
Seira memang sengaja tidak menghubungi siapapun. Setelah Jerendra memberikan surat itu Seira sangat bersalah kepada para sahabatnya.
Sekarang nafsu makannya tidak menentu, membuat Serumi sangat prihatin. “Paksain sesuap atau dua suap Ra. Kasihan calon dedek bayinya.”
Sudah dipaksakan memang tapi semuanya tidak ada yang mau masuk ke perut. Semua kebutuhan Seira itu Jerendra yang menyanggupi. Sungguh Seira sangat berhutang banyak dengan pasangan ini.
Dia sekarang mau pergi ke dokter untuk mengecek kondisinya, Serumi menawarkan untuk mengantarnya tapi ditolak. Karena Serumi harus sekolah. Dia juga masih bisa sendiri.
Dokter ini juga Jerendra yang menyarankan dia sudah membuat jadwal bertemu, Seira hanya tinggal datang saja.
“Selamat pagi dokter.” Sapa Seira setelah masuk ke ruangan dokter yang bernama Dava Pramana.
Dokter Dava tersenyum ramah, “Selamat pagi nona Seira. Silahkan duduk.”
Selama pemeriksaan dokter Dava sangat sabar menjelaskan. Dia juga sangat profesional dengan tidak menanyakan privasi pasien.
Tidak menyinggung dimana suami, kerabat atau bahkan keluarganya. Berbeda dengan tatapan para suster yang mengantarkannya kesini.
“Baik nona Seira, semuanya normal keluhan yang anda rasakan. Saya sudah menuliskan resep dan penambah nafsu makan. Pertemuan kita selanjutnya lima minggu lagi.” Ucap dokter Dava dan menyerahkan resep untuk Seira tebus.
“Baik terimakasih dokter.” Seira pamit kepada dokter Dava.
Seira berjalan sambil melihat beberapa resep yang ditulis untuk ditebus. Namun Seira benar-benar tidak bisa membaca apa yang terdapat pada tulisan itu. Memang bukan ranahnya untuk mengetahuinya.
“Seira!”
Panggilan seseorang dibelakang membuat jantung Seira berdetak kencang. Seira mencoba menghindarinya dengan berjalan dengan cepat. Seira hafal betul itu adalah suara lembut milik Yura. Sahabatnya!
Beruntung dia bisa menghilang dengan cepat di kerumunan. Karena terlalu tergesa-gesa Seira tak sengaja menabrak seseorang.
“Maaf saya tidak sengaja.” Ucap Seira meminta maaf.
“Ya, nggak papa. Eh kamu Seira kan?” Ucap orang itu meneliti Seira dari atas dan bawah. Dia agak terkejut dengan penampilan Seira. Juga dibenaknya bertanya-tanya untuk apa Seira berada di sini?
Setelah menyadarinya bahwa orang yang ditabraknya itu tidak asing, wajah Seira langsung berubah pucat.
Sedangkan dibelakang sana, Yura yang tadinya mau mengejar orang yang mirip dengan Seira itu tidak jadi karena papanya memanggilnya karena adiknya sudah lahir.
...*****...
Mereka sekarang sedang duduk dibangku taman. Seira merasa sangat gugup, tapi orang disampingnya malah sangat santai.
“Jadi kamu mutusin beasiswa karena hamil dulu? Apa itu anak Dandy?”
Jleb! Semua omongan yang keluar dari orang disampingnya tidak ada yang melesat.
“Iya.” Jawab Seira dengan jujur dan menundukan wajahnya. Yah, sepandai-pandainya dia menyimpan rahasia pasti lama-kelamaan akan ketahuan juga.
“Kemana Dandy? Apa dia nggak bertanggung jawab?”
Jleb! Untuk ke dua kalinya Seira dibuat tertusuk dengan kata-katanya.
“Dia pergi.” Seira memelankan suaranya.
Terdengar helaan nafas disebelahnya. “Semua lelaki brengsek ya. Cuma enak bikinnya aja, giliran disuruh tanggung jawab malah ngilang.”
Jleb! Lagi-lagi perkataannya sangat tepat sasaran.
Orang disebelahnya adalah Kirana, pacar kak Theo. Mereka memang tidak terlalu akrab karena hanya bertemu disekolah selain itu Kirana juga kakak kelas Seira walau umur mereka sama.
“Kenapa kamu kuat banget Sei?” Ternyata Kirana sedari tadi menahan air matanya karena terharu. Matanya berkaca-kaca ketika Seira menatapnya.
“Em ah. Karena aku sudah terbiasa menderita dari kecil kak.” Jawab Seira sambil tersenyum.
“Bodoh banget sih! Kok masih bisa senyum! Harusnya kamu nangis! Menderita kok terbiasa!” Malah sekarang Kirana mencak-mencak sendiri.
Seira bingung dengan perubahan mendadak kakak kelasnya ini. Tadi berkaca-kaca sekarang malah marah-marah.
“Ya abisnya gimana ya haha. Nasibku emang jelek banget kak.”
“Kenapa kamu nggak nuntut balik gitu ke Dandy!” Ucap Kirana dengan ketus masih tidak habis pikir.
“Dianya aja kabur kak, gimana mau nuntut.”
Kirana spontan berdiri. “EH XI ANJING!”
“Kak, suaranya.” Tegur Seira merasa tak enak karena teriakan Kirana yang lumayan keras.
“Ya maaf keceplosan.” Kirana duduk lagi setelah melototi beberapa ibu-ibu yang melihat kearah mereka. “Tapi Sei ini bener-bener nggak adil.”
Seira menghela nafas, “Ini udah konsekuensi segala yang kuperbuat kak. Aku juga salah, walau yang brengsek itu tetep Dandy.”
“Brengsek, bajingan, sialan the fcvshanakahvaywvayabauqoamaliqgwb aqua kala qiqiqlpqnsuwba skwiwnkqoanwhwj.” Kirana sedang mengabsen penghuni kebun binatang.
“Hahaha udah kak stop hahaha.” Setidaknya Seira merasa terhibur dengan kelakuan random kakak kelasnya ini.
Kirana sama Theo memang sebelas dua belas, mungkin mereka jodoh. Sifat mereka sangat mirip, walau disekolah Kirana menutupinya tidak seperti Theo.
“Kak, jangan bilang ke siapa-siapa ya masalah ini. Aku mohon.”
“Yaampun Sei, tenang aja aku bukan tukang gosip kok. Lagian nggak ada untungnya buat aku.”
“Makasih kak.” Seira percaya, memang Kirana orang yang sangat anti untuk urusan gosip-menggosip, dia tidak suka mengurusi hidup orang lain.
“Kamu selama ini dimana Sei?” Tanya Kirana penasaran.
“Aku tinggal dipanti asuhan kak. Kebetulan teman masa kecilku juga tinggal disana.”
Kirana menganggukan kepalanya. “Beri aku alamatnya. Lain kali aku mau mampir, boleh kan?”
Seira tersenyum. “Boleh kok kak. Tapi jangan ajak nenek sihir nanti aku kena marah hehe.”
“Ahaha, bisa aja kamu Sei.” Mereka tertawa bersama.
Sedikit rahasia, sebenarnya bu Irina adalah ibu kandung dari Kirana. Memang tidak banyak yang tahu, Seira mengetahuinya sejak les dengan Theo.
Setelah itu Kirana pamit karena kakaknya sudah selesai pemeriksaan. Dia berkata kapan-kapan akan mampir ke panti asuhan. Seira mengiyakan, dia tidak keberatan.
“Jadi, tadi itu beneran Seira kan?”
Deg! Seira ingin menghilang saat itu juga.