum menikah, dan karena biasanya pasien akan didampingi oleh pasanganya, dan Seira bahkan setiap konsultasi pasti selalu sendiri.


Tapi yang Dava salut dari Seira ini, dia malah berjuang untuk merawatnya disaat semua anak diumurnya jika mengalami hal itu, pasti mereka akan minta untuk digugurkan berbeda dengan Seira. Dia malah terlihat sangat menyayangi anak didalam kandunganya itu.


"Oh iya saya sudah meyatakan perasaan saya kepada anak yang saya sukai." Ucap dokter Dava pada Seira untuk memecah keheningan.


"Hah? Benarkah dok? Lalu bagaimana?" Tanya Seira dengan antusias.


"Yah diluar dugaan, dia menerima saya.” Ujar dokter Dava dengan malu-malu.


"Waah selamat ya dok, tapi jangan ngapa-apa dulu!" Seira seperti mengancam.


Lalu mereka tertawa dokter Dava memang bercerita tentang dia yang sedang jatuh cinta sama anak seumuran Seira, awalnya haya untuk memancing agar Seira tidak gugup saat diperiksa eh malah terlanjur curhat.


Dan dokter Dava juga malah bersyukur berkat Seira, dia jadi berani menyatakanya didepan orang itu walau menguras jiwa raga, karena pacarnya itu sangatlah polos.


...*****...


"Sudah?" Tanya Jerendra dia habis membeli kebutuhan Seira diminimarket dekat rumah sakit.


"Iya udah tinggal nebus ini aja." Jerendra langsung mengambil resep itu untuk ditebus, Seira menungguinya didalam mobil.


"Gimana perempuan atau laki-laki?" Tanya Jerendra ketika kembali memberikan Seira kantung plastik berisi obat.


"Laki-laki."


Jerendra terdiam agak lama, "Hmm, yaudah nggak papa yang penting kamu didik dia yang benar biar nggak jadi brengsek kaya ayahnya."


Seira mengangguk walau terasa sesak. "Eh kabar Melisa sama yang lain gimana? Baik-baik aja?"


Seira sudah lama tidak bertanya kabar sahabat-sahabatnya itu. Rindu sekali Seira dengan mereka semua.


Jerendra menjalankan mobilnya keluar dari rumah sakit. "Iya mereka baik-baik aja, biasa Melisa masih bete nungguin kabar dari kamu, seenggaknya mereka ngira kamu baik-baik aja."


Seira tersenyum, mereka pulang menuju panti yang sudah ditungguin Serumi dari tadi. Tapi baru tengah jalan Seira malah bilang dia tiba-tiba mules, Jerendra sudah meminggirkan mobilnya mau nyari toilet.


Tapi dia melihat air ketuban Seira sudah pecah padahal prediksinya masih satu bulan lagi. Jerendra menjadi kalang kabut dia menyetir dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai ke rumah sakit lagi.


Jerendra juga sudah berkali kali mendapat teguran orang-orang dijalan karena menyalip, tapi dia tak peduli. Dia bahkan menerobos lampu lalu lintas. Beruntung dia tidak dihadang oleh polisi.


Seira sekarang sudah di dalam, sedang dalam proses melahirkan. Serumi sudah sampai dan sedang mondar-mandir didepan ruangan Seira dengan cemas.


"Dek Rumi, tenang dulu duduk sini." Jerendra membawa Serumi untuk duduk.


"Tapi mas, Seira masih dibawah umur, gimana kalo dia nggak kuat mas hiks…" Nahkan jadi nangis. Jerendra mengusap-usap punggung Serumi dengan sabar.


"Hust… jangan bilang kaya gitu. Kita doain aja yang terbaik buat Seira ya." Padahal Jerendra sendiri juga merasa khawatir.


Serumi mengangguk dan mulai berdoa dalam hatinya. "Yatuhan, semoga Seira dan dede bayi selamat tanpa kurang sedikitpun.”


Sementara itu Seira didalam masih berjuang antara hidup dan matinya untuk melahirnya anaknya. Tadinya Seira disuruh dokter untuk operasi saja.


Karena dengan melahirkan normal akan membahayakan nyawanya, takutnya dia nggak kuat tapi ditolak oleh Seira. Dia mau memperjuangkan anaknya bagaimanapun resikonya.


"Tarik nafas n.y dengan perlahan, lalu keluarkan." Interupsi salah satu suster.


"Nona Seira yang tenang, tarik nafas dan dorong." Ucap dokter Dava.


"Huuhhh,,,huuuhhh,,,aaakkhhh!!!"


Tak lama terdengar suara tangisan bayi dengan Seira yang banjir keringat dan darah, masih setengah sadar dan tersenyum bahagia sekali. Akhirnya buah hatinya bisa lahir kedunia tanpa kekurangan apapun.


Oekkk...oekkk...\~


Seira dan Jerendra yang mendengar tangisan si kecil langsung berpelukan bahagia. Mereka segera masuk untuk menemui si kecil dan ibunya. Dokter membawa anak itu didekat Seira.


"Sangat tampan seperti ayahmu." Gumam Seira ditelinga anaknya dan setelah itu Seira tak sadarkan diri.


Tamat—


Lanjut di Season 2


Terimakasih untuk kalian yang mau membaca cerita ini. Terharu banget, yang awalnya cuma iseng publish disini ternyata ada yang minat baca. Pokoknya terimakasih banyak buat kalian🥰🥰🥰


Walau sering frustasi karena masih awam sama publish, edit, di apk ini. Maaf namanya aja pemula.


Jadi di Season 2 nanti, karakter yang lama bakalan gak ditampilin. Bukan dihilangkan cuma mereka udah punya kehidupan masing-masing kayak lagi hiatus dulu.


Nanti di Season 2 akan ada karakter-karakter baru, tapi karakter yang di Season pertama akan muncul cuma beberapa aja.


Karakter utama akan tetap ada (spoiler) Seira, Dandy, Serumi, Jerendra. Mereka empat karakter utama dalam cerita ini.


So tunggu aja ya❤️


Oh ya, author nggak akan buat cerita ini sampai beratus-ratus eps, soalnya nanti akan terlalu panjang jalan ceritanya.


Kritik dan saran sangat membantu untuk cerita ini. Jadi jangan ragu buat kasih kritik maupun saran karena author sendiri masih pemula banget.


^^^Salam hangat dari penulis^^^


^^^Cheryfey🍒^^^